,

Perbedaan Speech Delay dan Autisme: Cara Membedakan Tandanya pada Anak

Ilustrasi kartu artikel KlinikPlus: Perbedaan Speech Delay dan Autisme: Cara Membedakan Tandanya pada Anak

Perbedaan speech delay dan autisme paling mudah dilihat dari cara anak berkomunikasi secara sosial, bukan hanya dari jumlah kata yang sudah ia ucapkan. Anak yang hanya terlambat bicara umumnya tetap berusaha “ngobrol” dengan cara lain: menunjuk, menatap wajah Anda, membawa mainan untuk ditunjukkan, atau tertawa saat diajak bercanda. Pada autisme, yang menonjol justru kesulitan dalam interaksi dan komunikasi sosial itu sendiri.

Banyak orang tua cemas ketika anaknya belum lancar bicara: apakah ini sekadar telat bicara, atau tanda autisme? Pertanyaan “speech delay atau autis” memang wajar, dan jawabannya tidak bisa ditebak dari satu tanda saja. Artikel ini membahas apakah speech delay dan autis sama, perbedaan komunikasi sosial dan bahasa ekspresif, tabel perbandingan tanda-tandanya, kemungkinan keduanya terjadi bersamaan, tanda bahaya menurut CDC dan American Academy of Pediatrics (AAP), serta alasan evaluasi profesional tetap diperlukan.

Speech Delay dan Autis, Apakah Sama?

Tidak sama. Speech delay (keterlambatan bicara) adalah tanda bahwa kemampuan bicara atau bahasa anak berkembang lebih lambat daripada sebagian besar anak seusianya. Ia bukan diagnosis tunggal, melainkan gejala yang perlu ditelusuri penyebabnya, misalnya gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan umum, kurangnya interaksi, atau autisme. Penjelasan lengkapnya ada di artikel speech delay adalah: tanda, penyebab, dan penanganannya.

Gangguan spektrum autisme (GSA atau ASD) adalah kondisi perkembangan saraf. Menurut laporan klinis AAP (Hyman dkk., 2020), ciri intinya ada di dua area: kesulitan komunikasi dan interaksi sosial, serta pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang. Keterlambatan bicara sering menjadi alasan pertama orang tua anak autis mencari bantuan, tetapi bicara hanyalah satu bagian dari gambaran yang lebih luas.

Jadi, banyak anak autis memang mengalami keterlambatan bicara, tetapi tidak semua anak dengan speech delay adalah anak autis.

Perbedaan Speech Delay dan Autisme: Komunikasi Sosial vs Bahasa Ekspresif

Untuk memahami perbedaannya, bedakan dua hal ini:

  • Bahasa ekspresif adalah kemampuan menyampaikan sesuatu dengan kata-kata. Inilah yang paling jelas tertinggal pada anak yang “hanya” terlambat bicara.
  • Komunikasi sosial adalah keinginan dan kemampuan untuk berbagi perhatian, perasaan, dan maksud dengan orang lain, baik lewat kata, tatapan, ekspresi wajah, maupun isyarat. Inilah area yang menjadi inti kesulitan pada autisme.

Salah satu kemampuan komunikasi sosial yang paling penting adalah perhatian bersama (joint attention): anak melihat ke benda, lalu ke wajah Anda, lalu kembali ke benda, seolah berkata “Lihat itu!” HealthyChildren.org dari AAP menjelaskan bahwa keterlambatan perhatian bersama ditemukan pada sebagian besar anak autis. Contohnya, anak tampak mengabaikan saat orang tua menunjuk sesuatu, menarik tangan orang tua ke benda yang diinginkan dengan sedikit kontak mata alih-alih menunjuk, atau menunjuk hanya untuk meminta, bukan untuk berbagi minat.

Sebaliknya, anak yang terlambat bicara tetapi komunikasi sosialnya baik biasanya “mengganti” kata dengan isyarat: menunjuk pesawat di langit sambil menatap Anda, menggeleng saat tidak mau, atau membawa buku untuk minta dibacakan.

Tabel Perbedaan Speech Delay dan Autisme

Tabel ini merangkum pola yang umumnya terlihat. Setiap anak unik, dan satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun. Gunakan sebagai bahan diskusi dengan dokter, bukan alat diagnosis.

Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan tanda komunikasi anak dengan speech delay saja dan tanda yang lebih sering terlihat pada autisme
Perbedaan speech delay dan autisme terutama terlihat pada komunikasi sosial anak.
AspekUmumnya pada speech delay sajaYang lebih sering terlihat pada autisme
Perhatian bersama (joint attention)Melihat bergantian ke benda dan wajah Anda untuk berbagi momenJarang berbagi perhatian; tampak tidak mengikuti saat Anda menunjuk
MenunjukMenunjuk untuk meminta dan untuk menunjukkan hal menarikTidak menunjuk, atau menunjuk hanya untuk meminta; lebih sering menarik tangan orang tua
Respons saat dipanggilMenoleh saat namanya dipanggil (bila pendengaran baik)Sering tidak menoleh saat dipanggil, walau pendengarannya baik
Bermain pura-puraMulai bermain peran sederhana: menyuapi boneka, menelepon dengan mainanBermain dengan cara yang sama berulang-ulang; jarang bermain pura-pura
Perilaku berulangTidak menonjolMenjajarkan mainan, mengepakkan tangan, sangat terpaku pada bagian benda atau rutinitas, mengulang kata (ekolalia)
PemahamanSering lebih baik daripada kemampuan bicaranya; mengikuti instruksi sederhanaBisa ikut tertinggal; kadang kemampuan menyebut benda tidak dipakai untuk meminta atau bercakap

Disusun dari tanda-tanda autisme CDC, materi HealthyChildren.org (AAP), dan NIDCD. Anak dengan speech delay karena sebab lain, misalnya gangguan pendengaran atau keterlambatan perkembangan umum, juga bisa menunjukkan sebagian tanda di kolom kanan, sehingga evaluasi tetap diperlukan.

Bisakah Speech Delay dan Autisme Terjadi Bersamaan?

Bisa, dan cukup sering. CDC mencantumkan keterlambatan kemampuan bahasa sebagai salah satu karakteristik yang dimiliki banyak orang dengan autisme. National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) menjelaskan bahwa sebagian anak autis tidak mengembangkan kemampuan bicara lisan, sementara banyak lainnya mengembangkan bicara tetapi belum setara usianya dan perkembangannya tidak merata. Sebagian anak juga mengulang kata atau kalimat orang lain (ekolalia).

Artinya, “speech delay atau autis” bukan pilihan salah satu. Seorang anak bisa memiliki keterlambatan bicara dan autisme, atau keterlambatan bicara karena sebab lain tanpa autisme. Sebaliknya, ada pula anak autis yang kosakatanya banyak tetapi kesulitan memakai bahasa untuk bercakap secara timbal balik.

Satu hal yang perlu diwaspadai adalah kemunduran (regresi). HealthyChildren.org menyebut sekitar seperempat anak yang kemudian didiagnosis autisme kehilangan sebagian kata yang sudah dimilikinya, umumnya antara usia 15 dan 24 bulan, dan bisa menjadi lebih menarik diri. Kehilangan kemampuan bicara atau sosial pada usia berapa pun perlu segera diperiksakan.

Baca juga: Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara: Kapan Harus Khawatir?

Tanda Bahaya yang Perlu Segera Diperiksakan

CDC menyusun daftar tanda komunikasi sosial yang dapat mengarah ke autisme, beserta usia saat tanda itu patut diwaspadai. Bila anak Anda menunjukkan beberapa tanda berikut, segera konsultasikan ke dokter anak:

