{"id":3284,"date":"2026-11-06T19:35:30","date_gmt":"2026-11-06T12:35:30","guid":{"rendered":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/?p=3284"},"modified":"2026-11-06T19:35:30","modified_gmt":"2026-11-06T12:35:30","slug":"fragile-x-syndrome","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/fragile-x-syndrome\/","title":{"rendered":"Fragile X Syndrome: Tanda pada Anak dan Mengapa Tes Genetik Penting"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Fragile X syndrome sering baru terdengar ketika dokter menyarankan tes genetik untuk anak yang terlambat bicara, terlambat berjalan, atau kesulitan belajar.<\/strong> Wajar bila Anda bertanya apa artinya dan apa hubungannya dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini merangkum penjelasan CDC, NICHD (lembaga riset kesehatan anak di bawah National Institutes of Health), dan MedlinePlus Genetics, ketiganya dari Amerika Serikat. Layanan yang mereka sebut belum tentu tersedia dengan cara yang sama di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Fragile X Syndrome Adalah Kondisi Genetik<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut CDC, fragile X syndrome (FXS), atau sindrom fragile X, adalah kelainan genetik yang disebabkan perubahan pada gen bernama <em>FMR1<\/em>. Gen ini biasanya membuat protein FMRP yang dibutuhkan untuk perkembangan otak. NICHD menyebut kondisi ini memengaruhi perkembangan seseorang, terutama perilaku dan kemampuan belajarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut MedlinePlus Genetics, pada FXS potongan DNA bernama pengulangan CGG di gen <em>FMR1<\/em> berulang lebih dari 200 kali. Akibatnya gen &#8220;dimatikan&#8221; dan tidak membuat protein FMRP, sehingga fungsi sistem saraf terganggu. NICHD menyebut FXS sebagai bentuk disabilitas perkembangan dan intelektual yang paling sering diturunkan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Disebut Berkaitan dengan Kromosom X<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gen <em>FMR1<\/em> terletak di kromosom X. Perempuan punya dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu. Menurut MedlinePlus Genetics, perubahan pada satu salinan gen sudah cukup untuk menimbulkan kondisi ini, baik pada perempuan maupun laki-laki.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menegaskan fragile X syndrome <strong>bisa terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan<\/strong>, tetapi anak laki-laki biasanya terdampak lebih berat. CDC juga menyatakan seorang anak bisa memiliki FXS walaupun tidak ada riwayat FXS dalam keluarga.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tanda Fragile X Syndrome pada Anak<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyebut tanda bahwa seorang anak mungkin memiliki FXS meliputi:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"854\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-1.jpg\" alt=\"Infografik tanda fragile X syndrome pada anak menurut CDC dan NICHD\" class=\"wp-image-3286\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-1.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-1-300x214.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-1-1024x729.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-1-768x547.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Tanda fragile X syndrome pada anak menurut CDC (2026) dan NICHD (2021).<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>keterlambatan perkembangan<\/strong>, yaitu belum duduk, berjalan, atau berbicara pada waktu yang sama dengan anak lain seusianya;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>kesulitan belajar<\/strong>, yaitu kesulitan mempelajari keterampilan baru;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>masalah sosial dan perilaku<\/strong>, misalnya tidak melakukan kontak mata, cemas, sulit memusatkan perhatian, mengepakkan tangan, bertindak dan berbicara tanpa berpikir, serta sangat aktif.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NICHD menambahkan beberapa hal yang sering terlihat:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Bicara dan bahasa.<\/strong> Sebagian besar anak laki-laki dengan FXS mengalami masalah bicara; mereka bisa sulit berbicara jelas, tergagap, atau menghilangkan sebagian kata. Anak perempuan biasanya tidak mengalami masalah bicara yang berat. Sebagian anak mulai berbicara lebih lambat dari anak seusianya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sensorik.