,

Anak Suka Mencuri: Memahami Alasannya dan Cara Meresponsnya

Ilustrasi artikel anak suka mencuri: alasan dan cara meresponsnya menurut AACAP

Mengetahui anak suka mencuri, entah uang di dompet orang tua atau barang milik teman, hampir selalu membuat orang tua terpukul. Wajar bila Anda langsung bertanya apa yang salah dan apakah ini pertanda buruk. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), perhimpunan profesi psikiater anak dan remaja di Amerika Serikat, mengakui kekhawatiran itu dan memberi panduan yang cukup jelas tentang apa yang perlu dilakukan.

Artikel ini merangkum lembar informasi AACAP untuk keluarga, Facts for Families No. 12: kapan mengambil barang mulai bisa disebut mencuri, alasan yang mungkin ada di baliknya, langkah saat anak ketahuan, dan kapan perlu bantuan profesional.

Kapan Mengambil Barang Mulai Disebut Mencuri?

Menurut AACAP, wajar bila anak yang masih sangat kecil mengambil sesuatu yang menarik perhatiannya. Perbuatan ini belum dianggap mencuri sampai anak cukup besar untuk memahami bahwa mengambil milik orang lain itu salah, yaitu biasanya pada usia 3 sampai 5 tahun.

Artinya, pemahaman tentang kepemilikan adalah sesuatu yang perlu diajarkan. AACAP menganjurkan orang tua aktif mengajarkan hak milik dan sikap menghargai orang lain. Dalam keseharian, itu bisa berupa hal-hal sederhana:

  • Menyebut dengan jelas milik siapa sebuah barang: “Ini mainan Kakak, ini mainanmu.”
  • Membiasakan anak meminta izin sebelum memakai barang orang lain: “Boleh aku pinjam?”
  • Mengajak anak mengembalikan barang pinjaman kepada pemiliknya.

Orang Tua Adalah Contoh Pertama

AACAP mengingatkan bahwa orang tua juga menjadi teladan. Contoh yang diberikan AACAP cukup tajam: bila orang tua pulang membawa alat tulis atau pulpen dari kantor, atau membanggakan kesalahan kasir di supermarket yang menguntungkan dirinya, pelajaran tentang kejujuran akan jauh lebih sulit dipahami anak.

Contoh semacam ini sering tidak terasa sebagai “mengambil” bagi orang dewasa. Namun anak melihatnya sebagai bagian dari aturan di rumah. Bila uang kembalian dari kasir ternyata berlebih, mengembalikannya di depan anak adalah cara sederhana menunjukkan aturan yang sama dengan yang Anda ajarkan.

Kenapa Anak Suka Mencuri?

AACAP menyebut bahwa anak yang lebih besar dan remaja bisa mencuri karena banyak alasan, meskipun sudah tahu bahwa mencuri itu salah. Alasan yang disebut AACAP antara lain:

Infografik enam alasan anak mencuri menurut AACAP
Alasan anak mencuri menurut AACAP Facts for Families No. 12.
  • Merasa perlakuan tidak adil. Anak mungkin mencuri untuk “menyamakan” keadaan bila saudaranya tampak lebih banyak mendapat kasih sayang atau hadiah.
  • Ingin tampak berani di depan teman.
  • Ingin memberi hadiah kepada keluarga atau teman.
  • Ingin lebih diterima oleh teman sebaya.
  • Tidak ingin bergantung pada siapa pun, sehingga mengambil apa yang ia rasa ia butuhkan.
  • Butuh lebih banyak perhatian. Anak mungkin sedang mengungkapkan rasa marah atau ingin “membalas” orang tuanya, dan barang yang diambil bisa menjadi pengganti kasih sayang.

Untuk alasan yang terakhir, AACAP menganjurkan orang tua berusaha lebih banyak memberi pengakuan kepada anak sebagai anggota keluarga yang penting. Misalnya dengan meluangkan waktu berdua, memberi tugas yang membuatnya merasa dibutuhkan, atau menyebut hal baik yang ia lakukan.

Mencari tahu alasannya bukan untuk membenarkan perbuatan anak, melainkan untuk memilih respons yang tepat.

Baca juga: Anak Suka Berbohong: Kenapa Terjadi dan Cara Meresponsnya

Anak Suka Mencuri: Langkah Saat Ketahuan

AACAP menuliskan bahwa para psikiater anak dan remaja menganjurkan orang tua, saat mengetahui anaknya mencuri, untuk:

Infografik perbandingan langkah yang dianjurkan dan dihindari saat anak ketahuan mencuri menurut AACAP
Langkah saat anak ketahuan mencuri menurut AACAP.
  1. Mengatakan kepada anak bahwa mencuri itu salah.
  2. Membantu anak membayar atau mengembalikan barang yang diambilnya.
  3. Memastikan anak tidak mendapat keuntungan apa pun dari pencurian itu.
  4. Menghindari ceramah, ramalan perilaku buruk di masa depan, atau sebutan bahwa anak kini dianggap pencuri atau anak nakal.
  5. Menegaskan bahwa perilaku ini sama sekali tidak dapat diterima dalam tradisi keluarga maupun di masyarakat.

Langkah ini berlaku untuk dua situasi yang paling sering dicari orang tua: anak suka mencuri uang orang tua, dan anak suka mencuri barang orang lain.

SituasiContoh menerapkan langkah AACAP
Uang orang tua diambilUang dikembalikan, atau diganti bertahap dari uang saku. Barang yang dibeli dengan uang itu tidak dinikmati anak.
Barang teman dibawa pulangAnak ditemani mengembalikan barang itu kepada pemiliknya, atau mengganti bila barangnya rusak atau habis.
Barang toko diambilAnak ditemani kembali ke toko untuk mengembalikan atau membayar barangnya.

Kata-kata yang bisa Anda pakai cukup singkat: “Mengambil barang yang bukan milikmu itu salah, dan di keluarga kita itu tidak boleh. Sekarang kita kembalikan bersama.” Kalimat ini menyampaikan bahwa perbuatannya salah tanpa menyebut anak sebagai pencuri.

Baca juga: Gentle Parenting vs VOC Parenting: Mana yang Lebih Baik untuk Tumbuh Kembang Anak?

Setelah Selesai, Jangan Diungkit Lagi

Bagian ini sering terlewat. Menurut AACAP, setelah anak membayar atau mengembalikan barangnya, orang tua sebaiknya tidak mengungkit masalah itu lagi, supaya anak bisa memulai kembali dengan “lembaran bersih”.

Dalam praktiknya, itu berarti tidak menyinggungnya lagi saat anak berbuat salah hal lain, tidak menceritakannya di depan anak kepada kerabat, dan tidak mengawali kalimat dengan “Dulu kamu kan pernah…”. Urusannya dianggap selesai begitu barang kembali atau sudah dibayar.

Baca juga: Anak Sulit Diatur: Delapan Kiat NHS dan Beda Hadiah dengan Suap

Kapan Perlu Bantuan Profesional?

AACAP menyebut dua keadaan yang perlu diperhatikan: bila mencuri terus berlanjut, atau bila mencuri muncul bersama masalah perilaku atau gejala lain. Dalam keadaan ini, mencuri bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius dalam perkembangan emosi anak atau dalam keluarga.

AACAP juga menjelaskan bahwa anak yang berulang kali mencuri bisa kesulitan memercayai orang lain dan membangun hubungan yang dekat. Alih-alih merasa bersalah, mereka mungkin menyalahkan orang lain atas perbuatannya. Menurut AACAP, anak-anak ini akan terbantu oleh evaluasi dari tenaga kesehatan jiwa.

