{"id":3269,"date":"2026-11-06T19:32:50","date_gmt":"2026-11-06T12:32:50","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=3269"},"modified":"2026-11-06T19:32:50","modified_gmt":"2026-11-06T12:32:50","slug":"tinggi-badan-anak-normal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/tinggi-badan-anak-normal\/","title":{"rendered":"Tinggi Badan Anak Normal per Usia: Tabel WHO dan Kapan Perlu Diperiksa"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tinggi badan anak normal bukan satu angka, melainkan rentang menurut usia dan jenis kelamin.<\/strong> Bila Anda mulai khawatir setelah membandingkan anak dengan teman sebayanya, tabel resmi memberi gambaran yang lebih tepat daripada perbandingan itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, yang berstatus berlaku di JDIH Kementerian Kesehatan, menyatakan bahwa standar antropometri anak mengacu pada WHO Child Growth Standards untuk usia 0\u20135 tahun. Artikel ini menyajikan angka dari tabel WHO tersebut dan cara membacanya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Panjang Badan atau Tinggi Badan?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes 2\/2020 membedakan dua cara mengukur. Panjang badan dipakai untuk anak usia 0\u201324 bulan dan diukur dalam posisi telentang. Tinggi badan dipakai untuk anak di atas 24 bulan dan diukur dalam posisi berdiri.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"682\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-1.jpg\" alt=\"Infografik perbedaan pengukuran panjang badan dan tinggi badan anak\" class=\"wp-image-3271\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-1-300x171.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-1-1024x582.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-1-768x436.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perbedaan panjang badan dan tinggi badan menurut Permenkes 2\/2020 dan tabel WHO.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Bila anak usia 0\u201324 bulan diukur berdiri, hasilnya dikoreksi dengan menambahkan 0,7 cm.<\/li>\n\n\n\n<li>Bila anak di atas 24 bulan diukur telentang, hasilnya dikoreksi dengan mengurangkan 0,7 cm.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel WHO juga terbagi dua: panjang badan dari lahir sampai 2 tahun, dan tinggi badan dari 2 sampai 5 tahun. Catatan teknis WHO menyebut grafik ini memang terputus di usia 2 tahun, karena cara ukurnya berganti dari berbaring ke berdiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes juga menjelaskan bahwa usia dihitung dalam bulan penuh. Contohnya, anak berusia 2 bulan 29 hari dihitung sebagai 2 bulan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tabel Tinggi Badan Anak Normal Menurut WHO<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angka berikut disalin dari tabel resmi WHO berjudul <em>Length-for-age, Birth to 2 years (z-scores)<\/em> dan <em>Height-for-age, 2 to 5 years (z-scores)<\/em>, masing-masing untuk laki-laki dan perempuan. Angka dalam sentimeter. Kolom yang ditampilkan adalah -3 SD, -2 SD, median, dan +3 SD, karena batas kategori di Permenkes 2\/2020 memakai garis-garis itu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak Laki-Laki<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Usia<\/th><th>-3 SD (cm)<\/th><th>-2 SD (cm)<\/th><th>Median (cm)<\/th><th>+3 SD (cm)<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Lahir<\/td><td>44,2<\/td><td>46,1<\/td><td>49,9<\/td><td>55,6<\/td><\/tr><tr><td>6 bulan<\/td><td>61,2<\/td><td>63,3<\/td><td>67,6<\/td><td>74,0<\/td><\/tr><tr><td>1 tahun<\/td><td>68,6<\/td><td>71,0<\/td><td>75,7<\/td><td>82,9<\/td><\/tr><tr><td>2 tahun (berbaring)<\/td><td>78,7<\/td><td>81,7<\/td><td>87,8<\/td><td>97,0<\/td><\/tr><tr><td>2 tahun (berdiri)<\/td><td>78,0<\/td><td>81,0<\/td><td>87,1<\/td><td>96,3<\/td><\/tr><tr><td>3 tahun<\/td><td>85,0<\/td><td>88,7<\/td><td>96,1<\/td><td>107,2<\/td><\/tr><tr><td>4 tahun<\/td><td>90,7<\/td><td>94,9<\/td><td>103,3<\/td><td>115,9<\/td><\/tr><tr><td>5 tahun<\/td><td>96,1<\/td><td>100,7<\/td><td>110,0<\/td><td>123,9<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Anak Perempuan<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Usia<\/th><th>-3 SD (cm)<\/th><th>-2 SD (cm)<\/th><th>Median (cm)<\/th><th>+3 SD (cm)<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Lahir<\/td><td>43,6<\/td><td>45,4<\/td><td>49,1<\/td><td>54,7<\/td><\/tr><tr><td>6 