{"id":1940,"date":"2026-10-26T17:27:51","date_gmt":"2026-10-26T10:27:51","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=1940"},"modified":"2026-10-28T13:35:07","modified_gmt":"2026-10-28T06:35:07","slug":"perbedaan-adhd-dan-autisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/perbedaan-adhd-dan-autisme\/","title":{"rendered":"Perbedaan ADHD dan Autisme pada Anak: Cara Membedakan dan Kapan Bisa Terjadi Bersamaan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Perbedaan ADHD dan autis paling mudah dipahami dari alasan di balik perilaku anak: anak dengan ADHD terutama kesulitan mengatur perhatian dan dorongan, sedangkan anak autis terutama kesulitan dalam komunikasi sosial dan cenderung pada pola yang berulang.<\/strong> Di permukaan, keduanya bisa tampak mirip, dan pada sebagian anak keduanya bahkan terjadi bersamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin Anda pernah mendengar pendapat yang berbeda-beda: ada yang bilang anak Anda &#8220;hiperaktif&#8221;, ada yang menduga &#8220;autis&#8221;. Artikel ini tidak mengulang ciri lengkap masing-masing kondisi, tetapi berfokus pada cara membandingkan keduanya, mengapa sering tertukar, kapan bisa terjadi bersamaan, dan apa yang perlu Anda amati serta bawa saat berkonsultasi ke dokter.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">ADHD dan Autisme: Dua Kondisi yang Berbeda<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ADHD dan autisme sama-sama termasuk kondisi perkembangan saraf (neurodevelopmental) yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Namun, intinya berbeda:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>ADHD<\/strong> ditandai kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang sering terjadi dan muncul di berbagai situasi (NIMH). Penjelasan lengkapnya ada di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/adhd-pada-anak\/\">ADHD pada anak<\/a>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Autisme<\/strong> memiliki dua area inti: kesulitan komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang (AAP). Tanda-tandanya per usia dibahas di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/ciri-ciri-autisme-pada-anak\/\">ciri-ciri autisme pada anak<\/a>.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tinjauan ilmiah Antshel dan Russo (2019) mencatat kedua kondisi memiliki sebagian faktor genetik yang sama dan sama-sama dapat memengaruhi fungsi sosial dan fungsi eksekutif (kemampuan merencanakan dan mengatur diri). Meski begitu, perbedaannya cukup jelas sehingga keduanya tetap merupakan diagnosis yang terpisah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tabel Perbedaan ADHD dan Autis pada Anak<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel berikut merangkum perbedaan yang sering terlihat dalam keseharian, disusun dari gambaran gejala CDC, AAP, dan NIMH. Gunakan sebagai bahan pengamatan, bukan alat diagnosis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"764\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-1.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan perilaku yang lebih khas pada ADHD dengan perilaku yang lebih khas pada autisme\" class=\"wp-image-1942\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-1-300x191.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-1-1024x652.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-1-768x489.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perbedaan utama ADHD dan autisme pada anak. Keduanya bisa tumpang tindih dan terjadi bersamaan, sehingga perlu evaluasi profesional.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Aspek<\/th><th>Lebih khas pada ADHD<\/th><th>Lebih khas pada autisme<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Perhatian<\/td><td>Mudah teralihkan oleh apa saja di sekitarnya; sulit menyelesaikan tugas, termasuk yang ia sukai bila butuh usaha lama<\/td><td>Bisa sangat fokus pada minat tertentu, tetapi sulit mengalihkan perhatian ke hal yang diminta orang lain<\/td><\/tr><tr><td>Komunikasi sosial<\/td><td>Ingin berteman, tetapi sering menyela, sulit menunggu giliran, atau terlalu banyak bicara<\/td><td>Jarang berbagi minat, jarang menunjuk untuk menunjukkan sesuatu, kurang memperhatikan perasaan orang lain<\/td><\/tr><tr><td>Kontak mata dan respons nama<\/td><td>Tidak menoleh karena sedang teralihkan, tetapi umumnya merespons saat perhatiannya didapat<\/td><td>Jarang kontak mata dan jarang menoleh saat dipanggil, bahkan sejak usia bayi<\/td><\/tr><tr><td>Rutinitas<\/td><td>Cepat bosan dan mencari hal baru; rutinitas sering sulit dijalankan<\/td><td>Membutuhkan rutinitas yang sama; sangat terganggu oleh perubahan kecil<\/td><\/tr><tr><td>Sensorik<\/td><td>Bukan ciri inti ADHD<\/td><td>Reaksi tidak biasa terhadap suara, bau, rasa, tampilan, atau sentuhan termasuk ciri yang dicatat CDC<\/td><\/tr><tr><td>Cara bermain<\/td><td>Berpindah-pindah mainan, bermain dengan gerak cepat, kadang kurang hati-hati<\/td><td>Bermain dengan cara yang sama berulang kali, menyusun benda berjajar, atau berfokus pada bagian benda<\/td><\/tr><tr><td>Gerakan<\/td><td>Gelisah, sulit duduk diam, sering memanjat atau berlari<\/td><td>Bisa ada gerakan berulang seperti mengepakkan tangan, mengayun tubuh, atau berputar<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlu dicatat, CDC menyebut perilaku hiperaktif, impulsif, dan kurang perhatian juga sering ditemukan pada anak autis. Sebaliknya, CDC mencatat anak dengan ADHD dapat kesulitan bergaul dengan teman. Karena itu, satu baris tabel saja tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa ADHD dan Autisme Sering Tertukar?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa perilaku tampak sama, tetapi alasannya berbeda. Contohnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Tidak menoleh saat dipanggil.<\/strong> Pada ADHD, anak bisa sedang terlalu asyik atau teralihkan. Pada autisme, anak cenderung kurang memperhatikan isyarat sosial seperti panggilan nama.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sulit berteman.<\/strong> Anak dengan ADHD sering ingin bergabung, tetapi impulsif sehingga teman merasa terganggu. Anak autis bisa kesulitan memahami cara bermain bersama atau kurang tertarik pada permainan sosial.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Tantrum saat berpindah kegiatan.<\/strong> Pada ADHD, bisa karena sulit menahan keinginan. Pada autisme, bisa karena perubahan rutinitas terasa sangat berat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Terlambat bicara.<\/strong> CDC mencatat keterlambatan bahasa sering ditemukan pada anak autis, tetapi keterlambatan bicara juga punya banyak penyebab lain, termasuk gangguan pendengaran.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/sensori-integrasi-adalah-pengertian-tandanya\/\">Sensori Integrasi Adalah: Pengertian &amp; Tandanya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bisakah ADHD dan Autisme Terjadi Bersamaan?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa. Dahulu, kriteria DSM-IV tidak membolehkan seorang anak didiagnosis autisme dan ADHD sekaligus. Sejak DSM-5 terbit pada 2013, diagnosis ganda diperbolehkan, sebagaimana dijelaskan dalam tinjauan Ramtekkar (2017). Perubahan ini penting karena anak yang memiliki keduanya membutuhkan penanganan untuk kedua kondisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seberapa sering? Meta-analisis Lai dkk. (2019) di <em>The Lancet Psychiatry<\/em>, yang mencakup 96 studi, memperkirakan sekitar <strong>28%<\/strong> individu autis juga memiliki ADHD. Angka antarpenelitian sangat bervariasi, dan angka dari sampel klinik cenderung lebih tinggi daripada angka populasi umum. WHO juga mencantumkan ADHD sebagai salah satu kondisi yang sering menyertai autisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Antshel dan Russo menekankan bahwa intervensi autisme akan lebih efektif bila kemungkinan ADHD ikut dipertimbangkan, dan sebaliknya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Hanya Profesional yang Bisa Membedakannya?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menegaskan tidak ada tes darah atau tes tunggal untuk ADHD maupun autisme. Diagnosis dibuat dari riwayat perkembangan, pengamatan perilaku, dan informasi dari beberapa pihak. Dokter juga perlu menyingkirkan kondisi lain yang bisa menimbulkan gejala serupa, seperti gangguan pendengaran atau penglihatan, gangguan tidur, kecemasan, dan kesulitan belajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Usia juga berpengaruh. CDC menyebut diagnosis autisme oleh profesional berpengalaman dapat dianggap andal sejak usia 2 tahun, sedangkan pedoman AAP untuk ADHD berlaku mulai usia 4 tahun. Karena itu, pada balita, kekhawatiran tentang &#8220;hiperaktif&#8221; sering lebih tepat dievaluasi dulu sebagai bagian dari pemeriksaan perkembangan secara menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Profesional yang dapat menilai antara lain dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, psikiater anak, dan psikolog klinis anak, sering bekerja bersama terapis wicara dan terapis okupasi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Perlu Diamati dan Dibawa ke Dokter?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Catatan yang rapi membantu dokter melihat pola yang tidak selalu muncul saat pemeriksaan singkat. Siapkan hal-hal berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-2.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus berisi enam hal yang perlu dibawa orang tua saat konsultasi ADHD atau autisme: catatan perilaku, video, laporan sekolah, riwayat perkembangan, riwayat keluarga, dan daftar pertanyaan\" class=\"wp-image-1943\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-2-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-2-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perbedaan-adhd-dan-autisme-2-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Enam bekal konsultasi yang membantu dokter membedakan ADHD dan autisme.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Catatan perilaku selama 1\u20132 minggu:<\/strong> kapan terjadi, di mana, apa pemicunya, dan berapa lama. Contoh: &#8220;Senin, di rumah: tidak menoleh dipanggil 3 kali saat menonton, tetapi langsung menoleh saat mendengar iklan favoritnya.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Video pendek<\/strong> saat anak bermain sendiri, bermain dengan Anda, saat dipanggil namanya, dan saat rutinitas berubah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Laporan dari sekolah atau pengasuh,<\/strong> karena gejala ADHD perlu terlihat di lebih dari satu tempat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Riwayat perkembangan:<\/strong> kapan mulai menunjuk, berkata-kata, dan berjalan; apakah ada kemampuan yang pernah hilang. Bawa Buku KIA bila ada.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Riwayat keluarga<\/strong> terkait ADHD, autisme, atau keterlambatan bicara.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Daftar pertanyaan Anda,<\/strong> misalnya: &#8220;Apakah perlu tes pendengaran?&#8221; atau &#8220;Bagaimana cara membedakan apakah ia teralihkan atau kurang merespons secara sosial?&#8221;<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/persiapan-asesmen-tumbuh-kembang-anak\/\">Persiapan Asesmen Tumbuh Kembang Anak: Apa Saja yang Perlu Disiapkan Orang Tua?<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa perbedaan ADHD dan autis secara singkat?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ADHD terutama berkaitan dengan kesulitan mengatur perhatian, gerak, dan dorongan, sedangkan autisme terutama berkaitan dengan kesulitan komunikasi dan interaksi sosial serta perilaku atau minat yang terbatas dan berulang. Keduanya bisa tampak mirip dan bisa terjadi bersamaan, sehingga perlu dinilai oleh profesional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah anak ADHD bisa dikira autis?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa. Anak dengan ADHD bisa tidak menoleh saat dipanggil atau sulit berteman karena mudah teralihkan dan impulsif, yang sekilas mirip autisme. Sebaliknya, anak autis juga sering tampak hiperaktif atau kurang fokus. Evaluasi menyeluruh oleh dokter atau psikolog membantu memastikan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah anak bisa ADHD dan autis sekaligus?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa. Sejak DSM-5 (2013), seorang anak boleh didiagnosis autisme dan ADHD bersamaan. Meta-analisis tahun 2019 memperkirakan sekitar 28% individu autis juga memiliki ADHD, meskipun angkanya bervariasi antarpenelitian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mulai usia berapa ADHD dan autisme bisa dibedakan?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Autisme dapat didiagnosis secara andal sejak usia sekitar 2 tahun oleh profesional berpengalaman, sedangkan pedoman diagnosis ADHD dari AAP berlaku mulai usia 4 tahun. Pada balita yang sangat aktif, dokter biasanya menilai perkembangan secara menyeluruh lebih dulu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah penanganan ADHD dan autisme sama?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak sepenuhnya. Untuk ADHD pada anak di bawah 6 tahun, AAP menganjurkan pelatihan manajemen perilaku untuk orang tua sebagai langkah pertama. Untuk autisme, intervensi dini berfokus pada komunikasi sosial dan keterampilan sehari-hari. Bila anak memiliki keduanya, rencana penanganan perlu mencakup kebutuhan kedua kondisi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Siapa yang bisa mendiagnosis ADHD dan autisme?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diagnosis dapat ditegakkan oleh dokter spesialis anak, terutama konsultan tumbuh kembang, psikiater anak, atau psikolog klinis anak. Mereka sering bekerja bersama terapis wicara dan terapis okupasi untuk menilai kemampuan anak secara lengkap.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan ADHD dan autis terletak pada inti kesulitannya: pengaturan perhatian dan dorongan pada ADHD, serta komunikasi sosial dan pola berulang pada autisme. Karena gejalanya bisa tumpang tindih dan keduanya dapat terjadi bersamaan, jangan menyimpulkan sendiri dari satu atau dua perilaku. Kumpulkan catatan dan video, lalu konsultasikan ke profesional. Bila anak sudah didiagnosis dan membutuhkan dukungan di sekolah, artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/abk-adalah\/\">ABK adalah<\/a> dan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/shadow-teacher-adalah\/\">shadow teacher<\/a> dapat membantu Anda memahami pilihannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk evaluasi tumbuh kembang, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus<\/a> atau membaca <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">panduan memilih klinik tumbuh kembang anak<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Signs and Symptoms of ADHD. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/adhd\/signs-symptoms\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/adhd\/signs-symptoms\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diagnosing ADHD. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/adhd\/diagnosis\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/adhd\/diagnosis\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Signs and Symptoms of Autism Spectrum Disorder. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/signs-symptoms\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/signs-symptoms\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diagnosis of Autism Spectrum Disorder. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/diagnosis\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/diagnosis\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treatment of ADHD. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/adhd\/treatment\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/adhd\/treatment\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>National Institute of Mental Health (NIMH). Attention-Deficit\/Hyperactivity Disorder. <a href=\"https:\/\/www.nimh.nih.gov\/health\/topics\/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.nimh.nih.gov\/health\/topics\/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). Diagnosing ADHD in Children: Guidelines and Information for Parents. <a href=\"https:\/\/www.healthychildren.org\/English\/health-issues\/conditions\/adhd\/Pages\/Diagnosing-ADHD-in-Children-Guidelines-Information-for-Parents.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.healthychildren.org\/English\/health-issues\/conditions\/adhd\/Pages\/Diagnosing-ADHD-in-Children-Guidelines-Information-for-Parents.aspx<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Hyman SL, Levy SE, Myers SM; AAP. Identification, Evaluation, and Management of Children With Autism Spectrum Disorder. Pediatrics. 2020;145(1):e20193447. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/31843864\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/31843864\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Antshel KM, Russo N. Autism Spectrum Disorders and ADHD: Overlapping Phenomenology, Diagnostic Issues, and Treatment Considerations. Curr Psychiatry Rep. 2019;21(5):34. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/30903299\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/30903299\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Ramtekkar UP. DSM-5 Changes in Attention Deficit Hyperactivity Disorder and Autism Spectrum Disorder: Implications for Comorbid Sleep Issues. Children (Basel). 2017;4(8):62. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/28749421\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/28749421\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Lai MC, Kassee C, Besney R, dkk. Prevalence of co-occurring mental health diagnoses in the autism population: a systematic review and meta-analysis. Lancet Psychiatry. 2019;6(10):819\u2013829. <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/31447415\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/31447415\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>World Health Organization. Autism (fact sheet, diperbarui 17 September 2025). <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/autism-spectrum-disorders\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/autism-spectrum-disorders<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perbedaan ADHD dan autis pada anak dalam tabel: perhatian, sosial, rutinitas, sensorik. Bisakah terjadi bersamaan, dan apa yang perlu dibawa ke dokter?<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1941,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[25,9],"tags":[],"class_list":["post-1940","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kondisi-khusus","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1940","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1940"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1940\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2084,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1940\/revisions\/2084"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1941"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1940"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1940"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1940"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}