Dalam evaluasi itu, menurut AACAP, tenaga kesehatan jiwa akan menelusuri alasan yang mendasari kebutuhan anak untuk mencuri, lalu menyusun rencana penanganan. Bagian penting dari penanganan bisa berupa membantu anak membangun hubungan yang penuh kepercayaan dan membantu keluarga mengarahkan anak ke jalur perkembangan yang lebih sehat.

Sebelum berkonsultasi, catat sejak kapan kejadiannya, apa yang diambil, dari siapa, dan bagaimana respons di rumah selama ini. Catatan ini membantu tenaga profesional memahami situasi anak Anda.

Baca juga: Anak Suka Memukul: Penyebab dan Cara Menghentikannya dengan Tenang

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Anak 3 tahun suka mengambil mainan teman, apakah itu mencuri?

Menurut AACAP, wajar bila anak yang sangat kecil mengambil sesuatu yang menarik perhatiannya, dan perbuatan itu belum dianggap mencuri sampai anak cukup besar untuk memahami bahwa mengambil milik orang lain itu salah, biasanya pada usia 3 sampai 5 tahun. AACAP menganjurkan orang tua aktif mengajarkan hak milik dan sikap menghargai orang lain.

Apa penyebab anak suka mencuri?

AACAP menyebut beberapa alasan pada anak yang lebih besar dan remaja, antara lain ingin menyamakan keadaan bila saudaranya tampak lebih disayang, ingin tampak berani di depan teman, ingin memberi hadiah, ingin diterima teman sebaya, tidak ingin bergantung pada orang lain, atau butuh lebih banyak perhatian dari orang tua.

Bagaimana jika anak suka mencuri uang orang tua?

AACAP menganjurkan orang tua mengatakan bahwa mencuri itu salah, membantu anak mengembalikan atau mengganti uangnya, dan memastikan anak tidak mendapat keuntungan apa pun dari perbuatan itu. Hindari ceramah dan sebutan “pencuri”.

Apa yang harus dilakukan bila anak mencuri barang orang lain?

Menurut AACAP, bantu anak mengembalikan atau membayar barang itu, pastikan ia tidak mendapat untung, dan tegaskan bahwa perbuatan itu tidak dapat diterima di keluarga maupun di masyarakat. Setelah barang dikembalikan atau dibayar, AACAP menganjurkan masalahnya tidak diungkit lagi.

Perlukah anak dimarahi panjang lebar setelah mencuri?

AACAP justru menganjurkan orang tua menghindari ceramah, ramalan bahwa anak akan berperilaku buruk di masa depan, dan sebutan bahwa anak kini dianggap pencuri atau anak nakal. Cukup katakan dengan tegas bahwa mencuri itu salah, lalu bantu anak mengembalikan atau membayar barangnya.

Kapan anak yang suka mencuri perlu dibawa ke profesional?

AACAP menyebut evaluasi oleh tenaga kesehatan jiwa bermanfaat bila mencuri terus berlanjut atau muncul bersama masalah perilaku atau gejala lain. Menurut AACAP, dalam keadaan itu mencuri bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius dalam perkembangan emosi anak atau dalam keluarga.

Kesimpulan

Anak suka mencuri adalah kekhawatiran yang wajar, dan AACAP memberi langkah yang jelas untuk menghadapinya. Pemahaman bahwa mengambil milik orang lain itu salah biasanya muncul pada usia 3 sampai 5 tahun, dan orang tua berperan mengajarkannya lewat kata maupun contoh.

Saat anak ketahuan, katakan bahwa mencuri itu salah, bantu ia mengembalikan atau membayar, pastikan ia tidak mendapat untung, hindari ceramah dan label, lalu jangan ungkit lagi setelah selesai. Bila mencuri terus berulang atau disertai masalah perilaku lain, mintalah evaluasi dari tenaga kesehatan jiwa.

Bila Anda ingin berkonsultasi tentang perilaku anak, Anda dapat mencari layanan yang sesuai di direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami