,

Disleksia pada Anak: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Membantu Anak Belajar Membaca

Ilustrasi kartu artikel KlinikPlus: Disleksia pada Anak: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Membantu Anak Belajar Membaca

Disleksia pada anak adalah kesulitan belajar spesifik yang membuat anak sulit mengenali kata secara tepat dan lancar, mengeja, serta memecah kata menjadi bunyi, padahal kecerdasannya umumnya normal. Disleksia bukan tanda anak malas atau bodoh, dan dengan pengajaran yang tepat, kemampuan membacanya bisa terus berkembang.

Mungkin anak Anda sudah kelas 1 atau 2 SD tetapi belum bisa membaca, sering tertukar huruf, atau membaca dengan sangat lambat meski sudah rajin berlatih. Artikel ini menjelaskan apa itu disleksia, ciri disleksia sesuai usia, bedanya dengan anak yang sekadar belum lancar membaca, cara pemeriksaannya, metode membaca yang didukung bukti ilmiah, dan peran orang tua di rumah.

Disleksia Adalah Apa? Pengertian Menurut Para Ahli

International Dyslexia Association (IDA) mendefinisikan disleksia sebagai kesulitan belajar spesifik yang berasal dari faktor neurobiologis. Ciri utamanya adalah kesulitan mengenali kata secara akurat dan/atau lancar, serta kemampuan mengeja dan mendekode (mengubah huruf menjadi bunyi) yang lemah. Kesulitan ini biasanya bersumber dari kelemahan pada komponen fonologis bahasa, yaitu kemampuan mengolah bunyi bahasa, dan sering kali tidak sejalan dengan kemampuan kognitif anak yang lain maupun pengajaran di kelas yang sudah memadai.

IDA juga mencatat dampak lanjutannya: anak bisa kesulitan memahami bacaan dan jadi jarang membaca, sehingga perkembangan kosakata dan pengetahuannya ikut terhambat. National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) menambahkan bahwa orang dengan disleksia memiliki kecerdasan normal, dan kesulitannya berasal dari perbedaan cara otak memproses tulisan.

Disleksia ditemukan di semua budaya dan bahasa yang pernah diteliti, menurut tinjauan di jurnal The Lancet (Peterson dan Pennington, 2012). Di sekolah inklusif Indonesia, anak dengan disleksia termasuk kelompok peserta didik “berkesulitan belajar”. Untuk gambaran umum tentang kategori ini, baca artikel ABK adalah.

Ciri Disleksia pada Anak Sesuai Usia

Tanda disleksia bisa terlihat sebelum anak belajar membaca. National Center on Improving Literacy (NCIL), pusat literasi yang didanai Departemen Pendidikan Amerika Serikat, merangkum tanda yang perlu diperhatikan sesuai usia.

Infografik KlinikPlus berisi enam ciri disleksia pada anak sesuai usia, dari prasekolah hingga kelas 2 SD ke atas
Ciri disleksia yang perlu diperhatikan pada usia prasekolah, TK hingga kelas 1, dan kelas 2 SD ke atas.

Usia prasekolah (3–5 tahun)

  • Sulit mempelajari lagu atau sajak anak dan mengenali kata-kata yang berima.
  • Sulit mengingat nama huruf, termasuk huruf di namanya sendiri.
  • Masih memakai “bahasa bayi” jauh setelah usia batita.

TK akhir sampai kelas 1 SD (5–7 tahun)

  • Belum bisa menghubungkan huruf dengan bunyinya.
  • Kesalahan membaca tidak sesuai dengan huruf yang tertulis, misalnya menebak dari gambar.
  • Sulit memecah kata menjadi bunyi, misalnya “bola” menjadi b-o-l-a.
  • Menghindari membaca atau tampak frustrasi saat diminta membaca.

Kelas 2 SD ke atas (7 tahun ke atas)

  • Masih kesulitan mendekode kata, membaca sangat lambat, atau sering menebak.
  • Tertukar kata yang bunyinya mirip.
  • Menghindari membaca nyaring di depan kelas.
  • Kesulitan mengeja dan menulis yang menetap.

National Health Service (NHS) Inggris menambahkan bahwa anak bisa menunjukkan rasa frustrasi lewat perilaku yang mengganggu atau justru menarik diri. Satu tanda saja belum berarti disleksia. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang menetap.

Disleksia atau Anak Belum Lancar Membaca Biasa?

Tidak semua anak SD yang belum bisa membaca mengalami disleksia. Kemampuan membaca setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, dan sebagian anak hanya butuh waktu serta pengajaran yang lebih terarah.

Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan tanda keterlambatan membaca biasa dengan tanda yang patut dicurigai disleksia
Perbedaan anak yang sekadar belum lancar membaca dengan anak yang patut dievaluasi untuk disleksia.
PetunjukLebih mungkin keterlambatan biasaLebih patut dicurigai disleksia
Respons terhadap pengajaranCepat mengejar setelah mendapat pengajaran yang terarahKesulitan tetap ada meski sudah mendapat bantuan tambahan
Kemampuan lainKemampuan lain juga sedang berkembang sesuai usiaPemahaman lisan dan penalaran baik, tetapi membaca tertinggal jauh
Bunyi bahasaBisa bermain rima dan mengenali bunyi awal kataSulit dengan rima, bunyi awal, dan memecah kata menjadi bunyi
MengejaKesalahan berkurang seiring latihanKesalahan mengeja menetap meski sudah sering berlatih
Riwayat keluargaTidak ada riwayat kesulitan membacaAda orang tua atau saudara yang sulit membaca atau mengeja

Dalam kriteria diagnosis DSM-5, kesulitan belajar spesifik ditetapkan bila kesulitan berlangsung setidaknya 6 bulan meski anak sudah mendapat intervensi, kemampuan akademiknya jauh di bawah usianya, dan kesulitan itu tidak lebih tepat dijelaskan oleh disabilitas intelektual atau gangguan lain. Bila anak lambat di hampir semua pelajaran, kemungkinan lain seperti slow learner juga perlu dipertimbangkan.

Penyebab Disleksia dan Anak Belum Bisa Membaca

Disleksia berkaitan dengan perbedaan perkembangan otak, terutama jaringan bahasa di belahan otak kiri, dan memiliki dasar genetik. Tinjauan Peterson dan Pennington menyebut beberapa gen yang diduga berperan serta adanya interaksi antara gen dan lingkungan. Meta-analisis Snowling dan Melby-Lervåg (2016) menemukan bahwa anak dengan riwayat keluarga disleksia lebih sering mengalami keterlambatan bahasa sejak batita, serta kesulitan mengenal huruf dan mengolah bunyi bahasa di usia prasekolah.

Namun, anak belum bisa membaca juga bisa disebabkan hal lain, misalnya:

  • Gangguan pendengaran atau penglihatan.
  • Keterlambatan bicara dan bahasa. Baca penjelasannya di artikel speech delay adalah.
  • Masalah perhatian, seperti ADHD.
  • Kemampuan intelektual di bawah rata-rata.
  • Kesempatan belajar membaca yang kurang, misalnya sering tidak masuk sekolah.

Bagaimana Disleksia Diperiksa?

Mulailah dengan berbicara kepada guru kelas untuk mengetahui pengamatan di sekolah. NHS menyarankan pemeriksaan ke dokter untuk menyingkirkan masalah lain seperti gangguan pendengaran atau penglihatan, karena dokter umum tidak mendiagnosis disleksia. Asesmen lengkap biasanya dilakukan oleh psikolog pendidikan atau tenaga spesialis.

Di Indonesia, asesmen umumnya dilakukan oleh psikolog anak atau psikolog pendidikan. Pemeriksaan biasanya mencakup tes kecerdasan, kemampuan membaca dan mengeja, kemampuan mengolah bunyi bahasa, serta wawancara riwayat perkembangan. Siapkan buku tulis anak, contoh hasil membaca dan menulis, rapor, dan catatan dari guru. Panduannya ada di artikel persiapan asesmen tumbuh kembang anak.

Baca juga: Speech Delay Adalah: Tanda, Penyebab & Penanganan

Cara Membantu Anak Disleksia Belajar Membaca

NICHD menegaskan bahwa makin dini anak mendapat bantuan, makin baik hasilnya. Disleksia tidak “sembuh”, tetapi dengan pengajaran yang tepat anak dapat mengatasi banyak kesulitan dan membaca dengan lebih lancar serta lebih paham.

Structured literacy dan phonics

Pendekatan yang paling banyak didukung bukti adalah pengajaran membaca yang terstruktur. Menurut NCIL, structured literacy, istilah yang pertama kali dicetuskan IDA, mengajarkan enam unsur bahasa (bunyi bahasa, hubungan huruf dan bunyi, suku kata, bagian kata, susunan kalimat, dan makna) secara:

  • Eksplisit: guru mencontohkan dan menjelaskan langsung, lalu membimbing latihan.
  • Sistematis: diajarkan berurutan dari yang mudah ke yang sulit, dengan pengulangan materi sebelumnya.
  • Diagnostik: terus dipantau dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Tinjauan Cochrane (McArthur dkk., 2018) menyimpulkan bahwa pelatihan phonics tampak efektif meningkatkan keterampilan membaca anak yang kesulitan membaca, terutama kelancaran membaca kata. Meta-analisis Galuschka dan rekan (2014) terhadap 22 uji klinis acak menemukan phonics sebagai satu-satunya pendekatan yang efektivitasnya terkonfirmasi secara statistik. Pendekatan seperti lensa atau lembar plastik berwarna dan latihan pendengaran tidak menunjukkan manfaat yang bermakna.

Di sekolah

Diskusikan dengan sekolah kemungkinan bimbingan membaca dalam kelompok kecil atau individual, waktu tambahan saat ulangan, soal yang dibacakan, dan penilaian yang tidak hanya bergantung pada membaca. NHS juga menyebut alat bantu visual dan teknologi dapat membantu.

Peran Orang Tua di Rumah

Orang tua tidak perlu menjadi terapis, tetapi peran Anda sangat besar dalam menjaga semangat anak. Beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Bacakan buku setiap hari. Anak tetap bisa menikmati cerita dan menambah kosakata meski belum lancar membaca sendiri.
  2. Main permainan bunyi. “Kata apa yang bunyinya mirip dengan ‘topi’?” atau “Bunyi pertama ‘sapi’ apa?”
  3. Latihan singkat dan rutin. Ikuti latihan yang disarankan guru atau psikolog dalam sesi pendek dengan suasana santai, bukan sesi panjang yang membuat anak frustrasi.
  4. Bangun rasa percaya diri. NHS menyarankan orang tua membangun kepercayaan diri anak dan membuat belajar menyenangkan. Pujilah usaha: “Ayah lihat Kakak terus mencoba walau sulit.”
  5. Jangan membandingkan atau menyuruh membaca nyaring di depan orang lain bila anak belum siap.
  6. Jalin komunikasi dengan guru agar strategi di rumah dan sekolah sejalan.

Disleksia, Disgrafia, dan Diskalkulia

Disleksia adalah salah satu jenis kesulitan belajar spesifik. Menurut NICHD, dua jenis lain yang sering dibicarakan adalah:

  • Disgrafia: kesulitan menulis tangan, misalnya membentuk huruf, menulis dalam ruang yang ditentukan, dan menuangkan pikiran ke dalam tulisan.
  • Diskalkulia: kesulitan memahami konsep berhitung dan melakukan operasi seperti penjumlahan, perkalian, dan pengukuran.

Bila anak juga tampak kesulitan menulis atau berhitung, sampaikan kepada psikolog agar asesmen mencakup area tersebut dan dukungan yang diberikan lebih tepat.

Baca juga: Terapi Remedial: Apa Itu, untuk Siapa, dan Bedanya dengan Les Tambahan

Baca juga: Gangguan Perkembangan Kemampuan Skolastik (F81): Membaca, Mengeja, dan Berhitung

Baca juga: Disleksia, Disgrafia, Diskalkulia: Bedanya dan Letaknya di ICD-10

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Disleksia itu apa?

Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik yang berasal dari faktor neurobiologis. Anak dengan disleksia sulit mengenali kata secara tepat dan lancar, mengeja, dan mengubah huruf menjadi bunyi, meskipun kecerdasannya umumnya normal. Kesulitan ini biasanya bersumber dari kelemahan dalam mengolah bunyi bahasa.

Anak SD belum bisa membaca, apakah pasti disleksia?

Tidak. Anak SD belum bisa membaca bisa disebabkan banyak hal, seperti kurang kesempatan belajar, gangguan pendengaran atau penglihatan, keterlambatan bahasa, masalah perhatian, atau kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Disleksia lebih patut dicurigai bila kesulitan membaca menetap meski anak sudah mendapat pengajaran tambahan dan kemampuan lainnya baik.

Apa penyebab anak belum bisa membaca?

Penyebabnya beragam, mulai dari faktor perkembangan yang wajar, kurangnya pengajaran membaca yang terarah, masalah pendengaran atau penglihatan, keterlambatan bahasa, hingga kesulitan belajar spesifik seperti disleksia yang memiliki dasar genetik. Pemeriksaan oleh dokter dan psikolog membantu menemukan penyebab pada anak Anda.

Apakah disleksia bisa sembuh?

Disleksia tidak hilang sepenuhnya, tetapi NICHD menyebut dengan pengajaran yang tepat anak dapat mengatasi banyak kesulitan dan membaca dengan lebih lancar. Makin dini bantuan diberikan, makin baik hasilnya.

Metode apa yang terbukti membantu anak disleksia membaca?

Pengajaran membaca terstruktur yang eksplisit dan sistematis, terutama phonics yang mengajarkan hubungan huruf dan bunyi, memiliki dukungan bukti paling kuat menurut tinjauan Cochrane dan meta-analisis uji klinis. Pendekatan seperti lensa atau lembar berwarna tidak menunjukkan manfaat yang bermakna.

Siapa yang bisa mendiagnosis disleksia?

Disleksia didiagnosis melalui asesmen oleh psikolog, biasanya psikolog anak atau psikolog pendidikan, dengan tes kecerdasan dan kemampuan membaca. Dokter anak berperan memeriksa kemungkinan penyebab lain, seperti gangguan pendengaran atau penglihatan, lalu merujuk bila perlu.

Kesimpulan

Disleksia pada anak adalah kesulitan belajar spesifik dalam membaca dan mengeja yang tidak berkaitan dengan kurangnya kecerdasan atau usaha. Kenali cirinya sejak prasekolah, bedakan dari keterlambatan membaca biasa, dan periksakan bila kesulitan menetap. Dengan pengajaran membaca yang terstruktur, dukungan sekolah, dan orang tua yang sabar, anak dengan disleksia dapat terus berkembang dan menikmati belajar.

Bila Anda membutuhkan asesmen psikologi atau evaluasi tumbuh kembang, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami