Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang terus-menerus dan mengganggu kegiatan sehari-hari. Jadi, ADHD bukan sekadar soal anak “nakal”, dan menurut CDC kondisi ini sering berlanjut hingga dewasa.
Mungkin Anda bertanya-tanya: apakah anak saya hanya sangat aktif seperti balita pada umumnya, atau ada yang perlu diperiksakan? Artikel ini membahas kepanjangan dan pengertian ADHD, tiga tipenya, apa yang perlu diperhatikan sesuai usia anak, penyebab dan mitos yang sering beredar, cara diagnosis, penanganan menurut pedoman dokter anak, serta tips umum mendampingi anak di rumah.
ADHD Adalah: Kepanjangan dan Pengertiannya
ADHD adalah kepanjangan dari Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. Dalam bahasa Indonesia, kondisi ini sering disebut Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). NIMH menjelaskan ADHD sebagai gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental) yang ditandai oleh kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas.
NIMH juga menekankan bahwa pada ADHD, perilaku tersebut sering terjadi, muncul di berbagai situasi, dan mengganggu fungsi sehari-hari. Inilah yang membedakannya dari anak yang sesekali sulit fokus. Konsensus internasional World Federation of ADHD (Faraone dkk., 2021) mencatat sekitar 5,9% anak dan remaja di dunia memenuhi kriteria ADHD. Menurut CDC, ADHD umumnya pertama kali didiagnosis pada masa kanak-kanak dan sering berlanjut hingga dewasa.
Tiga Tipe ADHD pada Anak
CDC membagi ADHD ke dalam tiga presentasi (tipe). Menurut CDC, karena gejala bisa berubah dari waktu ke waktu, tipenya pun bisa berubah.
- Dominan kurang perhatian (inatentif): sulit mengatur dan menyelesaikan tugas, sering tidak memperhatikan detail, sulit mengikuti instruksi, dan mudah teralihkan.
- Dominan hiperaktif-impulsif: gelisah, banyak bicara, sulit duduk diam, sering menyela, dan sulit menunggu giliran.
- Kombinasi: gejala kedua tipe di atas muncul sama kuatnya.
NHS (Inggris) mencatat ADHD lebih jarang dikenali pada anak perempuan, salah satunya karena mereka lebih sering menunjukkan gejala kurang perhatian yang tidak mencolok.
Ciri Anak ADHD Sesuai Usia
Perlu diketahui sejak awal: tidak ada daftar resmi “ciri ADHD per usia”. Yang tersedia dari sumber resmi adalah batas usia dalam pedoman diagnosis dan penanganan, serta pengingat bahwa anak kecil memang wajar sangat aktif. Bagian ini merangkum hal tersebut agar Anda bisa mengamati anak dengan lebih tenang, bukan untuk mendiagnosis sendiri.

Anak di bawah 4 tahun
NHS menyebut banyak anak, terutama di bawah usia 5 tahun, mudah teralihkan, impulsif, dan penuh energi, dan hal itu belum tentu berarti ADHD. Menurut NHS, perilaku serupa juga bisa muncul karena anak lelah atau cemas. Pedoman American Academy of Pediatrics (AAP) untuk diagnosis dan penanganan ADHD (Wolraich dkk., 2019) berlaku untuk anak usia 4 hingga 18 tahun. Bila Anda khawatir tentang perilaku atau perkembangan anak yang lebih kecil, bicarakan dengan dokter anak.
Anak usia 4 tahun ke atas
Mulai usia 4 tahun, dokter dapat mengevaluasi ADHD sesuai pedoman AAP. CDC menyebut tanda yang dapat muncul pada anak dengan ADHD antara lain:
- sering melamun;
- sering lupa atau kehilangan barang;
- gelisah atau banyak bergerak;
- terlalu banyak bicara;
- membuat kesalahan karena ceroboh atau mengambil risiko yang tidak perlu;
- sulit menahan godaan;
- sulit bergiliran;
- kesulitan bergaul dengan teman.
