Kalimat “berat badannya kurang” di posyandu sering membuat orang tua panik sebelum sempat bertanya kurang menurut ukuran apa. Padahal istilah itu dipakai untuk setidaknya tiga keadaan yang berbeda, dengan tindak lanjut yang juga berbeda.
Artikel ini tidak mengulang cara membaca kurva pertumbuhan — itu sudah dibahas tersendiri. Yang dibahas di sini adalah apa yang perlu dilakukan setelah Anda tahu angkanya berada di bawah normal.
Tiga Hal Berbeda yang Sering Disebut “Berat Badan Kurang”
WHO memakai tiga istilah dengan ukuran pembanding yang berbeda:

- Underweight (berat badan kurang) — WHO menyatakan anak dengan berat badan menurut umur yang rendah disebut underweight. Pembandingnya adalah umur.
- Wasting (gizi kurang akut) — WHO menyatakan berat badan menurut tinggi badan yang rendah disebut wasting. Pembandingnya adalah tinggi badan, bukan umur.
- Stunting (perawakan pendek) — WHO menyatakan tinggi badan menurut umur yang rendah disebut stunting. Ini sama sekali bukan tentang berat badan.
Ketiganya bisa muncul sendiri-sendiri. Anak bisa underweight tanpa wasting, dan bisa stunting dengan berat badan yang sesuai tinggi badannya. Karena itu pertanyaan pertama yang berguna bukan “berapa beratnya”, melainkan “dibandingkan dengan apa”.
Baca juga: Cara Membaca Kurva Pertumbuhan Anak: BB, TB, dan Arti Garis Z-Score
Indeks Mana yang Sedang Dibicarakan
Bila yang disebut adalah berat badan kurang, indeks yang dipakai adalah berat badan menurut umur (BB/U). Di Indonesia, kategori untuk indeks ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, dan dipakai untuk anak usia 0–60 bulan.
Kategori yang dipakai pada BB/U adalah berat badan sangat kurang, berat badan kurang, berat badan normal, dan risiko berat badan lebih. WHO sendiri memakai batas kurang dari -2 SD dari median standar pertumbuhan anak untuk mendefinisikan underweight.
Yang perlu dicatat: BB/U menjawab satu pertanyaan saja — bagaimana berat anak dibandingkan anak seusianya. Ia tidak memberi tahu apakah tubuh anak proporsional, dan tidak memberi tahu penyebabnya.
Langkah Pertama: Pastikan Dulu Pengukurannya
Satu titik pada kurva bisa salah karena hal yang sepele: timbangan berbeda, anak masih memakai pakaian tebal atau popok, usia yang dihitung keliru, atau anak yang tidak diam saat ditimbang.
Karena itu langkah pertama yang masuk akal bukan mengubah pola makan, melainkan memastikan angkanya — dengan datang ke posyandu atau puskesmas dan meminta pengukuran ulang beserta kategorinya, bukan hanya angkanya.
Di Indonesia, pemantauan rutin ini dijalankan lewat program SDIDTK di posyandu dan puskesmas, dan hasilnya dicatat di Buku KIA.
Baca juga: SDIDTK dan KPSP: Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak di Posyandu dan Puskesmas
Mengapa Arah Garis Lebih Berguna daripada Satu Titik
Satu penimbangan hanya memberi satu titik. Yang lebih informatif adalah bagaimana titik-titik itu bergerak dari bulan ke bulan: apakah mengikuti arah kurva, mendatar, atau menurun.
Itulah sebabnya kehadiran rutin di posyandu bernilai lebih daripada satu kunjungan saat sudah khawatir. Tanpa titik sebelumnya, tidak ada arah yang bisa dibaca.
Apa yang Tidak Bisa Disimpulkan dari Angkanya Saja
Ini bagian yang sering dilewati. Berat badan yang rendah adalah temuan, bukan diagnosis. Dari angkanya sendiri, tidak bisa disimpulkan:

- apa penyebabnya — WHO menyebut wasting dapat terjadi karena asupan makanan yang tidak cukup dan/atau penyakit infeksi seperti diare yang menyebabkan penurunan berat badan;
- apakah anak perlu suplemen, vitamin, atau makanan tambahan tertentu;
- apakah ada kondisi kesehatan lain yang mendasarinya.
Ketiganya adalah pertanyaan pemeriksaan, bukan pertanyaan yang bisa dijawab dari kurva. Artikel ini sengaja tidak memberi daftar menu atau takaran, karena hal itu bergantung pada temuan pemeriksaan masing-masing anak.
Mengapa Ini Perlu Ditindaklanjuti
WHO menyatakan bahwa kekurangan gizi membuat anak jauh lebih rentan terhadap penyakit dan kematian, dan bahwa anak kecil yang mengalami wasting sedang atau berat memiliki risiko kematian yang meningkat — tetapi WHO juga menyatakan bahwa penanganannya mungkin dilakukan.
Untuk stunting, WHO menyatakan kondisinya menahan anak dari mencapai potensi fisik dan kognitifnya, dan biasanya berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi yang buruk, kesehatan dan gizi ibu yang buruk, serta penyakit yang sering berulang.
Baca juga: Stunting dan Keterlambatan Perkembangan: Apa Bedanya dan Apa Hubungannya
Yang Bisa Disiapkan Sebelum Konsultasi
- Bawa Buku KIA. Di sanalah riwayat penimbangan tercatat, dan arah garis hanya bisa dibaca bila titik-titik sebelumnya ada.
- Catat kategorinya, bukan hanya angkanya. “Berat badan kurang” dan “berat badan sangat kurang” adalah dua kategori berbeda pada Permenkes 2/2020.
- Catat riwayat sakit terakhir. WHO menyebut penyakit infeksi seperti diare sebagai salah satu hal yang dapat menyebabkan penurunan berat badan.
- Catat pola makan apa adanya, termasuk yang Anda anggap kurang ideal. Gambaran yang jujur lebih berguna bagi pemeriksa daripada gambaran yang dirapikan.
- Tanyakan indeks mana yang dipakai dan apakah indeks lain (TB/U dan BB/TB) juga sudah diperiksa.
Baca juga: Tongue Tie pada Bayi: Ciri, Pengaruhnya pada Menyusu, dan Kapan Perlu Ditangani
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berat badan anak kurang tapi anaknya aktif, apakah tetap perlu diperiksa?
Aktif atau tidaknya anak bukan salah satu ukuran yang dipakai dalam klasifikasi status gizi. Kategori BB/U ditetapkan dari perbandingan berat badan terhadap umur, bukan dari tingkat aktivitas. Karena itu temuan berat badan di bawah normal tetap layak ditindaklanjuti ke tenaga kesehatan, apa pun kesan Anda tentang keaktifan anak.
Apa bedanya berat badan kurang dengan stunting?
Berbeda ukuran pembandingnya. WHO menyatakan berat badan menurut umur yang rendah disebut underweight, sedangkan tinggi badan menurut umur yang rendah disebut stunting. Satu tentang berat, satu tentang tinggi, dan keduanya bisa terjadi sendiri-sendiri.
Berat badan anak kurang harus ke dokter apa?
Jalur yang tersedia secara rutin adalah posyandu dan puskesmas, tempat pemantauan pertumbuhan dijalankan lewat program SDIDTK. Dari sana rujukan diberikan bila diperlukan. Artikel ini tidak dapat menentukan spesialis mana yang sesuai untuk anak Anda, karena itu bergantung pada temuan pemeriksaan.
Apakah berat badan kurang pasti kekurangan gizi?
Tidak otomatis. Berat badan yang rendah adalah temuan pengukuran, dan penyebabnya ditentukan lewat pemeriksaan. WHO menyebut asupan makanan yang tidak cukup dan penyakit infeksi seperti diare sebagai hal yang dapat berperan, tetapi mana yang berlaku pada satu anak tidak bisa disimpulkan dari angkanya saja.
Apakah anak perlu diberi vitamin penambah nafsu makan?
Pemberian suplemen apa pun adalah keputusan tenaga kesehatan yang memeriksa anak. Artikel ini tidak memberi rekomendasi produk atau takaran, karena tidak ada sumber resmi yang bisa menentukannya tanpa melihat kondisi anak.
Berapa lama sebelum berat badan anak bisa naik ke kategori normal?
Tidak ada patokan waktu yang bisa diberikan secara umum, dan sumber yang dipakai artikel ini tidak memuatnya. Yang dipantau tenaga kesehatan adalah arah garis pertumbuhan dari bulan ke bulan, bukan tenggat tertentu.
Kesimpulan
Ketika mendengar “berat badan anak kurang”, pertanyaan pertama yang berguna adalah dibandingkan dengan apa. WHO memakai tiga istilah berbeda — underweight terhadap umur, wasting terhadap tinggi badan, dan stunting untuk tinggi terhadap umur — dan ketiganya tidak saling menggantikan.
Langkah yang masuk akal setelah mengetahui angkanya bukan mengubah pola makan sendiri, melainkan memastikan pengukurannya di posyandu atau puskesmas, membawa Buku KIA agar arah garisnya bisa dibaca, dan menanyakan kategorinya menurut Permenkes 2/2020. Penyebab dan penanganannya adalah bagian dari pemeriksaan — bukan sesuatu yang bisa dibaca dari satu titik pada kurva.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.
Referensi
- WHO — Malnutrition (lembar fakta bertanggal 1 Maret 2024): pernyataan bahwa berat badan menurut tinggi badan yang rendah disebut wasting, tinggi badan menurut umur yang rendah disebut stunting, dan anak dengan berat badan menurut umur yang rendah disebut underweight; penyebab wasting berupa asupan makanan yang tidak cukup dan/atau penyakit infeksi seperti diare yang menyebabkan penurunan berat badan; stunting yang biasanya berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi yang buruk, kesehatan dan gizi ibu yang buruk, serta penyakit yang sering berulang; pernyataan bahwa anak kecil yang mengalami wasting sedang atau berat memiliki risiko kematian yang meningkat tetapi penanganannya mungkin dilakukan; pernyataan bahwa stunting menahan anak dari mencapai potensi fisik dan kognitifnya; serta pernyataan bahwa kekurangan gizi membuat anak jauh lebih rentan terhadap penyakit dan kematian. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malnutrition
- WHO Nutrition Landscape Information System — Malnutrition in children: definisi stunting, wasting, dan underweight dengan batas kurang dari -2 SD dari median standar pertumbuhan anak WHO. https://www.who.int/data/nutrition/nlis/info/malnutrition-in-children
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak: indeks berat badan menurut umur (BB/U) untuk anak usia 0–60 bulan, dengan kategori berat badan sangat kurang, berat badan kurang, berat badan normal, dan risiko berat badan lebih. https://peraturan.go.id/files/bn7-2020.pdf



