{"id":2108,"date":"2026-10-28T16:35:40","date_gmt":"2026-10-28T09:35:40","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=2108"},"modified":"2026-11-03T18:56:10","modified_gmt":"2026-11-03T11:56:10","slug":"perkembangan-anak-2-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/perkembangan-anak-2-tahun\/","title":{"rendered":"Perkembangan Anak 2 Tahun: Milestone 24\u201335 Bulan yang Perlu Dipantau"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Perkembangan anak 2 tahun ditandai oleh dua hal yang sering terjadi bersamaan: kosakata yang meledak dan kemauan yang makin kuat.<\/strong> Di rentang 24 sampai 35 bulan, anak mulai menggabungkan kata, berlari, memanjat, bermain pura-pura \u2014 dan juga lebih sering protes.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Usia 2 tahun juga merupakan titik pemeriksaan penting. Artikel ini merangkum kemampuan yang umumnya sudah muncul pada usia 24 dan 30 bulan, menjelaskan mengapa usia ini dianggap usia skrining, menandai hal yang perlu dibicarakan dengan dokter, dan memberi contoh stimulasi yang bisa Anda lakukan di rumah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Umumnya Sudah Bisa Dilakukan Anak Usia 2 Tahun?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Checklist <em>Learn the Signs. Act Early.<\/em> dari CDC menyusun milestone berdasarkan kemampuan yang dimiliki <strong>75% anak atau lebih<\/strong> pada usia tersebut. Jadi daftar di bawah bukan target yang harus dicapai sempurna, melainkan bahan untuk menilai apakah perkembangan anak berjalan beriringan di semua aspek.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Usia 24 bulan<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>memperhatikan saat orang lain terluka atau sedih, misalnya berhenti bermain atau ikut sedih saat ada yang menangis;<\/li>\n\n\n\n<li>melihat wajah Anda untuk tahu bagaimana harus bereaksi di situasi baru;<\/li>\n\n\n\n<li>menunjuk gambar di buku saat ditanya, misalnya &#8220;mana beruangnya?&#8221;;<\/li>\n\n\n\n<li>mengucapkan setidaknya dua kata yang digabung, misalnya &#8220;mau susu&#8221;;<\/li>\n\n\n\n<li>menunjuk setidaknya dua bagian tubuh saat diminta;<\/li>\n\n\n\n<li>memakai isyarat selain melambai dan menunjuk, misalnya mengangguk atau mengirim ciuman;<\/li>\n\n\n\n<li>memegang sesuatu dengan satu tangan sementara tangan lain bekerja, misalnya memegang wadah lalu membuka tutupnya;<\/li>\n\n\n\n<li>mencoba memakai tombol, sakelar, atau putaran pada mainan;<\/li>\n\n\n\n<li>bermain dengan lebih dari satu mainan sekaligus, misalnya menaruh makanan mainan di atas piring mainan;<\/li>\n\n\n\n<li>menendang bola, berlari, menaiki beberapa anak tangga dengan atau tanpa bantuan, dan makan dengan sendok.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Usia 30 bulan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC juga punya checklist khusus usia 30 bulan. Pada usia ini, umumnya anak sudah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>mengucapkan sekitar 50 kata;<\/li>\n\n\n\n<li>menggabungkan dua kata atau lebih yang salah satunya kata kerja, misalnya &#8220;mama pulang&#8221;;<\/li>\n\n\n\n<li>menyebutkan nama benda ketika Anda menunjuk gambar di buku dan bertanya &#8220;ini apa?&#8221;;<\/li>\n\n\n\n<li>memakai kata &#8220;aku&#8221;, &#8220;saya&#8221;, atau &#8220;kita&#8221;;<\/li>\n\n\n\n<li>mengikuti instruksi dua langkah, misalnya &#8220;taruh mainannya lalu tutup pintunya&#8221;;<\/li>\n\n\n\n<li>memakai benda untuk bermain pura-pura, misalnya menyuapi boneka dengan balok seolah-olah itu makanan;<\/li>\n\n\n\n<li>menunjukkan pemecahan masalah sederhana, misalnya berdiri di atas bangku kecil untuk menjangkau sesuatu;<\/li>\n\n\n\n<li>mengenal setidaknya satu warna, misalnya menunjuk krayon merah saat ditanya;<\/li>\n\n\n\n<li>bermain di samping anak lain dan kadang bermain bersama mereka;<\/li>\n\n\n\n<li>memutar benda dengan tangan, misalnya memutar kenop pintu atau membuka tutup botol;<\/li>\n\n\n\n<li>melepas sebagian pakaian sendiri, melompat dengan dua kaki, dan membuka halaman buku satu per satu.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tabel Ringkas Milestone 24 dan 30 Bulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel ini merangkum kedua checklist CDC per aspek, supaya mudah dibawa saat kontrol ke dokter atau posyandu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"819\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-1.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan milestone anak usia 24 bulan dan 30 bulan menurut daftar CDC\" class=\"wp-image-2110\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-1-300x205.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-1-1024x699.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-1-768x524.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perbandingan kemampuan yang umumnya sudah muncul pada usia 24 bulan dan 30 bulan menurut CDC.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Aspek<\/th><th>Umumnya pada 24 bulan<\/th><th>Umumnya pada 30 bulan<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Bahasa<\/td><td>Dua kata digabung; menunjuk gambar dan dua bagian tubuh<\/td><td>Sekitar 50 kata; frasa dua kata dengan kata kerja; memakai &#8220;aku&#8221; atau &#8220;kita&#8221;; menyebut nama benda di buku<\/td><\/tr><tr><td>Memahami instruksi<\/td><td>Merespons permintaan sederhana satu langkah<\/td><td>Mengikuti instruksi dua langkah<\/td><\/tr><tr><td>Sosial dan emosi<\/td><td>Menyadari orang lain sedih; melihat wajah Anda untuk mencari petunjuk<\/td><td>Bermain di samping anak lain dan kadang bersama mereka; menunjukkan hasil karyanya (&#8220;lihat aku!&#8221;); mengikuti rutinitas sederhana<\/td><\/tr><tr><td>Kognitif dan bermain<\/td><td>Memakai dua tangan dengan tugas berbeda; mencoba tombol dan sakelar; bermain dengan dua mainan sekaligus<\/td><td>Bermain pura-pura dengan benda pengganti; memecahkan masalah sederhana; mengenal satu warna<\/td><\/tr><tr><td>Motorik<\/td><td>Berlari, menendang bola, menaiki beberapa anak tangga, makan dengan sendok<\/td><td>Memutar kenop atau tutup botol; melepas sebagian pakaian sendiri; melompat dengan dua kaki; membuka halaman buku satu per satu<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/perkembangan-anak-1-tahun\/\">Perkembangan Anak 1 Tahun: Milestone 12\u201323 Bulan dan Cara Menstimulasinya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Usia 2 Tahun Disebut Usia Skrining<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menjelaskan bahwa pemantauan perkembangan (<em>developmental monitoring<\/em>) yang dilakukan orang tua dan tenaga kesehatan sehari-hari berbeda dari skrining (<em>developmental screening<\/em>) yang memakai alat terstandar. Untuk skrining, <em>American Academy of Pediatrics<\/em> menganjurkan skrining perkembangan pada usia <strong>9, 18, dan 30 bulan<\/strong>, serta skrining khusus autisme pada usia <strong>18 dan 24 bulan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kata lain, rentang 24\u201330 bulan adalah jendela ketika dua jenis skrining bertemu. Di Indonesia, versi yang paling mudah diakses adalah KPSP dan ceklis perkembangan di Buku KIA, yang diatur dalam Permenkes Nomor 66 Tahun 2014. Peraturan itu menetapkan pemantauan perkembangan <strong>setiap enam bulan untuk anak usia 12\u201372 bulan<\/strong>, dengan penimbangan berat badan setiap bulan dan pengukuran tinggi badan setiap tiga bulan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/sdidtk-kpsp-deteksi-dini-tumbuh-kembang\/\">SDIDTK dan KPSP: Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak di Posyandu dan Puskesmas<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tanda yang Sebaiknya Dibicarakan dengan Dokter<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menganjurkan untuk tidak menunggu dan segera berbicara dengan dokter bila anak belum mencapai milestone usianya, bila ada kekhawatiran lain, dan terutama bila anak kehilangan kemampuan yang sudah dimilikinya. Pada rentang 24\u201335 bulan, yang layak dibicarakan antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>belum menggabungkan dua kata yang bisa dimengerti pada usia 24 bulan;<\/li>\n\n\n\n<li>tidak menunjuk gambar atau bagian tubuh saat diminta;<\/li>\n\n\n\n<li>tidak memperhatikan anak lain dan tidak ikut bermain di dekat mereka;<\/li>\n\n\n\n<li>kemampuan bicara, bermain, atau sosial yang tadinya ada lalu hilang.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Butir-butir di atas berasal dari checklist CDC yang dikutip pada bagian sebelumnya. Di luar itu, CDC menyebut <strong>&#8220;kekhawatiran lain&#8221;<\/strong> sebagai alasan tersendiri untuk berbicara dengan dokter \u2014 termasuk bila Anda merasa anak kurang mendengar, atau bila cara berjalannya membuat Anda ragu. Anda tidak perlu menunggu sampai yakin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau kekhawatiran Anda terutama soal bicara, kami membahasnya lebih dalam di artikel tersendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-2-tahun-belum-bisa-bicara\/\">Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara: Kapan Harus Khawatir?<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Stimulasi Harian untuk Anak Usia 2 Tahun<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di usia ini anak belajar paling banyak dari percakapan dua arah, permainan pura-pura, dan kesempatan mencoba sendiri. Tips berikut diambil dari halaman CDC untuk usia 24 bulan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-2.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus berisi tujuh cara stimulasi harian untuk anak usia 2 tahun\" class=\"wp-image-2111\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-2-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-2-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-perkembangan-anak-2-tahun-2-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Tujuh stimulasi harian untuk anak usia 2 tahun, disusun dari tips CDC.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Bantu anak mengenali bunyi kata<\/strong> meski pengucapannya belum jelas \u2014 ulangi kata dengan pelan dan benar, tanpa mengoreksi secara menegur.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Beri bola untuk ditendang, digulirkan, dan dilempar.<\/strong> Ini sekaligus melatih bergantian.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sediakan mainan yang mengajarkan sebab-akibat<\/strong>, seperti mainan dengan tombol, sakelar, atau puzzle bentuk sederhana.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ajak bermain pura-pura<\/strong> dengan pakaian dewasa: topi, sepatu, kemeja.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Libatkan anak dalam pekerjaan ringan<\/strong>, misalnya membawa gelas plastik ke meja atau memasukkan mainan ke keranjang, lalu puji dengan kata-kata spesifik.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Beri krayon atau cat jari<\/strong> dan biarkan anak bereksplorasi, lalu tempel hasilnya di tempat yang bisa ia lihat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Awasi saat bermain dengan teman seusia.<\/strong> CDC mengingatkan bahwa anak usia ini bermain berdampingan dan belum tahu cara berbagi, jadi perebutan mainan adalah hal yang wajar.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Jaga rutinitas tidur dan makan.<\/strong> CDC menyebut anak usia ini butuh 11\u201314 jam tidur per hari termasuk tidur siang.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tantrum, Toilet Training, dan Layar: Apa yang Wajar di Usia Ini<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tantrum.<\/strong> CDC menyebut tantrum adalah hal yang normal pada rentang usia ini dan seharusnya makin pendek serta makin jarang seiring anak bertambah besar. Pengalihan perhatian bisa membantu, dan tidak masalah membiarkan anak menenangkan diri lebih dulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Toilet training.<\/strong> Baik pada halaman usia 18 bulan maupun 24 bulan, CDC menyebut sebagian besar anak baru berhasil toilet training pada usia <strong>2 sampai 3 tahun<\/strong>, dan menganjurkan Anda menanyakan kesiapan anak kepada dokter atau gurunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Layar.<\/strong> Pada usia 2 tahun, CDC menyarankan membatasi waktu layar maksimal satu jam per hari, berupa program anak dan ditemani orang dewasa. WHO menyampaikan batas yang sama untuk usia 2 tahun dalam pedoman 2019-nya, dengan catatan &#8220;lebih sedikit lebih baik&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-sulit-berteman\/\">Anak Sulit Berteman: Patokan Sosial per Usia<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak 2 tahun sudah bisa apa saja?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada usia 24 bulan, umumnya anak sudah menggabungkan dua kata seperti &#8220;mau susu&#8221;, menunjuk gambar di buku dan dua bagian tubuh saat diminta, memakai isyarat seperti mengangguk, bermain dengan dua mainan sekaligus, berlari, menendang bola, menaiki beberapa anak tangga, dan makan dengan sendok. Daftar CDC ini berisi kemampuan yang dimiliki 75% anak atau lebih.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa jumlah kata yang wajar untuk anak 2 tahun?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Checklist CDC usia 24 bulan tidak memakai jumlah kata, melainkan kemampuan menggabungkan dua kata. Patokan jumlah kata muncul di checklist usia 30 bulan, yaitu sekitar 50 kata atau lebih. Karena itu, yang lebih penting dinilai pada usia 2 tahun adalah apakah anak sudah mulai menggabungkan kata dan memahami perintah, bukan sekadar menghitung kosakatanya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak 2 tahun belum bisa bicara, apakah pasti autisme?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak. Keterlambatan bicara punya banyak kemungkinan penyebab, termasuk gangguan pendengaran dan keterlambatan bahasa yang berdiri sendiri. Yang tepat dilakukan adalah skrining oleh tenaga kesehatan, termasuk skrining autisme yang menurut anjuran AAP dilakukan pada usia 18 dan 24 bulan, serta pemeriksaan pendengaran bila diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah tantrum di usia 2 tahun tanda masalah perilaku?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyebut tantrum normal pada rentang usia ini dan seharusnya makin jarang serta makin pendek seiring bertambahnya usia. Yang perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan adalah bila tantrum sangat sering dan sangat lama, anak sering melukai diri atau orang lain, atau perkembangan di aspek lain juga tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kapan anak 2 tahun perlu diperiksa ke klinik tumbuh kembang?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah pertama biasanya skrining di puskesmas atau dokter anak dengan alat terstandar seperti KPSP. Bila hasilnya menunjukkan penyimpangan, atau bila anak tidak menggabungkan kata pada usia 24 bulan, tidak menunjuk, tidak merespons nama, atau kehilangan kemampuan, dokter dapat mengarahkan ke pemeriksaan tumbuh kembang yang lebih lengkap.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak 2 tahun belum mau toilet training, apakah terlambat?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Belum. CDC menyebut sebagian besar anak baru berhasil toilet training pada usia 2 sampai 3 tahun, dan menganjurkan orang tua menanyakan kesiapan anak kepada dokter atau guru. Memaksa sebelum anak siap umumnya membuat prosesnya lebih lama.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perkembangan anak 2 tahun paling mudah dinilai dari tiga hal: apakah anak mulai menggabungkan kata, apakah ia memahami dan mengikuti permintaan Anda, dan apakah ia tetap ingin berinteraksi. Usia 24\u201330 bulan adalah jendela skrining yang dianjurkan, jadi manfaatkan kunjungan posyandu dan Buku KIA untuk mengecek, bukan menunggu sampai anak masuk sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan, Anda bisa menelusuri <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik tumbuh kembang<\/a> atau membaca panduan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">klinik tumbuh kembang anak<\/a> untuk mencari layanan terdekat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>CDC \u2014 Learn the Signs. Act Early.: Milestones by 2 Years. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/2-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/2-years.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 Learn the Signs. Act Early.: Milestones by 30 Months. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/30-months.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/30-months.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 Developmental Monitoring and Screening (anjuran AAP: skrining perkembangan 9, 18, 30 bulan; skrining autisme 18 dan 24 bulan). <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/about\/developmental-monitoring-and-screening.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/about\/developmental-monitoring-and-screening.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 How Much Sleep Do I Need? (usia 1\u20132 tahun 11\u201314 jam per 24 jam, mengacu konsensus American Academy of Sleep Medicine). <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/sleep\/about_sleep\/how_much_sleep.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/sleep\/about_sleep\/how_much_sleep.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>WHO \u2014 Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age (siaran pers 24 April 2019). <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news\/item\/24-04-2019-to-grow-up-healthy-children-need-to-sit-less-and-play-more\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.who.int\/news\/item\/24-04-2019-to-grow-up-healthy-children-need-to-sit-less-and-play-more<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak (Pasal 4\u20136). <a href=\"https:\/\/platform.who.int\/docs\/default-source\/mca-documents\/policy-documents\/law\/idn-ch-14-03-law-2014-ind-moh-regulation-66-2014---monitoring-of-growth--development--and-disorder-of-child-growth.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Teks lengkap (PDF)<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkembangan anak 2 tahun: milestone usia 24 dan 30 bulan menurut CDC, usia skrining yang dianjurkan, tanda yang perlu diperiksa, dan stimulasinya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2109,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[23,9],"tags":[],"class_list":["post-2108","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-milestone-per-usia","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2108","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2108"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2108\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2823,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2108\/revisions\/2823"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2109"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}