{"id":2123,"date":"2026-10-28T16:36:39","date_gmt":"2026-10-28T09:36:39","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=2123"},"modified":"2026-11-04T10:53:35","modified_gmt":"2026-11-04T03:53:35","slug":"motorik-halus-dan-motorik-kasar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/motorik-halus-dan-motorik-kasar\/","title":{"rendered":"Motorik Halus dan Motorik Kasar: Perbedaan, Tahapan Usia, dan Stimulasinya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Motorik halus dan motorik kasar adalah dua aspek perkembangan gerak anak yang dipantau sejak bayi: motorik kasar memakai otot-otot besar, motorik halus memakai otot-otot kecil dengan koordinasi yang cermat.<\/strong> Keduanya dipakai sebagai aspek resmi pemantauan perkembangan anak di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang tua sering bingung membedakan keduanya, dan ikut bingung menilai mana yang perlu dilatih. Artikel ini menjelaskan definisi resminya, mengapa motorik kasar biasanya berkembang lebih dulu, tahapan per usia, aktivitas stimulasi di rumah untuk masing-masing, serta kapan keterlambatan gerak perlu diperiksakan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengertian Motorik Halus dan Motorik Kasar<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak mencantumkan empat aspek perkembangan yang dipantau, dan dua di antaranya adalah aspek gerak. Definisinya dalam lampiran peraturan itu:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"737\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-1.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan motorik kasar dan motorik halus beserta contohnya\" class=\"wp-image-2125\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-1-300x184.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-1-1024x629.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-1-768x472.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perbedaan motorik kasar dan motorik halus menurut definisi dalam lampiran Permenkes 66\/2014.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Gerak kasar atau motorik kasar<\/strong> adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar, seperti duduk dan berdiri.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Gerak halus atau motorik halus<\/strong> adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dengan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat, seperti mengamati sesuatu, menjimpit, dan menulis.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua aspek lainnya adalah kemampuan bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. Keempatnya dipantau bersamaan, karena keterlambatan di satu aspek sering memengaruhi aspek lain.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Pembeda<\/th><th>Motorik kasar<\/th><th>Motorik halus<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Otot yang dipakai<\/td><td>Otot-otot besar<\/td><td>Otot-otot kecil<\/td><\/tr><tr><td>Ciri utama<\/td><td>Pergerakan dan sikap tubuh<\/td><td>Gerakan yang butuh koordinasi cermat<\/td><\/tr><tr><td>Contoh pada bayi<\/td><td>Berguling, duduk, merangkak, berdiri<\/td><td>Mengamati benda, menjumput makanan kecil<\/td><\/tr><tr><td>Contoh pada balita<\/td><td>Berjalan, berlari, menendang bola, melompat<\/td><td>Mencoret, menumpuk balok, memakai sendok<\/td><\/tr><tr><td>Contoh usia prasekolah<\/td><td>Melompat dengan satu kaki, menaiki tangga bergantian kaki<\/td><td>Meronce, menggambar bentuk, mengancingkan baju<\/td><\/tr><tr><td>Profesi yang sering menangani<\/td><td>Fisioterapi anak<\/td><td>Terapi okupasi<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Motorik Kasar Biasanya Berkembang Lebih Dulu<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini bukan kebetulan. Lampiran Permenkes 66\/2014 menyebut perkembangan fungsi organ tubuh mengikuti dua pola yang tetap: pola <strong>sefalokaudal<\/strong>, yaitu perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala lalu menuju anggota tubuh bagian bawah; dan pola <strong>proksimodistal<\/strong>, yaitu perkembangan terjadi lebih dahulu di bagian proksimal \u2014 yang berkaitan dengan gerak kasar \u2014 lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang punya kemampuan gerak halus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu urutannya logis: anak lebih dulu mampu menegakkan kepala dan menguasai badannya, baru kemudian terampil memakai jari. Melatih motorik halus tanpa memberi kesempatan anak bergerak bebas cenderung tidak efektif, karena tangan butuh badan yang stabil sebagai tumpuan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tahapan Motorik Halus dan Kasar per Usia<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel berikut dirangkum dari daftar milestone CDC. Perlu diingat, daftar CDC memuat kemampuan yang dimiliki <strong>75% anak atau lebih<\/strong> pada usia tersebut, jadi ini bukan target yang harus dicapai persis pada hari ulang tahun anak.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Usia<\/th><th>Motorik kasar<\/th><th>Motorik halus<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>12 bulan<\/td><td>Menarik badan untuk berdiri; berjalan sambil berpegangan perabot<\/td><td>Menjumput benda kecil dengan jempol dan telunjuk; memasukkan benda ke wadah<\/td><\/tr><tr><td>18 bulan<\/td><td>Berjalan tanpa berpegangan; memanjat turun dari sofa atau kursi<\/td><td>Mencoret-coret; makan dengan tangan; mencoba memakai sendok<\/td><\/tr><tr><td>2 tahun<\/td><td>Berlari; menendang bola; menaiki beberapa anak tangga<\/td><td>Makan dengan sendok; memegang wadah dengan satu tangan sambil membuka tutupnya<\/td><\/tr><tr><td>30 bulan<\/td><td>Melompat dengan dua kaki terangkat dari lantai<\/td><td>Memutar kenop pintu atau membuka tutup botol; membuka halaman buku satu per satu<\/td><\/tr><tr><td>3 tahun<\/td><td>Memakai sebagian pakaian sendiri, misalnya celana longgar atau jaket<\/td><td>Meronce benda besar seperti manik besar atau makaroni; memakai garpu; menggambar bentuk bulat bila dicontohkan<\/td><\/tr><tr><td>5 tahun<\/td><td>Melompat dengan satu kaki<\/td><td>Mengancingkan beberapa kancing; menulis beberapa huruf dari namanya<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/perkembangan-anak-1-tahun\/\">Perkembangan Anak 1 Tahun: Milestone 12\u201323 Bulan dan Cara Menstimulasinya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Menstimulasi Motorik Kasar di Rumah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Motorik kasar paling berkembang lewat ruang dan kesempatan, bukan alat khusus. Beberapa aktivitas yang bisa Anda lakukan:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-2.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus berisi enam aktivitas stimulasi motorik kasar anak di rumah\" class=\"wp-image-2126\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-2-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-2-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-motorik-halus-dan-motorik-kasar-2-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Enam aktivitas sederhana untuk menstimulasi motorik kasar anak di rumah.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Beri waktu di lantai sejak bayi<\/strong>, termasuk tengkurap saat bangun dan diawasi, supaya otot leher, punggung, dan bahu terlatih.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Biarkan anak mendorong benda yang stabil<\/strong> saat belajar berjalan, dan ajak berjalan sambil berpegangan tangan Anda. CDC menyarankan untuk tidak memakai <em>baby walker<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sediakan bola<\/strong> untuk digulirkan, dilempar, lalu ditendang. Bola melatih keseimbangan sekaligus bergantian.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Buat rute sederhana di rumah<\/strong>: jalan di atas garis lakban, melangkahi bantal, naik-turun satu undakan dengan pengawasan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ajak ke ruang terbuka<\/strong> untuk berlari, memanjat alat permainan yang sesuai usia, dan berhenti-mulai mengikuti aba-aba &#8220;siap, satu, dua, jalan&#8221;.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Libatkan dalam pekerjaan rumah ringan<\/strong> seperti membawa keranjang pakaian atau mendorong kursi ke meja.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Menstimulasi Motorik Halus di Rumah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Motorik halus berkembang lewat kegiatan yang menuntut jari bekerja dengan tujuan, bukan lewat latihan menulis dini.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Makan sendiri.<\/strong> Mulai dari tangan, lalu sendok, lalu garpu. Terima bahwa akan berantakan \u2014 CDC menyebut hal ini bagian dari belajar.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Memindahkan benda kecil<\/strong> dengan jari, penjepit jemuran, atau sendok: biji-bijian, potongan buah, bola kapas. Selalu diawasi untuk menghindari tersedak.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Mencoret dan menggambar<\/strong> dengan krayon tebal, cat jari, atau jari di atas tepung. Anak 3 tahun umumnya sudah bisa menggambar bentuk bulat bila dicontohkan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Meronce<\/strong> manik besar, makaroni, atau potongan sedotan dengan tali yang kaku.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Buka-tutup.<\/strong> Tutup botol, kotak makan, tas berperekat, dan kancing pada pakaian sendiri.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bermain dengan bahan yang bisa ditekan<\/strong>: plastisin, adonan, spons basah. Ini melatih kekuatan tangan yang nantinya dibutuhkan untuk memegang pensil.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Puzzle dan menumpuk balok<\/strong>, lalu bergantian menjatuhkannya \u2014 CDC menyebut permainan ini untuk usia balita.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kementerian Kesehatan menekankan bahwa stimulasi sebaiknya dilakukan sejak lahir dan setiap hari, karena kurangnya stimulasi dapat berkontribusi pada penyimpangan tumbuh kembang. Kuncinya rutin dan menyenangkan, bukan lama dan memaksa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/terapi-okupasi-di-rumah\/\">Terapi Okupasi di Rumah: Aktivitas yang Bisa Orang Tua Lakukan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kapan Keterlambatan Motorik Perlu Diperiksa<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rentang normal untuk kemampuan motorik memang lebar. Studi WHO tentang perkembangan motorik (Martorell dkk., <em>Acta Paediatrica<\/em> 2006) mencatat kemampuan berjalan sendiri muncul pada rentang <strong>8,2 sampai 17,6 bulan<\/strong> pada persentil 1 sampai 99. Jadi perbedaan beberapa bulan antar anak adalah hal biasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang tidak boleh ditunda, menurut anjuran CDC, adalah bila anak belum mencapai milestone usianya, bila Anda punya kekhawatiran, dan terutama bila anak <strong>kehilangan kemampuan<\/strong> yang sudah dimilikinya. Pada aspek gerak, hal berikut layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>belum berjalan tanpa berpegangan pada usia 18 bulan;<\/li>\n\n\n\n<li>kemampuan gerak yang sudah dimiliki menghilang;<\/li>\n\n\n\n<li>kemampuan motorik pada tabel usianya belum muncul, baik yang kasar maupun yang halus.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain ketiganya, CDC menyebut <strong>kekhawatiran Anda sendiri<\/strong> sebagai alasan yang cukup. Jadi bila ada hal lain yang mengganjal \u2014 misalnya cara berjalan yang terlihat berbeda, anak tampak jauh lebih sering jatuh, satu sisi tubuh jarang dipakai, atau tubuhnya terasa sangat lemas maupun sangat kaku saat digendong \u2014 sampaikan apa adanya saat berkonsultasi. Pengamatan Anda sehari-hari adalah bahan yang berguna bagi pemeriksa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes 66\/2014 juga mengatur bahwa intervensi dini diarahkan pada aspek yang mengalami penyimpangan \u2014 bila yang terlambat adalah gerak kasar, maka itulah yang diintervensi. Karena itu pemeriksaan biasanya dimulai dengan skrining untuk memastikan aspek mana yang tertinggal, bukan langsung terapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila keterlambatan terutama pada kemampuan berjalan, kami membahasnya lebih rinci di artikel tersendiri. Untuk gambaran siapa yang menangani apa, <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/fisioterapi-anak\/\">fisioterapi anak<\/a> umumnya berfokus pada gerak dan postur tubuh, sementara <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/terapi-okupasi-adalah-pengertian-manfaat-dan-contoh-kegiatan-untuk-anak\/\">terapi okupasi<\/a> berfokus pada keterampilan sehari-hari termasuk motorik halus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-belum-bisa-menulis\/\">Anak Belum Bisa Menulis: Kapan Wajar dan Apa yang Bisa Dibantu<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-sering-jatuh\/\">Anak Sering Jatuh: Dua Patokan yang Lebih Berguna daripada Menghitung<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/gangguan-perkembangan-motorik\/\">Gangguan Perkembangan Fungsi Motorik (F82): Arti dan Bedanya dengan Terlambat Motorik<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/bayi-belum-tengkurap\/\">Bayi Belum Tengkurap: Patokan Usia dan Kapan Perlu Diperiksa<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tummy-time\/\">Tummy Time: Mulai Usia Berapa dan Cara Melakukannya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa perbedaan motorik halus dan motorik kasar?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Permenkes 66\/2014, motorik kasar adalah kemampuan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk dan berdiri, sedangkan motorik halus adalah gerakan yang melibatkan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi cermat seperti menjimpit dan menulis. Singkatnya: motorik kasar soal badan bergerak, motorik halus soal tangan bekerja dengan teliti.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Contoh motorik halus pada anak apa saja?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya menjumput potongan kecil makanan dengan jempol dan telunjuk, mencoret-coret, memakai sendok lalu garpu, membuka tutup botol, meronce manik besar, membuka halaman buku satu per satu, mengancingkan kancing, dan menulis beberapa huruf dari namanya. Urutan kemunculannya bertahap dari usia bayi hingga prasekolah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mana yang harus dilatih lebih dulu, motorik halus atau kasar?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keduanya dilatih bersamaan, tetapi perlu diingat bahwa perkembangan mengikuti pola proksimodistal: bagian proksimal yang berkaitan dengan gerak kasar berkembang lebih dahulu, lalu berkembang ke jari-jari yang menangani gerak halus. Karena itu, memberi anak banyak kesempatan bergerak biasanya juga menguntungkan keterampilan tangannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah anak yang tidak melewati tahap merangkak bermasalah?