,

Stunting dan Keterlambatan Perkembangan: Apa Bedanya dan Apa Hubungannya

Kartu artikel KlinikPlus berjudul Stunting dan Keterlambatan Perkembangan: Apa Bedanya

Stunting dan keterlambatan perkembangan adalah dua hal yang berbeda, meski sering disebut dalam satu tarikan napas. Yang pertama diukur dengan meteran dan grafik, yang kedua dinilai dari kemampuan anak. Seorang anak bisa mengalami salah satunya, keduanya, atau tidak keduanya.

Kekeliruan memahami bedanya punya akibat nyata: ada orang tua yang tenang karena anaknya tinggi, padahal kemampuan bicaranya tertinggal jauh; ada juga yang panik karena anaknya pendek, padahal semua kemampuan berkembang sesuai usia. Artikel ini menjelaskan definisi keduanya, apa hubungannya, dan apa yang sebaiknya dipantau orang tua.

Apa Itu Stunting?

WHO mendefinisikan stunting sebagai tinggi badan yang rendah menurut usia (low height-for-age). Jadi yang dibandingkan bukan tinggi anak dengan tinggi temannya, melainkan tinggi anak dengan standar pertumbuhan anak seusianya. Dalam indikator pemantauan WHO, seorang anak dikategorikan stunted bila tinggi menurut usianya berada di bawah minus dua simpangan baku dari median standar pertumbuhan anak WHO.

Beberapa hal yang perlu diluruskan sejak awal:

  • Stunting bukan sekadar “anak pendek”. Anak bisa pendek karena faktor keturunan dan tetap tumbuh mengikuti jalurnya sendiri dengan sehat. Yang dinilai pada stunting adalah posisi terhadap standar dan arah pertumbuhannya dari waktu ke waktu.
  • Stunting bukan diagnosis yang bisa ditegakkan sendiri di rumah. Pengukuran panjang atau tinggi badan punya teknik tersendiri, dan kesalahan beberapa sentimeter sudah cukup mengubah kesimpulan.
  • Stunting adalah salah satu bentuk kekurangan gizi, bersama wasting (berat badan rendah menurut tinggi badan) dan underweight (berat badan rendah menurut usia). Ketiganya diukur dengan indeks yang berbeda.

Baca juga: Cara Membaca Kurva Pertumbuhan Anak: BB, TB, dan Arti Garis Z-Score

Apa Itu Keterlambatan Perkembangan?

Keterlambatan perkembangan bukan soal ukuran tubuh, melainkan soal kemampuan: bergerak, berbicara dan memahami bahasa, berpikir dan memecahkan masalah, serta bersosialisasi dan mengelola emosi. Penilaiannya memakai daftar kemampuan yang umumnya sudah dimiliki anak pada usia tertentu.

Baca juga: Perkembangan Anak 3 Tahun: Milestone 36–47 Bulan dan Cara Menstimulasinya

Di layanan dasar Indonesia, penilaiannya dilakukan antara lain lewat Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) dan ceklis perkembangan di Buku KIA. Hasil skrining yang menunjukkan kemungkinan keterlambatan bukan diagnosis — langkah berikutnya adalah pemeriksaan yang lebih dalam oleh tenaga yang berwenang.

Membedakan Keduanya

AspekStuntingKeterlambatan perkembangan
Yang dinilaiTinggi badan menurut usiaKemampuan anak menurut usia
AlatAlat ukur panjang atau tinggi badan dan grafik pertumbuhanCeklis milestone, KPSP, instrumen skrining perkembangan
Bentuk hasilPosisi terhadap standar, dinyatakan dalam simpangan bakuSesuai usia, meragukan, atau perlu pemeriksaan lanjutan
Siapa yang menilaiKader terlatih, bidan, perawat, dokter, ahli giziKader terlatih, bidan, perawat, dokter, psikolog, terapis
Bisa terlihat kapanTerbaca dari pencatatan berkala sejak bayiTerbaca dari kemampuan yang belum muncul pada usianya

Perhatikan bahwa kolomnya tidak saling menggantikan. Anak yang tinggi badannya normal tetap perlu dipantau perkembangannya, dan sebaliknya.

Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan stunting dengan keterlambatan perkembangan
Stunting dan keterlambatan perkembangan menjawab dua pertanyaan yang berbeda.

Lalu Apa Hubungannya?

Hubungannya ada, tetapi tidak sesederhana sebab-akibat satu arah. WHO menyatakan bahwa stunting menahan anak dari mencapai potensi fisik dan kognitifnya. Artinya kekurangan gizi kronis pada masa awal kehidupan berkaitan dengan kemampuan belajar dan berpikir di kemudian hari — pada tingkat populasi, ini terlihat jelas.

WHO juga menyoroti pentingnya 1.000 hari dari masa pembuahan sampai ulang tahun kedua anak. Mengoptimalkan gizi pada periode itu disebut memberi awal terbaik dalam kehidupan dengan manfaat jangka panjang.

Yang perlu dijaga dalam membaca informasi ini:

  • Kaitan pada tingkat populasi tidak otomatis berlaku pada satu anak. Banyak anak yang pernah stunted berkembang dengan baik, dan banyak anak dengan keterlambatan perkembangan tidak pernah stunted.
  • Keterlambatan perkembangan punya banyak sebab lain, termasuk gangguan pendengaran, kondisi neurologis, dan kurangnya kesempatan berlatih. Menganggap semuanya persoalan gizi bisa membuat penyebab lain terlewat.
  • Memantau dua-duanya lebih aman daripada memilih salah satu. Grafik pertumbuhan dan ceklis perkembangan menjawab pertanyaan yang berbeda.

Baca juga: Tumbuh Kembang Anak: Pengertian dan Tahapan Perkembangan 0–6 Tahun

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua

  1. Hadir rutin di penimbangan dan pengukuran. Satu titik pengukuran hampir tidak berarti; yang bermakna adalah rangkaian titik yang membentuk arah.
  2. Pastikan tinggi atau panjang badan benar-benar diukur, bukan hanya berat. Stunting tidak akan terbaca dari timbangan saja.
  3. Bawa Buku KIA setiap kali anak diperiksa dan minta petugas mengisikan hasilnya. Catatan yang terisi rapi memungkinkan petugas membaca tren.
  4. Isi ceklis perkembangan dengan jujur, termasuk kemampuan yang belum muncul. Tidak ada gunanya menjawab “ya” agar hasilnya terlihat bagus.
  5. Tanyakan dua pertanyaan berbeda saat kontrol: bagaimana pertumbuhannya, dan bagaimana perkembangannya. Pertanyaan pertama tidak menjawab yang kedua.
  6. Jangan menunggu bila ada kemampuan yang hilang. Anak yang dulu bisa memanggil lalu berhenti perlu diperiksa, berapa pun tinggi badannya.

Baca juga: Buku KIA: Cara Mengisi dan Membaca Bagian Tumbuh Kembang Anak

Infografik KlinikPlus berisi enam kebiasaan orang tua dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak
Enam kebiasaan pemantauan yang mencakup pertumbuhan sekaligus perkembangan.

Hal yang Sering Disalahpahami

  • “Anak saya aktif dan pintar, berarti tidak mungkin stunting.” Status gizi dan kemampuan adalah dua hal berbeda. Anak yang aktif tetap perlu diukur tinggi badannya.
  • “Keluarga kami memang pendek, jadi wajar.” Faktor keturunan memang berpengaruh pada tinggi badan, tetapi kesimpulan itu sebaiknya datang dari petugas yang melihat grafik pertumbuhan anak, bukan dari perkiraan di rumah.
  • “Kalau sudah lewat dua tahun, percuma.” WHO menyoroti pentingnya 1.000 hari pertama karena mengoptimalkan gizi pada periode itu memberi awal terbaik dengan manfaat jangka panjang. Namun WHO tidak menyatakan bahwa pemantauan setelah periode tersebut tidak berguna. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan tetap dianjurkan berlanjut pada usia berikutnya.
  • “Cukup diberi produk tertentu, nanti mengejar.” Hati-hati dengan klaim produk. Penanganan masalah gizi ditentukan setelah penilaian oleh tenaga kesehatan, dan tidak ada satu produk yang menjadi jawaban untuk semua anak.

