,

Buku KIA: Cara Mengisi dan Membaca Bagian Tumbuh Kembang Anak

Kartu artikel KlinikPlus berjudul Buku KIA: Cara Mengisi Bagian Tumbuh Kembang Anak

Cara mengisi Buku KIA sebetulnya tidak rumit: yang perlu Anda lakukan adalah membawa bukunya setiap kali anak ditimbang, mencatat hasil pengukuran pada grafik, dan menjawab ceklis perkembangan sesuai usia anak. Yang sering terjadi, buku berwarna merah muda itu hanya ditandatangani petugas lalu masuk lemari sampai kunjungan berikutnya.

Artikel ini membahas bagian Buku KIA yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak: apa fungsinya menurut aturan yang berlaku, bagian apa saja yang perlu Anda perhatikan, cara mengisi dan membacanya, serta apa yang harus dilakukan kalau ada jawaban “Tidak” pada ceklis perkembangan.

Apa Itu Buku KIA dan Mengapa Dipegang Orang Tua

Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) adalah buku catatan kesehatan yang dipegang keluarga, mencakup masa kehamilan sampai anak usia balita. Kementerian Kesehatan menyebut buku ini sebagai alat bagi keluarga untuk memantau perkembangan kesehatan ibu dan anak, dan Indonesia punya kebijakan merevisi Buku KIA setiap lima tahun sekali — karena itu tampilan dan urutan halamannya bisa berbeda antara buku lama dan buku baru.

Posisi Buku KIA juga diatur dalam Permenkes Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. Dalam lampiran peraturan itu, Buku KIA dicantumkan sebagai alat yang dipakai oleh keluarga dan kader untuk deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang, sementara alat seperti KPSP, TDD, dan TDL dipakai oleh tenaga kesehatan serta guru yang sudah terlatih.

Pembagian ini penting dipahami: Buku KIA adalah lapis pertama yang Anda pegang sendiri, bukan pengganti skrining oleh tenaga kesehatan.

Bagian Buku KIA yang Berkaitan dengan Tumbuh Kembang Anak

Isi tiap edisi bisa berbeda, tetapi bagian berikut secara fungsi selalu ada di bagian anak.

Infografik KlinikPlus berisi enam bagian Buku KIA yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak
Enam bagian Buku KIA yang perlu diperhatikan orang tua untuk memantau tumbuh kembang anak.
  • Identitas anak dan catatan kelahiran. Berat dan panjang badan lahir dipakai sebagai titik awal grafik.
  • Grafik pertumbuhan. Berisi grafik berat badan menurut umur dan grafik panjang atau tinggi badan menurut umur — dua grafik yang disebut Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 sebagai alat penilaian tren pertumbuhan.
  • Ceklis perkembangan sesuai usia. Daftar pertanyaan “ya/tidak” tentang kemampuan anak pada rentang usia tertentu.
  • Catatan imunisasi dan vitamin A. Diisi petugas, tetapi perlu Anda cek kelengkapannya.
  • Catatan pelayanan. Diisi petugas setiap kunjungan, termasuk hasil pemeriksaan dan tindakan.
  • Halaman edukasi tentang pemberian makan, stimulasi, dan tanda bahaya.

Kalau Anda tidak menemukan salah satu bagian di buku Anda, tanyakan langsung ke bidan, kader, atau petugas puskesmas — bukan karena bukunya salah, tetapi karena letak halamannya memang berbeda antar edisi.

Cara Mengisi Grafik Pertumbuhan

Grafik pertumbuhan diisi setiap kali anak ditimbang. Langkahnya:

  1. Pastikan Anda memakai grafik yang sesuai jenis kelamin anak.
  2. Tentukan usia anak dalam bulan penuh pada garis horizontal.
  3. Tentukan hasil penimbangan atau pengukuran pada garis vertikal.
  4. Beri titik pada perpotongan keduanya.
  5. Hubungkan titik itu dengan titik bulan sebelumnya sehingga terbentuk garis.
  6. Perhatikan dua hal: posisi titik terhadap garis acuan, dan arah garisnya naik, mendatar, atau menurun.

Permenkes 2/2020 mewajibkan pengukuran antropometri memakai alat dan teknik sesuai standar, dan menempatkan penilaian tren pertumbuhan sebagai bagian dari deteksi dini risiko gagal tumbuh serta perawakan pendek pada anak usia 0–24 bulan. Jadi menimbang rutin setiap bulan bukan formalitas: tanpa titik yang berurutan, tren tidak bisa dibaca.

Baca juga: Cara Membaca Kurva Pertumbuhan Anak: BB, TB, dan Arti Garis Z-Score

Cara Mengisi Ceklis Perkembangan

Ceklis perkembangan di Buku KIA berisi pertanyaan tentang kemampuan anak pada rentang usia tertentu. Beberapa hal yang membuat hasilnya lebih bisa dipercaya:

Infografik KlinikPlus berisi empat langkah tindak lanjut bila ada jawaban Tidak pada ceklis perkembangan Buku KIA
Alur tindak lanjut bila ada jawaban Tidak pada ceklis perkembangan di Buku KIA.
  • Isi sesuai usia anak saat ini, bukan usia yang akan datang atau yang sudah lewat.
  • Jawab berdasarkan apa yang benar-benar Anda lihat, bukan apa yang Anda yakini anak “pasti bisa kalau mau”.
  • Coba dulu sebelum menjawab. Kalau pertanyaannya tentang menumpuk balok, berikan baloknya dan lihat hasilnya.
  • Jangan mengisi semua kolom sekaligus. Mengisi rentang usia yang belum tiba membuat catatan tidak bisa dipakai membandingkan.
  • Catat tanggal pengisian. Ini membantu petugas melihat sejak kapan suatu kemampuan muncul.

Kementerian Kesehatan melalui laman edukasinya menjelaskan alurnya bila ada jawaban yang belum sesuai: jawaban “Tidak” perlu dilaporkan ke kader, yang kemudian meneruskannya ke tenaga kesehatan di puskesmas, lalu tenaga kesehatan melakukan skrining KPSP. Prinsipnya, deteksi yang lebih cepat memberi kesempatan penanganan yang lebih cepat.

Baca juga: SDIDTK dan KPSP: Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak di Posyandu dan Puskesmas

Jadwal: Seberapa Sering Buku KIA Perlu Dibuka

Permenkes 66/2014 menetapkan ritme pemantauan yang bisa Anda pakai sebagai patokan:

Yang dipantauFrekuensiCatatannya di Buku KIA
Berat badanSetiap bulanGrafik berat badan menurut umur
Panjang atau tinggi badanSetiap tiga bulanGrafik panjang/tinggi badan menurut umur
Perkembangan anak usia 0–12 bulanSetiap tiga bulanCeklis perkembangan sesuai usia
Perkembangan anak usia 12–72 bulanSetiap enam bulanCeklis perkembangan sesuai usia

Peraturan yang sama menyebut pemantauan ini dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar maupun di taman kanak-kanak, sehingga Buku KIA berguna dibawa saat urusan sekolah juga, misalnya ketika sekolah menanyakan riwayat imunisasi.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Buku tidak dibawa saat ke rumah sakit atau klinik. Catatan jadi terpisah-pisah, dan dokter kehilangan riwayat pertumbuhan anak.
  • Hanya mengandalkan angka berat badan. Yang lebih informatif adalah kategori hasil dan arah garisnya.
  • Melewatkan ceklis perkembangan. Grafik pertumbuhan tidak bisa mendeteksi keterlambatan bicara atau motorik.
  • Menunda melapor karena merasa tidak enak. Jawaban “Tidak” bukan rapor buruk orang tua, tetapi informasi yang justru diperlukan petugas.
  • Buku hilang dan tidak diganti. Mintalah penggantinya di puskesmas dan salin ulang data yang masih Anda ingat, terutama imunisasi.

Baca juga: Anak Terlambat Tumbuh Gigi: Patokan Usia dan Kapan Perlu Diperiksa

Baca juga: Perkembangan Bayi 4 Bulan: Milestone dan Cara Menstimulasinya

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Di mana bisa mendapatkan Buku KIA?

Buku KIA dibagikan melalui layanan kesehatan ibu dan anak, antara lain puskesmas, posyandu, dan fasilitas tempat ibu memeriksakan kehamilan. Bila Anda belum menerimanya atau bukunya hilang, tanyakan ke puskesmas wilayah Anda. Karena Buku KIA direvisi secara berkala, buku yang Anda terima mungkin berbeda tampilannya dengan buku anak pertama Anda.

Siapa yang mengisi Buku KIA, orang tua atau petugas?