bulan<\/td><td>58,9<\/td><td>61,2<\/td><td>65,7<\/td><td>72,5<\/td><\/tr><tr><td>1 tahun<\/td><td>66,3<\/td><td>68,9<\/td><td>74,0<\/td><td>81,7<\/td><\/tr><tr><td>2 tahun (berbaring)<\/td><td>76,7<\/td><td>80,0<\/td><td>86,4<\/td><td>96,1<\/td><\/tr><tr><td>2 tahun (berdiri)<\/td><td>76,0<\/td><td>79,3<\/td><td>85,7<\/td><td>95,4<\/td><\/tr><tr><td>3 tahun<\/td><td>83,6<\/td><td>87,4<\/td><td>95,1<\/td><td>106,5<\/td><\/tr><tr><td>4 tahun<\/td><td>89,8<\/td><td>94,1<\/td><td>102,7<\/td><td>115,7<\/td><\/tr><tr><td>5 tahun<\/td><td>95,2<\/td><td>99,9<\/td><td>109,4<\/td><td>123,7<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Usia 2 tahun tercantum dua kali: baris berbaring berasal dari tabel panjang badan, baris berdiri dari tabel tinggi badan. Selisih mediannya 0,7 cm, sama dengan angka koreksi di Permenkes.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel ini adalah nilai acuan, bukan alat diagnosis. Satu kali pengukuran harus dibaca oleh tenaga kesehatan pada grafik pertumbuhan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Arti Pendek, Normal, dan Tinggi Menurut Permenkes<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes 2\/2020 memakai indeks panjang badan atau tinggi badan menurut umur (PB\/U atau TB\/U) untuk anak usia 0\u201360 bulan, dengan empat kategori berikut.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"724\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-2.jpg\" alt=\"Infografik kategori tinggi badan menurut umur dalam Permenkes 2\/2020\" class=\"wp-image-3272\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-2-300x181.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-2-1024x618.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-tinggi-badan-anak-normal-2-768x463.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kategori dan ambang batas indeks PB\/U atau TB\/U menurut Permenkes 2\/2020.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Kategori<\/th><th>Ambang batas (z-score)<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Sangat pendek (<em>severely stunted<\/em>)<\/td><td>Kurang dari -3 SD<\/td><\/tr><tr><td>Pendek (<em>stunted<\/em>)<\/td><td>-3 SD sampai kurang dari -2 SD<\/td><\/tr><tr><td>Normal<\/td><td>-2 SD sampai +3 SD<\/td><\/tr><tr><td>Tinggi<\/td><td>Lebih dari +3 SD<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Permenkes, indeks ini dapat menemukan anak yang pendek atau sangat pendek akibat gizi kurang dalam waktu lama atau sering sakit. Definisi stunting dan kaitannya dengan perkembangan dibahas di artikel tersendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk kategori tinggi, Permenkes menyebut anak yang sangat tinggi biasanya tidak bermasalah, kecuali ada kemungkinan gangguan endokrin (hormon). Anak perlu dirujuk ke dokter spesialis anak bila diduga mengalami gangguan tersebut, misalnya anak sangat tinggi menurut umurnya padahal tinggi orang tuanya normal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/stunting-dan-keterlambatan-perkembangan\/\">Stunting dan Keterlambatan Perkembangan: Apa Bedanya dan Apa Hubungannya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Satu Angka Belum Cukup<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes 2\/2020 menyebut penentuan status gizi merujuk pada tabel dan grafik pertumbuhan dengan ambang batas yang sama, tetapi grafik lebih menggambarkan kecenderungan pertumbuhan anak. Peraturan itu juga meminta keempat indeks antropometri diperhatikan bersamaan, bukan tinggi badan saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketepatan angka bergantung pada cara ukur. Permenkes mewajibkan pengukuran antropometri memakai alat dan teknik sesuai standar, dan koreksi 0,7 cm di atas menunjukkan bahwa posisi ukur pun berpengaruh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk anak 0\u201324 bulan, Permenkes juga memakai tabel pertambahan panjang badan untuk mendeteksi perlambatan pertumbuhan linear. Cara membaca arah garis ini dibahas di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/cara-membaca-kurva-pertumbuhan-anak\/\">Cara Membaca Kurva Pertumbuhan Anak: BB, TB, dan Arti Garis Z-Score<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/buku-kia-tumbuh-kembang-anak\/\">Buku KIA: Cara Mengisi dan Membaca Bagian Tumbuh Kembang Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kapan Tinggi Badan Anak Perlu Diperiksa<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Permenkes 2\/2020, penilaian status gizi anak dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, upaya kesehatan bersumber daya masyarakat seperti posyandu, dan institusi pendidikan. Bila ditemukan masalah gizi, atau risiko perawakan pendek dari penilaian tren pertumbuhan, tata laksana wajib dilakukan sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah praktis yang bisa Anda lakukan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Ukur anak secara rutin di posyandu atau puskesmas, bukan hanya saat khawatir.<\/li>\n\n\n\n<li>Bawa Buku KIA agar hasil sebelumnya bisa dibandingkan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tanyakan apakah anak diukur berbaring atau berdiri, dan apa kategorinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Bila hasilnya di bawah -2 SD atau di atas +3 SD, tanyakan langkah berikutnya.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda bisa bertanya, misalnya: &#8220;Tinggi anak saya masuk kategori apa, dan bagaimana arah garisnya beberapa bulan terakhir?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/berat-badan-anak-kurang\/\">Berat Badan Anak Kurang: Langkah Setelah Tahu Angkanya di Bawah Normal<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa tinggi badan anak normal usia 3 tahun?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut tabel WHO, median tinggi badan usia 3 tahun adalah 96,1 cm untuk anak laki-laki dan 95,1 cm untuk anak perempuan. Rentang kategori normal menurut Permenkes 2\/2020, yaitu -2 SD sampai +3 SD, pada usia ini adalah 88,7\u2013107,2 cm untuk laki-laki dan 87,4\u2013106,5 cm untuk perempuan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa tinggi badan anak normal usia 4 tahun?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut tabel WHO, median tinggi badan usia 4 tahun adalah 103,3 cm untuk anak laki-laki dan 102,7 cm untuk anak perempuan. Rentang kategori normal menurut Permenkes 2\/2020 (-2 SD sampai +3 SD) adalah 94,9\u2013115,9 cm untuk laki-laki dan 94,1\u2013115,7 cm untuk perempuan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa tinggi badan anak 5 tahun yang normal?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut tabel WHO, median tinggi badan usia 5 tahun adalah 110,0 cm untuk anak laki-laki dan 109,4 cm untuk anak perempuan. Rentang kategori normal menurut Permenkes 2\/2020 (-2 SD sampai +3 SD) adalah 100,7\u2013123,9 cm untuk laki-laki dan 99,9\u2013123,7 cm untuk perempuan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana mengetahui tinggi badan anak normal sesuai umur?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes 2\/2020 membandingkan hasil ukur dengan standar menurut umur dalam bulan penuh dan jenis kelamin. Anak 0\u201324 bulan diukur telentang dan anak di atas 24 bulan diukur berdiri, dengan alat dan teknik sesuai standar. Hasilnya dibaca tenaga kesehatan pada grafik, yang juga menunjukkan kecenderungan pertumbuhan anak.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa tinggi badan anak normal usia 7 tahun?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel dalam artikel ini hanya sampai usia 5 tahun karena WHO Child Growth Standards mencakup usia 0\u20135 tahun. Untuk anak 5\u201318 tahun, Permenkes 2\/2020 mengacu pada The WHO Reference 2007 dan menilai status gizi dengan indeks massa tubuh menurut umur. Tanyakan kepada tenaga kesehatan cara menilai pertumbuhan anak usia sekolah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah anak yang lebih tinggi dari tabel perlu diperiksa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permenkes 2\/2020 menggolongkan tinggi badan di atas +3 SD sebagai kategori tinggi. Kondisi ini biasanya tidak bermasalah, kecuali ada kemungkinan gangguan hormon. Anak perlu dirujuk ke dokter spesialis anak bila diduga mengalaminya, misalnya sangat tinggi menurut umurnya padahal tinggi orang tuanya normal.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tinggi badan anak normal dibaca sebagai rentang menurut usia dan jenis kelamin.<\/strong> Menurut Permenkes 2\/2020, kategori normal berada di antara -2 SD dan +3 SD standar WHO, dan cara ukurnya berbeda sebelum dan sesudah usia 24 bulan. Ukur anak secara rutin, bawa Buku KIA, dan tanyakan kategori serta arah garisnya kepada tenaga kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk memeriksakan tumbuh kembang anak, <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik KlinikPlus<\/a> membantu Anda menemukan klinik di kota Anda, dan panduan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">klinik tumbuh kembang anak<\/a> menjelaskan apa yang bisa diharapkan saat berkunjung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Informasi peraturan dalam artikel ini bersifat umum dan bukan nasihat hukum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>World Health Organization, <em>Length\/height-for-age<\/em>, WHO Child Growth Standards (diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/www.who.int\/tools\/child-growth-standards\/standards\/length-height-for-age\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.who.int\/tools\/child-growth-standards\/standards\/length-height-for-age<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>World Health Organization, <em>Boys table: Length-for-age, Birth to 2 years (z-scores)<\/em>, berkas Excel, kolom SD3neg, SD2neg, SD0, dan SD3 (diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_boys_0-to-2-years_zscores.xlsx?sfvrsn=30e044c_9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_boys_0-to-2-years_zscores.xlsx?sfvrsn=30e044c_9<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>World Health Organization, <em>Boys table: Height-for-age, 2 to 5 years (z-scores)<\/em>, berkas Excel, kolom SD3neg, SD2neg, SD0, dan SD3 (diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_boys_2-to-5-years_zscores.xlsx?sfvrsn=17e5ad91_9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_boys_2-to-5-years_zscores.xlsx?sfvrsn=17e5ad91_9<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>World Health Organization, <em>Girls table: Length-for-age, Birth to 2 years (z-scores)<\/em>, berkas Excel, kolom SD3neg, SD2neg, SD0, dan SD3 (diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_girls_0-to-2-years_zscores.xlsx?sfvrsn=e9e66a95_11\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_girls_0-to-2-years_zscores.xlsx?sfvrsn=e9e66a95_11<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>World Health Organization, <em>Girls table: Height-for-age, 2 to 5 years (z-scores)<\/em>, berkas Excel, kolom SD3neg, SD2neg, SD0, dan SD3 (diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_girls_2-to-5-years_zscores.xlsx?sfvrsn=2ec187b9_11\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/length-height-for-age\/lhfa_girls_2-to-5-years_zscores.xlsx?sfvrsn=2ec187b9_11<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>World Health Organization, <em>Expanded tables for constructing national health cards: Instructions<\/em>, catatan teknis tentang keterputusan grafik di usia 2 tahun (diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/instructions-en.pdf?sfvrsn=5cec8c61_23\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/child-growth\/child-growth-standards\/indicators\/instructions-en.pdf?sfvrsn=5cec8c61_23<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, Berita Negara Tahun 2020 Nomor 7, Pasal 2 sampai 8 dan Lampiran Bab I sampai II (ditetapkan 2 Januari 2020; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/peraturan.go.id\/files\/bn7-2020.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/peraturan.go.id\/files\/bn7-2020.pdf<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>JDIH Kementerian Kesehatan RI, halaman Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020, status Berlaku (diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/jdih.kemkes.go.id\/documents\/peraturan-menteri-kesehatan-nomor-2-tahun-2020\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/jdih.kemkes.go.id\/documents\/peraturan-menteri-kesehatan-nomor-2-tahun-2020<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tinggi badan anak normal per usia dari tabel WHO 0-5 tahun dan kategori Permenkes 2\/2020, beda panjang dan tinggi badan, serta kapan perlu diperiksa.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3270,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[23,9],"tags":[],"class_list":["post-3269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-milestone-per-usia","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3269"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3273,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3269\/revisions\/3273"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}