<\/strong> Banyak anak terganggu oleh sensasi tertentu, seperti cahaya terang, suara keras, atau rasa pakaian di tubuhnya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut NICHD, gejala FXS tidak sama pada setiap orang dan sering lebih ringan pada perempuan. Daftar ini bukan untuk menebak sendiri: banyak anak menunjukkan hal serupa tanpa FXS, dan diagnosisnya hanya dipastikan lewat tes genetik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hubungannya dengan Disabilitas Intelektual dan Autisme<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyatakan laki-laki dengan FXS biasanya mengalami disabilitas intelektual dalam derajat tertentu, dari ringan sampai berat. Perempuan dengan FXS bisa memiliki kecerdasan normal atau disabilitas intelektual dalam derajat tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC juga menyebut gangguan spektrum autisme lebih sering terjadi pada orang dengan FXS. Keduanya dibahas di artikel <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/disabilitas-intelektual-pada-anak\/\">tentang disabilitas intelektual pada anak<\/a> dan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/ciri-ciri-autisme-pada-anak\/\">ciri-ciri autisme per usia<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/disabilitas-intelektual-pada-anak\/\">Disabilitas Intelektual pada Anak: Pengertian, Tanda, dan Dukungan yang Dibutuhkan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana dengan Ciri Fisik?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak orang mencari &#8220;fragile x syndrome face&#8221;. Menurut NICHD, sebagian besar bayi dan anak kecil dengan FXS <strong>tidak memiliki ciri fisik khusus<\/strong>. Ciri yang khas biasanya baru mulai tampak menjelang pubertas dan makin jelas seiring usia, misalnya wajah sempit, telinga besar, sendi yang lentur, dan kaki datar. CDC menyebut hanya sebagian orang dengan FXS yang memiliki telinga besar atau wajah panjang dan sempit. Karena itu, wajah anak tidak bisa dipakai untuk menebak ada atau tidaknya FXS.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/global-developmental-delay\/\">Global Developmental Delay (GDD): Arti, Penyebab, dan Langkah Selanjutnya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Diagnosis: Tes DNA dari Sampel Darah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyatakan FXS didiagnosis dengan memeriksa DNA dari tes darah, dan tes ini bisa diminta oleh dokter atau konselor genetik. NICHD menjelaskan sampel darah dikirim ke laboratorium untuk menentukan bentuk gen <em>FMR1<\/em> pada anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut NICHD, banyak orang tua pertama kali melihat keterlambatan perkembangan ketika anak masih bayi atau balita. Setelah skrining perkembangan, dokter yang mencurigai FXS dapat merujuk ke dokter ahli genetika klinik untuk tes genetik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut CDC, diagnosis tetap berguna karena memberi penjelasan atas kesulitan belajar dan perilaku anak, sehingga keluarga dapat mempelajari kondisinya dan mengatur perawatan. Saat konsultasi, Anda bisa bertanya: &#8220;Apakah anak saya perlu tes genetik, termasuk untuk fragile X?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Konseling Genetik Penting bagi Keluarga<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC mengingatkan bahwa hasil tes DNA dapat berdampak pada anggota keluarga lain dan memunculkan banyak pertanyaan. Karena itu, CDC menganjurkan siapa pun yang mempertimbangkan tes FXS untuk menjalani konseling genetik sebelum dites.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"682\" src=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-2.jpg\" alt=\"Infografik perbandingan pewarisan premutasi FMR1 dari ibu dan dari ayah menurut CDC\" class=\"wp-image-3287\" srcset=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-2.jpg 1200w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-2-300x171.jpg 300w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-2-1024x582.jpg 1024w, https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/infografik-fragile-x-syndrome-2-768x436.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Cara premutasi FMR1 diturunkan dari ibu dan dari ayah menurut CDC (27 April 2026).<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menjelaskan istilah <strong>premutasi<\/strong>, yaitu pengulangan CGG sebanyak 55 sampai 200 kali. Orang dengan premutasi tidak memiliki FXS, tetapi bisa mengalami gangguan lain yang berkaitan dengan fragile X. Perbedaan pewarisannya menurut CDC:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Orang tua dengan premutasi<\/th><th>Yang disebut CDC<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Ibu<\/td><td>Jumlah pengulangan di sel telur bisa bertambah sampai masuk rentang mutasi penuh, sehingga anaknya bisa memiliki FXS<\/td><\/tr><tr><td>Ayah<\/td><td>Menurunkan premutasi kepada anak perempuannya, tidak kepada anak laki-laki, dan tidak menurunkan mutasi penuh kepada anak mana pun<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila ada anggota keluarga dengan FXS dan Anda khawatir tentang kesehatan diri sendiri atau kerabat, CDC menyarankan berbicara dengan tenaga kesehatan atau konselor genetik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dukungan untuk Anak dengan Fragile X Syndrome<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyatakan <strong>belum ada obat yang menyembuhkan FXS<\/strong>, tetapi layanan terapi dapat membantu anak mempelajari keterampilan penting, termasuk terapi untuk belajar berbicara, berjalan, dan berinteraksi. Obat dapat dipakai untuk membantu mengendalikan sebagian masalah, misalnya masalah perilaku, sesuai keputusan dokter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut NICHD, anak dengan FXS dapat terbantu oleh beberapa tenaga profesional:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>terapis wicara<\/strong>, untuk memperjelas pengucapan dan memakai bahasa dengan lebih efektif;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>terapis okupasi<\/strong>, untuk menyesuaikan tugas dan lingkungan dengan kebutuhan dan kemampuan anak;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>fisioterapis<\/strong>, untuk kegiatan yang membangun kendali gerak serta memperbaiki postur dan keseimbangan;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>terapis perilaku<\/strong>, untuk memahami pemicu perilaku dan mengajarkan cara merespons yang lebih baik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NICHD juga menyebut sebagian besar anak dengan FXS dapat terbantu oleh layanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kekuatan dan tantangannya. CDC menekankan bahwa terapi untuk gejala tertentu, misalnya terapi wicara untuk keterlambatan bahasa, sering tidak perlu menunggu diagnosis resmi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"kp-baca-juga wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/down-syndrome-pada-anak\/\">Down Syndrome pada Anak: Jenis, Penyebab, dan Dukungan yang Dibutuhkan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Fragile X syndrome adalah apa?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut CDC, fragile X syndrome adalah kelainan genetik akibat perubahan pada gen FMR1, yang biasanya membuat protein FMRP untuk perkembangan otak. NICHD menyebut kondisi ini memengaruhi perkembangan, terutama perilaku dan kemampuan belajar. Diagnosisnya dipastikan lewat tes DNA dari sampel darah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa hubungan fragile X syndrome dengan kromosom?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gen FMR1 terletak di kromosom X. MedlinePlus Genetics menjelaskan bahwa pada fragile X syndrome, potongan DNA bernama pengulangan CGG di gen ini berulang lebih dari 200 kali, sehingga gen berhenti membuat protein FMRP. Anak laki-laki hanya punya satu kromosom X sehingga biasanya terdampak lebih berat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa saja gejala fragile X syndrome pada anak?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CDC menyebut keterlambatan duduk, berjalan, atau berbicara; kesulitan mempelajari keterampilan baru; serta masalah sosial dan perilaku seperti kurang kontak mata, cemas, sulit memusatkan perhatian, mengepakkan tangan, dan sangat aktif. Gejala ini juga bisa terjadi tanpa FXS, sehingga hanya tes genetik yang dapat memastikannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah fragile X syndrome bisa terjadi pada anak perempuan?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa. CDC menyatakan FXS terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tetapi gejala pada perempuan sering lebih ringan. Menurut CDC, perempuan dengan FXS bisa memiliki kecerdasan normal atau disabilitas intelektual dalam derajat tertentu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah fragile X syndrome bisa dikenali dari wajah?