Baca juga: Berat Badan Anak Kurang: Langkah Setelah Tahu Angkanya di Bawah Normal

Baca juga: Kekurangan Zat Besi pada Anak: Tanda, Dampak pada Perkembangan, dan Pencegahannya

Baca juga: Tinggi Badan Anak Normal per Usia: Tabel WHO dan Kapan Perlu Diperiksa

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda stunting dan gizi buruk?

Keduanya adalah bentuk kekurangan gizi, tetapi indeksnya berbeda. Stunting dinilai dari tinggi badan menurut usia, sedangkan wasting dinilai dari berat badan menurut tinggi badan dan menggambarkan kekurangan gizi yang lebih akut. Istilah “gizi buruk” dalam percakapan sehari-hari sering dipakai untuk kondisi yang terakhir. Penentuannya tetap dilakukan petugas berdasarkan pengukuran, bukan dari penampilan.

Apakah anak stunting pasti mengalami keterlambatan perkembangan?

Tidak. WHO menyebut bahwa stunting menahan anak dari mencapai potensi fisik dan kognitifnya, dan kaitan itu terlihat pada tingkat populasi. Namun itu tidak berarti setiap anak yang stunted pasti terlambat berkembang. Karena itu perkembangan tetap perlu dinilai sendiri dengan ceklis dan skrining, bukan disimpulkan dari tinggi badan.

Anak saya perkembangannya terlambat tapi tinggi badannya normal. Apakah mungkin?

Mungkin, dan ini cukup sering. Keterlambatan perkembangan punya banyak kemungkinan penyebab di luar gizi, misalnya gangguan pendengaran, kondisi neurologis, atau kurangnya kesempatan berlatih. Sampaikan ke dokter anak dan tanyakan tentang skrining perkembangan serta pemeriksaan pendengaran.

Bagaimana cara tahu anak saya stunting atau tidak?

Lewat pengukuran tinggi atau panjang badan oleh petugas terlatih, lalu diplot ke grafik pertumbuhan dan dibandingkan dengan standar menurut usia. Ini tidak bisa disimpulkan dari foto, dari membandingkan dengan sepupu, atau dari satu kali pengukuran di rumah dengan meteran dinding.

Apakah stunting bisa diperbaiki?

Pertanyaan ini sebaiknya dijawab oleh tenaga kesehatan yang memeriksa anak, karena jawabannya bergantung pada usia anak, penyebab yang mendasari, dan kondisi kesehatannya. Yang bisa dikatakan secara umum: pemantauan yang rutin membuat masalah terdeteksi lebih awal, dan penanganan gizi ditentukan berdasarkan penilaian, bukan berdasarkan produk yang sedang populer.

Apakah anak stunting perlu terapi tumbuh kembang?

Tidak otomatis. Terapi diberikan berdasarkan hasil penilaian perkembangan, bukan berdasarkan status gizi. Bila skrining perkembangan menunjukkan ada area yang tertinggal, barulah dibicarakan jenis pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Kesimpulan

Stunting menjawab pertanyaan “bagaimana pertumbuhan anak”, keterlambatan perkembangan menjawab pertanyaan “bagaimana kemampuan anak”. Keduanya berkaitan, tetapi tidak saling menggantikan dan tidak bisa disimpulkan satu dari yang lain. Cara paling praktis bagi orang tua adalah memantau dua-duanya lewat jalur yang sudah tersedia: pengukuran berkala yang tercatat di Buku KIA, dan ceklis perkembangan yang diisi apa adanya.

Bila hasil skrining perkembangan anak Anda menunjukkan perlunya pemeriksaan lanjutan, panduan klinik tumbuh kembang anak menjelaskan layanan apa saja yang tersedia dan apa yang perlu ditanyakan sebelum mendaftar.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami