,

Tumbuh Kembang Anak: Pengertian dan Tahapan Perkembangan 0–6 Tahun

Ilustrasi kartu artikel KlinikPlus tentang tumbuh kembang anak: pengertian dan tahapan perkembangan usia 0–6 tahun

Tumbuh kembang anak adalah dua proses yang berjalan bersamaan: tubuh anak bertambah besar, dan kemampuannya bertambah matang. Dari bayi yang baru bisa menangis hingga anak prasekolah yang pandai bercerita, setiap bulan membawa perubahan baru. Memahami tahapan ini membantu Anda menikmati setiap kemajuan si kecil, sekaligus lebih cepat menyadari bila ada hal yang perlu diperiksakan.

Banyak orang tua bertanya-tanya, “Anak saya sudah 15 bulan tapi belum berjalan, normal tidak, ya?” atau “Kenapa anak tetangga sudah lancar bicara, sedangkan anak saya belum?” Pertanyaan seperti ini sangat wajar. Artikel ini membahas pengertian pertumbuhan dan perkembangan anak, aspek-aspek perkembangan, tabel tahapan perkembangan anak usia dini per usia, faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, cara memantaunya di rumah dan di posyandu, serta tanda bahaya yang perlu segera dikonsultasikan ke dokter.

Apa Itu Tumbuh Kembang Anak? Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Istilah “tumbuh kembang” sebenarnya menggabungkan dua hal yang berbeda. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 membedakan keduanya sebagai berikut:

  • Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan tubuh. Sifatnya kuantitatif, sehingga bisa diukur dengan angka, misalnya berat badan, panjang atau tinggi badan, dan lingkar kepala.
  • Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang makin kompleks, yaitu kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. Perkembangan lebih sulit diukur dengan angka; yang dinilai adalah kemampuan apa yang sudah bisa dilakukan anak.

Contoh sederhananya: berat badan anak yang naik dari 9 kg menjadi 10 kg adalah pertumbuhan. Anak yang tadinya hanya merangkak lalu mulai berjalan sendiri adalah perkembangan. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak selalu berjalan seiring. Anak dengan berat badan ideal tetap bisa mengalami keterlambatan bicara, dan sebaliknya. Karena itu, pemantauan tumbuh kembang anak sebaiknya mencakup keduanya: ditimbang dan diukur, sekaligus diamati kemampuannya.

5 Aspek Perkembangan Anak yang Perlu Anda Kenali

Perkembangan anak biasanya dikelompokkan ke dalam beberapa aspek atau ranah. Pembagian di Indonesia (Permenkes 66/2014) dan di daftar milestone CDC sedikit berbeda, tetapi isinya saling melengkapi. Secara praktis, ada lima aspek perkembangan anak yang bisa Anda amati sehari-hari.

Infografik lima aspek perkembangan anak: motorik kasar, motorik halus, bicara dan bahasa, sosial-emosional, dan kognitif, beserta contoh kemampuannya
Lima aspek perkembangan anak dan contoh kemampuannya. Sumber: Permenkes 66/2014, CDC.
AspekApa yang dinilaiContoh kemampuan
Motorik kasarGerakan yang melibatkan otot besar tubuhMengangkat kepala, duduk, berjalan, berlari, melompat dengan satu kaki
Motorik halusGerakan tangan dan jari yang lebih telitiMenggenggam mainan, menjumput makanan kecil, mencoret-coret, mengancingkan baju
Bicara dan bahasaKemampuan memahami dan menyampaikan pesanMengoceh, menyebut kata pertama, menggabungkan kata, bercerita
Sosial-emosionalCara anak berhubungan dengan orang lain dan mengelola perasaanTersenyum saat diajak bicara, bermain bersama teman, menghibur teman yang sedih
KognitifCara anak berpikir, belajar, dan memecahkan masalahMencari mainan yang disembunyikan, bermain pura-pura, menyebut warna, berhitung

Kemandirian, seperti makan sendiri dan memakai baju sendiri, sering dimasukkan ke aspek sosial atau motorik. Yang penting diingat, kelima aspek ini saling memengaruhi. Anak yang pendengarannya terganggu, misalnya, bisa terlambat bicara dan kemudian juga kesulitan bermain bersama teman.