Infografik KlinikPlus berisi enam tanda bahaya komunikasi sosial anak menurut CDC berdasarkan usia, dari 9 bulan hingga kehilangan kemampuan di usia berapa pun
Tanda komunikasi sosial yang perlu segera dikonsultasikan ke dokter anak, menurut CDC dan AAP.
  • Tidak menoleh saat namanya dipanggil pada usia 9 bulan.
  • Belum menunjukkan ekspresi wajah seperti senang, sedih, marah, atau terkejut pada usia 9 bulan.
  • Belum ikut permainan interaktif sederhana seperti cilukba atau tepuk tangan pada usia 12 bulan.
  • Hanya sedikit atau tidak memakai isyarat (melambai, menggeleng, menunjuk) pada usia 12 bulan.
  • Belum berbagi minat dengan orang lain pada usia 15 bulan.
  • Belum menunjuk untuk memperlihatkan sesuatu yang menarik pada usia 18 bulan.
  • Tidak memperhatikan ketika orang lain terluka atau sedih pada usia 24 bulan.
  • Kehilangan kata atau kemampuan sosial yang sebelumnya sudah ada, pada usia berapa pun.

CDC juga mencatat perilaku berulang yang sering menyertai, misalnya menjajarkan mainan dan marah bila urutannya diubah, bermain dengan cara yang sama setiap kali, sangat terpaku pada bagian benda seperti roda, sangat terganggu oleh perubahan kecil, mengepakkan tangan atau berputar-putar, serta reaksi tidak biasa terhadap suara, bau, rasa, atau tekstur. Perlu diingat, anak autis tidak selalu menunjukkan semua tanda tersebut.

AAP menganjurkan skrining autisme pada semua anak di usia 18 dan 24 bulan, di samping pemantauan perkembangan rutin, karena autisme dapat didiagnosis sejak usia 18 bulan dan intervensi dini dapat membantu. Di Indonesia, Anda dapat memulai dari ceklis perkembangan di Buku KIA, Posyandu, Puskesmas, atau dokter anak.

Mengapa Perlu Evaluasi Profesional?

Membedakan speech delay dan autisme tidak bisa dilakukan lewat daftar periksa di internet, termasuk artikel ini. Alasannya:

  • Tanda-tandanya tumpang tindih. Anak dengan gangguan pendengaran bisa tampak “tidak menoleh saat dipanggil”. Anak yang pemalu atau sedang sakit bisa tampak kurang berinteraksi di tempat baru.
  • Penyebabnya bisa lebih dari satu. Keterlambatan bicara, autisme, dan keterlambatan perkembangan umum dapat muncul bersamaan.
  • Diagnosis autisme membutuhkan pengamatan dan wawancara terstruktur oleh tenaga ahli. Kuesioner skrining (misalnya M-CHAT yang diisi orang tua) hanya menunjukkan apakah anak berisiko dan perlu dievaluasi lanjut, bukan menegakkan diagnosis.
  • Penanganannya berbeda. Anak yang hanya terlambat bicara mungkin cukup dengan stimulasi terarah dan terapi wicara, sedangkan anak autis biasanya membutuhkan program yang juga menyasar komunikasi sosial, bermain, dan perilaku.

NIDCD menjelaskan bahwa bila dokter mencurigai autisme, anak biasanya dirujuk ke beberapa ahli: terapis wicara untuk menilai kemampuan komunikasi, serta tes pendengaran bila diperlukan. Dalam praktik di Indonesia, tim ini bisa meliputi dokter spesialis anak (terutama konsultan tumbuh kembang), psikolog anak, terapis wicara, dan dokter THT. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam media briefing April 2025 juga menyoroti bahwa keterlambatan diagnosis autisme masih sering dijumpai di lapangan, sehingga menunggu “sampai anak bicara sendiri” sebaiknya dihindari.

Agar kunjungan lebih efektif, ikuti panduan persiapan asesmen tumbuh kembang anak.

Yang Bisa Anda Lakukan Sambil Menunggu Jadwal Evaluasi

  1. Catat pengamatan selama 1–2 minggu. Apakah anak menoleh saat dipanggil di ruangan yang tenang? Apakah ia menunjuk untuk memperlihatkan sesuatu? Apakah ia membawa benda untuk ditunjukkan kepada Anda?
  2. Rekam video pendek saat anak bermain, makan, dan diajak bicara. Video membantu dokter melihat perilaku yang mungkin tidak muncul di ruang periksa.
  3. Tulis daftar kata dan isyarat yang sudah dipakai anak, termasuk kata yang pernah ada lalu menghilang.
  4. Tetap ajak anak berinteraksi setiap hari. Bermain cilukba, bernyanyi dengan gerakan, dan membaca buku bergambar bersama melatih perhatian bersama. Contoh kalimat stimulasi ada di artikel anak 2 tahun belum bisa bicara.
  5. Hindari melabeli anak di depan orang lain, misalnya “anak saya autis kok”, sebelum ada hasil evaluasi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah speech delay dan autis sama?

