{"id":2752,"date":"2026-11-03T18:35:44","date_gmt":"2026-11-03T11:35:44","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=2752"},"modified":"2026-11-04T10:53:29","modified_gmt":"2026-11-04T03:53:29","slug":"gangguan-perkembangan-motorik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/gangguan-perkembangan-motorik\/","title":{"rendered":"Gangguan Perkembangan Fungsi Motorik (F82): Arti dan Bedanya dengan Terlambat Motorik"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>&#8220;Terlambat motorik&#8221; dan &#8220;gangguan perkembangan fungsi motorik&#8221; terdengar mirip, tetapi pada klasifikasi medis keduanya tidak sama.<\/strong> Yang pertama adalah gambaran umum. Yang kedua adalah kategori diagnosis dengan kode tersendiri dalam ICD-10: F82.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini menjelaskan apa yang dimuat F82 menurut ICD-10, istilah lain yang ditempatkan di bawahnya, apa yang justru dikeluarkan darinya, dan bagaimana membedakannya dari sekadar belum tercapainya satu patokan usia.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Dimaksud F82<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 menamai F82 sebagai <em>specific developmental disorder of motor function<\/em> \u2014 gangguan perkembangan fungsi motorik yang spesifik. Ciri utamanya disebut sebagai <strong>hendaya yang serius pada perkembangan koordinasi motorik<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan kata yang dipakai: koordinasi, bukan kekuatan dan bukan kecepatan. Yang digambarkan F82 adalah kesulitan mengatur gerakan secara terpadu, bukan otot yang lemah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dua Hal yang Harus Disingkirkan Lebih Dulu<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 menyatakan hendaya itu <strong>tidak semata dijelaskan oleh disabilitas intelektual umum<\/strong> dan <strong>tidak semata dijelaskan oleh gangguan neurologis spesifik<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Syarat kedua inilah yang memisahkan F82 dari kondisi seperti cerebral palsy. Bila kesulitan koordinasi anak dapat dijelaskan oleh gangguan neurologis yang sudah teridentifikasi, menurut ICD-10 kondisinya bukan F82.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/cerebral-palsy-pada-anak\/\">Cerebral Palsy pada Anak: Jenis, Tanda Awal, dan Penyebabnya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Ditemukan pada Pemeriksaan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 menyebut bahwa pemeriksaan yang cermat biasanya menemukan <strong>ketidakmatangan perkembangan saraf<\/strong> (<em>neurodevelopmental immaturities<\/em>) \u2014 misalnya gerakan cermin (<em>mirror movements<\/em>, yakni satu tangan ikut bergerak mengikuti tangan lain) serta tanda terganggunya koordinasi motorik halus maupun kasar.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"724\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-1.jpg\" alt=\"Ciri yang menandai kode F82 menurut ICD-10\" class=\"wp-image-2754\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-1-300x181.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-1-1024x618.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-1-768x463.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Apa yang menandai F82 menurut ICD-10.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini menjelaskan mengapa F82 tidak ditegakkan hanya dari cerita orang tua bahwa anak sering jatuh atau canggung. Ada temuan pemeriksaan yang dicari.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tiga Istilah Lain yang Masuk ke F82<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 mencantumkan tiga istilah sebagai inklusi F82 \u2014 artinya ketiganya dikodekan di sini:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong><em>Clumsy child syndrome<\/em><\/strong> \u2014 istilah lama untuk anak yang sangat canggung secara motorik;<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Developmental coordination disorder<\/em><\/strong> (DCD) \u2014 istilah yang paling banyak dipakai saat ini;<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Developmental dyspraxia<\/em><\/strong> \u2014 dispraksia perkembangan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini berguna diketahui orang tua yang menerima dokumen dari pemeriksa berbeda. Ketiga istilah itu menunjuk ke kode yang sama dalam ICD-10, meski bunyinya berbeda jauh.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Yang Dikeluarkan dari F82<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tr><th>Dikeluarkan<\/th><th>Dikodekan di<\/th><\/tr><tr><td>Kelainan cara berjalan dan mobilitas<\/td><td>R26<\/td><\/tr><tr><td>Kurangnya koordinasi (sebagai gejala umum)<\/td><td>R27<\/td><\/tr><tr><td>Kurangnya koordinasi yang merupakan akibat sekunder dari retardasi mental<\/td><td>F70\u2013F79<\/td><\/tr><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Daftar ini menegaskan satu hal: koordinasi yang buruk saja belum cukup untuk masuk F82. Bila ia muncul sebagai gejala dari hal lain, kodenya pun lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bedanya dengan &#8220;Terlambat Motorik&#8221;<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keterlambatan motorik dalam percakapan sehari-hari biasanya berarti satu patokan usia belum tercapai \u2014 anak belum berjalan, belum bisa melompat, belum bisa memegang pensil dengan benar. Itu pengamatan, bukan diagnosis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"736\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-2.jpg\" alt=\"Perbandingan antara terlambat motorik dan kode F82\" class=\"wp-image-2755\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-2-300x184.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-2-1024x628.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-gangguan-perkembangan-motorik-2-768x471.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pengamatan sehari-hari versus kategori diagnosis.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">F82 berbicara tentang hal yang berbeda: hendaya serius pada perkembangan koordinasi, yang tetap ada setelah disabilitas intelektual umum dan gangguan neurologis spesifik disingkirkan, dan yang didukung temuan pemeriksaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, satu patokan yang terlewat bukan alasan untuk menyimpulkan F82 \u2014 dan sebaliknya, anak yang melewati semua patokan tepat waktu pun masih mungkin kesulitan pada koordinasi yang lebih kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/motorik-halus-dan-motorik-kasar\/\">Motorik Halus dan Motorik Kasar: Perbedaan, Tahapan Usia, dan Stimulasinya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Patokan Motorik CDC yang Bisa Dipakai sebagai Pembanding<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC mencantumkan butir motorik pada setiap usia. Berikut butir pada usia 2 sampai 5 tahun, dikutip apa adanya:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tr><th>Usia<\/th><th>Butir motorik yang disebut CDC<\/th><\/tr><tr><td>2 tahun<\/td><td>Menendang bola; berlari; menaiki beberapa anak tangga dengan berjalan (bukan merangkak), dengan atau tanpa bantuan; makan dengan sendok<\/td><\/tr><tr><td>3 tahun<\/td><td>Meronce benda seperti manik-manik besar atau makaroni; memakai sebagian pakaian sendiri, misalnya celana longgar atau jaket; memakai garpu<\/td><\/tr><tr><td>4 tahun<\/td><td>Menangkap bola besar pada sebagian besar percobaan; mengambil makanan sendiri atau menuang air dengan pengawasan orang dewasa; membuka beberapa kancing; memegang krayon atau pensil di antara jari dan ibu jari, bukan menggenggam<\/td><\/tr><tr><td>5 tahun<\/td><td>Mengancingkan beberapa kancing; melompat dengan satu kaki<\/td><\/tr><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Daftar ini bukan alat diagnosis. CDC menyajikannya sebagai patokan yang bisa dibawa orang tua ke pemeriksaan, bukan sebagai penilaian yang dilakukan sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-sering-jatuh\/\">Anak Sering Jatuh: Dua Patokan yang Lebih Berguna daripada Menghitung<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ketika F82 Tidak Berdiri Sendiri<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 menempatkan F82 dalam satu blok bersama F80 (gangguan bicara dan bahasa) dan F81 (gangguan kemampuan skolastik). Blok yang sama juga memuat <strong>F83<\/strong>, kategori sisa untuk keadaan ketika ketiga wilayah itu bercampur tanpa satu pun cukup menonjol untuk dijadikan diagnosis utama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini berguna diketahui orang tua yang anaknya mengalami kesulitan di lebih dari satu wilayah sekaligus. Bila kesulitan motorik muncul bersama kesulitan bicara atau belajar, kode yang dipakai bisa jadi bukan F82 melainkan F83 \u2014 dan itu menunjukkan sebaran, bukan tingkat keparahan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Artinya bagi Orang Tua<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Bila dokumen anak memuat kode F82,<\/strong> itu berarti pemeriksa menilai kesulitan koordinasinya tidak dijelaskan oleh disabilitas intelektual umum maupun gangguan neurologis spesifik. Pantas ditanyakan temuan apa yang mendasarinya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bila dokumen memuat istilah DCD, dispraksia perkembangan, atau <em>clumsy child syndrome<\/em>,<\/strong> ketiganya menunjuk ke kode yang sama menurut ICD-10.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bila yang Anda khawatirkan adalah satu patokan yang belum tercapai,<\/strong> itu belum tentu F82. Bawa pengamatan Anda ke pemeriksaan, bukan ke kesimpulan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/gangguan-campuran-perkembangan\/\">Gangguan Perkembangan Spesifik Campuran (F83): Arti dan Kapan Kode Ini Dipakai<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/bayi-belum-merangkak\/\">Bayi Belum Merangkak: Mengapa CDC Tidak Mencantumkannya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa arti kode F82 pada dokumen anak saya?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">F82 adalah kode ICD-10 untuk gangguan perkembangan fungsi motorik yang spesifik, dengan ciri utama hendaya serius pada perkembangan koordinasi motorik yang tidak semata dijelaskan oleh disabilitas intelektual umum maupun gangguan neurologis spesifik. Arti tepatnya untuk anak Anda perlu ditanyakan kepada pemeriksa yang menuliskannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah F82 sama dengan dispraksia?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 mencantumkan <em>developmental dyspraxia<\/em> sebagai salah satu istilah yang dikodekan di F82, bersama <em>developmental coordination disorder<\/em> dan <em>clumsy child syndrome<\/em>. Dalam klasifikasi ini, ketiganya menunjuk ke kode yang sama.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah F82 sama dengan cerebral palsy?