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak otomatis bermasalah. Daftar milestone CDC untuk usia 12 bulan menyebut menarik badan untuk berdiri dan berjalan sambil berpegangan, bukan merangkak, sebagai penanda. Yang lebih penting dinilai adalah apakah kemampuan gerak anak terus bertambah, apakah kedua sisi tubuh dipakai seimbang, dan apakah tonus ototnya wajar. Bila ada keraguan, mintalah penilaian tenaga kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah motorik halus yang lemah berarti anak akan sulit menulis?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Belum tentu, dan menulis bukan satu-satunya ukuran. Kesiapan menulis membutuhkan kekuatan tangan, koordinasi mata-tangan, perhatian, serta kematangan usia. Yang lebih berguna sebelum usia sekolah adalah memberi banyak kegiatan tangan yang bervariasi, bukan memulai latihan menulis lebih dini. Bila kesulitannya mencolok dibanding teman sebaya, diskusikan dengan tenaga kesehatan atau terapis okupasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Terapi apa yang dipakai untuk keterlambatan motorik?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tergantung aspek yang tertinggal dan hasil pemeriksaan. Secara umum, gerak dan postur tubuh menjadi ranah fisioterapi anak, sedangkan keterampilan sehari-hari dan motorik halus menjadi ranah terapi okupasi. Permenkes 66\/2014 mengarahkan intervensi dini pada aspek yang mengalami penyimpangan, sehingga penentuannya dilakukan setelah skrining, bukan sebelum.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Motorik halus dan motorik kasar adalah dua dari empat aspek perkembangan yang dipantau secara resmi di Indonesia, dengan definisi yang jelas: otot besar untuk gerak kasar, otot kecil dengan koordinasi cermat untuk gerak halus. Karena perkembangan berjalan dari badan ke jari, memberi anak ruang bergerak sama pentingnya dengan menyediakan kegiatan tangan. Pakai daftar milestone sebagai bahan percakapan, dan jangan menunda bertanya bila ada kemampuan yang belum muncul atau justru hilang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila tenaga kesehatan menyarankan pemeriksaan lanjutan, Anda bisa mencari layanan terdekat lewat <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik tumbuh kembang<\/a> atau panduan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">klinik tumbuh kembang anak<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak \u2014 lampiran: aspek perkembangan yang dipantau (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian), pola sefalokaudal dan proksimodistal, serta arahan intervensi dini pada aspek yang menyimpang. <a href=\"https:\/\/platform.who.int\/docs\/default-source\/mca-documents\/policy-documents\/law\/idn-ch-14-03-law-2014-ind-moh-regulation-66-2014---monitoring-of-growth--development--and-disorder-of-child-growth.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Teks lengkap (PDF)<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 Learn the Signs. Act Early.: Milestones by 1 Year, 18 Months, 2 Years, 30 Months, 3 Years, dan 5 Years. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/1-year.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Milestones by 1 Year<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/18-months.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">18 Months<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/2-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">2 Years<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/30-months.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">30 Months<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/3-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Years<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/5-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Years<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Martorell R. dkk. (WHO Multicentre Growth Reference Study Group), WHO Motor Development Study: windows of achievement for six gross motor development milestones. <em>Acta Paediatrica<\/em>, 2006.<\/li>\n\n\n\n<li>Kementerian Kesehatan RI \u2014 Tugas Perkembangan Anak dan Stimulasinya: stimulasi dilakukan sejak lahir dan setiap hari; kurang stimulasi berkontribusi pada penyimpangan tumbuh kembang. <a href=\"https:\/\/keslan.kemkes.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/keslan.kemkes.go.id\/<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Motorik halus dan motorik kasar: definisi resmi Permenkes, tahapan per usia, contoh aktivitas stimulasi di rumah, dan kapan perlu diperiksa.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2124,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[26,9],"tags":[],"class_list":["post-2123","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-stimulasi-di-rumah","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2123"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2123\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2922,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2123\/revisions\/2922"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2124"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2123"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2123"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}