Tahapan Tumbuh Kembang Anak Usia 0–5 Tahun

Tabel berikut merangkum sebagian milestone dari daftar periksa Learn the Signs. Act Early. milik CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat), yang disusun bersama American Academy of Pediatrics. Kemampuan di bawah ini sudah diparafrasekan dan dipilih yang paling mudah diamati di rumah.

Satu hal penting: setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Milestone CDC berisi kemampuan yang sudah bisa dilakukan oleh sebagian besar anak (75% atau lebih) pada usia tersebut. Artinya, patokan ini bukan “rata-rata”, melainkan kemampuan yang umumnya sudah dikuasai. Bila anak Anda belum melakukan salah satunya, itu belum tentu berarti ada gangguan, tetapi menjadi alasan yang baik untuk membicarakannya dengan dokter atau tenaga kesehatan, alih-alih hanya menunggu.

UsiaGerak (motorik kasar dan halus)Bicara dan komunikasiSosial-emosional dan kognitif
2 bulanMengangkat kepala saat tengkurap; menggerakkan kedua tangan dan kakiMengeluarkan suara selain menangis; bereaksi terhadap suara kerasTersenyum saat diajak bicara; memandangi wajah Anda; tenang saat digendong
4 bulanMenahan kepala dengan tegak saat digendong; memegang mainan yang diletakkan di tangannyaBergumam “ooo” atau “aaah”; menoleh ke arah suara AndaTersenyum sendiri untuk menarik perhatian; tertawa kecil saat diajak bercanda
6 bulanBerguling dari tengkurap ke telentang; bertumpu pada tangan saat dudukBergantian bersuara dengan Anda; memekikMengenali orang yang dikenalnya; tertawa; meraih mainan yang diinginkan
9 bulanDuduk tanpa bantuan; memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainMengoceh “mamama”, “bababa”; mengangkat tangan minta digendongMenoleh saat dipanggil namanya; malu atau takut pada orang asing; mencari benda yang jatuh
12 bulanBerdiri dengan berpegangan; berjalan sambil berpegangan pada perabot; menjumput benda kecil dengan ibu jari dan telunjukMelambaikan tangan “dadah”; memanggil orang tua dengan sebutan khusus seperti “mama” atau “papa”; memahami kata “jangan”Bermain cilukba atau tepuk tangan bersama; mencari mainan yang Anda sembunyikan
15 bulanBerjalan beberapa langkah sendiri; makan sendiri dengan jariMencoba mengucapkan satu-dua kata selain “mama/papa”; menunjuk untuk meminta sesuatuMenunjukkan benda yang ia sukai kepada Anda; menyusun dua balok
18 bulanBerjalan tanpa berpegangan; mencoret-coret; naik-turun kursi tanpa bantuanMencoba mengucapkan tiga kata atau lebih selain “mama/papa”; mengikuti perintah satu langkah tanpa isyaratMenunjuk untuk memperlihatkan sesuatu yang menarik; meniru Anda mengerjakan pekerjaan rumah
2 tahunMenendang bola; berlari; makan dengan sendokMenggabungkan dua kata, seperti “minta susu”; menunjuk minimal dua bagian tubuh saat ditanyaMenyadari bila orang lain sedih; bermain dengan lebih dari satu mainan sekaligus
3 tahunMerangkai manik-manik besar; memakai sebagian baju sendiri; makan dengan garpuBercakap-cakap dengan minimal dua kali saling sahut; menyebut nama depannya; bicaranya sebagian besar bisa dipahami orang lainIkut bermain bersama anak lain; menggambar lingkaran setelah dicontohkan
4 tahunMenangkap bola besar; memegang krayon dengan jari (bukan digenggam)Berbicara dalam kalimat empat kata atau lebih; menceritakan kegiatannya hari ituBermain pura-pura; menghibur teman yang sedih; menyebut beberapa warna
5 tahunMelompat dengan satu kaki; mengancingkan beberapa kancingMenceritakan kisah dengan minimal dua kejadian; mempertahankan percakapan lebih dari tiga kali saling sahutMengikuti aturan atau bergiliran saat bermain; berhitung sampai 10; menulis beberapa huruf namanya

Daftar lengkap untuk setiap usia (termasuk usia 30 bulan) tersedia di situs CDC. Perlu diingat, daftar ini adalah alat bantu pemantauan, bukan pengganti skrining perkembangan yang terstandar.

Bagaimana dengan usia 5–6 tahun?

Daftar milestone CDC berhenti di usia 5 tahun. Di Indonesia, pemantauan perkembangan oleh tenaga kesehatan berlanjut hingga anak berusia 72 bulan (6 tahun), termasuk di taman kanak-kanak. Pada rentang usia ini, perhatikan apakah kemampuan anak terus bertambah dari daftar usia 5 tahun, misalnya makin lancar bercerita, makin mampu mengikuti aturan bermain, dan makin mandiri. Bila Anda ragu, tanyakan pada dokter atau petugas puskesmas saat pemeriksaan rutin.

Baca juga: Speech Delay Adalah: Tanda, Penyebab & Penanganannya

Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. WHO, UNICEF, dan Bank Dunia merumuskan lima komponen nurturing care (pengasuhan yang mendukung) yang dibutuhkan anak sejak dalam kandungan, terutama hingga usia 3 tahun: kesehatan yang baik, gizi yang cukup, rasa aman dan terlindungi, pengasuhan yang responsif, serta kesempatan untuk belajar. Dalam bahasa sehari-hari, faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat.

1. Gizi

Gizi yang cukup dimulai dari gizi ibu selama hamil, lalu berlanjut dengan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang sesuai usia. Kekurangan gizi berpengaruh langsung pada pertumbuhan (berat dan tinggi badan), dan pada akhirnya juga pada perkembangan anak. Itulah sebabnya penimbangan dan pengukuran rutin di posyandu penting.

2. Stimulasi

Kemenkes menekankan bahwa stimulasi sebaiknya diberikan sejak lahir, setiap hari, dan di setiap kesempatan. Stimulasi tidak harus berupa mainan mahal. Mengajak bayi bicara, menyanyi, bermain cilukba, membacakan cerita, dan memberi kesempatan anak mencoba sendiri sudah merupakan stimulasi. Kurangnya stimulasi termasuk salah satu penyebab penyimpangan tumbuh kembang.

3. Kesehatan

Anak yang sering sakit, memiliki gangguan pendengaran atau penglihatan, atau memiliki kondisi medis tertentu bisa mengalami hambatan perkembangan. Imunisasi lengkap, pemeriksaan kesehatan rutin, dan penanganan penyakit sejak dini membantu anak tumbuh optimal. Kesehatan fisik dan mental orang tua juga berpengaruh, karena memengaruhi cara orang tua mengasuh.

4. Lingkungan dan pengasuhan

Lingkungan rumah yang aman, hangat, dan dapat diprediksi memberi anak rasa aman untuk bereksplorasi. Pengasuhan yang responsif berarti orang tua peka terhadap sinyal anak, misalnya lapar, lelah, atau sedih, lalu meresponsnya dengan tepat. Interaksi sehari-hari seperti saat makan, mandi, dan menjelang tidur adalah kesempatan belajar yang sangat berharga.

Cara Memantau Tumbuh Kembang Anak di Rumah dan di Posyandu

Pemantauan tumbuh kembang anak adalah kerja sama antara orang tua dan tenaga kesehatan. Anda yang paling sering bersama anak, sehingga pengamatan Anda sangat berharga.

Di rumah

  • Gunakan Buku KIA. Buku Kesehatan Ibu dan Anak dari Kemenkes memuat grafik pertumbuhan dan ceklis perkembangan sesuai usia. Buku ini bisa didapatkan gratis di puskesmas.
  • Isi ceklis secara berkala. Bila ada jawaban “Tidak” pada ceklis perkembangan, sampaikan kepada kader posyandu atau petugas puskesmas agar dapat ditindaklanjuti.
  • Catat hal yang Anda lihat. Tulis kapan anak pertama kali duduk, berjalan, atau mengucapkan kata. Rekam video singkat bila ada perilaku yang membuat Anda ragu, untuk diperlihatkan kepada dokter.
  • Jadikan stimulasi bagian dari rutinitas. Ajak bicara, bermain, dan membaca bersama setiap hari.

Di posyandu, puskesmas, dan dokter

Posyandu diadakan sebulan sekali. Di sana anak ditimbang, diukur panjang atau tinggi badannya, dan mendapatkan vitamin serta imunisasi sesuai jadwal. Selalu bawa Buku KIA setiap kali ke posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan lain.

Untuk perkembangan, Kemenkes menjalankan program Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Menurut Permenkes 66/2014, pemantauan perkembangan dilakukan setiap 3 bulan untuk bayi usia 0–12 bulan, dan setiap 6 bulan untuk anak usia 12–72 bulan. Salah satu alat yang digunakan di puskesmas adalah Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Di Amerika Serikat, AAP menganjurkan skrining perkembangan umum pada usia 9, 18, dan 30 bulan, serta skrining autisme pada usia 18 dan 24 bulan.

Tanda Bahaya (Red Flag) Perkembangan Anak

Tanda bahaya bukan diagnosis, melainkan sinyal bahwa anak perlu dievaluasi lebih lanjut. Segera bicarakan dengan dokter bila Anda melihat hal-hal berikut:

Infografik perbandingan: tanda perkembangan anak yang cukup dipantau di rumah dan tanda bahaya yang perlu segera dikonsultasikan ke dokter
Kehilangan kemampuan di usia berapa pun adalah tanda untuk segera ke dokter.
  • Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, di usia berapa pun. Misalnya anak yang dulu sudah menyebut beberapa kata lalu berhenti bicara, atau yang dulu suka melambaikan tangan lalu tidak lagi melakukannya. Ini perlu diperiksakan segera, jangan ditunggu.
  • Anak belum menunjukkan satu atau lebih milestone untuk usianya.
  • Usia 9 bulan belum menoleh saat dipanggil namanya.
  • Usia 12 bulan belum melambaikan tangan, belum memanggil orang tua dengan sebutan khusus, atau belum berdiri dengan berpegangan.
  • Usia 18 bulan belum berjalan tanpa berpegangan, atau belum menunjuk untuk memperlihatkan sesuatu yang menarik.
  • Usia 2 tahun belum menggabungkan dua kata.
  • Usia 3 tahun bicaranya sebagian besar belum bisa dipahami orang lain, atau belum mau bermain bersama anak lain.
  • Ada masalah pertumbuhan, misalnya berat badan tidak naik atau tinggi badan tertinggal, menurut grafik di Buku KIA.
  • Anak tampak sangat sulit berkonsentrasi atau sangat aktif berlebihan dibandingkan anak seusianya.
  • Insting Anda sebagai orang tua mengatakan ada yang tidak biasa.

Untuk keterlambatan bicara dan bahasa, artikel tentang terapi wicara anak dapat membantu Anda memahami pilihan penanganan. Bila anak tampak kesulitan dengan gerakan halus, makan, atau kemandirian, Anda bisa membaca tentang terapi okupasi.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

CDC menganjurkan orang tua untuk bertindak sejak dini. Bila anak belum mencapai satu atau lebih milestone, kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki, atau Anda memiliki kekhawatiran lain, bicarakan dengan dokter anak, sampaikan kekhawatiran Anda, dan tanyakan tentang skrining perkembangan. Kemenkes juga menyebut bahwa makin cepat risiko gangguan ditemukan, makin cepat pula penanganannya bisa dimulai.

Sebelum berkonsultasi, siapkan hal-hal berikut agar pemeriksaan lebih efektif:

  • Buku KIA beserta catatan berat badan, tinggi badan, dan imunisasi.
  • Catatan kemampuan anak saat ini dan kapan milestone sebelumnya tercapai.
  • Video singkat perilaku yang membuat Anda khawatir.
  • Riwayat kehamilan, persalinan, dan penyakit yang pernah dialami anak.
  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda tanyakan.

Dokter akan menilai pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh, termasuk pendengaran dan penglihatan bila perlu. Bila diperlukan, anak dapat dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, psikolog anak, atau terapis. Penanganan yang dimulai lebih awal memberi anak kesempatan lebih besar untuk mengejar ketertinggalannya. Panduan persiapannya bisa Anda baca di artikel persiapan asesmen tumbuh kembang anak.

Baca juga: ABK Adalah: Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus, Jenis, dan Terapinya

Baca juga: Fisioterapi Anak: Kondisi yang Ditangani & Prosesnya

Baca juga: Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara: Kapan Harus Khawatir?

