,

Picky Eater pada Anak: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Perlu Terapi Makan

Ilustrasi kartu artikel KlinikPlus tentang picky eater pada anak: penyebab, cara mengatasi, dan kapan perlu terapi makan

Picky eater pada anak adalah keluhan yang sangat umum, dan pada kebanyakan balita kondisi ini merupakan fase perkembangan yang wajar. Anak yang kemarin lahap makan sayur, hari ini menolaknya. Ada yang hanya mau nasi dengan kecap, atau langsung menutup mulut begitu sendok mendekat. Situasi seperti ini melelahkan dan mudah membuat orang tua cemas.

Di Indonesia, keluhan ini sering disebut anak susah makan atau gerakan tutup mulut (GTM). Banyak kasus membaik dengan perubahan cara memberi makan di rumah, tetapi sebagian lainnya memerlukan pemeriksaan. Artikel ini membahas apa itu picky eater, bedanya dengan gangguan makan, penyebab dan pemicunya, cara mengatasi picky eater di rumah (lengkap dengan contoh kalimat), tanda bahaya yang perlu diperiksakan, serta kapan anak mungkin membutuhkan terapi makan.

Apa Itu Picky Eater dan Apakah Normal?

Picky eater (disebut juga fussy eater) adalah anak yang pilih-pilih makanan: enggan mencoba makanan baru, menolak makanan yang sudah dikenalnya, atau punya kesukaan yang sangat kuat terhadap makanan tertentu. Belum ada satu definisi picky eating yang disepakati, sehingga angka kejadiannya dilaporkan sangat beragam antarpenelitian (Taylor dkk., 2015).

American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut pilih-pilih makanan umumnya merupakan tahap perkembangan yang normal pada balita. Artikel Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menjelaskan bahwa perilaku ini paling sering terjadi pada usia 1–3 tahun. Salah satu penyebabnya adalah neofobia makanan, yaitu rasa takut atau enggan terhadap makanan baru. Neofobia wajar dan dapat melindungi anak kecil dari memakan sesuatu yang berbahaya. Namun, bila berlarut-larut, neofobia bisa berkembang menjadi penolakan makan yang berkepanjangan.

IDAI membedakan dua kelompok yang sering tertukar:

  • Picky eater: anak sebenarnya mau menerima berbagai jenis makanan, tetapi jumlah yang dimakan sedikit, atau ia pilih-pilih karena rasa dan tekstur. Anak masih makan setidaknya satu jenis makanan dari setiap kelompok (karbohidrat, protein, buah atau sayur, dan susu). Contohnya, anak menolak nasi tetapi mau roti atau mi.
  • Selective eater: anak menolak seluruh jenis makanan dalam satu kelompok atau lebih, misalnya tidak mau makan karbohidrat apa pun. Menurut IDAI, kondisi ini tidak termasuk fase perkembangan yang normal dan berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi.

Panduan NHS (Inggris) memberi patokan yang menenangkan: nilailah pola makan anak dalam rentang satu minggu, bukan per hari atau per kali makan. Jika anak aktif, berat badannya naik, dan tampak sehat, kemungkinan besar asupannya sudah cukup.

Picky Eater atau Gangguan Makan? Kenali Bedanya

Tidak semua anak susah makan sekadar pilih-pilih. Dua istilah medis berikut perlu dikenal, bukan untuk mendiagnosis sendiri, tetapi agar Anda tahu kapan perlu bertanya ke dokter.

Pediatric Feeding Disorder (PFD)

Pada 2019, sekelompok ahli dari berbagai disiplin menyusun konsensus definisi pediatric feeding disorder, yaitu asupan makan melalui mulut yang terganggu dan tidak sesuai usia, disertai masalah pada setidaknya satu dari empat ranah: medis, gizi, keterampilan makan, atau psikososial (Goday dkk., 2019). Dalam kriteria yang diusulkan, gangguan asupan tersebut berlangsung setidaknya 2 minggu. Contohnya anak kesulitan bernapas atau tersedak saat makan, kekurangan gizi, masih perlu makanan yang dihaluskan, atau waktu makan selalu penuh penolakan dan ketegangan.

ARFID (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder)

ARFID adalah gangguan makan yang membuat seseorang sangat membatasi jumlah dan jenis makanan yang dimakannya. ARFID tidak didorong oleh keinginan menurunkan berat badan. Menurut Cleveland Clinic, pemicunya bisa berupa kecemasan terhadap akibat makan (misalnya takut tersedak atau muntah), kurangnya minat terhadap makanan, atau penolakan kuat terhadap warna, rasa, tekstur, atau bau tertentu. Cleveland Clinic menegaskan bahwa ARFID tidak sama dengan picky eating: picky eating biasanya tidak mengganggu nafsu makan, pertumbuhan, dan perkembangan, serta sering membaik seiring usia, sedangkan ARFID berdampak pada gizi dan kesehatan dan memerlukan penanganan. Menurut ahli gizi anak di UCLA Health, picky eater umumnya tetap lapar dan ingin makan.

AspekPicky eater (umumnya wajar)Perlu dievaluasi lebih lanjut
Variasi makananMasih mau setidaknya satu jenis dari setiap kelompok makananMenolak seluruh kelompok makanan, atau daftar makanannya terus menyempit
PertumbuhanBerat dan tinggi badan naik sesuai kurvanyaBerat badan tidak naik, turun, atau pertumbuhan melambat
Rasa laparTetap lapar dan mau makan makanan kesukaannyaTampak tidak tertarik makan sama sekali, atau cemas dan takut saat makan
Keterampilan makanBisa mengunyah dan menelan sesuai usiaSering tersedak, batuk, muntah, atau hanya mau makanan cair/lumat
Suasana makanKadang menolak, tetapi masih bisa makan bersama keluargaMenangis atau lari saat melihat piring atau sendok; makan selalu menjadi “perang”

Penyebab Anak Pilih-Pilih Makanan

Anak pilih-pilih makanan jarang disebabkan oleh satu hal saja. IDAI menyebut pengenalan makanan sejak dini, temperamen anak, lingkungan, dan tekanan saat makan ikut berperan. Pemicu yang sering ditemui:

  • Neofobia makanan. Wajar pada balita, terutama terhadap makanan dengan warna, bau, atau tekstur yang belum dikenalnya.
  • Tidak benar-benar lapar. Anak terlalu sering ngemil atau minum susu dan jus di antara waktu makan sehingga saat jam makan perutnya masih kenyang.
  • Praktik pemberian makan yang kurang tepat. Menurut IDAI, ini penyebab tersering GTM pada batita dan sering bermula sejak masa penyapihan atau awal MPASI.
  • Tekanan dan paksaan. Membujuk, memaksa, atau memarahi justru membuat anak makin menolak. IDAI juga mencontohkan pemaksaan minum jamu yang dapat menimbulkan trauma dan memperburuk masalah makan.
  • Distraksi. Makan sambil menonton, bermain, atau digendong keliling kompleks membuat anak tidak fokus pada makanannya.
  • Kepekaan sensorik. Sebagian anak sangat peka terhadap tekstur, bau, atau suhu makanan sehingga hanya mau jenis makanan tertentu.

Jika anak juga sangat peka terhadap suara, sentuhan, atau tekstur benda di luar waktu makan, artikel tentang sensori integrasi dapat membantu Anda memahami pola tersebut.

Cara Mengatasi Picky Eater di Rumah

Kunci cara mengatasi picky eater adalah membangun suasana makan yang teratur dan menyenangkan, bukan memenangkan “pertarungan” di meja makan. Berikut strategi yang dianjurkan oleh IDAI, AAP, NHS, dan Ellyn Satter Institute.

Infografik KlinikPlus berisi tujuh cara mengatasi picky eater di rumah: pembagian tanggung jawab, jadwal makan teratur, durasi makan maksimal 30 menit, menawarkan makanan berulang, tanpa hadiah, makan bersama tanpa layar, dan melibatkan anak
Tujuh cara mengatasi picky eater di rumah berdasarkan feeding rules IDAI dan anjuran AAP, NHS, serta Ellyn Satter Institute.

1. Terapkan pembagian tanggung jawab

Ahli gizi Ellyn Satter memperkenalkan konsep division of responsibility (pembagian tanggung jawab) dalam memberi makan. Orang tua bertanggung jawab menentukan apa yang disajikan, kapan waktu makan dan camilan, serta di mana anak makan. Anak yang menentukan berapa banyak yang ia makan dari yang disajikan, dan apakah ia mau memakannya. Pembagian ini membantu orang tua berhenti memaksa dan memberi anak kesempatan mengenali rasa lapar dan kenyangnya.

