,

Toilet Training Anak: Umur Berapa Mulai, Tanda Siap, dan Langkah-Langkahnya

Ilustrasi kartu artikel KlinikPlus: Toilet Training Anak: Umur Berapa Mulai, Tanda Siap, dan Langkah-Langkahnya

Toilet training adalah proses mengajari anak mengenali rasa ingin buang air kecil atau besar, lalu melakukannya di toilet atau pispot, bukan lagi di popok. Proses ini tidak punya tanggal mulai yang sama untuk semua anak, tetapi ada tanda kesiapan dan langkah yang bisa membuatnya lebih lancar bagi anak maupun Anda.

Banyak orang tua bertanya toilet training umur berapa sebaiknya dimulai, apalagi bila anak teman sebayanya sudah lepas popok atau anak akan segera masuk PAUD dan TK. Artikel ini membahas rentang usia yang wajar, tanda anak siap toilet training, langkah-langkah cara toilet training, perbedaan kering siang dan malam, kemunduran dan “kecelakaan”, pertimbangan untuk anak berkebutuhan khusus, kapan perlu ke dokter, serta hal yang sebaiknya dihindari.

Toilet Training Umur Berapa Sebaiknya Dimulai?

Tidak ada umur pasti yang berlaku untuk semua anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kesiapan fisik dan psikologis umumnya muncul sekitar usia 18 bulan hingga 2,5 tahun. Berbagai sumber resmi memberi rentang yang mirip:

SumberYang disebutkan
IDAITidak ada usia pasti. Kesiapan umumnya muncul sekitar 18 bulan sampai 2,5 tahun. Artikel IDAI lain menyebut sebagian besar anak siap pada 18 bulan sampai 3 tahun.
American Academy of Pediatrics (AAP)Anak umumnya menunjukkan tanda kontrol kandung kemih dan usus pada 18–24 bulan. Rata-rata mulai latihan di AS pada usia 2–3 tahun, dan sebagian besar anak sudah lulus toilet training pada usia 4 tahun.
NHS (Inggris)Hampir semua anak dapat dilatih antara 18 bulan dan 2,5 tahun, dan orang tua tidak harus menunggu semua tanda kesiapan muncul.

Merujuk rentang dari IDAI dan AAP di atas, anak yang baru siap di usia 2,5 atau 3 tahun masih berada dalam rentang yang disebutkan sumber-sumber tersebut. Selain usia, situasi keluarga juga perlu diperhatikan. Menurut AAP, perubahan besar di rumah dapat membuat toilet training lebih sulit, sehingga menunda bisa membantu bila keluarga baru atau akan pindah rumah, menanti atau baru dikaruniai adik, atau sedang menghadapi sakit berat, duka, atau krisis keluarga.

Tanda Anak Siap Toilet Training

AAP mencantumkan beberapa tanda anak siap toilet training. Anak tidak harus menunjukkan semuanya sekaligus:

Infografik KlinikPlus berisi tujuh tanda anak siap toilet training menurut American Academy of Pediatrics
Tujuh tanda anak siap toilet training menurut AAP.
  • Popoknya tetap kering setidaknya 2 jam di siang hari, atau kering setelah tidur siang.
  • Menunjukkan tanda ingin buang air, seperti mengejan, diam mematung, atau jongkok.
  • Bisa mengikuti instruksi sederhana, misalnya “Ayo ke kamar mandi.”
  • Bisa berjalan ke kamar mandi dan membantu melepas celananya.
  • Tidak suka popok basah dan minta diganti.
  • Minta memakai toilet atau pispot.
  • Ingin memakai celana dalam seperti “anak besar”.

IDAI menambahkan tanda psikologis, seperti tertarik mengikuti orang tua ke kamar mandi, mulai suka meniru orang dewasa, dan menunjukkan kemandirian dengan berkata “tidak”. Tanda-tanda ini biasanya muncul bersamaan dengan tonggak perkembangan lain, yang bisa Anda cek di artikel tumbuh kembang anak usia 0–6 tahun.

Cara Toilet Training: Langkah demi Langkah

Langkah berikut merangkum anjuran IDAI, AAP, dan NHS. Sumber tiap anjuran disebutkan pada langkahnya; bagian tanpa sumber adalah tips praktis umum.

  1. Sepakati rencana dengan semua pengasuh. IDAI menekankan pentingnya konsistensi antara ayah, ibu, kakek-nenek, pengasuh, dan guru PAUD, termasuk kata yang dipakai, misalnya “pipis” dan “pup”.
  2. Kenalkan dan ceritakan dulu. Pilih waktu yang cukup tenang, lalu jelaskan bahwa sebentar lagi anak akan pipis di pispot atau toilet. Contoh kalimat: “Mulai minggu depan, Adik pipis di pispot, ya. Nanti Mama temani.”
  3. Siapkan alat yang nyaman. Pispot atau dudukan toilet anak dan pijakan kaki agar posisinya stabil.
  4. Buat jadwal duduk di toilet. NHS menyarankan waktu rutin seperti saat bangun tidur, setelah makan, sebelum tidur siang, dan sebelum tidur malam. IDAI menyarankan duduk sekitar 3–5 menit, kira-kira 15 menit setelah makan, tanpa menargetkan anak harus berhasil.
  5. Ganti popok dengan celana dalam di siang hari. NHS menyarankan berhenti memakai popok di siang hari dan beralih ke celana dalam; popok masih boleh dipakai saat tidur siang dan malam untuk sementara.
  6. Puji usahanya, bukan hanya hasilnya. NHS menganjurkan memuji anak karena sudah mencoba, meskipun belum berhasil pipis atau pup, dan AAP menyarankan pujian yang spesifik tentang hal yang membuat Anda bangga. Contoh: “Hebat, Adik sudah bilang mau pipis!” atau “Terima kasih sudah mau duduk di pispot.”
  7. Latih kemandirian bertahap. Menurunkan dan menaikkan celana, cebok, menyiram, dan mencuci tangan. IDAI menyebut anak laki-laki perlu belajar pipis dalam posisi duduk dulu di awal toilet training.

Baca juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Keinginannya Tidak Dituruti

Kering di Siang Hari dan Kering di Malam Hari Itu Berbeda

Kontrol pipis di malam hari biasanya datang jauh lebih lambat daripada siang hari. NHS menyebut sebagian besar anak baru belajar tetap kering di malam hari setelah kering di siang hari, dan hal ini terjadi secara alami seiring waktu. IDAI menyebut kendali buang air saat tidur mungkin baru muncul sekitar setahun setelah anak mampu menahan buang air di siang hari.

Mengompol di malam hari juga masih dialami sebagian anak usia sekolah. Menurut AAP, sekitar 15% anak usia 5 dan 7 tahun masih mengompol, dan kurang dari 1% pada usia 15 tahun. Yang bisa Anda lakukan:

  • Ajak anak pipis sebelum tidur (tips umum).
  • Gunakan perlak atau pelapis kasur tahan air (tips umum).
  • Hindari minuman berkafein seperti teh, kopi, dan minuman bersoda, karena menurut NHS dapat menambah frekuensi pipis.
  • Jangan menghukum. AAP dan NHS sama-sama menegaskan mengompol bukan kesalahan anak, dan hukuman bisa memperburuknya.

Kemunduran dan “Kecelakaan” Saat Toilet Training

NHS menyebut “kecelakaan” atau mengompol di celana adalah bagian normal dari proses belajar dan dialami sebagian besar anak. Tetap tenang, bersihkan bersama anak, lalu lanjutkan. Contoh kalimat: “Tidak apa-apa, celananya basah. Yuk kita ganti, lain kali kita coba ke pispot lebih cepat.”

Kadang anak yang sudah lancar tiba-tiba sering mengompol lagi. Menurut AAP, pemicunya bisa berupa perubahan rutinitas pengasuhan, kehamilan ibu atau kelahiran adik, sakit berat pada anak atau anggota keluarga, kematian orang dekat, konflik atau perceraian orang tua, pindah rumah, sembelit atau BAB yang sakit, infeksi saluran kemih, atau masalah medis lain. AAP menganjurkan memeriksakan anak ke dokter anak terlebih dahulu untuk memastikan penyebabnya bukan masalah fisik. Bila kemunduran berlangsung sebulan atau lebih, AAP menyarankan menilai kembali apakah anak memang sudah siap, dan menyimpan pispot untuk sementara bisa dipertimbangkan bila hal itu jelas meringankan anak.