Tidak sama. Speech delay adalah keterlambatan kemampuan bicara atau bahasa dibandingkan anak seusianya dan bisa disebabkan banyak hal, seperti gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan umum, kurangnya interaksi, atau autisme. Autisme adalah kondisi perkembangan saraf dengan ciri inti kesulitan komunikasi dan interaksi sosial serta perilaku atau minat yang terbatas dan berulang. Keterlambatan bicara bisa menjadi salah satu tanda autisme, tetapi tidak selalu.

Bagaimana cara membedakan anak speech delay atau autis?

Perhatikan komunikasi sosialnya. Anak yang hanya terlambat bicara biasanya tetap menunjuk untuk berbagi, menatap wajah orang tua, menoleh saat dipanggil, dan mulai bermain pura-pura. Pada autisme, kemampuan berbagi perhatian, isyarat, dan respons sosial ini lebih sering tertinggal, kadang disertai perilaku berulang. Namun, diagnosis hanya bisa ditegakkan tenaga ahli setelah evaluasi menyeluruh.

Anak speech delay tetapi mau kontak mata, apakah bisa tetap autis?

Bisa. Kontak mata hanyalah satu dari banyak aspek komunikasi sosial, dan tanda autisme bervariasi pada setiap anak. Dokter dan psikolog akan menilai gambaran utuh, termasuk perhatian bersama, penggunaan isyarat, cara bermain, respons saat dipanggil, dan perilaku berulang. Bila Anda ragu, sampaikan kekhawatiran Anda dan minta skrining perkembangan.

Anak hiperaktif dan speech delay, apakah tanda autisme?

Belum tentu. Anak yang sangat aktif dan terlambat bicara bisa mengalami autisme, ADHD, keduanya, atau keterlambatan perkembangan lain. Hiperaktif pada balita juga bisa masih dalam batas wajar. Karena kondisinya bisa tumpang tindih, mintalah evaluasi ke dokter anak atau dokter tumbuh kembang. Penjelasan lebih lanjut tersedia di artikel perbedaan ADHD dan autisme.

Sejak usia berapa autisme bisa dideteksi?

Menurut American Academy of Pediatrics, autisme dapat didiagnosis sejak usia 18 bulan, dan AAP menganjurkan skrining autisme pada semua anak di usia 18 dan 24 bulan. Tanda awal komunikasi sosial, seperti tidak menoleh saat dipanggil atau jarang memakai isyarat, bisa terlihat lebih dini. Semakin cepat dievaluasi, semakin cepat anak mendapat dukungan yang sesuai.

Anak speech delay sebaiknya dibawa ke dokter apa?

Mulailah dari dokter spesialis anak, atau Posyandu dan Puskesmas untuk skrining perkembangan awal. Dokter dapat merujuk ke dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, psikolog anak, terapis wicara, atau dokter THT untuk tes pendengaran. Klinik tumbuh kembang yang memiliki dokter dan terapis juga dapat melakukan asesmen secara terpadu.

Kesimpulan

Perbedaan speech delay dan autisme terletak terutama pada komunikasi sosial: anak yang hanya terlambat bicara umumnya tetap berbagi perhatian, menunjuk, dan merespons orang lain, sedangkan pada autisme kemampuan inilah yang paling terganggu, sering disertai perilaku berulang. Keduanya juga bisa terjadi bersamaan. Karena itu, jangan menebak sendiri atau menunggu terlalu lama. Catat pengamatan Anda, lakukan tes pendengaran, dan minta evaluasi perkembangan. Informasi tentang tanda autisme yang lebih lengkap dapat Anda baca di artikel ciri-ciri autisme pada anak.

Bila Anda membutuhkan asesmen tumbuh kembang, terapi wicara, atau evaluasi lanjutan, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami