{"id":2584,"date":"2026-10-30T19:03:13","date_gmt":"2026-10-30T12:03:13","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=2584"},"modified":"2026-10-30T19:03:13","modified_gmt":"2026-10-30T12:03:13","slug":"tingkatan-autisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tingkatan-autisme\/","title":{"rendered":"Tingkatan Autisme Level 1, 2, dan 3: Arti dan Istilah yang Sudah Tidak Dipakai"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Banyak orang tua pertama kali bertemu istilah &#8220;Level 1&#8221;, &#8220;Level 2&#8221;, atau &#8220;Level 3&#8221; di dalam laporan hasil pemeriksaan anaknya, tanpa penjelasan yang cukup tentang artinya.<\/strong> Angka itu mudah disalahartikan sebagai nilai, peringkat kecerdasan, atau vonis seumur hidup. Tidak satu pun dari ketiganya benar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini menjelaskan dari mana istilah level itu berasal, apa makna ketiganya, istilah-istilah lama yang sudah tidak dipakai lagi, dan apa yang sebaiknya ditanyakan orang tua ketika menerima laporan berisi angka tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dari Mana Istilah Level Ini Berasal<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah level berasal dari kriteria diagnostik DSM-5, panduan yang banyak dipakai profesional kesehatan jiwa dan perkembangan. Dalam ringkasan kriteria yang diterbitkan CDC untuk tenaga kesehatan, derajat keparahan autism spectrum disorder dinilai <strong>berdasarkan dua hal: hambatan komunikasi sosial, serta pola perilaku yang terbatas dan berulang<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada satu detail yang sering hilang saat istilah ini sampai ke orang tua: <strong>kedua hal itu dinilai masing-masing<\/strong>. Artinya seorang anak bisa saja berada pada level yang berbeda untuk komunikasi sosial dan untuk pola perilaku. Laporan yang baik biasanya menuliskan keduanya, bukan satu angka tunggal.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tiga Level dan Artinya<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Level<\/th><th>Rumusan dalam kriteria<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Level 1<\/td><td>Membutuhkan dukungan<\/td><\/tr><tr><td>Level 2<\/td><td>Membutuhkan dukungan substansial<\/td><\/tr><tr><td>Level 3<\/td><td>Membutuhkan dukungan sangat substansial<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan bahwa ketiga rumusan itu berbicara tentang <strong>seberapa banyak dukungan yang dibutuhkan<\/strong>, bukan tentang seberapa &#8220;parah&#8221; seorang anak sebagai pribadi. Ini bukan nilai rapor dan bukan urutan harapan masa depan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-1.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus berisi tiga level autisme dan hal yang perlu dipahami tentang penilaiannya\" class=\"wp-image-2586\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-1-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-1-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-1-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Tiga level autisme menggambarkan kebutuhan dukungan, bukan peringkat kemampuan.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumusan resminya memang sesingkat itu, dan itulah sebabnya laporan yang hanya menuliskan angka sering terasa tidak menjelaskan apa pun. Apa arti level tersebut <em>untuk anak Anda<\/em> hanya bisa dijawab oleh pemeriksa yang menilainya \u2014 dalam bentuk contoh perilaku yang teramati dan bentuk dukungan yang disarankan. Pertanyaan untuk menggalinya ada di bagian akhir artikel ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/ciri-ciri-autisme-pada-anak\/\">Ciri-Ciri Autisme pada Anak per Usia: Tanda Awal yang Perlu Diperhatikan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Yang Sering Disalahpahami tentang Level<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Level bukan ukuran kecerdasan.<\/strong> Kemampuan berpikir dinilai dengan pemeriksaan yang berbeda. Anak dengan Level 2 bisa saja punya kemampuan akademik yang kuat di bidang tertentu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Level bukan daftar kemampuan.<\/strong> Dua anak dengan level yang sama bisa sangat berbeda: satu lancar bicara tetapi sulit membaca situasi sosial, satu lagi sebaliknya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Level menggambarkan kebutuhan dukungan pada saat dinilai.<\/strong> Kebutuhan dukungan dapat berubah seiring anak bertambah besar dan seiring lingkungan menyesuaikan diri. CDC menggambarkan bahwa kemampuan orang dengan autisme sangat bervariasi: ada yang membutuhkan banyak bantuan dalam kehidupan sehari-hari, ada yang bisa bekerja dan hidup dengan sedikit atau tanpa dukungan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Level bukan syarat untuk mendapat layanan.<\/strong> Yang menentukan isi program terapi adalah kebutuhan anak yang terlihat dari asesmen, bukan angkanya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Istilah Lama yang Sudah Tidak Dipakai<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum DSM-5, ada beberapa diagnosis terpisah yang kini dilebur. Dalam ringkasan kriteria yang diterbitkan CDC disebutkan bahwa individu dengan <strong>diagnosis DSM-IV yang sudah mapan berupa autistic disorder, Asperger&#8217;s disorder, atau pervasive developmental disorder not otherwise specified (PDD-NOS)<\/strong> kini sebaiknya diberi diagnosis <strong>autism spectrum disorder<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"709\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-2.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan istilah diagnosis autisme lama dan sekarang\" class=\"wp-image-2587\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-2-300x177.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-2-1024x605.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/infografik-tingkatan-autisme-2-768x454.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Istilah lama seperti Asperger dan PDD-NOS kini berada di bawah autism spectrum disorder.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini menjelaskan beberapa hal yang membingungkan keluarga:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengapa laporan lama memakai istilah &#8220;Asperger&#8221; sementara laporan baru memakai &#8220;spektrum autisme&#8221;.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengapa sebagian orang dewasa masih memperkenalkan diri dengan istilah Asperger \u2014 karena itulah istilah yang berlaku ketika mereka didiagnosis.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengapa istilah PDD-NOS hilang dari laporan baru.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada juga catatan tambahan dalam kriteria tersebut: individu yang menunjukkan hambatan komunikasi sosial yang menonjol tetapi tidak memenuhi kriteria autism spectrum disorder sebaiknya dievaluasi untuk <strong>social (pragmatic) communication disorder<\/strong>, yaitu gangguan komunikasi sosial atau pragmatik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/penyebab-autisme\/\">Penyebab Autisme: Apa yang Sudah Diketahui dan Apa yang Belum<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana dengan Istilah &#8220;Autisme Ringan&#8221; dan &#8220;Autisme Berat&#8221;?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua istilah ini sangat umum dalam percakapan sehari-hari, tetapi keduanya <strong>bukan istilah yang ada dalam kriteria diagnostik<\/strong>. Yang ada adalah tiga level kebutuhan dukungan tadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah dengan istilah &#8220;ringan&#8221; bukan sekadar soal ketepatan. Istilah itu sering membuat kebutuhan anak diremehkan \u2014 misalnya anggapan bahwa anak yang lancar bicara tidak butuh dukungan di sekolah, padahal kesulitannya ada di area lain. Sebaliknya, istilah &#8220;berat&#8221; sering membuat orang menutup kemungkinan yang sebenarnya masih terbuka.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Yang Sebaiknya Ditanyakan Saat Menerima Laporan<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Level ini untuk area yang mana?<\/strong> Komunikasi sosial, pola perilaku, atau keduanya dinilai terpisah?<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Apa contoh konkretnya pada anak saya?<\/strong> Minta contoh perilaku yang teramati, bukan hanya istilah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Dukungan seperti apa yang dimaksud?<\/strong> Di rumah, di sekolah, dan di tempat umum bisa berbeda.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Apa tiga tujuan pertama yang akan dikerjakan?<\/strong> Tujuan yang konkret lebih berguna daripada label.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kapan penilaian ini akan ditinjau ulang?<\/strong> Kebutuhan dukungan dapat berubah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Apa yang bisa saya lakukan di rumah?<\/strong> Mintalah dalam bentuk kegiatan harian, bukan daftar istilah.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/terapi-aba\/\">Terapi ABA untuk Anak: Pengertian, Metode, dan Hal yang Perlu Ditanyakan Orang Tua<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Ada berapa tingkatan autisme?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada tiga, sesuai kriteria DSM-5 yang diringkas CDC: Level 1 membutuhkan dukungan, Level 2 membutuhkan dukungan substansial, dan Level 3 membutuhkan dukungan sangat substansial. Keparahan dinilai pada dua area, yaitu komunikasi sosial serta pola perilaku yang terbatas dan berulang, dan keduanya dinilai masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah level autisme bisa berubah?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Level menggambarkan kebutuhan dukungan pada saat penilaian dilakukan. Karena anak terus berkembang dan lingkungan bisa menyesuaikan diri, kebutuhan dukungan dapat berubah. Karena itu penting menanyakan kapan penilaian akan ditinjau ulang. Perubahan angka pada laporan bukan berarti penilaian sebelumnya salah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah Asperger sama dengan autisme?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sistem diagnosis yang berlaku sekarang, Asperger&#8217;s disorder tidak lagi menjadi diagnosis tersendiri. Ringkasan kriteria yang diterbitkan CDC menyebutkan bahwa individu dengan diagnosis DSM-IV yang sudah mapan berupa Asperger&#8217;s disorder sebaiknya diberi diagnosis autism spectrum disorder.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak saya Level 1, apakah berarti tidak perlu terapi?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak. Level 1 berarti membutuhkan dukungan, bukan tidak membutuhkan apa-apa. Yang menentukan perlu atau tidaknya suatu layanan adalah hasil asesmen kebutuhan dan tujuan yang disepakati, bukan angka levelnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah level menentukan anak bisa sekolah umum atau tidak?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak secara langsung. Keputusan tentang penempatan sekolah dan bentuk dukungannya diambil berdasarkan kebutuhan anak, kesiapan sekolah, dan diskusi antara orang tua, sekolah, serta profesional yang menangani. Dua anak dengan level yang sama bisa membutuhkan pengaturan yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mengapa laporan dari dua tempat bisa berbeda levelnya?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penilaian dilakukan pada waktu, situasi, dan dengan sumber informasi yang berbeda. Anak juga bisa menunjukkan perilaku berbeda di tempat yang berbeda. Bila Anda menerima dua laporan yang berbeda, bawa keduanya saat berkonsultasi dan tanyakan apa yang menjelaskan perbedaan itu, alih-alih memilih salah satu yang terdengar lebih melegakan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Level 1, 2, dan 3 pada laporan autisme menggambarkan <strong>seberapa banyak dukungan yang dibutuhkan<\/strong>, dinilai pada dua area yang terpisah, dan menggambarkan kondisi pada saat penilaian dilakukan. Angka itu bukan ukuran kecerdasan, bukan daftar kemampuan, dan bukan vonis permanen. Istilah lama seperti Asperger dan PDD-NOS kini berada di bawah satu payung autism spectrum disorder.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang paling berguna bagi keluarga bukan menghafal angkanya, melainkan menanyakan contoh konkret, bentuk dukungan yang dimaksud, dan tujuan yang akan dikerjakan lebih dulu. Bila Anda sedang mencari layanan pemeriksaan atau terapi, <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">panduan klinik tumbuh kembang anak<\/a> menjelaskan apa yang perlu ditanyakan sebelum mendaftar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>CDC \u2014 Diagnosis of Autism Spectrum Disorder (untuk tenaga kesehatan, 8 Mei 2025): ringkasan kriteria DSM-5, penilaian keparahan pada dua area, tiga level dukungan, serta ketentuan mengenai diagnosis DSM-IV autistic disorder, Asperger&#8217;s disorder, dan PDD-NOS. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/hcp\/diagnosis\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/hcp\/diagnosis\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 About Autism Spectrum Disorder (13 April 2026): variasi kemampuan orang dengan autisme dan kebutuhan dukungan yang berbeda-beda. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/about\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/autism\/about\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>WHO \u2014 Fact sheet: Autism (17 September 2025): gambaran umum kondisi, kondisi penyerta, dan pendekatan dukungan. <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/autism-spectrum-disorders\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/autism-spectrum-disorders<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Level 1, 2, dan 3 pada laporan autisme menunjukkan kebutuhan dukungan, bukan kecerdasan. Ini artinya dan nasib istilah Asperger serta PDD-NOS.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2585,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[25,9],"tags":[],"class_list":["post-2584","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kondisi-khusus","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2584","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2584"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2584\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2588,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2584\/revisions\/2588"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2585"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}