Toilet Training untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Menurut AAP, anak berkebutuhan khusus sering memulai toilet training lebih lambat dan baru menyelesaikannya sekitar usia 5 tahun atau lebih. Anak dengan keterlambatan perkembangan, disabilitas intelektual, atau autisme umumnya tetap bisa dilatih, meski bisa membutuhkan beberapa bulan hingga setahun atau lebih. Beberapa penyesuaian yang dianjurkan AAP:

  • Periksakan dulu ke dokter anak sebelum memulai, terutama bila anak sering sembelit atau BAB-nya encer.
  • Pakai urutan bergambar yang menunjukkan langkah-langkah ke toilet secara konsisten.
  • Gunakan isyarat yang sama secara konsisten untuk “pipis”, “pup”, dan “toilet” bagi anak dengan gangguan pendengaran.
  • Ajarkan satu langkah setiap kali, dimulai dari buang air di toilet, lalu menambah keterampilan lain.
  • Perhatikan pemicu sensorik, seperti bau pembersih yang menyengat, lantai dingin, atau suara siraman toilet.
  • Pilih pakaian yang mudah dilepas, misalnya pakaian dengan perekat, bagi anak dengan keterbatasan fisik.

AAP juga menyebut sebagian anak mungkin membutuhkan bantuan terapis okupasi atau fisioterapis. Untuk informasi lebih lanjut, baca artikel ABK adalah, terapi okupasi, dan sensori integrasi.

Kapan Perlu ke Dokter?

Sumber-sumber yang dirujuk artikel ini menyebut beberapa keadaan yang perlu dibicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan:

  • Tanda sembelit sebelum lepas popok. NHS menyebut tinja yang keras, kering, atau sakit saat dikeluarkan bisa menandakan sembelit, dan menyarankan meminta bantuan tenaga kesehatan sebelum berhenti memakai popok.
  • Anak menahan BAB. IDAI menggambarkan anak yang pernah merasa sakit saat BAB lalu menahan tinjanya sebagai “lingkaran setan”: tinja makin keras dan BAB berikutnya makin sakit, sehingga perlu ditangani.
  • Nyeri, panas, atau mengejan saat pipis, atau perubahan jumlah dan frekuensi pipis di siang hari. AAP mencantumkannya sebagai tanda yang perlu disampaikan ke dokter.
  • Kembali mengompol setelah lama kering. AAP menyarankan berbicara dengan dokter bila anak yang sudah kering 6 bulan atau lebih tiba-tiba mengompol lagi, dan NHS menyarankan ke dokter bila anak kembali mengompol setelah kering lebih dari 6 bulan.
  • Kemunduran toilet training. AAP menganjurkan pemeriksaan dokter anak terlebih dahulu untuk menyingkirkan penyebab fisik.

NHS juga menyebut orang tua dapat berbicara dengan tenaga kesehatan kapan saja bila merasa toilet training sulit atau khawatir dengan kemajuan anak.

Hal yang Sebaiknya Dihindari

HindariCoba ini
Memarahi, mempermalukan, atau menghukum saat anak mengompolTetap tenang, bersihkan bersama, dan katakan “Tidak apa-apa, kita coba lagi.”
Memaksa anak duduk lama di toiletDuduk singkat sekitar 3–5 menit pada waktu rutin, tanpa target harus berhasil (IDAI)
Memulai saat ada perubahan besarTunda sampai rutinitas keluarga lebih stabil (AAP)
Adu kehendak, membujuk, atau memohon-mohonPujian yang spesifik untuk usaha anak (AAP, NHS)

AAP menekankan bahwa adu kehendak, membujuk, memohon-mohon, memberi iming-iming, dan menghukum justru menghambat anak belajar mengendalikan buang airnya sendiri.