Keduanya. Catatan pelayanan, imunisasi, dan hasil pemeriksaan diisi tenaga kesehatan atau kader, sementara ceklis perkembangan dan pemantauan di rumah adalah bagian yang dipegang keluarga. Permenkes 66/2014 mencantumkan Buku KIA sebagai alat deteksi dini yang digunakan keluarga dan kader, sedangkan KPSP dan tes lain dilakukan tenaga kesehatan atau guru terlatih.

Bagaimana cara mengisi grafik berat badan anak di Buku KIA?

Tentukan usia anak dalam bulan pada garis horizontal, tentukan hasil penimbangan pada garis vertikal, beri titik di perpotongannya, lalu hubungkan dengan titik bulan sebelumnya. Yang dibaca bukan hanya posisi titik, tetapi juga arah garisnya. Pastikan grafik yang dipakai sesuai jenis kelamin anak.

Apa yang harus dilakukan kalau ada jawaban “Tidak” di ceklis perkembangan?

Laporkan ke kader posyandu atau langsung ke tenaga kesehatan di puskesmas. Alur yang dijelaskan Kementerian Kesehatan adalah jawaban “Tidak” diteruskan ke tenaga kesehatan, lalu dilakukan skrining KPSP. Satu jawaban “Tidak” bukan berarti anak mengalami gangguan, tetapi menjadi alasan untuk diperiksa lebih lanjut dan tidak ditunda.

Apakah Buku KIA sama dengan KMS?

KMS (Kartu Menuju Sehat) adalah istilah untuk kartu grafik pemantauan pertumbuhan. Buku KIA sendiri memuat halaman grafik pertumbuhan, sehingga ketika petugas menyebut “KMS”, yang dimaksud sering kali adalah halaman grafik di dalam Buku KIA. Bila Anda ragu dokumen mana yang dimaksud, tanyakan langsung ke petugas posyandu atau puskesmas tempat anak Anda diperiksa — merekalah yang memakai dokumen itu sehari-hari.

Apakah Buku KIA bisa dipakai sebagai dasar rujukan ke klinik tumbuh kembang?

Buku KIA adalah bahan percakapan yang kuat, karena memuat riwayat pertumbuhan dan jawaban ceklis dari waktu ke waktu. Namun keputusan rujukan dibuat tenaga kesehatan setelah skrining, bukan dari Buku KIA saja. Bawa Buku KIA saat berkonsultasi, karena isinya mempersingkat proses penilaian.

Kesimpulan

Buku KIA baru berguna kalau dibuka, bukan sekadar disimpan. Tiga kebiasaan yang paling berpengaruh: bawa setiap kali anak ditimbang atau diperiksa, isi ceklis perkembangan sesuai usia berdasarkan apa yang benar-benar Anda lihat, dan laporkan setiap jawaban “Tidak” tanpa menunda. Dari situ, tenaga kesehatan bisa melanjutkan dengan skrining yang lebih terstandar.

Bila hasil skrining menyarankan pemeriksaan tumbuh kembang lebih lanjut, Anda bisa menelusuri direktori klinik tumbuh kembang atau membaca panduan klinik tumbuh kembang anak untuk mencari layanan terdekat.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi

  • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak — Pasal 4 (tempat pemantauan), Pasal 5 (frekuensi), serta lampiran mengenai pelaksana dan alat deteksi dini (Buku KIA untuk keluarga dan kader; KPSP, TDD, TDL untuk tenaga kesehatan dan guru terlatih). Teks lengkap (PDF)
  • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak — Pasal 6 (grafik BB/U dan PB/U untuk penilaian tren), Pasal 7 (deteksi dini), Pasal 8 (alat dan teknik pengukuran sesuai standar). https://www.peraturan.go.id/files/bn7-2020.pdf
  • Kementerian Kesehatan RI — “Cerita Indonesia Berbagi Pengalaman Buku KIA” (18 November 2020): Buku KIA sebagai alat keluarga memantau kesehatan ibu dan anak; kebijakan revisi Buku KIA setiap lima tahun. https://www.kemkes.go.id/id/cerita-indonesia-berbagi-pengalaman-buku-kia
  • Kementerian Kesehatan RI, laman edukasi Ayo Sehat (ayosehat.kemkes.go.id, diakses 22 Oktober 2026) — ceklis perkembangan di Buku KIA, alur jawaban “Tidak” dilaporkan ke kader lalu ke tenaga kesehatan puskesmas, dan skrining KPSP oleh tenaga kesehatan.

Chat dengan kami