{"id":1935,"date":"2026-10-26T17:27:29","date_gmt":"2026-10-26T10:27:29","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=1935"},"modified":"2026-10-28T17:00:17","modified_gmt":"2026-10-28T10:00:17","slug":"tes-denver-ii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tes-denver-ii\/","title":{"rendered":"Tes Denver II: Pengertian, Cara Kerja, dan Arti Hasilnya untuk Orang Tua"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Denver II adalah salah satu tes skrining perkembangan anak yang paling dikenal di dunia, dan namanya sering muncul di rujukan dokter, klinik tumbuh kembang, maupun penelitian di Indonesia.<\/strong> Tes ini membantu pemeriksa melihat apakah kemampuan anak usia 0\u20136 tahun sudah sesuai dengan kebanyakan anak seusianya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wajar bila Anda merasa cemas saat dokter menyarankan tes Denver, atau saat hasilnya tertulis &#8220;suspect&#8221;. Artikel ini menjelaskan apa itu tes Denver II, asal-usulnya, empat area yang dinilai, apa yang terjadi selama tes, arti hasil normal, suspect, dan untestable, keterbatasannya menurut penelitian, perbedaannya dengan KPSP, serta siapa yang berwenang melakukannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tes Denver Adalah Apa? Asal-Usul Denver II<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tes Denver pertama kali diterbitkan pada 1967 oleh William K. Frankenburg dan Josiah B. Dodds dari Denver, Amerika Serikat, dengan nama Denver Developmental Screening Test (DDST). Menurut Frankenburg dan rekan (1992), tes ini kemudian dipakai di seluruh dunia dan distandarkan ulang di lebih dari selusin negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena muncul kritik terhadap beberapa butir dan kebutuhan akan norma yang lebih baru, tes ini direvisi besar-besaran menjadi <strong>Denver II<\/strong> dan diterbitkan pada 1992. Dalam proses revisi, 336 calon butir diujikan pada lebih dari 2.000 anak, lalu dipilih 125 butir akhir. Perubahan utamanya antara lain butir bahasa yang bertambah 86%, dua butir artikulasi (kejelasan pengucapan), skala usia baru, kategori interpretasi baru untuk mendeteksi keterlambatan yang lebih ringan, skala penilaian perilaku, dan materi pelatihan pemeriksa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Empat Area yang Dinilai Denver II dan Rentang Usianya<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Denver II dipakai untuk anak sejak lahir hingga usia 6 tahun dan menilai empat area perkembangan:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"724\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-1.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus berisi empat area perkembangan yang dinilai tes Denver II: personal-sosial, motorik halus-adaptif, bahasa, dan motorik kasar\" class=\"wp-image-1937\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-1-300x181.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-1-1024x618.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-1-768x463.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Empat area perkembangan yang dinilai Denver II pada anak usia 0\u20136 tahun.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Area<\/th><th>Yang diamati (gambaran umum)<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Personal-sosial<\/td><td>Interaksi dengan orang lain dan kemandirian sehari-hari, seperti makan dan berpakaian<\/td><\/tr><tr><td>Motorik halus-adaptif<\/td><td>Koordinasi mata dan tangan, memegang dan memanipulasi benda kecil, menggambar<\/td><\/tr><tr><td>Bahasa<\/td><td>Mendengar, memahami, dan menggunakan bahasa<\/td><\/tr><tr><td>Motorik kasar<\/td><td>Duduk, berjalan, melompat, dan gerakan otot besar lainnya<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap butir punya rentang usia normatif, yaitu usia ketika sebagian besar anak (sampai 90%) sudah bisa melakukannya. Dengan cara ini, pemeriksa membandingkan kemampuan anak dengan anak-anak lain seusianya, bukan menilai kecerdasan. Denver II juga bukan tes IQ.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Terjadi Selama Tes Denver II?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berbeda dengan kuesioner yang hanya diisi orang tua, Denver II banyak mengandalkan <strong>pengamatan langsung<\/strong>: anak diminta melakukan tugas sederhana sesuai usianya di hadapan pemeriksa. Gambaran umum prosesnya:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Usia anak dihitung<\/strong> dengan teliti, karena setiap butir dibandingkan dengan norma usia.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pemeriksa menarik &#8220;garis usia&#8221;<\/strong> pada formulir, lalu memilih butir-butir di sekitar garis tersebut di keempat area.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Anak diajak bermain<\/strong> memakai perlengkapan standar seperti balok kecil, bola, kertas, dan pensil. Suasananya dibuat santai agar anak mau mencoba.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Setiap butir diberi nilai<\/strong>, misalnya lulus, gagal, menolak, atau tidak ada kesempatan (anak belum pernah punya kesempatan melakukan hal itu).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pemeriksa mencatat perilaku anak selama tes<\/strong>, misalnya kooperatif, lelah, atau takut, karena hal ini memengaruhi cara membaca hasil.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda bisa membantu dengan memastikan anak cukup tidur dan tidak lapar, membawa buku catatan perkembangan atau Buku KIA, dan memberi tahu pemeriksa bila anak sedang sakit. Contoh kalimat: &#8220;Dok, anak saya baru sembuh demam dan semalam kurang tidur. Apakah tesnya sebaiknya dijadwalkan ulang?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/persiapan-asesmen-tumbuh-kembang-anak\/\">Persiapan Asesmen Tumbuh Kembang Anak: Apa Saja yang Perlu Disiapkan Orang Tua?<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Arti Hasil Denver II: Normal, Suspect, dan Untestable<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penilaian Denver II bekerja dalam dua tahap: per butir, lalu keseluruhan tes. Pada tingkat butir, ada dua istilah penting:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Delay (terlambat):<\/strong> anak gagal pada butir yang sudah bisa dilakukan lebih dari 90% anak seusianya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Caution (perlu perhatian):<\/strong> anak gagal pada butir yang sudah bisa dilakukan 75\u201390% anak seusianya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari jumlah delay dan caution, hasil keseluruhan digolongkan menjadi tiga:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Hasil<\/th><th>Artinya<\/th><th>Langkah yang umum dilakukan<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Normal<\/td><td>Kemampuan anak sesuai rentang anak seusianya<\/td><td>Lanjutkan stimulasi dan pemantauan rutin<\/td><\/tr><tr><td>Suspect (dicurigai)<\/td><td>Ada keterlambatan atau beberapa butir yang perlu perhatian<\/td><td>Tes diulang, dan bila tetap suspect, anak dirujuk untuk evaluasi diagnostik<\/td><\/tr><tr><td>Untestable (tidak dapat dinilai)<\/td><td>Anak menolak cukup banyak butir sehingga hasil tidak bisa disimpulkan<\/td><td>Tes diulang pada kesempatan lain, dan bila tetap untestable, anak dirujuk<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil suspect bukan diagnosis. Hasil ini berarti anak perlu dilihat lebih teliti oleh dokter anak, dokter tumbuh kembang, psikolog anak, atau terapis, sesuai area yang tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Denver II Adalah Alat Skrining, Bukan Diagnosis<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Centers for Disease Control and Prevention (CDC) membedakan tiga hal: <strong>pemantauan<\/strong> (pengamatan berkelanjutan oleh orang tua dan tenaga kesehatan), <strong>skrining<\/strong> (penilaian lebih formal memakai alat tervalidasi oleh tenaga terlatih), dan <strong>evaluasi<\/strong> (pemeriksaan lanjutan bila ada kekhawatiran). Denver II berada di tahap skrining. Tes ini tidak bisa menyimpulkan bahwa anak mengalami autisme, ADHD, gangguan bahasa, atau disabilitas intelektual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila hasil skrining mengarah ke masalah tertentu, dokter akan melanjutkan dengan pemeriksaan yang sesuai, misalnya tes pendengaran, evaluasi bahasa, atau alat skrining autisme. Untuk tanda-tandanya, baca artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/ciri-ciri-autisme-pada-anak\/\">ciri-ciri autisme pada anak<\/a> dan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/speech-delay-adalah-tanda-penyebab-penanganan\/\">speech delay adalah: tanda, penyebab, dan penanganannya<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Keterbatasan Denver II Menurut Penelitian<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Denver II terkenal dan banyak dipakai, tetapi akurasinya sering diperdebatkan. Beberapa temuan penting:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Sensitif, tetapi kurang spesifik.<\/strong> Studi Glascoe dan rekan (1992) pada 104 anak usia 3\u201372 bulan menemukan Denver II berhasil mengenali 83% anak yang memang punya masalah perkembangan. Namun, lebih dari separuh anak yang perkembangannya normal juga mendapat hasil tidak normal, meragukan, atau untestable, sehingga spesifisitasnya hanya 43% dan banyak anak dirujuk padahal tidak perlu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Cara penilaian memengaruhi hasil.<\/strong> Bila hasil meragukan atau untestable dianggap normal, spesifisitas naik menjadi 80%, tetapi sensitivitas turun menjadi 56%.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Hasil berbeda antarnegara dan antaralat.<\/strong> Validasi versi Persia di Teheran (2010) melaporkan reliabilitas yang baik, dengan sensitivitas 60% dan spesifisitas 69%. Studi di Bandung (Priambodo dan rekan, 2016) menemukan kesesuaian yang buruk antara Denver II dan kuesioner orang tua PEDS.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Hasil &#8220;positif palsu&#8221; tetap bermakna.<\/strong> Glascoe (2001) menemukan anak yang dirujuk berlebihan oleh tes skrining ternyata rata-rata memiliki skor bahasa, kecerdasan, dan akademik yang lebih rendah dibanding anak yang lulus skrining. Artinya, evaluasi lanjutan tetap bermanfaat walaupun anak tidak terbukti mengalami gangguan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesimpulannya, hasil Denver II paling berguna bila dibaca bersama riwayat anak, pemeriksaan fisik, dan pengamatan orang tua, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Perbedaan Denver II dan KPSP<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Indonesia, alat praskrining dalam program pemerintah adalah KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan), sesuai Permenkes 66\/2014. Berikut perbedaan umumnya:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"709\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-2.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan KPSP dari Kemenkes dengan tes Denver II dari jumlah butir, cara, tempat, dan kategori hasil\" class=\"wp-image-1938\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-2-300x177.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-2-1024x605.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tes-denver-ii-2-768x454.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perbandingan KPSP dan Denver II sebagai alat skrining perkembangan anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Aspek<\/th><th>KPSP<\/th><th>Denver II<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Asal<\/td><td>Program SDIDTK Kementerian Kesehatan RI<\/td><td>Dikembangkan di Amerika Serikat (1967, revisi 1992)<\/td><\/tr><tr><td>Jumlah butir<\/td><td>9\u201310 per usia skrining<\/td><td>125 butir di empat area, dipilih sesuai usia anak<\/td><\/tr><tr><td>Cara<\/td><td>Pertanyaan untuk orang tua dan tugas sederhana, dijawab Ya\/Tidak<\/td><td>Terutama pengamatan langsung dengan perlengkapan standar<\/td><\/tr><tr><td>Hasil<\/td><td>Sesuai, meragukan, kemungkinan penyimpangan<\/td><td>Normal, suspect, untestable<\/td><\/tr><tr><td>Tempat<\/td><td>Posyandu, puskesmas, TK, Cek Kesehatan Gratis<\/td><td>Misalnya rumah sakit, klinik tumbuh kembang, atau penelitian<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keduanya sama-sama alat skrining. Penjelasan lengkap tentang KPSP ada di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/sdidtk-kpsp-deteksi-dini-tumbuh-kembang\/\">SDIDTK dan KPSP<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Siapa yang Melakukan Tes Denver II?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Denver II harus dilakukan oleh <strong>pemeriksa yang terlatih<\/strong>, karena cara memberi instruksi, menarik garis usia, dan menilai butir sangat memengaruhi hasil. Revisi 1992 sengaja disertai materi pelatihan baru. Dalam penelitian, tes ini dilakukan oleh pemeriksa psikologi atau perawat yang sudah dilatih khusus. Dalam praktik, Anda bisa menanyakannya kepada dokter anak, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, atau tim klinik tumbuh kembang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, formulir Denver II yang beredar bebas di internet tidak dimaksudkan untuk diisi sendiri oleh orang tua. Untuk pemantauan di rumah, gunakan ceklis perkembangan di Buku KIA atau daftar tonggak di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tumbuh-kembang-anak\/\">tumbuh kembang anak usia 0\u20136 tahun<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/buku-kia-tumbuh-kembang-anak\/\">Buku KIA: Cara Mengisi dan Membaca Bagian Tumbuh Kembang Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Denver II adalah tes untuk apa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Denver II adalah tes skrining perkembangan untuk anak usia 0\u20136 tahun yang menilai empat area: personal-sosial, motorik halus-adaptif, bahasa, dan motorik kasar. Tes ini membandingkan kemampuan anak dengan kebanyakan anak seusianya untuk menemukan anak yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Denver II bukan tes kecerdasan dan bukan alat diagnosis.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah Denver II direkomendasikan IDAI?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami tidak menemukan pernyataan resmi IDAI yang secara khusus merekomendasikan atau melarang Denver II. Program nasional Kementerian Kesehatan memakai KPSP sebagai alat praskrining di posyandu dan puskesmas, sedangkan Denver II masih dipakai di sebagian rumah sakit, klinik tumbuh kembang, dan penelitian. Dokter anak Anda yang paling tepat menentukan alat mana yang dibutuhkan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah ada Denver II PDF bahasa Indonesia untuk dipakai di rumah?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Formulir Denver II memang beredar di internet, tetapi tes ini dirancang untuk dilakukan pemeriksa terlatih dengan perlengkapan standar dan aturan penilaian tertentu. Hasil yang diisi sendiri di rumah tidak bisa ditafsirkan dengan benar. Untuk memantau di rumah, gunakan ceklis perkembangan di Buku KIA, lalu minta pemeriksaan ke tenaga kesehatan bila ada yang belum tercapai.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa arti hasil Denver II suspect?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suspect berarti anak gagal pada satu atau beberapa butir yang sudah bisa dilakukan sebagian besar anak seusianya. Ini belum diagnosis. Biasanya tes diulang untuk menyingkirkan pengaruh sementara seperti lelah, takut, atau sakit, dan bila hasilnya tetap suspect, anak dirujuk untuk evaluasi lebih lengkap.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa perbedaan Denver II dan KPSP?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">KPSP adalah kuesioner praskrining Kemenkes berisi 9\u201310 butir per usia yang dijawab Ya atau Tidak, dipakai di posyandu dan puskesmas, dengan hasil sesuai, meragukan, atau kemungkinan penyimpangan. Denver II berisi 125 butir, terutama berupa pengamatan langsung oleh pemeriksa terlatih, dengan hasil normal, suspect, atau untestable.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Seberapa akurat tes Denver II?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Studi Glascoe dan rekan (1992) menemukan Denver II mengenali 83% anak dengan masalah perkembangan, tetapi spesifisitasnya hanya 43%, sehingga banyak anak tanpa masalah ikut dirujuk. Karena itu, hasil Denver II sebaiknya dibaca bersama riwayat anak, pemeriksaan dokter, dan pengamatan orang tua.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Denver II adalah tes skrining perkembangan yang sudah dipakai lebih dari 30 tahun, menilai empat area perkembangan anak 0\u20136 tahun dengan hasil normal, suspect, atau untestable. Tes ini cukup peka menemukan anak yang perlu diperiksa, tetapi juga sering memberi hasil mencurigakan pada anak yang sebenarnya baik-baik saja. Karena itu, hasil suspect sebaiknya disikapi dengan tenang: ulangi tes, lanjutkan stimulasi, dan ikuti evaluasi lanjutan bila disarankan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda membutuhkan skrining atau evaluasi tumbuh kembang, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus<\/a> atau membaca <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">panduan memilih klinik tumbuh kembang anak<\/a> kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Frankenburg WK, Dodds JB. The Denver developmental screening test. J Pediatr. 1967;71(2):181\u2013191. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/6029467\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/6029467\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Frankenburg WK, Dodds J, Archer P, Shapiro H, Bresnick B. The Denver II: a major revision and restandardization of the Denver Developmental Screening Test. Pediatrics. 1992;89(1):91\u201397. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/1370185\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/1370185\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Glascoe FP, Byrne KE, Ashford LG, Johnson KL, Chang B, Strickland B. Accuracy of the Denver-II in developmental screening. Pediatrics. 1992;89(6 Pt 2):1221\u20131225. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/1375732\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/1375732\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Glascoe FP. Are overreferrals on developmental screening tests really a problem? Arch Pediatr Adolesc Med. 2001;155(1):54\u201359. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/11177063\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/11177063\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Moraes MW, Weber AP, Santos MC, Almeida FA. Denver II: evaluation of the development of children treated in the outpatient clinic of Project Einstein in the Community of Parais\u00f3polis. Einstein (S\u00e3o Paulo). 2010;8(2):149\u2013153. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/26759995\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/26759995\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Shahshahani S, Vameghi R, Azari N, Sajedi F, Kazemnejad A. Validity and Reliability Determination of Denver Developmental Screening Test-II in 0\u20136 Year-Olds in Tehran. Iran J Pediatr. 2010;20(3):313\u2013322. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/23056723\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/23056723\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Metwally AM, Abdallah AM, Salah El-Din EM, dkk. Screening and determinant of suspected developmental delays among Egyptian preschool-aged children: a cross-sectional national community-based study. BMC Pediatr. 2023;23:521. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/37858055\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/37858055\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Priambodo A, Dhamayanti M, Fadlyana E. Agreement between the Denver II and Parents&#8217; Evaluation of Developmental Status tests, with and without the assistance of a table of categorical responses. Paediatr Indones. 2016;56(5):267\u2013271. <a href=\"https:\/\/paediatricaindonesiana.org\/index.php\/paediatrica-indonesiana\/article\/view\/108\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/paediatricaindonesiana.org\/index.php\/paediatrica-indonesiana\/article\/view\/108<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Developmental Monitoring and Screening. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/about\/developmental-monitoring-and-screening.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/about\/developmental-monitoring-and-screening.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. <a href=\"https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Details\/154776\/permenkes-no-66-tahun-2014\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Details\/154776\/permenkes-no-66-tahun-2014<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Denver II adalah tes skrining perkembangan anak 0\u20136 tahun. Pahami 4 area yang dinilai, arti hasil suspect, keterbatasannya, dan bedanya dengan KPSP.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1936,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[23,9],"tags":[],"class_list":["post-1935","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-milestone-per-usia","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1935","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1935"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1935\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2186,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1935\/revisions\/2186"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1936"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1935"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1935"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}