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak. ICD-10 menyatakan hendaya pada F82 tidak semata dijelaskan oleh gangguan neurologis spesifik. Cerebral palsy memiliki kode dan jalur diagnosisnya sendiri di luar blok ini.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak saya sering jatuh dan canggung, apakah itu F82?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Belum tentu. ICD-10 mengeluarkan &#8220;kurangnya koordinasi&#8221; sebagai gejala umum ke kode R27, dan kelainan cara berjalan ke R26. ICD-10 juga menyebut bahwa pemeriksaan yang cermat biasanya menemukan ketidakmatangan perkembangan saraf \u2014 artinya ada temuan pemeriksaan yang dicari, bukan hanya cerita sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa bedanya gangguan motorik halus dan motorik kasar di sini?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 tidak memisahkan F82 menjadi dua kode berdasarkan itu. Uraiannya justru menyebut tanda terganggunya koordinasi motorik halus maupun kasar sebagai temuan pada kondisi yang sama.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah kode F82 berarti anak perlu fisioterapi?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ICD-10 adalah sistem klasifikasi untuk pencatatan, bukan panduan penanganan, dan tidak menyebut terapi apa pun pada blok ini. Jenis penanganan ditentukan oleh pemeriksa yang menangani anak, berdasarkan temuan pemeriksaannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">F82 bukan sinonim dari &#8220;terlambat motorik&#8221;. ICD-10 menggambarkannya sebagai hendaya serius pada perkembangan koordinasi motorik, yang baru dipakai setelah disabilitas intelektual umum dan gangguan neurologis spesifik disingkirkan, dan yang biasanya disertai temuan ketidakmatangan perkembangan saraf pada pemeriksaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua hal yang praktis. Pertama, bila Anda menemukan istilah DCD, dispraksia perkembangan, atau <em>clumsy child syndrome<\/em> pada dokumen yang berbeda, ketiganya menunjuk ke kode yang sama. Kedua, patokan motorik CDC berguna sebagai bahan yang dibawa ke pemeriksaan \u2014 bukan sebagai alat untuk menyimpulkan sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>ICD-10 Edisi ke-5, blok F80\u2013F89 (Gangguan perkembangan psikologis), lewat NHS Classifications Browser: penamaan F82 sebagai <em>specific developmental disorder of motor function<\/em>; ciri utama berupa hendaya serius pada perkembangan koordinasi motorik; pernyataan bahwa hendaya itu tidak semata dijelaskan oleh disabilitas intelektual umum maupun gangguan neurologis spesifik; temuan pemeriksaan berupa ketidakmatangan perkembangan saraf, termasuk gerakan cermin serta tanda terganggunya koordinasi motorik halus dan kasar; inklusi <em>clumsy child syndrome<\/em>, <em>developmental coordination disorder<\/em>, dan <em>developmental dyspraxia<\/em>; serta eksklusi kelainan cara berjalan dan mobilitas (R26), kurangnya koordinasi (R27), dan kurangnya koordinasi yang merupakan akibat sekunder dari retardasi mental (F70\u2013F79). <a href=\"https:\/\/classbrowser.nhs.uk\/ICD-10-5TH-Edition\/vol1\/block-f80-f89.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/classbrowser.nhs.uk\/ICD-10-5TH-Edition\/vol1\/block-f80-f89.htm<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 Milestones, halaman usia 2 tahun (halaman bertanggal 15 Mei 2026): menendang bola; berlari; menaiki beberapa anak tangga dengan berjalan, bukan merangkak, dengan atau tanpa bantuan; makan dengan sendok. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/2-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/2-years.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 Milestones, halaman usia 3 tahun (halaman bertanggal 15 Mei 2026): meronce benda seperti manik-manik besar atau makaroni; memakai sebagian pakaian sendiri seperti celana longgar atau jaket; memakai garpu. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/3-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/3-years.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 Milestones, halaman usia 4 tahun (halaman bertanggal 15 Mei 2026): menangkap bola besar pada sebagian besar percobaan; mengambil makanan sendiri atau menuang air dengan pengawasan orang dewasa; membuka beberapa kancing; memegang krayon atau pensil di antara jari dan ibu jari, bukan menggenggam. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/4-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/4-years.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC \u2014 Milestones, halaman usia 5 tahun (halaman bertanggal 15 Mei 2026): mengancingkan beberapa kancing; melompat dengan satu kaki. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/5-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/5-years.html<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Arti kode F82 menurut ICD-10, tiga istilah lain yang masuk ke dalamnya, apa yang dikeluarkan, dan bedanya dengan terlambat motorik biasa.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2753,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[20,8],"tags":[],"class_list":["post-2752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fisioterapi-anak","category-terapi-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2752"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2752\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2916,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2752\/revisions\/2916"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}