{"id":3214,"date":"2026-11-06T18:14:43","date_gmt":"2026-11-06T11:14:43","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=3214"},"modified":"2026-11-06T18:14:43","modified_gmt":"2026-11-06T11:14:43","slug":"mengenalkan-emosi-pada-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/mengenalkan-emosi-pada-anak\/","title":{"rendered":"Mengenalkan Emosi pada Anak: Cara Membantu Anak Menamai dan Mengelola Perasaannya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengenalkan emosi pada anak adalah salah satu bekal terpenting yang bisa Anda berikan sejak dini.<\/strong> Anak kecil merasakan senang, sedih, marah, dan takut dengan sangat kuat, tetapi belum punya kata untuk menjelaskannya. Akibatnya, perasaan itu sering keluar lewat tangisan, teriakan, atau pukulan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini merangkum panduan American Academy of Pediatrics (AAP), layanan kesehatan Inggris NHS, dan tips Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat: perkembangan pemahaman emosi, cara menamai perasaan, empat langkah &#8220;emotion coaching&#8221; AAP, cara menenangkan diri, dan kapan perlu bantuan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Anak Perlu Dikenalkan pada Emosi?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS menjelaskan bahwa balita punya perasaan besar tetapi sering kesulitan mengungkapkannya. Dengan membantu anak mengelola emosinya, Anda membantunya membangun keterampilan seumur hidup untuk menghadapi perasaan besar saat ia tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AAP menyebut bahwa anak yang belajar memahami dan mengelola emosinya lebih mampu menghindari rasa kewalahan. Menurut AAP, pengalaman positif dan hubungan yang aman serta stabil membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan menjalin kedekatan dengan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah &#8220;regulasi emosi&#8221; yang sering dicari orang tua tidak dipakai di halaman yang kami rujuk. Yang dibahas sumber adalah kemampuan anak memahami dan mengelola emosinya, dan itulah yang dijelaskan di artikel ini.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana Pemahaman Emosi Anak Berkembang<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemampuan ini tumbuh bertahap. Beberapa gambaran dari CDC dan AAP:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Usia<\/th><th>Yang dinyatakan sumber<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Sekitar 18 bulan<\/td><td>Mungkin lebih sering tantrum dan menunjukkan frustrasi; menurut NHS ini bagian dari perkembangan yang normal dan sehat<\/td><\/tr><tr><td>2 tahun<\/td><td>Menyadari ketika orang lain terluka atau sedih; melihat wajah Anda untuk tahu cara bereaksi pada situasi baru (CDC). Menunjukkan beragam emosi, suasana hati cepat berubah, dan belum banyak mengendalikan dorongan emosinya (AAP)<\/td><\/tr><tr><td>4 tahun<\/td><td>Menghibur orang lain yang terluka atau sedih, misalnya memeluk teman yang menangis (CDC)<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AAP menyebut perubahan suasana hati anak 2 tahun, dari ceria ke murung dalam sekejap, sebagai bagian dari tumbuh besar. Anak sedang belajar mengendalikan tindakan, dorongan, perasaan, dan tubuhnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Mengenalkan Emosi pada Anak Sehari-hari<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengenalkan emosi tidak harus menunggu anak menangis. Langkah berikut berasal dari NHS, CDC, dan AAP:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-1.jpg\" alt=\"Infografik enam cara mengenalkan emosi pada anak sehari-hari menurut NHS, CDC, dan AAP\" class=\"wp-image-3216\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-1-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-1-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-1-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Cara mengenalkan emosi pada anak menurut NHS, CDC, dan AAP HealthyChildren.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Namai perasaan anak, termasuk saat ia senang.<\/strong> NHS mencontohkan menyebut bahwa anak tampak senang saat bermain cilukba. Contoh emosi yang disebut NHS untuk dinamai: senang, sedih, dan marah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ajak bicara tentang perasaannya dan berikan kata-katanya.<\/strong> CDC menganjurkan ini agar anak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sebutkan perasaan Anda sendiri dengan lantang.<\/strong> CDC menganjurkan menamai perasaan anak dan perasaan Anda. AAP menyarankan mengucapkan perasaan yang sebenarnya, misalnya &#8220;Ibu sedang kesal sekali&#8221;, bukan kalimat yang menyalahkan anak.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bicarakan perasaan tokoh di buku.<\/strong> CDC menyarankan membahas apa yang dirasakan tokoh cerita dan alasannya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bantu anak memahami perasaan orang lain.<\/strong> CDC mencontohkan: bila melihat anak lain sedih, katakan bahwa ia tampak sedih, lalu ajak membawakan boneka untuknya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sediakan waktu bermain berdua.<\/strong> Menurut AAP, bermain membantu anak menjelajahi emosi bahkan sebelum ia punya kata untuk mengungkapkannya. AAP menyarankan 10\u201315 menit, dua sampai tiga kali seminggu, dengan anak yang memilih kegiatannya.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh kalimat yang bisa Anda pakai:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>&#8220;Kamu senang sekali, ya, kita main cilukba.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Ayah lagi capek dan sedikit kesal. Ayah mau tarik napas dulu.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Lihat wajah kelinci ini. Menurutmu dia sedih kenapa?&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Adik itu menangis. Dia kelihatan sedih. Yuk, kita bawakan bonekanya.&#8221;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/gentle-parenting-vs-voc-parenting\/\">Gentle Parenting vs VOC Parenting: Mana yang Lebih Baik untuk Tumbuh Kembang Anak?<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Empat Langkah Emotion Coaching dari AAP<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AAP memperkenalkan &#8220;emotion coaching&#8221; untuk membantu anak memahami dan mengelola emosinya. Langkahnya:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"682\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-2.jpg\" alt=\"Infografik empat langkah emotion coaching dan kebutuhan di balik emosi anak menurut AAP\" class=\"wp-image-3217\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-2-300x171.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-2-1024x582.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-mengenalkan-emosi-pada-anak-2-768x436.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Empat langkah emotion coaching menurut AAP HealthyChildren.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Langkah AAP<\/th><th>Contoh kalimat<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Akui emosinya<\/td><td>&#8220;Wah, kelihatannya perasaanmu sedang besar sekali.&#8221;<\/td><\/tr><tr><td>Namai emosinya<\/td><td>&#8220;Kamu kelihatan kecewa.&#8221; (atau marah, takut, frustrasi)<\/td><\/tr><tr><td>Validasi: perasaan itu boleh, meski perilakunya salah<\/td><td>&#8220;Wajar kamu kesal, karena mainnya harus berhenti.&#8221;<\/td><\/tr><tr><td>Penuhi kebutuhan di balik emosinya<\/td><td>Bila sedih, beri penghiburan; bila takut, beri rasa aman; bila marah, beri kebaikan sekaligus batasan<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Validasi tidak berarti membiarkan semua perilaku. Menurut AAP, emosinya boleh meski perilakunya salah, dan saat anak marah batasan tetap diberikan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengajarkan Cara Menenangkan Diri<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut NHS, saat balita sedang kesal, bagian emosional otaknya mengambil alih sehingga ia sulit menerima informasi baru. Karena itu, cara menenangkan diri paling baik dikenalkan dan dilatih saat anak sedang tenang.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Napas pelan.<\/strong> CDC menyebut bernapas pelan sebagai salah satu cara menenangkan diri yang bisa diajarkan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Memeluk mainan kesayangan.<\/strong> CDC juga menyebutnya, termasuk saat anak takut.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Tempat tenang yang aman.<\/strong> CDC menyarankan menyiapkan tempat yang tenang dan aman untuk anak saat ia kesal, dan tetap berada di dekatnya agar ia tahu dirinya aman.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bicarakan rasa takutnya.<\/strong> CDC menganjurkan menghibur anak yang takut dan membicarakan ketakutannya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS juga mengingatkan orang tua untuk berusaha tetap tenang, karena Anda pun bisa merasa frustrasi. Tarik napas dalam dan ingatkan diri bahwa anak tidak sedang nakal; ia sedang belajar dan tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/cara-mengatasi-anak-tantrum\/\">Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Keinginannya Tidak Dituruti<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Anak Mudah Marah: Perasaannya Boleh, Perilakunya Dibatasi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AAP menjelaskan bahwa pada usia 2 tahun anak belum banyak mengendalikan dorongan emosinya. Rasa marah dan frustrasi cenderung meledak tiba-tiba dalam bentuk tangisan, pukulan, atau teriakan, terutama ketika ia melewati batas lalu ditarik kembali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesan yang perlu sampai ke anak adalah: marah itu boleh, menyakiti tidak. NHS mencontohkan kalimat yang bisa diadaptasi seperti ini: &#8220;Tidak apa-apa marah karena tidak bisa main mainan itu. Semua orang kadang marah. Tapi mendorong teman tidak boleh.&#8221; Sampaikan setelah anak lebih tenang, karena menurut NHS saat itulah ia siap belajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-sulit-diatur\/\">Anak Sulit Diatur: Delapan Kiat NHS dan Beda Hadiah dengan Suap<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kapan Perlu Bantuan Profesional?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena anak 2 tahun memang menunjukkan beragam emosi, AAP meminta orang tua siap menghadapi apa saja, dari gembira sampai marah besar. Namun AAP menganjurkan berkonsultasi dengan dokter anak bila anak tampak <strong>sangat pasif atau menarik diri, terus-menerus sedih, atau sangat menuntut dan hampir selalu tidak puas<\/strong>. Menurut AAP, hal ini bisa merupakan tanda depresi, dan dokter dapat merujuk ke profesional kesehatan jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC juga menganjurkan untuk tidak menunggu bila Anda khawatir tentang perkembangan anak: bicarakan dengan dokter dan tanyakan tentang skrining perkembangan. Bila kekhawatiran Anda lebih ke arah rasa takut dan cemas, baca juga artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/anak-cemas-berlebihan\/\">anak cemas berlebihan<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana cara mengenalkan emosi pada anak usia dini?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NHS menganjurkan menamai perasaan anak, termasuk saat ia senang, agar ia belajar kata untuk menggambarkan perasaannya. CDC menambahkan: ajak anak membicarakan emosinya, sebutkan perasaan Anda sendiri dengan lantang, dan bicarakan perasaan tokoh di buku cerita beserta alasannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Emosi apa yang perlu dikenalkan lebih dulu pada anak?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai contoh emosi yang bisa dinamai pada balita, NHS menyebut senang, sedih, dan marah. Saat menamai emosi anak, AAP juga mencontohkan kata takut, kecewa, dan frustrasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana cara membantu anak mengelola emosinya?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AAP menganjurkan &#8220;emotion coaching&#8221;: akui emosinya, namai, validasi bahwa emosi itu boleh meski perilakunya salah, lalu penuhi kebutuhannya, yaitu penghiburan saat sedih, rasa aman saat takut, serta kebaikan dan batasan saat marah. CDC menyarankan mengajarkan cara menenangkan diri seperti napas pelan dan memeluk mainan kesayangan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kenapa anak mudah marah?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut AAP, anak usia 2 tahun belum banyak mengendalikan dorongan emosinya, sehingga marah dan frustrasi sering meledak tiba-tiba dalam bentuk tangisan, pukulan, atau teriakan. NHS menyebut balita sering kesulitan mengungkapkan perasaan marah atau sedih, dan perlu bantuan orang tua untuk mengelolanya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana cara mengajarkan anak mengekspresikan perasaan?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikan kata-kata untuk perasaannya, seperti yang dianjurkan CDC, dan contohkan dengan menyebut perasaan Anda sendiri. AAP menyarankan orang tua mengucapkan perasaan yang sebenarnya, misalnya &#8220;Ibu sedang kesal sekali&#8221;, sehingga anak belajar mengatakan apa yang ia rasakan alih-alih memakai kata yang menyakiti.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kapan anak yang sering sedih atau marah perlu diperiksa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AAP menganjurkan berkonsultasi dengan dokter anak bila anak 2 tahun tampak sangat pasif atau menarik diri, terus-menerus sedih, atau sangat menuntut dan hampir selalu tidak puas, karena bisa merupakan tanda depresi. CDC juga menganjurkan tidak menunggu bila Anda punya kekhawatiran tentang perkembangan anak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengenalkan emosi pada anak dimulai dari hal sederhana: menamai perasaannya setiap hari, termasuk saat ia senang.<\/strong> Sebutkan perasaan Anda sendiri, bicarakan perasaan tokoh di buku, dan pakai empat langkah emotion coaching dari AAP: akui, namai, validasi, lalu penuhi kebutuhannya. Latih cara menenangkan diri saat anak tenang, dan tegaskan bahwa marah itu boleh, menyakiti tidak. Bila anak tampak terus-menerus sedih, menarik diri, atau hampir selalu tidak puas, bicarakan dengan dokter anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda ingin berkonsultasi tentang perkembangan emosi anak, Anda dapat mencari layanan yang sesuai di <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus<\/a> atau membaca panduan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">memilih klinik tumbuh kembang anak<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org), <em>Healthy Mental and Emotional Development: 4 Key Building Blocks<\/em>, diperbarui 27 April 2026. Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.healthychildren.org\/English\/healthy-living\/emotional-wellness\/Building-Resilience\/Pages\/healthy-mental-and-emotional-development-in-children-key-building-blocks.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.healthychildren.org\/English\/healthy-living\/emotional-wellness\/Building-Resilience\/Pages\/healthy-mental-and-emotional-development-in-children-key-building-blocks.aspx<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org), <em>Emotional Development: 2 Year Olds<\/em>, diperbarui 1 September 2022; sumber: <em>Caring for Your Baby and Young Child: Birth to Age 5<\/em>, edisi ke-7 (AAP, 2019). Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.healthychildren.org\/English\/ages-stages\/toddler\/Pages\/Emotional-Development-2-Year-Olds.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.healthychildren.org\/English\/ages-stages\/toddler\/Pages\/Emotional-Development-2-Year-Olds.aspx<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>NHS (Start for Life), <em>Help your toddler with their emotions<\/em>, tanpa tanggal tinjauan di halaman. Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.nhs.uk\/start-for-life\/toddler\/help-your-toddler-with-their-emotions\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.nhs.uk\/start-for-life\/toddler\/help-your-toddler-with-their-emotions\/<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention, <em>Milestones by 18 Months<\/em>, ditinjau 16 Mei 2026. Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/18-months.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/18-months.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention, <em>Milestones by 2 Years<\/em>, ditinjau 16 Mei 2026. Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/2-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/2-years.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention, <em>Milestones by 3 Years<\/em>, ditinjau 16 Mei 2026. Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/3-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/3-years.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention, <em>Milestones by 4 Years<\/em>, ditinjau 16 Mei 2026. Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/4-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/4-years.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Centers for Disease Control and Prevention, <em>Milestones by 5 Years<\/em>, ditinjau 16 Mei 2026. Diakses 6 November 2026. <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/5-years.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/act-early\/milestones\/5-years.html<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengenalkan emosi pada anak bisa dimulai hari ini. Cara menamai perasaan, empat langkah emotion coaching AAP, contoh kalimat, dan kapan perlu bantuan.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3215,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[48,9],"tags":[],"class_list":["post-3214","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-perilaku-emosi-anak","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3214","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3214"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3214\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3218,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3214\/revisions\/3218"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3214"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3214"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3214"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}