Tumbuh kembang anak adalah dua proses yang berjalan bersamaan: tubuh anak bertambah besar, dan kemampuannya bertambah matang. Dari bayi yang baru bisa menangis hingga anak prasekolah yang pandai bercerita, setiap bulan membawa perubahan baru. Memahami tahapan ini membantu Anda menikmati setiap kemajuan si kecil, sekaligus lebih cepat menyadari bila ada hal yang perlu diperiksakan.
Banyak orang tua bertanya-tanya, “Anak saya sudah 15 bulan tapi belum berjalan, normal tidak, ya?” atau “Kenapa anak tetangga sudah lancar bicara, sedangkan anak saya belum?” Pertanyaan seperti ini sangat wajar. Artikel ini membahas pengertian pertumbuhan dan perkembangan anak, aspek-aspek perkembangan, tabel tahapan perkembangan anak usia dini per usia, faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, cara memantaunya di rumah dan di posyandu, serta tanda bahaya yang perlu segera dikonsultasikan ke dokter.
Apa Itu Tumbuh Kembang Anak? Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Istilah “tumbuh kembang” sebenarnya menggabungkan dua hal yang berbeda. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 membedakan keduanya sebagai berikut:
- Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan tubuh. Sifatnya kuantitatif, sehingga bisa diukur dengan angka, misalnya berat badan, panjang atau tinggi badan, dan lingkar kepala.
- Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang makin kompleks, yaitu kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. Perkembangan lebih sulit diukur dengan angka; yang dinilai adalah kemampuan apa yang sudah bisa dilakukan anak.
Contoh sederhananya: berat badan anak yang naik dari 9 kg menjadi 10 kg adalah pertumbuhan. Anak yang tadinya hanya merangkak lalu mulai berjalan sendiri adalah perkembangan. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak selalu berjalan seiring. Anak dengan berat badan ideal tetap bisa mengalami keterlambatan bicara, dan sebaliknya. Karena itu, pemantauan tumbuh kembang anak sebaiknya mencakup keduanya: ditimbang dan diukur, sekaligus diamati kemampuannya.
5 Aspek Perkembangan Anak yang Perlu Anda Kenali
Perkembangan anak biasanya dikelompokkan ke dalam beberapa aspek atau ranah. Pembagian di Indonesia (Permenkes 66/2014) dan di daftar milestone CDC sedikit berbeda, tetapi isinya saling melengkapi. Secara praktis, ada lima aspek perkembangan anak yang bisa Anda amati sehari-hari.

| Aspek | Apa yang dinilai | Contoh kemampuan |
|---|---|---|
| Motorik kasar | Gerakan yang melibatkan otot besar tubuh | Mengangkat kepala, duduk, berjalan, berlari, melompat dengan satu kaki |
| Motorik halus | Gerakan tangan dan jari yang lebih teliti | Menggenggam mainan, menjumput makanan kecil, mencoret-coret, mengancingkan baju |
| Bicara dan bahasa | Kemampuan memahami dan menyampaikan pesan | Mengoceh, menyebut kata pertama, menggabungkan kata, bercerita |
| Sosial-emosional | Cara anak berhubungan dengan orang lain dan mengelola perasaan | Tersenyum saat diajak bicara, bermain bersama teman, menghibur teman yang sedih |
| Kognitif | Cara anak berpikir, belajar, dan memecahkan masalah | Mencari mainan yang disembunyikan, bermain pura-pura, menyebut warna, berhitung |
Kemandirian, seperti makan sendiri dan memakai baju sendiri, sering dimasukkan ke aspek sosial atau motorik. Yang penting diingat, kelima aspek ini saling memengaruhi. Anak yang pendengarannya terganggu, misalnya, bisa terlambat bicara dan kemudian juga kesulitan bermain bersama teman.
Tahapan Tumbuh Kembang Anak Usia 0–5 Tahun
Tabel berikut merangkum sebagian milestone dari daftar periksa Learn the Signs. Act Early. milik CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat), yang disusun bersama American Academy of Pediatrics. Kemampuan di bawah ini sudah diparafrasekan dan dipilih yang paling mudah diamati di rumah.
Satu hal penting: setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Milestone CDC berisi kemampuan yang sudah bisa dilakukan oleh sebagian besar anak (75% atau lebih) pada usia tersebut. Artinya, patokan ini bukan “rata-rata”, melainkan kemampuan yang umumnya sudah dikuasai. Bila anak Anda belum melakukan salah satunya, itu belum tentu berarti ada gangguan, tetapi menjadi alasan yang baik untuk membicarakannya dengan dokter atau tenaga kesehatan, alih-alih hanya menunggu.
| Usia | Gerak (motorik kasar dan halus) | Bicara dan komunikasi | Sosial-emosional dan kognitif |
|---|---|---|---|
| 2 bulan | Mengangkat kepala saat tengkurap; menggerakkan kedua tangan dan kaki | Mengeluarkan suara selain menangis; bereaksi terhadap suara keras | Tersenyum saat diajak bicara; memandangi wajah Anda; tenang saat digendong |
| 4 bulan | Menahan kepala dengan tegak saat digendong; memegang mainan yang diletakkan di tangannya | Bergumam “ooo” atau “aaah”; menoleh ke arah suara Anda | Tersenyum sendiri untuk menarik perhatian; tertawa kecil saat diajak bercanda |
| 6 bulan | Berguling dari tengkurap ke telentang; bertumpu pada tangan saat duduk | Bergantian bersuara dengan Anda; memekik | Mengenali orang yang dikenalnya; tertawa; meraih mainan yang diinginkan |
| 9 bulan | Duduk tanpa bantuan; memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lain | Mengoceh “mamama”, “bababa”; mengangkat tangan minta digendong | Menoleh saat dipanggil namanya; malu atau takut pada orang asing; mencari benda yang jatuh |
| 12 bulan | Berdiri dengan berpegangan; berjalan sambil berpegangan pada perabot; menjumput benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk | Melambaikan tangan “dadah”; memanggil orang tua dengan sebutan khusus seperti “mama” atau “papa”; memahami kata “jangan” | Bermain cilukba atau tepuk tangan bersama; mencari mainan yang Anda sembunyikan |
| 15 bulan | Berjalan beberapa langkah sendiri; makan sendiri dengan jari | Mencoba mengucapkan satu-dua kata selain “mama/papa”; menunjuk untuk meminta sesuatu | Menunjukkan benda yang ia sukai kepada Anda; menyusun dua balok |
| 18 bulan | Berjalan tanpa berpegangan; mencoret-coret; naik-turun kursi tanpa bantuan | Mencoba mengucapkan tiga kata atau lebih selain “mama/papa”; mengikuti perintah satu langkah tanpa isyarat | Menunjuk untuk memperlihatkan sesuatu yang menarik; meniru Anda mengerjakan pekerjaan rumah |
| 2 tahun | Menendang bola; berlari; makan dengan sendok | Menggabungkan dua kata, seperti “minta susu”; menunjuk minimal dua bagian tubuh saat ditanya | Menyadari bila orang lain sedih; bermain dengan lebih dari satu mainan sekaligus |
| 3 tahun | Merangkai manik-manik besar; memakai sebagian baju sendiri; makan dengan garpu | Bercakap-cakap dengan minimal dua kali saling sahut; menyebut nama depannya; bicaranya sebagian besar bisa dipahami orang lain | Ikut bermain bersama anak lain; menggambar lingkaran setelah dicontohkan |
| 4 tahun | Menangkap bola besar; memegang krayon dengan jari (bukan digenggam) | Berbicara dalam kalimat empat kata atau lebih; menceritakan kegiatannya hari itu | Bermain pura-pura; menghibur teman yang sedih; menyebut beberapa warna |
| 5 tahun | Melompat dengan satu kaki; mengancingkan beberapa kancing | Menceritakan kisah dengan minimal dua kejadian; mempertahankan percakapan lebih dari tiga kali saling sahut | Mengikuti aturan atau bergiliran saat bermain; berhitung sampai 10; menulis beberapa huruf namanya |
Daftar lengkap untuk setiap usia (termasuk usia 30 bulan) tersedia di situs CDC. Perlu diingat, daftar ini adalah alat bantu pemantauan, bukan pengganti skrining perkembangan yang terstandar.
Bagaimana dengan usia 5–6 tahun?
Daftar milestone CDC berhenti di usia 5 tahun. Di Indonesia, pemantauan perkembangan oleh tenaga kesehatan berlanjut hingga anak berusia 72 bulan (6 tahun), termasuk di taman kanak-kanak. Pada rentang usia ini, perhatikan apakah kemampuan anak terus bertambah dari daftar usia 5 tahun, misalnya makin lancar bercerita, makin mampu mengikuti aturan bermain, dan makin mandiri. Bila Anda ragu, tanyakan pada dokter atau petugas puskesmas saat pemeriksaan rutin.
Baca juga: Speech Delay Adalah: Tanda, Penyebab & Penanganannya
Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. WHO, UNICEF, dan Bank Dunia merumuskan lima komponen nurturing care (pengasuhan yang mendukung) yang dibutuhkan anak sejak dalam kandungan, terutama hingga usia 3 tahun: kesehatan yang baik, gizi yang cukup, rasa aman dan terlindungi, pengasuhan yang responsif, serta kesempatan untuk belajar. Dalam bahasa sehari-hari, faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat.
1. Gizi
Gizi yang cukup dimulai dari gizi ibu selama hamil, lalu berlanjut dengan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang sesuai usia. Kekurangan gizi berpengaruh langsung pada pertumbuhan (berat dan tinggi badan), dan pada akhirnya juga pada perkembangan anak. Itulah sebabnya penimbangan dan pengukuran rutin di posyandu penting.
2. Stimulasi
Kemenkes menekankan bahwa stimulasi sebaiknya diberikan sejak lahir, setiap hari, dan di setiap kesempatan. Stimulasi tidak harus berupa mainan mahal. Mengajak bayi bicara, menyanyi, bermain cilukba, membacakan cerita, dan memberi kesempatan anak mencoba sendiri sudah merupakan stimulasi. Kurangnya stimulasi termasuk salah satu penyebab penyimpangan tumbuh kembang.
3. Kesehatan
Anak yang sering sakit, memiliki gangguan pendengaran atau penglihatan, atau memiliki kondisi medis tertentu bisa mengalami hambatan perkembangan. Imunisasi lengkap, pemeriksaan kesehatan rutin, dan penanganan penyakit sejak dini membantu anak tumbuh optimal. Kesehatan fisik dan mental orang tua juga berpengaruh, karena memengaruhi cara orang tua mengasuh.
4. Lingkungan dan pengasuhan
Lingkungan rumah yang aman, hangat, dan dapat diprediksi memberi anak rasa aman untuk bereksplorasi. Pengasuhan yang responsif berarti orang tua peka terhadap sinyal anak, misalnya lapar, lelah, atau sedih, lalu meresponsnya dengan tepat. Interaksi sehari-hari seperti saat makan, mandi, dan menjelang tidur adalah kesempatan belajar yang sangat berharga.
Cara Memantau Tumbuh Kembang Anak di Rumah dan di Posyandu
Pemantauan tumbuh kembang anak adalah kerja sama antara orang tua dan tenaga kesehatan. Anda yang paling sering bersama anak, sehingga pengamatan Anda sangat berharga.
Di rumah
- Gunakan Buku KIA. Buku Kesehatan Ibu dan Anak dari Kemenkes memuat grafik pertumbuhan dan ceklis perkembangan sesuai usia. Buku ini bisa didapatkan gratis di puskesmas.
- Isi ceklis secara berkala. Bila ada jawaban “Tidak” pada ceklis perkembangan, sampaikan kepada kader posyandu atau petugas puskesmas agar dapat ditindaklanjuti.
- Catat hal yang Anda lihat. Tulis kapan anak pertama kali duduk, berjalan, atau mengucapkan kata. Rekam video singkat bila ada perilaku yang membuat Anda ragu, untuk diperlihatkan kepada dokter.
- Jadikan stimulasi bagian dari rutinitas. Ajak bicara, bermain, dan membaca bersama setiap hari.
Di posyandu, puskesmas, dan dokter
Posyandu diadakan sebulan sekali. Di sana anak ditimbang, diukur panjang atau tinggi badannya, dan mendapatkan vitamin serta imunisasi sesuai jadwal. Selalu bawa Buku KIA setiap kali ke posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan lain.
Untuk perkembangan, Kemenkes menjalankan program Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Menurut Permenkes 66/2014, pemantauan perkembangan dilakukan setiap 3 bulan untuk bayi usia 0–12 bulan, dan setiap 6 bulan untuk anak usia 12–72 bulan. Salah satu alat yang digunakan di puskesmas adalah Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Di Amerika Serikat, AAP menganjurkan skrining perkembangan umum pada usia 9, 18, dan 30 bulan, serta skrining autisme pada usia 18 dan 24 bulan.
Tanda Bahaya (Red Flag) Perkembangan Anak
Tanda bahaya bukan diagnosis, melainkan sinyal bahwa anak perlu dievaluasi lebih lanjut. Segera bicarakan dengan dokter bila Anda melihat hal-hal berikut:

- Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, di usia berapa pun. Misalnya anak yang dulu sudah menyebut beberapa kata lalu berhenti bicara, atau yang dulu suka melambaikan tangan lalu tidak lagi melakukannya. Ini perlu diperiksakan segera, jangan ditunggu.
- Anak belum menunjukkan satu atau lebih milestone untuk usianya.
- Usia 9 bulan belum menoleh saat dipanggil namanya.
- Usia 12 bulan belum melambaikan tangan, belum memanggil orang tua dengan sebutan khusus, atau belum berdiri dengan berpegangan.
- Usia 18 bulan belum berjalan tanpa berpegangan, atau belum menunjuk untuk memperlihatkan sesuatu yang menarik.
- Usia 2 tahun belum menggabungkan dua kata.
- Usia 3 tahun bicaranya sebagian besar belum bisa dipahami orang lain, atau belum mau bermain bersama anak lain.
- Ada masalah pertumbuhan, misalnya berat badan tidak naik atau tinggi badan tertinggal, menurut grafik di Buku KIA.
- Anak tampak sangat sulit berkonsentrasi atau sangat aktif berlebihan dibandingkan anak seusianya.
- Insting Anda sebagai orang tua mengatakan ada yang tidak biasa.
Untuk keterlambatan bicara dan bahasa, artikel tentang terapi wicara anak dapat membantu Anda memahami pilihan penanganan. Bila anak tampak kesulitan dengan gerakan halus, makan, atau kemandirian, Anda bisa membaca tentang terapi okupasi.
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
CDC menganjurkan orang tua untuk bertindak sejak dini. Bila anak belum mencapai satu atau lebih milestone, kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki, atau Anda memiliki kekhawatiran lain, bicarakan dengan dokter anak, sampaikan kekhawatiran Anda, dan tanyakan tentang skrining perkembangan. Kemenkes juga menyebut bahwa makin cepat risiko gangguan ditemukan, makin cepat pula penanganannya bisa dimulai.
Sebelum berkonsultasi, siapkan hal-hal berikut agar pemeriksaan lebih efektif:
- Buku KIA beserta catatan berat badan, tinggi badan, dan imunisasi.
- Catatan kemampuan anak saat ini dan kapan milestone sebelumnya tercapai.
- Video singkat perilaku yang membuat Anda khawatir.
- Riwayat kehamilan, persalinan, dan penyakit yang pernah dialami anak.
- Daftar pertanyaan yang ingin Anda tanyakan.
Dokter akan menilai pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh, termasuk pendengaran dan penglihatan bila perlu. Bila diperlukan, anak dapat dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, psikolog anak, atau terapis. Penanganan yang dimulai lebih awal memberi anak kesempatan lebih besar untuk mengejar ketertinggalannya. Panduan persiapannya bisa Anda baca di artikel persiapan asesmen tumbuh kembang anak.
Baca juga: ABK Adalah: Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus, Jenis, dan Terapinya
Baca juga: Fisioterapi Anak: Kondisi yang Ditangani & Prosesnya
Baca juga: Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara: Kapan Harus Khawatir?
Baca juga: SDIDTK dan KPSP: Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak di Posyandu dan Puskesmas
Baca juga: Toilet Training Anak: Umur Berapa Mulai, Tanda Siap, dan Langkah-Langkahnya
Baca juga: Perkembangan Anak 1 Tahun: Milestone 12–23 Bulan dan Cara Menstimulasinya
Baca juga: Perkembangan Bayi 2 Bulan: Milestone dan Cara Menstimulasinya
Baca juga: Perkembangan Anak 4 Tahun: Milestone 48–59 Bulan dan Cara Menstimulasinya
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan pertumbuhan dan perkembangan anak?
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran tubuh anak, seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, yang bisa diukur dengan angka. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan anak yang makin kompleks, seperti gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. Keduanya perlu dipantau bersama karena anak yang pertumbuhannya baik belum tentu perkembangannya sesuai usia, dan sebaliknya.
Apa saja aspek perkembangan anak?
Aspek perkembangan anak umumnya meliputi motorik kasar (gerakan otot besar seperti berjalan dan berlari), motorik halus (gerakan tangan dan jari), bicara dan bahasa, sosial-emosional, serta kognitif (berpikir dan memecahkan masalah). Di Indonesia, Permenkes 66 Tahun 2014 menyebut gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.
Apakah anak yang belum mencapai milestone pasti mengalami keterlambatan?
Belum tentu. Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Milestone CDC berisi kemampuan yang sudah dicapai oleh 75% anak atau lebih pada usia tertentu, sehingga milestone yang belum tercapai layak dibicarakan dengan dokter, bukan ditunggu. Hanya pemeriksaan oleh tenaga kesehatan yang dapat menentukan apakah ada keterlambatan perkembangan.
Seberapa sering perkembangan anak perlu diperiksa?
Menurut Permenkes 66 Tahun 2014, perkembangan anak dipantau setiap 3 bulan pada usia 0–12 bulan dan setiap 6 bulan pada usia 12–72 bulan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Selain itu, orang tua bisa membawa anak ke posyandu setiap bulan untuk ditimbang dan diukur, serta memantau perkembangan sendiri di rumah dengan ceklis di Buku KIA.
Apa yang harus dilakukan bila anak kehilangan kemampuan yang sudah dikuasai?
Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, misalnya berhenti bicara atau tidak lagi merespons saat dipanggil, adalah tanda bahaya di usia berapa pun. Segera bawa anak ke dokter, sampaikan perubahan yang Anda lihat sejak kapan, dan tanyakan tentang skrining perkembangan. Jangan menunggu kemampuan itu kembali dengan sendirinya.
Bagaimana cara menstimulasi perkembangan anak usia dini di rumah?
Stimulasi bisa dilakukan setiap hari melalui kegiatan sederhana: mengajak bayi bicara dan tersenyum, bermain cilukba, membacakan cerita, menyanyi, memberi kesempatan anak bergerak bebas dengan aman, dan membiarkannya mencoba makan atau berpakaian sendiri. Yang terpenting adalah interaksi yang hangat dan responsif, bukan mainan yang mahal.
Baca juga: Anak Belum Bisa Jalan: Rentang Usia Normal dan Kapan Perlu Diperiksa
Kesimpulan
Tumbuh kembang anak mencakup pertumbuhan, yaitu bertambahnya ukuran tubuh, dan perkembangan, yaitu bertambahnya kemampuan gerak, bicara, sosial-emosional, dan berpikir. Tahapan tumbuh kembang anak bisa dipantau dengan milestone per usia, seperti daftar CDC dan ceklis di Buku KIA. Ingat bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, tetapi milestone yang belum tercapai tetap layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Gizi yang cukup, stimulasi setiap hari, kesehatan yang terjaga, dan lingkungan pengasuhan yang hangat adalah fondasinya.
Manfaatkan posyandu, puskesmas, dan pemeriksaan rutin. Bila anak kehilangan kemampuan yang sudah dikuasai, belum mencapai milestone usianya, atau Anda merasa ada yang tidak biasa, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dan penanganan yang lebih awal memberi anak kesempatan terbaik.
Bila Anda membutuhkan evaluasi tumbuh kembang, terapi wicara, terapi okupasi, atau layanan terapi anak lainnya, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). CDC’s Developmental Milestones — Learn the Signs. Act Early. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/index.html
- CDC. Milestones by 2 Months. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/2-months.html
- CDC. Milestones by 4 Months. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/4-months.html
- CDC. Milestones by 6 Months. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/6-months.html
- CDC. Milestones by 9 Months. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/9-months.html
- CDC. Milestones by 1 Year. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/1-year.html
- CDC. Milestones by 15 Months. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/15-months.html
- CDC. Milestones by 18 Months. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/18-months.html
- CDC. Milestones by 2 Years. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/2-years.html
- CDC. Milestones by 3 Years. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/3-years.html
- CDC. Milestones by 4 Years. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/4-years.html
- CDC. Milestones by 5 Years. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/5-years.html
- CDC. About Learn the Signs. Act Early. https://www.cdc.gov/act-early/about/index.html
- Zubler JM, Wiggins LD, Macias MM, dkk. Evidence-Informed Milestones for Developmental Surveillance Tools. Pediatrics. 2022;149(3):e2021052138. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35132439/
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. https://peraturan.bpk.go.id/Details/154776/permenkes-no-66-tahun-2014
- Kementerian Kesehatan RI (Ayo Sehat). Tiga Langkah Mudah Pantau Tumbuh Kembang Buah Hati Anda. https://ayosehat.kemkes.go.id/tiga-langkah-mudah-pantau-tumbuh-kembang-buah-hati-anda
- Kementerian Kesehatan RI (Ayo Sehat). Rahasia Anak Sehat dan Cerdas, Lakukan Stimulasi Tumbuh Kembang dengan Buku KIA. https://ayosehat.kemkes.go.id/rahasia-anak-sehat-dan-cerdas-lakukan-stimulasi-tumbuh-kembang-dengan-buku-kia
- Kementerian Kesehatan RI (Ditjen Kesehatan Primer dan Komunitas). Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). https://kesprimkom.kemkes.go.id/konten/126/152/0/buku-kesehatan-ibu-dan-anak-kia
- Kementerian Kesehatan RI (Ditjen Kesehatan Lanjutan). Tugas Perkembangan Anak dan Stimulasinya (2022). https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/751/tugas-perkembangan-anak-dan-stimulasinya
- ANTARA. Jangan sepelekan buku KIA untuk pantau tumbuh kembang anak (wawancara dokter anak IDAI, 2021). https://www.antaranews.com/berita/2206862/jangan-sepelekan-buku-kia-untuk-pantau-tumbuh-kembang-anak
- WHO, UNICEF, World Bank Group. What is the Nurturing Care Framework for Early Childhood Development? https://nurturing-care.org/about/what-is-the-nurturing-care-framework/