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak bisa dipakai untuk menebak. NICHD menyatakan sebagian besar bayi dan anak kecil dengan FXS tidak memiliki ciri fisik khusus; ciri seperti wajah sempit dan telinga besar biasanya baru tampak menjelang pubertas. CDC menyebut hanya sebagian orang dengan FXS yang memiliki ciri tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah fragile X syndrome sama dengan autisme?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak sama. Fragile X syndrome adalah kondisi genetik akibat perubahan gen FMR1. CDC menyatakan gangguan spektrum autisme lebih sering terjadi pada orang dengan FXS, dan MedlinePlus Genetics menyebut sekitar sepertiga orang dengan FXS memiliki ciri gangguan spektrum autisme. Artinya, keduanya bisa ada bersamaan, tetapi tidak selalu.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Fragile X syndrome adalah kondisi genetik pada gen FMR1 yang memengaruhi perkembangan, terutama belajar dan perilaku.<\/strong> Tandanya menurut CDC dan NICHD antara lain keterlambatan bicara dan berjalan, kesulitan belajar, serta kecemasan. Tanda ini tidak khas, dan ciri wajah tidak bisa dipakai untuk menebak, sehingga diagnosis hanya dipastikan lewat tes DNA dari darah. Konseling genetik dianjurkan sebelum tes, dan terapi bisa dimulai tanpa menunggu diagnosis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda ingin memeriksakan perkembangan anak, <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/direktori-klinik\/\">direktori klinik KlinikPlus<\/a> dapat membantu Anda menemukan klinik tumbuh kembang di kota Anda, dan panduan <a href=\"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/klinik-tumbuh-kembang-anak\/\">klinik tumbuh kembang anak<\/a> menjelaskan apa yang bisa Anda harapkan saat berkunjung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>CDC, <em>About Fragile X Syndrome<\/em> (halaman bertanggal 20 Juli 2026; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/fragile-x-syndrome\/about\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/fragile-x-syndrome\/about\/index.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC, <em>How Fragile X Syndrome Is Inherited<\/em> (halaman bertanggal 27 April 2026; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/fragile-x-syndrome\/about\/how-fragile-x-syndrome-is-inherited.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/fragile-x-syndrome\/about\/how-fragile-x-syndrome-is-inherited.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>CDC, <em>Fragile X Syndrome Facts for Families<\/em> (halaman bertanggal 28 April 2026; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/www.cdc.gov\/fragile-x-syndrome\/about\/mythbusters.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cdc.gov\/fragile-x-syndrome\/about\/mythbusters.html<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>NICHD, <em>Fragile X Syndrome<\/em>: halaman utama, <em>What are the symptoms<\/em>, <em>How do healthcare providers diagnose<\/em>, dan <em>Therapy Treatments<\/em> (ditinjau 5 Agustus 2021; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/www.nichd.nih.gov\/health\/topics\/fragilex\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.nichd.nih.gov\/health\/topics\/fragilex<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>MedlinePlus Genetics (National Library of Medicine), <em>Fragile X syndrome<\/em> (diperbarui 1 April 2020; diakses 6 November 2026). <a href=\"https:\/\/medlineplus.gov\/genetics\/condition\/fragile-x-syndrome\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/medlineplus.gov\/genetics\/condition\/fragile-x-syndrome\/<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fragile X syndrome adalah kondisi genetik pada gen FMR1. Tanda pada anak menurut CDC dan NICHD, tes DNA, konseling genetik keluarga, dan dukungannya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3285,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kpb_share":true,"_kpb_message":"","footnotes":""},"categories":[25,9],"tags":[],"class_list":["post-3284","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kondisi-khusus","category-tumbuh-kembang-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3284"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3288,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3284\/revisions\/3288"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3285"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klinikplus.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}