Infografik KlinikPlus dua kolom berisi sikap yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari orang tua saat toilet training
Sikap yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari selama toilet training.
Infografik KlinikPlus dua kolom berisi sikap yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari orang tua saat toilet training
Sikap yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari selama toilet training.

Baca juga: Perkembangan Anak 2 Tahun: Milestone 24–35 Bulan yang Perlu Dipantau

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Toilet training adalah apa?

Toilet training adalah proses melatih anak mengenali rasa ingin buang air kecil atau besar, menahannya sebentar, lalu buang air di toilet atau pispot. Prosesnya mencakup beberapa keterampilan, mulai dari memberi tahu orang tua, melepas celana, duduk di toilet, cebok, menyiram, hingga mencuci tangan.

Toilet training umur berapa idealnya dimulai?

Tidak ada umur pasti. IDAI menyebut kesiapan umumnya muncul sekitar 18 bulan sampai 2,5 tahun, sedangkan AAP mencatat rata-rata anak di AS mulai berlatih pada usia 2–3 tahun dan sebagian besar sudah lulus pada usia 4 tahun. Mulailah saat anak menunjukkan beberapa tanda siap dan keluarga sedang tidak menghadapi perubahan besar.

Bagaimana toilet training untuk anak 3 tahun yang belum lepas popok?

Anak 3 tahun yang belum lepas popok masih termasuk rentang wajar, karena menurut AAP sebagian besar anak lulus toilet training pada usia 4 tahun. Mulailah dengan jadwal duduk rutin setelah makan dan bangun tidur, celana dalam di siang hari, dan pujian untuk setiap usaha. Periksakan ke dokter bila anak sering sembelit, menahan BAB, atau tampak kesakitan saat buang air.

Bagaimana menyiapkan toilet training untuk anak TK?

Menjelang masuk TK, latih anak mengatakan kepada guru bahwa ia ingin ke toilet, melepas dan memakai celana sendiri, cebok sederhana, menyiram, dan mencuci tangan. Sebagai tips umum, kenalkan toilet sekolah bila memungkinkan, pilih celana yang mudah dilepas, dan bekali baju ganti. Sampaikan kepada guru kata yang dipakai anak di rumah, misalnya “pipis” atau “pup”.

Apakah anak yang sudah lulus toilet training siang hari pasti kering di malam hari?

Belum tentu. Menurut NHS, sebagian besar anak belajar kering di malam hari setelah kering di siang hari, dan IDAI menyebut kendali malam mungkin baru muncul sekitar setahun setelah kendali siang. Menurut AAP, sekitar 15% anak usia 5 dan 7 tahun masih mengompol. AAP menyarankan berbicara dengan dokter bila anak yang sudah kering 6 bulan atau lebih kembali mengompol, atau ada nyeri, rasa panas, atau mengejan saat pipis.

Apakah anak perlu dimarahi atau dihukum saat mengompol?

Tidak. NHS menyebut “kecelakaan” adalah bagian normal dari proses belajar dan dialami sebagian besar anak. AAP menyarankan memberi dukungan, bukan hukuman, untuk malam-malam ketika anak mengompol, dan menegaskan mengompol bukan kesalahan anak. Tetap tenang, bersihkan bersama, dan puji usaha anak secara spesifik.

Kesimpulan

Toilet training sebaiknya dimulai saat anak menunjukkan tanda siap. IDAI menyebut sebagian besar anak siap pada usia 18 bulan hingga 3 tahun, dan AAP mencatat sebagian besar anak sudah lulus pada usia 4 tahun. Langkah bertahap, jadwal rutin, pujian untuk usaha, dan kesabaran membantu prosesnya. Menurut NHS dan IDAI, kering di malam hari biasanya datang belakangan; NHS menyebut kecelakaan adalah bagian normal dari belajar, dan AAP menegaskan hukuman justru menghambat. Bila ada tanda sembelit, nyeri saat buang air, kemunduran, atau anak memiliki kebutuhan khusus, AAP dan NHS menganjurkan melibatkan dokter anak atau tenaga kesehatan.

Bila Anda membutuhkan bantuan dokter tumbuh kembang atau terapis okupasi, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami