{"id":1909,"date":"2026-10-26T17:25:12","date_gmt":"2026-10-26T10:25:12","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=1909"},"modified":"2026-11-02T15:42:32","modified_gmt":"2026-11-02T08:42:32","slug":"slow-learner","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/slow-learner\/","title":{"rendered":"Slow Learner: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mendampingi Anak di Rumah dan Sekolah"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Slow learner atau &#8220;lamban belajar&#8221; adalah istilah yang dipakai di dunia pendidikan untuk anak yang belajar lebih lambat daripada teman sebayanya. Dalam literatur kedokteran dan psikologi, kondisi yang paling dekat dengan istilah ini adalah <em>borderline intellectual functioning<\/em> (BIF) atau fungsi intelektual ambang batas.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila nilai anak Anda tertinggal di banyak mata pelajaran, guru menyarankan pemeriksaan, atau Anda khawatir anak &#8220;kurang pintar&#8221;, wajar bila Anda bingung dan cemas. Artikel ini merangkum apa yang dikatakan sumber ilmiah dan peraturan tentang slow learner, bedanya dengan disabilitas intelektual dan kesulitan belajar spesifik, cara pemeriksaannya, serta tips umum mendampingi anak di rumah dan di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Slow Learner Adalah: Pengertian dan Rentang IQ<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tinjauan Fernell dan Gillberg (2020) menjelaskan BIF sebagai hasil tes IQ dalam rentang sekitar 70 hingga 84\/85. Tinjauan lain di <em>Pediatric Research<\/em> (Claessens dkk., 2024) memakai rentang IQ 70\u201385. Jadi, batas yang dipakai sedikit berbeda antarsumber.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa hal penting dari sumber tersebut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>BIF bukan diagnosis tersendiri.<\/strong> Fernell dan Gillberg (2020) menyebut bahwa dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), BIF tidak memiliki kategori diagnosis terpisah dan hanya dapat dicatat sebagai kondisi yang perlu diperhatikan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Rentang IQ berasal dari penelitian.<\/strong> Angka IQ anak hanya dapat ditentukan oleh psikolog melalui tes terstandar, dan hasilnya ditafsirkan bersama informasi lain tentang anak.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Bedanya dengan Disabilitas Intelektual dan Kesulitan Belajar Spesifik?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiga kondisi ini sering tertukar, padahal kebutuhan dukungannya berbeda. Berikut yang dinyatakan masing-masing sumber:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"764\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-1-rev.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan slow learner atau fungsi intelektual ambang batas dengan kesulitan belajar spesifik\" class=\"wp-image-2071\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-1-rev.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-1-rev-300x191.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-1-rev-1024x652.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-1-rev-768x489.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perbedaan slow learner dan kesulitan belajar spesifik seperti disleksia.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Slow learner (BIF):<\/strong> menurut Fernell dan Gillberg (2020), rentang IQ BIF (sekitar 70 hingga 84\/85) berada di atas batas disabilitas intelektual.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Disabilitas intelektual:<\/strong> menurut American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD), disabilitas intelektual ditandai keterbatasan bermakna pada fungsi intelektual <strong>dan<\/strong> perilaku adaptif (keterampilan konseptual, sosial, dan praktis), yang muncul sebelum usia 22 tahun. AAIDD menyebut keterbatasan fungsi intelektual umumnya ditunjukkan oleh skor IQ sekitar 70 hingga 75 atau lebih rendah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kesulitan belajar spesifik:<\/strong> National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) menegaskan bahwa kesulitan belajar bukan penanda tingkat kecerdasan, dan dibedakan dari masalah belajar yang disebabkan disabilitas intelektual. Contohnya <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/disleksia-pada-anak\/\">disleksia<\/a> (membaca), disgrafia (menulis), dan diskalkulia (berhitung).<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena gambarannya bisa mirip di kelas, kondisi mana yang dialami anak perlu dipastikan lewat pemeriksaan psikolog, bukan dari nilai rapor saja.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ciri-Ciri Slow Learner yang Sering Terlihat<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fernell dan Gillberg (2020) mencatat beberapa hal yang sering menyertai BIF pada anak:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kesulitan dalam prestasi sekolah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kesulitan dalam fungsi sosial, misalnya dalam pergaulan dengan teman sebaya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tinggal kelas, yang menurut mereka bisa menjadi salah satu penanda.<\/li>\n\n\n\n<li>Masalah perhatian, yang menurut mereka kadang merupakan akibat tuntutan akademik yang tidak disesuaikan dengan kemampuan anak.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal-hal ini juga bisa muncul pada kondisi lain, seperti <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/adhd-pada-anak\/\">ADHD<\/a> atau kesulitan belajar spesifik. Daftar ini bukan alat diagnosis, melainkan bahan untuk didiskusikan dengan profesional.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Penyebab Slow Learner?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyebab pasti sering tidak dapat ditemukan. Tinjauan Claessens dan rekan (2024) tentang keterlambatan perkembangan kognitif, termasuk BIF, menyebut lebih dari 50% kasus tidak diketahui penyebabnya. Menurut tinjauan yang sama, kelompok yang lebih berisiko antara lain anak dengan komplikasi saat lahir, kelainan bawaan, kelainan genetik, atau gangguan metabolik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tinjauan sistematis Peltopuro dan rekan (2014) juga menemukan beberapa faktor risiko, seperti berat lahir rendah, dan faktor pelindung, seperti pendidikan. Namun, menurut tinjauan tersebut, faktor-faktor itu tidak khas untuk BIF.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana Slow Learner Diperiksa?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemampuan intelektual dinilai oleh <strong>psikolog<\/strong> melalui tes kecerdasan terstandar. Karena kriteria AAIDD untuk disabilitas intelektual mencakup fungsi intelektual dan perilaku adaptif, pemeriksaan biasanya juga melihat kemampuan anak sehari-hari, misalnya lewat wawancara dengan orang tua dan informasi dari guru. Nilai rapor atau kuis daring tidak bisa menggantikan pemeriksaan ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila ada kecurigaan, Anda bisa memulai dari dokter anak untuk memeriksa kesehatan umum anak, lalu meminta rujukan ke psikolog atau tim tumbuh kembang. Siapkan rapor, contoh tugas sekolah, catatan dari guru, dan riwayat perkembangan anak. Panduannya ada di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/persiapan-asesmen-tumbuh-kembang-anak\/\">persiapan asesmen tumbuh kembang anak<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanyakan kepada psikolog bukan hanya angka IQ, tetapi juga profil kekuatan dan kelemahan anak, serta rekomendasi konkret untuk rumah dan sekolah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Mendampingi Slow Learner di Rumah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut tips umum pengasuhan yang bisa dicoba agar anak tetap percaya diri dan belajar dengan cara yang sesuai kemampuannya. Tips ini bukan program terapi; sesuaikan dengan rekomendasi psikolog yang memeriksa anak Anda.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-2-rev.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus berisi tujuh cara mendampingi anak slow learner di rumah, mulai dari memecah tugas hingga mengembangkan kekuatan anak\" class=\"wp-image-2072\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-2-rev.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-2-rev-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-2-rev-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-slow-learner-2-rev-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Tujuh cara praktis mendampingi anak slow learner belajar di rumah.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pecah tugas menjadi langkah kecil.<\/strong> Daripada &#8220;Kerjakan PR-nya&#8221;, coba &#8220;Kita kerjakan nomor 1 dan 2 dulu, lalu istirahat sebentar.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Gunakan benda nyata.<\/strong> Belajar pecahan dengan memotong roti, belajar uang dengan bermain warung-warungan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ulangi dengan cara berbeda.<\/strong> Materi yang sama bisa diulang lewat gambar, lagu, cerita, atau permainan agar tidak membosankan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Beri instruksi singkat dan satu per satu.<\/strong> Minta anak mengulang instruksi dengan kata-katanya sendiri untuk memastikan ia paham.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Buat rutinitas belajar yang pendek dan teratur.<\/strong> Misalnya sesi singkat setiap hari pada jam yang sama.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Puji usaha, bukan hanya hasil.<\/strong> &#8220;Kakak sudah sabar mencoba tiga kali. Hebat!&#8221; lebih membangun daripada membandingkan dengan nilai teman.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kembangkan kekuatan anak di luar akademik.<\/strong> Olahraga, seni, memasak, atau merawat hewan bisa menjadi sumber rasa mampu.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hindari kalimat seperti &#8220;Begini saja masa tidak bisa?&#8221; atau &#8220;Kamu memang lambat.&#8221; Label seperti ini mudah melekat dan bisa membuat anak enggan mencoba.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dukungan di Sekolah: Remedial dan Pendidikan Inklusif<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, Pasal 6, mencantumkan &#8220;lamban belajar&#8221; sebagai salah satu kategori peserta didik berkebutuhan khusus yang dapat mengikuti pendidikan di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Penjelasan lebih lengkap tentang anak berkebutuhan khusus ada di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/abk-adalah\/\">ABK adalah<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bentuk dukungan yang bisa Anda tanyakan dan diskusikan dengan sekolah antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pembelajaran remedial:<\/strong> pengulangan materi dengan cara dan kecepatan yang disesuaikan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Penyesuaian tugas dan penilaian:<\/strong> misalnya soal lebih sedikit, waktu tambahan, atau instruksi yang dibacakan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Guru pembimbing khusus (GPK):<\/strong> tanyakan apakah sekolah memiliki GPK yang dapat membantu guru kelas menyesuaikan pembelajaran.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pendamping individual:<\/strong> sebagian anak, terutama bila ada kondisi lain yang menyertai, didampingi <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/shadow-teacher-adalah\/\">shadow teacher<\/a>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Komunikasi rutin orang tua dan guru:<\/strong> sepakati target kecil yang realistis dan pantau bersama.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/shadow-teacher-adalah\/\">Shadow Teacher Adalah<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/terapi-remedial\/\">Terapi Remedial: Apa Itu, untuk Siapa, dan Bedanya dengan Les Tambahan<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-tidak-mau-sekolah\/\">Anak Tidak Mau Sekolah: Penyebab yang Perlu Dipilah dan Cara Menanganinya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Slow learner apakah termasuk ABK?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pergub DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif mencantumkan &#8220;lamban belajar&#8221; sebagai salah satu kategori peserta didik berkebutuhan khusus yang dapat mengikuti pendidikan di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Untuk aturan di daerah lain, tanyakan kepada sekolah atau dinas pendidikan setempat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Slow learner IQ berapa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fernell dan Gillberg (2020) menyebut borderline intellectual functioning, kondisi yang paling dekat dengan slow learner, berada pada rentang IQ sekitar 70 hingga 84\/85, sedangkan Claessens dkk. (2024) memakai rentang 70\u201385. Angka IQ anak hanya bisa ditentukan psikolog lewat tes terstandar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa bedanya slow learner dan anak malas?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilai yang rendah atau anak yang tampak tidak fokus belum tentu berarti anak malas. Fernell dan Gillberg (2020) mencatat bahwa masalah perhatian pada anak dengan BIF kadang merupakan akibat tuntutan akademik yang tidak disesuaikan. Pemeriksaan psikolog dapat membantu memahami apa yang sebenarnya dialami anak.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah slow learner bisa sekolah di sekolah umum?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di DKI Jakarta, Pergub Nomor 40 Tahun 2021 memasukkan lamban belajar sebagai peserta didik berkebutuhan khusus yang dapat bersekolah di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Pilihan sekolah terbaik sebaiknya didiskusikan dengan psikolog dan pihak sekolah sesuai kebutuhan anak.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah slow learner bisa membaik?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perkembangan setiap anak berbeda, sehingga perkiraan untuk anak Anda sebaiknya ditanyakan langsung kepada psikolog yang memeriksanya. Sebagai tips umum, pantau kemajuan anak dari waktu ke waktu dibandingkan dirinya sendiri, bukan dengan teman sekelas.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Slow learner adalah istilah pendidikan yang dalam literatur ilmiah paling dekat dengan borderline intellectual functioning, yaitu rentang IQ sekitar 70 hingga 84\/85 menurut Fernell dan Gillberg (2020), di atas batas disabilitas intelektual. Kondisi ini berbeda dari kesulitan belajar spesifik seperti disleksia dan perlu dipastikan lewat pemeriksaan psikolog. Pendampingan yang sabar di rumah, penyesuaian di sekolah, dan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru dapat membantu anak tetap percaya diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda membutuhkan asesmen psikologi atau evaluasi tumbuh kembang, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus<\/a> atau membaca <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">panduan memilih klinik tumbuh kembang anak<\/a> kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Fernell E, Gillberg C. Borderline intellectual functioning. Handb Clin Neurol. 2020;174:77\u201381. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/32977897\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/32977897\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Claessens NHP, Smits MJ, Benders MJNL. Enhancing daily life for children with cognitive developmental delay through insights into brain development. Pediatr Res. 2024;96(6):1484\u20131493. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/39424896\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/39424896\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Peltopuro M, Ahonen T, Kaartinen J, Sepp\u00e4l\u00e4 H, N\u00e4rhi V. Borderline intellectual functioning: a systematic literature review. Intellect Dev Disabil. 2014;52(6):419\u2013443. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/25409130\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/25409130\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD). Defining Criteria for Intellectual Disability. <a href=\"https:\/\/www.aaidd.org\/intellectual-disability\/definition\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.aaidd.org\/intellectual-disability\/definition<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD). About Learning Disabilities. <a href=\"https:\/\/www.nichd.nih.gov\/health\/topics\/learning\/conditioninfo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.nichd.nih.gov\/health\/topics\/learning\/conditioninfo<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif (Pasal 6). JDIH BPK. <a href=\"https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Download\/188824\/Pergub_DKI_40_2021.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Download\/188824\/Pergub_DKI_40_2021.pdf<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Slow learner adalah anak yang butuh waktu lebih lama belajar. Kenali ciri-ciri, rentang IQ, beda dengan disabilitas intelektual, dan cara mendampingi.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1910,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[47,9],"tags":[],"class_list":["post-1909","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-sekolah-anak","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1909","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1909"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1909\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2723,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1909\/revisions\/2723"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1910"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1909"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1909"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}