Baca juga: SDIDTK dan KPSP: Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak di Posyandu dan Puskesmas

Baca juga: Toilet Training Anak: Umur Berapa Mulai, Tanda Siap, dan Langkah-Langkahnya

Baca juga: Perkembangan Anak 1 Tahun: Milestone 12–23 Bulan dan Cara Menstimulasinya

Baca juga: Perkembangan Bayi 2 Bulan: Milestone dan Cara Menstimulasinya

Baca juga: Perkembangan Anak 4 Tahun: Milestone 48–59 Bulan dan Cara Menstimulasinya

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan pertumbuhan dan perkembangan anak?

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran tubuh anak, seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, yang bisa diukur dengan angka. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan anak yang makin kompleks, seperti gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. Keduanya perlu dipantau bersama karena anak yang pertumbuhannya baik belum tentu perkembangannya sesuai usia, dan sebaliknya.

Apa saja aspek perkembangan anak?

Aspek perkembangan anak umumnya meliputi motorik kasar (gerakan otot besar seperti berjalan dan berlari), motorik halus (gerakan tangan dan jari), bicara dan bahasa, sosial-emosional, serta kognitif (berpikir dan memecahkan masalah). Di Indonesia, Permenkes 66 Tahun 2014 menyebut gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.

Apakah anak yang belum mencapai milestone pasti mengalami keterlambatan?

Belum tentu. Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Milestone CDC berisi kemampuan yang sudah dicapai oleh 75% anak atau lebih pada usia tertentu, sehingga milestone yang belum tercapai layak dibicarakan dengan dokter, bukan ditunggu. Hanya pemeriksaan oleh tenaga kesehatan yang dapat menentukan apakah ada keterlambatan perkembangan.

Seberapa sering perkembangan anak perlu diperiksa?

Menurut Permenkes 66 Tahun 2014, perkembangan anak dipantau setiap 3 bulan pada usia 0–12 bulan dan setiap 6 bulan pada usia 12–72 bulan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Selain itu, orang tua bisa membawa anak ke posyandu setiap bulan untuk ditimbang dan diukur, serta memantau perkembangan sendiri di rumah dengan ceklis di Buku KIA.

Apa yang harus dilakukan bila anak kehilangan kemampuan yang sudah dikuasai?

Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, misalnya berhenti bicara atau tidak lagi merespons saat dipanggil, adalah tanda bahaya di usia berapa pun. Segera bawa anak ke dokter, sampaikan perubahan yang Anda lihat sejak kapan, dan tanyakan tentang skrining perkembangan. Jangan menunggu kemampuan itu kembali dengan sendirinya.

Bagaimana cara menstimulasi perkembangan anak usia dini di rumah?

Stimulasi bisa dilakukan setiap hari melalui kegiatan sederhana: mengajak bayi bicara dan tersenyum, bermain cilukba, membacakan cerita, menyanyi, memberi kesempatan anak bergerak bebas dengan aman, dan membiarkannya mencoba makan atau berpakaian sendiri. Yang terpenting adalah interaksi yang hangat dan responsif, bukan mainan yang mahal.

Baca juga: Anak Belum Bisa Jalan: Rentang Usia Normal dan Kapan Perlu Diperiksa

Kesimpulan

Tumbuh kembang anak mencakup pertumbuhan, yaitu bertambahnya ukuran tubuh, dan perkembangan, yaitu bertambahnya kemampuan gerak, bicara, sosial-emosional, dan berpikir. Tahapan tumbuh kembang anak bisa dipantau dengan milestone per usia, seperti daftar CDC dan ceklis di Buku KIA. Ingat bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, tetapi milestone yang belum tercapai tetap layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Gizi yang cukup, stimulasi setiap hari, kesehatan yang terjaga, dan lingkungan pengasuhan yang hangat adalah fondasinya.

Manfaatkan posyandu, puskesmas, dan pemeriksaan rutin. Bila anak kehilangan kemampuan yang sudah dikuasai, belum mencapai milestone usianya, atau Anda merasa ada yang tidak biasa, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dan penanganan yang lebih awal memberi anak kesempatan terbaik.

Bila Anda membutuhkan evaluasi tumbuh kembang, terapi wicara, terapi okupasi, atau layanan terapi anak lainnya, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami