{"id":2984,"date":"2026-11-06T12:26:12","date_gmt":"2026-11-06T05:26:12","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=2984"},"modified":"2026-11-06T19:41:09","modified_gmt":"2026-11-06T12:41:09","slug":"tes-pendengaran-bayi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tes-pendengaran-bayi\/","title":{"rendered":"Tes Pendengaran Bayi: Kapan Dilakukan dan Apa Arti Hasilnya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tes pendengaran bayi dilakukan jauh sebelum ada yang perlu dikhawatirkan \u2014<\/strong> idealnya dalam minggu-minggu pertama, ketika bayi belum bisa menunjukkan apakah ia mendengar. Tujuannya bukan memastikan ada masalah, melainkan menemukan sedini mungkin bayi yang perlu diperiksa lebih lanjut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini menjelaskan kapan skrining dilakukan menurut lembaga kesehatan Amerika Serikat (CDC) dan Inggris (NHS), seperti apa prosedurnya, apa arti hasil &#8220;lolos&#8221; dan &#8220;tidak lolos&#8221;, serta apa yang perlu Anda lakukan sesudahnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Pendengaran Bayi Diperiksa Sejak Lahir<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyebut skrining pendengaran sebagai pemeriksaan singkat dan tidak menyakitkan untuk mengetahui kemungkinan gangguan dengar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alasannya berkaitan dengan bahasa. CDC menjelaskan bahwa gangguan dengar dapat memengaruhi kemampuan berkomunikasi, berbahasa, dan bersosialisasi, dan bahwa layanan yang dimulai lebih awal berkaitan dengan hasil yang lebih baik. NHS menyampaikan hal serupa: gangguan dengar tidak terlalu umum pada bayi, tetapi mengetahuinya sedini mungkin berarti Anda dan bayi bisa segera mendapat dukungan untuk bahasa dan bicaranya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa identifikasi dini adalah kunci penanganan yang efektif, dan menganjurkan skrining sistematis pada kelompok yang paling berisiko, termasuk bayi baru lahir dan bayi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Patokan 1-3-6 dari CDC<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC merangkum waktunya dalam tiga patokan yang mudah diingat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"724\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-1.jpg\" alt=\"Infografik patokan 1-3-6 CDC untuk tes pendengaran bayi\" class=\"wp-image-2986\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-1-300x181.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-1-1024x618.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-1-768x463.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Patokan 1-3-6 menurut CDC (8 Oktober 2024).<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Patokan<\/th><th>Yang dianjurkan CDC<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Paling lambat usia 1 bulan<\/td><td>Skrining pendengaran, sebaiknya sebelum bayi pulang dari rumah sakit<\/td><\/tr><tr><td>Paling lambat usia 3 bulan<\/td><td>Tes pendengaran lengkap bagi bayi yang tidak lolos skrining<\/td><\/tr><tr><td>Paling lambat usia 6 bulan<\/td><td>Mulai mengikuti layanan intervensi dini bila gangguan dengar terdiagnosis<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS memakai rentang yang mirip. Di Inggris, skrining biasanya ditawarkan sebelum bayi berusia 4 minggu, tetapi masih bisa dilakukan sampai usia 3 bulan. NHS juga menyebut bahwa skrining ini ditawarkan kepada semua bayi, dan orang tua boleh memilih untuk tidak mengikutinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua sumber ini menggambarkan program di Amerika Serikat dan Inggris. Karena itu, tanyakan langsung kepada dokter, bidan, atau fasilitas tempat Anda bersalin apakah tes pendengaran bayi dilakukan di sana, kapan, dan dengan alat apa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/kapan-bayi-mulai-bicara\/\">Kapan Bayi Mulai Bicara: Tahapan Bunyi di Tahun Pertama<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jenis Tes: OAE, ABR, dan Audiometri Perilaku<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menjelaskan tiga jenis pemeriksaan yang dipakai pada anak. Dua yang pertama tidak memerlukan respons dari bayi, sehingga bisa dilakukan saat bayi tidur.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>OAE (otoacoustic emissions).<\/strong> Mengukur respons telinga bagian dalam terhadap bunyi, memakai mikrofon yang sangat peka yang diletakkan di liang telinga.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>ABR (auditory brainstem response).<\/strong> Elektroda di kepala merekam aktivitas otak sebagai respons terhadap bunyi. Tes ini menilai telinga bagian dalam, saraf pendengaran, dan jalur otak yang terkait.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Audiometri perilaku.<\/strong> Menilai bagaimana anak merespons bunyi, sehingga anak harus terjaga. Pada bayi dan balita, pemeriksa mengamati perilaku seperti berhenti mengisap, menjadi diam, atau menoleh ke arah bunyi, kadang dengan imbalan mainan bergerak. Anak yang lebih besar bisa diperiksa lewat kegiatan bermain.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Seperti Apa Prosedurnya<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS menggambarkan skrining bayi baru lahir sebagai pemeriksaan yang hanya memakan waktu beberapa menit, dengan hasil yang langsung diberikan. Gambaran prosedurnya:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Tes dilakukan saat bayi tenang atau tidur.<\/li>\n\n\n\n<li>Sebuah earpiece kecil yang lembut diletakkan di telinga bayi.<\/li>\n\n\n\n<li>Bunyi klik pelan diperdengarkan untuk melihat bagaimana telinga bayi merespons.<\/li>\n\n\n\n<li>Bila hasilnya belum jelas, tes diulang atau bayi ditawari tes kedua yang berbeda.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS menyatakan tes ini tidak membuat bayi tidak nyaman dan tidak memiliki risiko yang diketahui.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Membaca Hasil Tes Pendengaran Bayi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS membedakan dua kemungkinan hasil, dan masing-masing punya langkah lanjutan yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"764\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-2.jpg\" alt=\"Infografik perbandingan hasil skrining pendengaran bayi: respons jelas dan tidak ada respons jelas\" class=\"wp-image-2987\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-2-300x191.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-2-1024x652.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tes-pendengaran-bayi-2-768x489.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Arti hasil skrining pendengaran bayi baru lahir menurut NHS.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Hasil<\/th><th>Artinya menurut NHS<\/th><th>Langkah berikutnya<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Respons jelas di kedua telinga<\/td><td>Kecil kemungkinan bayi mengalami gangguan dengar<\/td><td>Tetap pantau pendengaran anak seiring ia tumbuh<\/td><\/tr><tr><td>Tidak ada respons jelas di satu atau kedua telinga<\/td><td>Belum bisa disimpulkan; perlu tes kedua<\/td><td>Janji temu dengan spesialis pendengaran di klinik audiologi, sebaiknya dalam 4 minggu<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil &#8220;tidak ada respons jelas&#8221; bukan diagnosis. Hasil itu berarti skrining belum bisa memastikan, sehingga diperlukan pemeriksaan yang lebih rinci. CDC menyampaikan langkah yang sama: bayi yang tidak lolos skrining perlu tes pendengaran lengkap, paling lambat pada usia 3 bulan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat menerima hasil ini, Anda bisa bertanya kepada petugas, misalnya: &#8220;Telinga yang mana yang belum memberi respons jelas?&#8221;, &#8220;Kapan dan di mana tes lanjutannya?&#8221;, dan &#8220;Apa yang perlu saya siapkan?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bila Bayi Perlu Tes Lanjutan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS menjelaskan bahwa janji temu tes kedua biasanya berlangsung sekitar 1 sampai 2 jam, termasuk waktu untuk menenangkan bayi. Orang tua boleh tetap bersama bayi selama tes, dan boleh mengajak pasangan, teman, atau kerabat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tes kedua, tiga sensor kecil ditempelkan di dahi, tengkuk, dan bahu bayi. Headphone lembut dipasang di telinganya, lalu bunyi klik pelan diperdengarkan. Menurut NHS, tes ini memberi tahu apakah saraf pendengaran bayi merespons bunyi, berlangsung hingga 15 menit, dan hasilnya biasanya dijelaskan di akhir janji temu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menambahkan bahwa audiolog juga akan menanyakan riwayat kelahiran, riwayat infeksi telinga, dan riwayat gangguan dengar dalam keluarga. Bila gangguan dengar terdiagnosis, bicarakan pilihan penanganan dan layanan intervensi dengan dokter atau audiolog.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/gangguan-perkembangan-bicara-dan-bahasa\/\">Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa (F80): Arti Istilah di Rekam Medis Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Lolos Skrining Tidak Berarti Selesai<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS menyatakan dengan jelas bahwa tes pendengaran bayi baru lahir tidak mendeteksi semua jenis gangguan dengar, dan anak juga bisa mengalami gangguan dengar di kemudian hari. Karena itu, pendengaran anak tetap perlu diperhatikan seiring ia tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO menyebut beberapa penyebab gangguan dengar yang bisa muncul pada masa anak, antara lain infeksi telinga kronis, penumpukan cairan di telinga, serta meningitis dan infeksi lain. CDC menganjurkan anak yang berisiko mengalami gangguan dengar yang muncul belakangan atau bertambah berat untuk menjalani setidaknya satu tes pendengaran pada usia sekitar 2 sampai 2\u00bd tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC juga berpesan: bila Anda menduga anak mengalami gangguan dengar, percayai naluri Anda dan bicarakan dengan dokter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-tidak-merespon-saat-dipanggil\/\">Anak Tidak Merespons Saat Dipanggil: Patokan Usia dan Langkah Pertama<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Faktor yang Perlu Diceritakan kepada Tenaga Kesehatan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO mencantumkan sejumlah faktor pada masa kehamilan dan persalinan yang dapat menyebabkan gangguan dengar. Bila salah satunya dialami, sampaikan kepada dokter atau bidan agar menjadi bagian dari riwayat bayi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Faktor genetik, baik yang diturunkan maupun yang tidak.<\/li>\n\n\n\n<li>Infeksi selama kehamilan, seperti rubela dan sitomegalovirus (CMV).<\/li>\n\n\n\n<li>Kekurangan oksigen saat lahir (asfiksia).<\/li>\n\n\n\n<li>Kuning berat pada masa bayi baru lahir.<\/li>\n\n\n\n<li>Berat badan lahir rendah dan kondisi lain di sekitar persalinan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/skrining-hipotiroid-kongenital\/\">Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK): Tes Darah Tumit Bayi dan Arti Hasilnya<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/bayi-kuning\/\">Bayi Kuning: Kapan Normal dan Tanda yang Harus Segera Diperiksakan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tes pendengaran bayi dilakukan usia berapa bulan?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menganjurkan skrining pendengaran paling lambat pada usia 1 bulan, sebaiknya sebelum bayi pulang dari rumah sakit. Di Inggris, NHS biasanya menawarkannya sebelum bayi berusia 4 minggu, dan masih bisa dilakukan sampai usia 3 bulan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa lama tes pendengaran bayi baru lahir?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut NHS, skrining pendengaran bayi baru lahir hanya memakan waktu beberapa menit dan hasilnya langsung diberikan. Bila perlu tes kedua, janji temunya biasanya sekitar 1 sampai 2 jam termasuk waktu menenangkan bayi, dengan tesnya sendiri berlangsung hingga 15 menit.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa itu tes pendengaran bayi OAE?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">OAE (otoacoustic emissions) adalah tes yang mengukur respons telinga bagian dalam terhadap bunyi dengan mikrofon yang sangat peka di liang telinga. Menurut CDC, tes ini tidak memerlukan respons dari bayi, sehingga bisa dilakukan saat bayi tidur.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah tes pendengaran bayi menyakitkan?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyebut skrining pendengaran sebagai pemeriksaan singkat yang tidak menyakitkan. NHS menyatakan tes ini tidak membuat bayi tidak nyaman, tidak memiliki risiko yang diketahui, dan dilakukan saat bayi tenang atau tidur.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah bayi prematur juga perlu tes pendengaran?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menganjurkan semua bayi menjalani skrining pendengaran paling lambat usia 1 bulan. WHO mencantumkan berat badan lahir rendah dan kondisi lain di sekitar persalinan sebagai faktor yang dapat menyebabkan gangguan dengar. Waktu dan jenis tes untuk bayi prematur sebaiknya dibicarakan dengan dokter yang merawatnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kalau hasil tes pendengaran bayi tidak lolos, apakah bayi pasti tuli?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak. Hasil &#8220;tidak ada respons jelas&#8221; pada skrining bukan diagnosis, melainkan tanda bahwa bayi perlu tes lanjutan. NHS mengatur tes kedua di klinik audiologi, sebaiknya dalam 4 minggu, dan CDC menganjurkan tes pendengaran lengkap paling lambat pada usia 3 bulan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tes pendengaran bayi adalah pemeriksaan singkat yang dilakukan sebelum ada keluhan.<\/strong> CDC merangkumnya dalam patokan 1-3-6: skrining paling lambat usia 1 bulan, tes lengkap paling lambat 3 bulan bila tidak lolos, dan intervensi dini paling lambat 6 bulan bila gangguan dengar terdiagnosis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil &#8220;tidak ada respons jelas&#8221; berarti perlu tes lanjutan, bukan berarti bayi pasti mengalami gangguan dengar. Sebaliknya, hasil lolos juga tidak menutup kemungkinan gangguan yang muncul belakangan, sehingga pendengaran anak tetap perlu diperhatikan seiring ia tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda ingin berdiskusi dengan tenaga profesional tentang pendengaran dan perkembangan bicara anak, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik KlinikPlus<\/a> atau membaca panduan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">klinik tumbuh kembang anak<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Screening for Hearing Loss. Hearing Loss in Children, 8 Oktober 2024, diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/hearing-loss-children\/screening\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/hearing-loss-children\/screening\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>NHS. Newborn hearing screening, ditinjau 23 Juli 2026, diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.nhs.uk\/conditions\/baby\/newborn-screening\/hearing-test\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.nhs.uk\/conditions\/baby\/newborn-screening\/hearing-test\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>World Health Organization (WHO). Deafness and hearing loss (fact sheet), 3 Maret 2026, diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/deafness-and-hearing-loss\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/deafness-and-hearing-loss<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tes pendengaran bayi dilakukan sebelum ada keluhan. Patokan 1-3-6 CDC, prosedur OAE dan ABR, serta arti hasil lolos dan tidak lolos skrining.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2985,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[24,9],"tags":[],"class_list":["post-2984","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-speech-delay-keterlambatan","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2984","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2984"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2984\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3306,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2984\/revisions\/3306"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2984"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2984"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2984"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}