{"id":3194,"date":"2026-11-06T18:12:58","date_gmt":"2026-11-06T11:12:58","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=3194"},"modified":"2026-11-06T18:12:58","modified_gmt":"2026-11-06T11:12:58","slug":"kekurangan-zat-besi-pada-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/kekurangan-zat-besi-pada-anak\/","title":{"rendered":"Kekurangan Zat Besi pada Anak: Tanda, Dampak pada Perkembangan, dan Pencegahannya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kekurangan zat besi pada anak sering tidak terlihat jelas di awal:<\/strong> anak tampak lebih cepat lelah, lebih rewel, atau makannya berkurang. Wajar bila Anda bertanya apakah anak perlu suplemen, atau cukup diperbaiki lewat makanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini merangkum WHO, MedlinePlus (Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat), layanan kesehatan Inggris (NHS), dan artikel edukasi Kementerian Kesehatan RI tentang anemia defisiensi besi pada anak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Kekurangan Zat Besi dan Anemia Defisiensi Besi?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MedlinePlus menjelaskan bahwa anemia adalah keadaan ketika tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat. Zat besi membantu membuat sel darah merah dan membantu sel itu membawa oksigen ke jaringan tubuh. Bila tubuh kekurangan zat besi, anak dapat mengalami anemia yang disebut <strong>anemia defisiensi besi<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO menambahkan bahwa anemia didiagnosis dari kadar hemoglobin darah yang berada di bawah ambang tertentu, dan ambang itu ditetapkan menurut usia, jenis kelamin, dan kondisi tubuh. Artikel Kemenkes menyebut anemia defisiensi besi sebagai penyebab anemia terbanyak pada anak, dan menulis bahwa zat besi juga berperan dalam perkembangan dan fungsi saraf.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Balita Termasuk Kelompok yang Rentan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut WHO, kelompok yang paling rentan mengalami anemia antara lain anak di bawah 5 tahun, terutama bayi dan anak di bawah 2 tahun. Artikel Kemenkes menyebut balita sebagai prioritas pencegahan, dan mengutip Riset Kesehatan Dasar 2018: 1 dari 3 anak Indonesia berusia di bawah 5 tahun mengalami anemia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel Kemenkes itu juga merangkum penyebab anemia gizi pada anak menurut WHO, di antaranya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>cadangan zat besi yang rendah saat lahir karena ibu mengalami anemia;<\/li>\n\n\n\n<li>pemberian ASI yang tidak eksklusif;<\/li>\n\n\n\n<li>makanan pendamping ASI yang dikenalkan terlalu dini, tidak tepat, atau makanan kaya zat besi yang terlambat dikenalkan;<\/li>\n\n\n\n<li>zat besi dalam makanan tidak mencukupi atau sulit diserap;<\/li>\n\n\n\n<li>kebutuhan zat besi yang meningkat karena pertumbuhan cepat tidak terpenuhi;<\/li>\n\n\n\n<li>kehilangan zat besi karena infeksi parasit, misalnya cacingan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MedlinePlus menambahkan bahwa pola makan yang kurang zat besi adalah penyebab paling umum pada anak. Balita yang minum terlalu banyak susu sapi juga bisa mengalami anemia, karena zat besi menjadi sulit diserap dan anak bisa kurang makan makanan lain yang mengandung zat besi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/picky-eater-pada-anak\/\">Picky Eater pada Anak: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Perlu Terapi Makan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tanda Kekurangan Zat Besi pada Anak<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MedlinePlus menyatakan bahwa anemia ringan bisa saja tidak menimbulkan gejala. Ketika kadar zat besi dan jumlah sel darah makin rendah, anak mungkin:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-1.jpg\" alt=\"Infografik tanda kekurangan zat besi pada anak menurut MedlinePlus\" class=\"wp-image-3196\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-1-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-1-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-1-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Tanda anemia defisiensi besi pada anak menurut MedlinePlus (ditinjau Januari 2026).<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>tampak rewel atau mudah marah;<\/li>\n\n\n\n<li>mudah sesak napas;<\/li>\n\n\n\n<li>sangat ingin makan sesuatu yang tidak lazim (pica);<\/li>\n\n\n\n<li>makan lebih sedikit;<\/li>\n\n\n\n<li>terus-menerus merasa lelah atau lemas;<\/li>\n\n\n\n<li>mengeluh lidahnya sakit;<\/li>\n\n\n\n<li>mengeluh sakit kepala atau pusing.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada anemia yang lebih berat, MedlinePlus menyebut bagian putih mata bisa tampak kebiruan atau sangat pucat, kuku rapuh, dan kulit pucat. WHO menyebut gejala anemia umumnya tidak khas. Jadi daftar ini bukan alat menyimpulkan sendiri, melainkan alasan memeriksakan anak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kekurangan Zat Besi pada Anak Dapat Menyebabkan Apa?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO menyatakan bahwa pada kasus yang berat, anemia dapat menyebabkan perkembangan kognitif dan motorik anak yang kurang baik. WHO juga menulis bahwa anemia dapat memengaruhi prestasi sekolah melalui keterlambatan perkembangan dan gangguan perilaku, seperti berkurangnya aktivitas gerak, interaksi sosial, dan perhatian pada tugas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel Kemenkes menulis bahwa anemia defisiensi besi berpotensi menghambat perkembangan kognitif, motorik, sensorik, dan sosial anak, dan bila tidak ditangani dengan tepat dampaknya dapat menjadi permanen. Kemenkes juga menyebut sistem kekebalan anak ikut terganggu. MedlinePlus menambahkan bahwa kadar zat besi yang rendah dapat menurunkan rentang perhatian dan kewaspadaan, serta menimbulkan masalah belajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan kata <em>berpotensi<\/em> dan <em>bila tidak ditangani<\/em>: sumber-sumber ini tidak menyatakan setiap anak dengan anemia pasti mengalami keterlambatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/stunting-dan-keterlambatan-perkembangan\/\">Stunting dan Keterlambatan Perkembangan: Apa Bedanya dan Apa Hubungannya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pemeriksaan Darah oleh Tenaga Kesehatan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut MedlinePlus, tenaga kesehatan akan memeriksa fisik anak, lalu dapat meminta tes darah seperti hitung darah lengkap, hemoglobin, feritin serum, kadar besi serum, dan kapasitas ikat besi total (TIBC). NHS menjelaskan bahwa hitung darah lengkap juga ikut memeriksa jenis anemia lain, misalnya karena kekurangan vitamin B12 atau folat. MedlinePlus menegaskan bahwa tenaga kesehatan perlu menemukan <strong>penyebab<\/strong> kekurangan zat besi pada anak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Makanan Sumber Zat Besi untuk Anak<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MedlinePlus menyebut makan makanan sehat yang beragam sebagai cara terpenting untuk mencegah kekurangan zat besi. Berikut contoh yang disebut sumber-sumbernya:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"737\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-2.jpg\" alt=\"Infografik makanan sumber zat besi dan makanan yang menghambat penyerapannya\" class=\"wp-image-3197\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-2-300x184.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-2-1024x629.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-kekurangan-zat-besi-pada-anak-2-768x472.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Makanan sumber zat besi dan yang menghambat penyerapannya menurut WHO, MedlinePlus, dan Kemenkes.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Kelompok<\/th><th>Contoh yang disebut sumber<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Hewani<\/td><td>Daging merah tanpa lemak, ayam, ikan, hati ayam dan hati sapi, telur, kerang (WHO, MedlinePlus, Kemenkes)<\/td><\/tr><tr><td>Kacang-kacangan<\/td><td>Kacang merah, kacang hijau, kacang hitam, lentil, kedelai, tahu, dan tempe (WHO, MedlinePlus, Kemenkes)<\/td><\/tr><tr><td>Sayuran<\/td><td>Sayuran berdaun hijau gelap seperti bayam dan brokoli (WHO, Kemenkes)<\/td><\/tr><tr><td>Lainnya<\/td><td>Sereal yang difortifikasi zat besi, kismis dan buah kering lain (WHO, MedlinePlus, Kemenkes)<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO memberi dua kiat penyerapan. Pertama, makan buah dan sayur yang kaya vitamin C, karena vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi. Kedua, hindari makanan dan minuman yang memperlambat penyerapan saat menyantap makanan kaya zat besi, misalnya teh, kopi, kakao, kalsium, dan dedak pada sereal. Misalnya, sajikan lauk sumber zat besi bersama buah, dan jangan menyajikan teh pada waktu makan yang sama.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hati-hati dengan Suplemen Zat Besi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MedlinePlus menyatakan dengan tegas: <strong>jangan memberi anak suplemen zat besi atau vitamin yang mengandung zat besi tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan anak Anda.<\/strong> Tenaga kesehatanlah yang menentukan suplemen yang tepat, karena zat besi berlebihan dapat menjadi racun bagi anak. WHO juga menyebut suplemen sebagai langkah yang diambil bila direkomendasikan tenaga kesehatan yang berwenang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS memberi peringatan keselamatan: simpan tablet suplemen zat besi di luar jangkauan anak, karena overdosis zat besi pada anak kecil bisa berakibat fatal.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kapan Perlu Memeriksakan Anak<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO menganjurkan untuk segera berbicara dengan tenaga kesehatan bila muncul gejala anemia. Bila anak tampak pucat, terus-menerus lelah, atau makannya berkurang, bawa ia ke dokter. Beberapa hal yang bisa Anda catat sebelumnya:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pola makan sehari-hari,<\/strong> termasuk seberapa sering anak makan lauk hewani, kacang-kacangan, dan sayur.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kebiasaan minum susu,<\/strong> karena MedlinePlus menyebut susu sapi berlebihan sebagai salah satu penyebab.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Riwayat cacingan atau infeksi<\/strong> yang pernah dialami anak.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Catatan berat dan tinggi badan<\/strong> dari buku kesehatan anak.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda bisa membuka percakapan dengan kalimat sederhana, misalnya: &#8220;Anak saya akhir-akhir ini pucat dan cepat capek. Apakah perlu diperiksa darahnya?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/berat-badan-anak-kurang\/\">Berat Badan Anak Kurang: Langkah Setelah Tahu Angkanya di Bawah Normal<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anemia pada anak adalah apa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anemia pada anak adalah keadaan ketika tubuh anak tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat. Menurut MedlinePlus, penyebab paling umum pada anak adalah kekurangan zat besi, yang disebut anemia defisiensi besi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah anemia pada anak berbahaya?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO menyatakan anemia yang berat dapat mengganggu perkembangan kognitif dan motorik anak, dan artikel Kemenkes menulis bahwa dampak anemia defisiensi besi dapat menjadi permanen bila tidak ditangani dengan tepat. Karena itu, anemia perlu diperiksa dan ditangani tenaga kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kekurangan zat besi pada anak dapat menyebabkan apa saja?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut WHO, Kemenkes, dan MedlinePlus, kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, berpotensi menghambat perkembangan kognitif, motorik, sensorik, dan sosial anak, serta menurunkan rentang perhatian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kekurangan zat besi pada anak harus makan apa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber zat besi yang disebut WHO, MedlinePlus, dan Kemenkes antara lain daging merah tanpa lemak, ayam, ikan, hati, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sayuran hijau gelap. WHO menganjurkan buah dan sayur kaya vitamin C untuk membantu penyerapan. Bila anak sudah didiagnosis anemia, ikuti rencana dokternya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mengapa anemia sering terjadi pada anak usia 1 sampai 2 tahun?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WHO menyebut bayi dan anak di bawah 2 tahun sebagai kelompok paling rentan. Penyebabnya antara lain kebutuhan zat besi yang meningkat karena pertumbuhan cepat dan makanan pendamping ASI yang kurang tepat (Kemenkes, merangkum WHO). MedlinePlus menambahkan bahwa susu sapi yang terlalu banyak dapat menghambat penyerapan zat besi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bolehkah membeli suplemen zat besi untuk anak sendiri di apotek?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MedlinePlus menyatakan jangan memberi anak suplemen zat besi atau vitamin yang mengandung zat besi tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan anak, karena zat besi berlebihan dapat menjadi racun. NHS juga mengingatkan agar tablet zat besi disimpan di luar jangkauan anak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kekurangan zat besi pada anak perlu dipastikan lewat pemeriksaan darah, bukan ditebak dari tampilan anak.<\/strong> WHO menyebut bayi dan anak di bawah 2 tahun sebagai kelompok paling rentan, dan anemia yang berat dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan motorik. Di rumah, sajikan makanan beragam yang kaya zat besi dan jangan memberi suplemen tanpa saran tenaga kesehatan. Bila anak tampak pucat, lelah, atau makannya berkurang, periksakan ke dokter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda juga ingin memeriksakan perkembangan anak, <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik KlinikPlus<\/a> dapat membantu Anda menemukan klinik tumbuh kembang di kota Anda, dan panduan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">klinik tumbuh kembang anak<\/a> menjelaskan apa yang bisa Anda harapkan saat berkunjung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>World Health Organization, <em>Anaemia<\/em>, fact sheet (10 Februari 2025; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine, <em>Anemia caused by low iron &#8211; children<\/em> (ditinjau 2 Januari 2026; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/medlineplus.gov\/ency\/article\/007134.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/medlineplus.gov\/ency\/article\/007134.htm<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>NHS, <em>Iron deficiency anaemia<\/em> (ditinjau 26 Januari 2024, tinjau ulang 26 Januari 2027; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/www.nhs.uk\/conditions\/iron-deficiency-anaemia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.nhs.uk\/conditions\/iron-deficiency-anaemia\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, <em>Anemia Defisiensi Besi Pada Anak<\/em>, Hilda Prasanti Nugraheni, Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung (6 Juli 2022; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/keslan.kemkes.go.id\/view_artikel\/182\/anemia-defisiensi-besi-pada-anak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/keslan.kemkes.go.id\/view_artikel\/182\/anemia-defisiensi-besi-pada-anak<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, <em>Mengenal Anemia Defisiensi Besi<\/em>, Putu Gede Widiantoro, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten (28 Mei 2025; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/keslan.kemkes.go.id\/view_artikel\/4130\/mengenal-anemia-defisiensi-besi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/keslan.kemkes.go.id\/view_artikel\/4130\/mengenal-anemia-defisiensi-besi<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kekurangan zat besi pada anak bisa memicu anemia dan memengaruhi perkembangan. Tanda menurut WHO dan Kemenkes, sumber zat besi, dan kapan cek darah.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3195,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[23,9],"tags":[],"class_list":["post-3194","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-milestone-per-usia","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3194","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3194"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3194\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3198,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3194\/revisions\/3198"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3195"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3194"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3194"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3194"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}