{"id":2612,"date":"2026-11-01T09:27:00","date_gmt":"2026-11-01T02:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=2612"},"modified":"2026-11-03T18:56:07","modified_gmt":"2026-11-03T11:56:07","slug":"tes-calistung-masuk-sd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tes-calistung-masuk-sd\/","title":{"rendered":"Tes Calistung Masuk SD: Aturan yang Berlaku dan Apa yang Perlu Disiapkan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Setiap menjelang tahun ajaran baru, pertanyaan yang sama kembali muncul: apakah anak harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung agar diterima di SD?<\/strong> Jawaban menurut peraturan jelas: penerimaan murid kelas 1 tidak boleh didasarkan pada hasil tes calistung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun kenyataan di lapangan sering terasa berbeda, dan itulah yang membuat orang tua bingung. Artikel ini merangkum apa yang tertulis dalam peraturan, apa yang sebenarnya menentukan kesiapan anak masuk SD, apa yang berguna disiapkan di rumah, dan apa yang bisa Anda tanyakan kepada sekolah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Kata Peraturannya<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketentuan yang paling sering dirujuk ada di <strong>Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, Pasal 69<\/strong>. Isinya mengatur beberapa hal sekaligus:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-1.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus berisi enam ketentuan Pasal 69 PP 17 Tahun 2010 tentang penerimaan murid kelas satu SD\" class=\"wp-image-2614\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-1-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-1-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-1-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Enam ketentuan Pasal 69 PP 17\/2010 tentang penerimaan murid kelas 1 SD.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Ayat<\/th><th>Isi ketentuan<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Ayat (1)<\/td><td>Peserta didik pada SD\/MI atau bentuk lain yang sederajat paling rendah berusia 6 tahun<\/td><\/tr><tr><td>Ayat (2)<\/td><td>Pengecualian terhadap ketentuan usia tersebut dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog profesional<\/td><\/tr><tr><td>Ayat (3)<\/td><td>Dalam hal tidak ada psikolog profesional, rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan, sampai dengan batas daya tampungnya<\/td><\/tr><tr><td>Ayat (4)<\/td><td>SD\/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 sampai 12 tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya<\/td><\/tr><tr><td>Ayat (5)<\/td><td><strong>Penerimaan peserta didik kelas 1 SD\/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Ayat (6)<\/td><td>SD\/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkelainan<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan bagian akhir ayat (5): larangannya tidak berhenti pada calistung, tetapi juga mencakup <strong>&#8220;atau bentuk tes lain&#8221;<\/strong>. Jadi mengganti nama kegiatan menjadi &#8220;tes kesiapan&#8221;, &#8220;psikotes&#8221;, atau &#8220;wawancara penyaringan&#8221; tidak mengubah apa yang dilarang, sepanjang hasilnya dipakai sebagai dasar penerimaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain PP tersebut, ketentuan penerimaan murid baru juga diatur ulang setiap periode lewat peraturan menteri yang berlaku saat itu. Karena ketentuan tahunan ini berubah-ubah namanya dan nomornya, hal yang paling aman dilakukan orang tua adalah menanyakan ke dinas pendidikan kabupaten\/kota tentang aturan yang berlaku pada tahun berjalan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Membedakan Seleksi dari Kegiatan Lain<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu hal yang membantu membaca situasi: yang dilarang ayat (5) adalah <strong>menjadikan hasil tes sebagai dasar penerimaan<\/strong>. Kegiatan yang dilakukan sekolah setelah anak diterima, misalnya untuk pemetaan kelas, bukan hal yang sama \u2014 meski dari sisi orang tua keduanya bisa terlihat mirip.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, bila Anda menghadapi proses yang terasa seperti seleksi akademik, dua langkah ini lebih berguna daripada menebak: tanyakan kepada sekolah apa tujuan kegiatan tersebut dan bagaimana hasilnya dipakai, lalu sampaikan pertanyaan yang sama ke dinas pendidikan kabupaten\/kota bila jawabannya belum jelas.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Lalu Apa yang Sebenarnya Menentukan Kesiapan?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesiapan masuk SD jauh lebih luas daripada kemampuan membaca. Hal-hal berikut biasanya lebih menentukan apakah seorang anak bisa menjalani hari sekolah dengan nyaman:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kemandirian dasar<\/strong>: ke kamar mandi sendiri, membuka bekal, memakai sepatu, menjaga barangnya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Mengikuti instruksi beberapa langkah<\/strong> dari orang dewasa yang bukan orang tuanya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bertahan pada satu kegiatan<\/strong> untuk jangka waktu yang wajar bagi usianya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kemampuan berbahasa<\/strong>: menyampaikan kebutuhan, bertanya ketika tidak mengerti, bercerita sederhana.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Keterampilan sosial<\/strong>: bergantian, menunggu, menyelesaikan perselisihan kecil tanpa selalu dibantu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Motorik halus<\/strong>: memegang alat tulis, menggunting, merapikan barang.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Daftar ini bukan alat penilaian dan bukan daftar syarat. Fungsinya adalah mengalihkan perhatian dari &#8220;sudah bisa membaca atau belum&#8221; ke hal-hal yang benar-benar dipakai anak setiap hari di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/perkembangan-anak-3-tahun\/\">Perkembangan Anak 3 Tahun: Milestone 36\u201347 Bulan dan Cara Menstimulasinya<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tes-kesiapan-masuk-sd\/\">Tes Kesiapan Masuk SD: Apa yang Dinilai dan Cara Menyiapkan Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Yang Berguna Dilakukan di Rumah<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Membacakan buku bersama<\/strong> dan mengobrol tentang isinya. Ini membangun kosakata dan minat, bukan sekadar kemampuan mengeja.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Melibatkan anak dalam kegiatan harian<\/strong> yang menuntut urutan langkah: menyiapkan meja makan, membereskan mainan, menyiapkan tas.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Memberi kesempatan bermain dengan anak lain<\/strong>, karena di situlah keterampilan sosial dilatih.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Melatih motorik halus lewat kegiatan menyenangkan<\/strong>: menggunting, meronce, menempel, menggambar.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Membiasakan rutinitas tidur dan bangun<\/strong> yang mendekati jadwal sekolah, beberapa minggu sebelum mulai.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Menghindari latihan soal berjam-jam.<\/strong> Anak yang lelah dan merasa diuji cenderung kehilangan minat sebelum sekolah dimulai.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana Bila Anak Punya Kebutuhan Khusus?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasal 69 ayat (6) peraturan yang sama menyatakan bahwa SD\/MI atau bentuk lain yang sederajat <strong>wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkelainan<\/strong>. Ini penting diketahui orang tua yang anaknya menjalani terapi atau punya kebutuhan dukungan tertentu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"764\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-2.jpg\" alt=\"Infografik KlinikPlus dua kolom tentang persiapan masuk SD yang berguna dan yang tidak perlu\" class=\"wp-image-2615\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-2-300x191.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-2-1024x652.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-calistung-masuk-sd-2-768x489.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Persiapan masuk SD yang berguna dibanding yang justru menambah tekanan.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang membantu dalam praktiknya: bicarakan kebutuhan anak dengan sekolah sejak awal, bawa ringkasan dari tenaga yang menangani bila ada, dan bahas bentuk dukungan yang realistis di sekolah tersebut. Percakapan yang dimulai lebih awal hampir selalu lebih mudah daripada yang dimulai setelah masalah muncul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/abk-adalah\/\">ABK Adalah: Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus, Jenis, dan Terapinya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Yang Sebaiknya Ditanyakan ke Sekolah<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Apa saja tahapan penerimaan murid baru di sekolah ini, dan apa dasar aturannya?<\/li>\n\n\n\n<li>Bila ada kegiatan observasi atau wawancara, apa tujuannya dan bagaimana hasilnya dipakai?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana sekolah mendampingi murid kelas 1 yang belum lancar membaca?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana bentuk komunikasi rutin antara wali kelas dan orang tua?<\/li>\n\n\n\n<li>Dukungan apa yang tersedia bagi murid dengan kebutuhan khusus?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/terapi-remedial\/\">Terapi Remedial: Apa Itu, untuk Siapa, dan Bedanya dengan Les Tambahan<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-belum-bisa-menulis\/\">Anak Belum Bisa Menulis: Kapan Wajar dan Apa yang Bisa Dibantu<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-belum-bisa-berhitung\/\">Anak Belum Bisa Berhitung: Kapan Wajar dan Apa yang Bisa Dibantu<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah tes calistung untuk masuk SD dilarang?