Satu atau dua tanda di atas belum cukup. Menurut pedoman AAP yang dijelaskan di HealthyChildren.org, yang dinilai dokter adalah apakah gejala muncul di dua tempat atau lebih (misalnya rumah dan sekolah), berlangsung lebih dari 6 bulan, dan jelas mengganggu kegiatan anak. Usia juga memengaruhi penanganan: CDC merangkum rekomendasi AAP yang berbeda untuk anak di bawah 6 tahun dan anak 6 tahun ke atas, seperti dijelaskan di bagian penanganan di bawah.
Penyebab ADHD dan Mitos yang Perlu Diluruskan
CDC menyatakan penyebab pasti ADHD belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko: genetik (ADHD sering menurun dalam keluarga), paparan timbal saat hamil atau usia dini, konsumsi alkohol dan rokok selama kehamilan, cedera kepala, serta faktor keluarga. NHS menambahkan kelahiran prematur (sebelum 37 minggu) dan epilepsi. Konsensus World Federation of ADHD menyimpulkan bahwa ADHD jarang disebabkan oleh satu faktor; sebagian besar kasus muncul dari gabungan banyak faktor genetik dan lingkungan yang masing-masing berpengaruh kecil.
- Mitos: “Kebanyakan makan gula bikin anak ADHD.” Meta-analisis di JAMA (Wolraich dkk., 1995) terhadap 23 studi tersamar menemukan gula tidak memengaruhi perilaku maupun kemampuan berpikir anak. Konsensus World Federation of ADHD (2021) juga mengutip meta-analisis dengan lebih dari 25.000 peserta yang tidak menemukan hubungan antara konsumsi gula dan ADHD. Pola makan sehat tetap penting, tetapi gula bukan penyebab ADHD.
- Mitos: “ADHD karena orang tua salah mendidik.” Penelitian menunjukkan peran besar faktor genetik dan perkembangan otak. Lingkungan rumah memang memengaruhi bagaimana gejala tampak sehari-hari, dan justru karena itu orang tua menjadi bagian penting dari penanganan, bukan pihak yang patut disalahkan.
Bagaimana ADHD pada Anak Didiagnosis?
Menurut CDC, tidak ada satu tes tunggal untuk ADHD. Menurut pedoman AAP yang dijelaskan di HealthyChildren.org, dokter menilai apakah:
- Gejala muncul di dua tempat atau lebih, misalnya di rumah dan di sekolah.
- Anak menunjukkan setidaknya 6 gejala kurang perhatian dan/atau hiperaktif-impulsif (untuk remaja 17 tahun ke atas, cukup 5 gejala).
- Gejala sudah berlangsung lebih dari 6 bulan dan mulai sebelum usia 12 tahun.
- Gejala jelas mengganggu kegiatan sehari-hari, seperti belajar, pertemanan, atau kegiatan kelompok.
CDC menjelaskan bahwa dokter mengumpulkan informasi dari orang tua, guru, dan pengasuh lain, memeriksa pendengaran dan penglihatan, serta menyingkirkan kondisi lain yang gejalanya mirip, seperti gangguan tidur, kecemasan, depresi, dan kesulitan belajar. Evaluasi dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih, seperti dokter spesialis anak, psikiater anak, atau psikolog klinis anak.
Baca juga: Persiapan Asesmen Tumbuh Kembang Anak: Apa Saja yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
Bila Anda juga mengkhawatirkan kemampuan sosial dan komunikasi anak, baca artikel perbedaan ADHD dan autisme pada anak.
Penanganan ADHD pada Anak Menurut Pedoman Dokter Anak
Penanganan disesuaikan dengan usia anak. CDC merangkum rekomendasi AAP sebagai berikut:
- Di bawah 6 tahun: terapi perilaku menjadi langkah pertama, sebelum obat. Untuk usia ini, CDC menyebut bentuk yang dianjurkan adalah pelatihan manajemen perilaku untuk orang tua, yaitu orang tua dilatih strategi yang bisa diterapkan di rumah. Pedoman AAP menyebut obat dapat dipertimbangkan oleh dokter bila terapi perilaku belum memberikan perbaikan yang berarti.
- 6 tahun ke atas: AAP merekomendasikan kombinasi obat dan terapi perilaku. Menurut CDC, pelatihan perilaku untuk orang tua tetap dianjurkan hingga usia 12 tahun. Keputusan memakai obat dan dosisnya sepenuhnya wewenang dokter.
- Dukungan sekolah: CDC menyebut intervensi di sekolah sebagai bagian dari penanganan, dan pedoman AAP menyatakan dukungan pendidikan dan penyesuaian di sekolah merupakan bagian yang diperlukan dalam rencana penanganan. Orang tua, dokter, dan guru sebaiknya bekerja sama dan memantau perkembangan anak secara berkala.
Di Indonesia, salah satu bentuk dukungan sekolah yang tersedia adalah pendampingan oleh shadow teacher, bila tim yang menangani anak menilai perlu.
Tips Mendampingi Anak ADHD di Rumah
Berikut tips umum yang banyak dipakai orang tua. Tips ini bukan pengganti pelatihan perilaku untuk orang tua yang dianjurkan AAP, jadi konsultasikan penerapannya dengan terapis atau psikolog yang menangani anak.

- Buat rutinitas yang bisa ditebak. Tempel jadwal bergambar sederhana: bangun, mandi, sarapan, berangkat sekolah.
- Beri instruksi singkat, satu per satu. Dekati anak, sentuh bahunya, tatap matanya, lalu katakan: “Kak, taruh sepatu di rak.” Setelah selesai, baru instruksi berikutnya.
- Puji perilaku yang spesifik. Daripada “Pintar”, katakan: “Terima kasih sudah duduk sampai makanmu habis.”
- Bagi tugas menjadi potongan kecil. “Kerjakan dua soal dulu, lalu istirahat lima menit.”
- Siapkan konsekuensi yang tenang dan konsisten. Sampaikan aturan sebelumnya: “Kalau mainannya dilempar, mainannya Mama simpan dulu.” Lakukan tanpa berteriak.
- Jaga tidur, gerak fisik, dan waktu layar. Kebiasaan sehat baik untuk semua anak. NHS juga mengingatkan bahwa anak yang lelah bisa menunjukkan perilaku yang mirip ADHD.
Baca juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Keinginannya Tidak Dituruti
Kapan Harus ke Dokter?
Pedoman AAP menganjurkan dokter anak memulai evaluasi ADHD pada anak usia 4 tahun ke atas yang mengalami masalah belajar atau perilaku disertai gejala kurang perhatian, hiperaktivitas, atau impulsivitas. Merujuk pada kriteria tersebut, konsultasikan ke dokter anak bila:
- Perilaku sulit fokus, sangat aktif, atau impulsif muncul di rumah dan di sekolah (atau tempat lain).
- Perilaku tersebut sudah berlangsung lebih dari 6 bulan.
- Perilaku tersebut mengganggu belajar, pertemanan, atau kegiatan sehari-hari anak.
- Guru atau pengasuh menyampaikan kekhawatiran yang sama dengan Anda.
Untuk anak yang lebih kecil, atau bila Anda ragu, tidak ada salahnya membicarakan kekhawatiran Anda dengan dokter anak saat pemeriksaan rutin.
Baca juga: Anak Susah Fokus dan Sulit Konsentrasi: Penyebab dan Cara Membantunya
Baca juga: ADHD pada Orang Dewasa: Ketika Orang Tua Mengenali Gambaran Dirinya
Baca juga: Anak Didiagnosis Autisme atau ADHD: Langkah Pertama untuk Orang Tua
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa kepanjangan ADHD?
ADHD adalah kepanjangan dari Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, dalam bahasa Indonesia sering disebut Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). Menurut NIMH, ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang mengganggu kegiatan sehari-hari.
Apakah ADHD pada anak bisa sembuh?
Menurut CDC, ADHD sering berlanjut hingga dewasa, sehingga penanganan bertujuan mengelola gejala, bukan “menyembuhkan” dalam sekali pengobatan. Penanganan yang dianjurkan AAP, yaitu terapi perilaku, dukungan sekolah, dan obat bila diresepkan dokter, membantu anak menjalani kegiatan belajar dan sosialnya dengan lebih baik.
Anak hiperaktif sampai usia berapa?
NHS menyebut banyak anak, terutama di bawah 5 tahun, wajar mudah teralihkan dan penuh energi, dan hal itu belum tentu ADHD. Bila yang dialami adalah ADHD, CDC menyebut kondisinya sering berlanjut hingga dewasa, meskipun gejalanya dapat berubah. Evaluasi dokter membantu membedakan keduanya.
Apakah anak hiperaktif termasuk ABK?
Anak yang sekadar aktif belum tentu memiliki ADHD. Bila anak didiagnosis ADHD, dokter dan tim yang menangani akan menilai dukungan apa yang ia perlukan, termasuk di sekolah. Penjelasan tentang istilah anak berkebutuhan khusus ada di artikel ABK adalah.
Anak susah fokus, apakah pasti ADHD?
Tidak. CDC menegaskan dokter perlu menyingkirkan kondisi lain yang gejalanya mirip, seperti gangguan tidur, kecemasan, depresi, kesulitan belajar, serta masalah pendengaran atau penglihatan. Menurut pedoman AAP, gejala juga harus muncul di lebih dari satu tempat.
Apakah gula membuat anak hiperaktif?
Bukti ilmiah tidak mendukung anggapan itu. Meta-analisis di jurnal JAMA (1995) menemukan gula tidak memengaruhi perilaku atau kemampuan berpikir anak, dan meta-analisis yang lebih baru yang dikutip konsensus World Federation of ADHD tidak menemukan hubungan antara konsumsi gula dan ADHD. Membatasi gula tetap baik untuk kesehatan, tetapi bukan cara menangani ADHD.
Kesimpulan
Menurut NIMH, ADHD adalah gangguan perkembangan saraf, dan menurut konsensus World Federation of ADHD, sebagian besar kasus muncul dari gabungan banyak faktor genetik dan lingkungan. Balita yang sangat aktif belum tentu ADHD; pedoman AAP berlaku mulai usia 4 tahun dan menilai gejala yang muncul di lebih dari satu tempat, berlangsung lebih dari 6 bulan, dan mengganggu kegiatan anak. Untuk anak di bawah 6 tahun, pelatihan perilaku bagi orang tua menjadi langkah pertama. Pemahaman tentang tahapan perkembangan anak juga membantu; baca panduan tumbuh kembang anak kami, serta ciri-ciri autisme pada anak bila Anda juga mengkhawatirkan kemampuan sosialnya.
Bila Anda ingin anak dievaluasi, Anda dapat mencari dokter tumbuh kembang, psikolog anak, atau klinik terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus, atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Signs and Symptoms of ADHD. https://www.cdc.gov/adhd/signs-symptoms/index.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About ADHD. https://www.cdc.gov/adhd/about/index.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diagnosing ADHD. https://www.cdc.gov/adhd/diagnosis/index.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treatment of ADHD. https://www.cdc.gov/adhd/treatment/index.html
- National Institute of Mental Health (NIMH). Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd
- American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). Diagnosing ADHD in Children: Guidelines and Information for Parents. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/adhd/Pages/Diagnosing-ADHD-in-Children-Guidelines-Information-for-Parents.aspx
- Wolraich ML, Hagan JF Jr, Allan C, dkk. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis, Evaluation, and Treatment of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Children and Adolescents. Pediatrics. 2019;144(4):e20192528. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31570648/
- NHS. ADHD in children and young people: Symptoms. https://www.nhs.uk/conditions/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/symptoms/
- NHS. ADHD: Causes. https://www.nhs.uk/conditions/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/causes/
- Faraone SV, Banaschewski T, Coghill D, dkk. The World Federation of ADHD International Consensus Statement: 208 Evidence-based conclusions about the disorder. Neurosci Biobehav Rev. 2021;128:789–818. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33549739/
- Wolraich ML, Wilson DB, White JW. The effect of sugar on behavior or cognition in children. A meta-analysis. JAMA. 1995;274(20):1617–1621. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7474248/