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PP Nomor 17 Tahun 2010 Pasal 69 ayat (5) menyatakan bahwa penerimaan peserta didik kelas 1 SD\/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain. Ketentuan penerimaan murid baru juga diatur ulang setiap periode oleh peraturan menteri yang berlaku; tanyakan ke dinas pendidikan setempat untuk aturan tahun berjalan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Umur berapa anak boleh masuk SD?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut pasal yang sama, peserta didik SD\/MI paling rendah berusia 6 tahun. Pengecualian dimungkinkan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog profesional, dan bila tidak ada psikolog profesional, rekomendasi dapat diberikan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan sampai batas daya tampung. Sekolah juga wajib menerima warga negara berusia 7 sampai 12 tahun sampai batas daya tampungnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Sekolah anak saya mengadakan tes. Apakah itu melanggar?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang dilarang adalah menjadikan hasil tes sebagai dasar penerimaan. Kegiatan observasi untuk keperluan lain, misalnya pemetaan kelas setelah anak diterima, berbeda dari seleksi. Karena itu tanyakan dengan tenang: apa tujuan kegiatan ini dan bagaimana hasilnya dipakai. Bila jawabannya tidak jelas, tanyakan ke dinas pendidikan kabupaten\/kota.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kalau tidak boleh dites, bagaimana sekolah memilih bila pendaftarnya banyak?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mekanisme penerimaan diatur dalam ketentuan penerimaan murid baru yang berlaku pada tahun berjalan, dan umumnya tidak bertumpu pada kemampuan akademik calon murid. Karena rinciannya dapat berbeda antar daerah dan antar tahun, informasi paling tepat ada di dinas pendidikan setempat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah anak saya perlu les calistung sebelum masuk SD?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada ketentuan yang mensyaratkannya, dan penerimaan tidak boleh didasarkan pada kemampuan tersebut. Yang lebih berguna pada usia ini adalah membacakan buku bersama, melatih kemandirian, dan memberi kesempatan bermain dengan anak lain. Bila Anda khawatir tentang kemampuan belajar anak, bicarakan dengan guru PAUD atau tenaga profesional, bukan menambah jam latihan soal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak saya menjalani terapi. Apakah boleh masuk SD biasa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasal 69 ayat (6) menyatakan bahwa sekolah wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkelainan. Bentuk dukungan yang paling sesuai dibicarakan bersama sekolah dan tenaga yang menangani anak Anda. Mulailah percakapan itu lebih awal, dan bawa ringkasan perkembangan anak bila ada.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut PP Nomor 17 Tahun 2010 Pasal 69 ayat (5), penerimaan murid kelas 1 SD tidak didasarkan pada hasil tes membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain. Usia minimal 6 tahun, dengan pengecualian lewat rekomendasi psikolog profesional, dan sekolah wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkelainan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi orang tua, pekerjaan yang lebih berguna daripada mengejar calistung adalah menyiapkan kemandirian, bahasa, dan keterampilan sosial anak \u2014 lalu mengajukan pertanyaan yang tepat kepada sekolah. Bila Anda melihat kesulitan belajar yang menetap setelah anak bersekolah, <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">panduan klinik tumbuh kembang anak<\/a> dapat membantu Anda memahami layanan yang tersedia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat hukum. Ketentuan penerimaan murid baru dapat berubah setiap periode; konfirmasikan aturan yang berlaku ke dinas pendidikan kabupaten\/kota setempat.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan \u2014 Pasal 69 ayat (1) sampai (6). <a href=\"https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Download\/35870\/PP%2017%20Tahun%202010.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Teks lengkap (PDF, JDIH BPK)<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 \u2014 halaman detail dan status peraturan di JDIH BPK. <a href=\"https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Details\/5025\/pp-no-17-tahun-2010\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Details\/5025\/pp-no-17-tahun-2010<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penerimaan murid kelas 1 SD tidak boleh didasarkan pada tes calistung. Ini bunyi aturannya, syarat usia, dan yang berguna disiapkan di rumah.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[47,9],"tags":[],"class_list":["post-2612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-sekolah-anak","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2612"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2820,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2612\/revisions\/2820"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}