2. Buat jadwal makan yang teratur

IDAI menganjurkan pola tiga kali makan utama dan dua kali camilan di antaranya. NHS juga menyebut dua camilan sehat sehari sudah cukup. Hindari memberi makanan atau minuman selain air putih di antara jadwal tersebut agar anak datang ke meja makan dalam keadaan lapar. Untuk batita, artikel IDAI tentang GTM menyebut susu cukup diberikan 2–3 kali sehari (sekitar 500–600 ml per hari), karena susu yang berlebihan dapat mengurangi nafsu makan.

3. Batasi durasi makan

Menurut feeding rules yang dianjurkan IDAI, waktu makan sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Jika setelah 10–15 menit anak tetap menolak, akhiri sesi makan dengan tenang tanpa memarahi, lalu tunggu jadwal makan atau camilan berikutnya. Sesi makan yang terus diperpanjang dengan bujukan cenderung membuat anak dan orang tua sama-sama lelah dan tegang.

4. Tawarkan berulang kali tanpa memaksa

Satu kali penolakan bukan berarti anak tidak suka selamanya. IDAI menyarankan menawarkan makanan baru hingga 10–15 kali, sementara AAP menyebut balita bisa membutuhkan 10 kali atau lebih mencicipi sebelum menerima rasa baru. Sajikan dalam porsi kecil, berdampingan dengan makanan yang sudah ia sukai. Bila ditolak, singkirkan dengan tenang dan tawarkan lagi di lain hari, mungkin dengan cara masak yang berbeda (misalnya wortel parut mentah, bukan wortel rebus).

5. Jangan menyuap anak dengan hadiah atau makanan manis

Kalimat seperti “Habiskan sayurnya, nanti dapat es krim” terdengar efektif, tetapi menurut AAP cara ini justru membuat makanan manis terasa makin istimewa dan sayur terasa seperti hukuman. IDAI dan NHS juga menganjurkan agar makanan tidak dijadikan hadiah.

6. Makan bersama keluarga, tanpa layar

Anak belajar dengan meniru. Makan bersama di meja, dengan menu yang sama untuk seluruh keluarga, memberi anak contoh nyata. IDAI dan AAP sama-sama menganjurkan mematikan televisi dan menjauhkan gawai serta mainan selama makan agar anak bisa fokus pada makanannya dan pada rasa kenyangnya.

7. Libatkan anak dan biarkan ia makan sendiri

Ajak anak memilih buah di pasar, mencuci sayur, atau mengaduk adonan. AAP menyebut keterlibatan seperti ini membuat anak lebih tertarik mencoba. Dorong anak makan sendiri dengan potongan makanan yang mudah dipegang dan cukup kecil agar tidak mudah tersedak.

8. Jaga suasana tetap tenang

Pujilah usaha anak, misalnya saat ia mau menyentuh atau mencium makanan baru, bukan hanya saat piringnya habis. Bila anak tantrum di meja makan, tenangkan emosinya dulu.

Baca juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Keinginannya Tidak Dituruti

Yang Sebaiknya Dihindari dan Yang Bisa Dicoba

Kalimat di meja makan bisa membuat anak makin tertekan atau justru lebih santai. Sesuaikan contoh berikut dengan gaya bicara keluarga Anda.

SituasiSebaiknya dihindariCoba lakukan atau katakan
Anak menolak sayur“Pokoknya harus habis, kalau tidak, tidak boleh main!”“Tidak apa-apa kalau belum mau. Sayurnya Mama taruh di sini, ya, siapa tahu nanti mau coba.”
Anak hanya mau makanan favoritMembuatkan menu terpisah setiap kali anak menolakSajikan menu keluarga, sertakan satu makanan yang ia sukai di piringnya
Anak GTM setelah beberapa suapMembujuk, menggendong keliling, atau menyalakan video“Sepertinya kamu sudah kenyang. Kita makan lagi nanti saat camilan, ya.” Lalu akhiri sesi makan
Anak minta susu atau camilan terusMemberi susu atau biskuit kapan saja agar anak “ada isinya”“Camilan berikutnya nanti jam sepuluh. Sekarang boleh minum air putih dulu.”
Membandingkan“Lihat tuh kakak, makannya pintar. Kamu kok susah sekali?”Makan bersama dan biarkan anak melihat Anda menikmati makanan yang sama

Gerakan Tutup Mulut (GTM): Sudut Pandang di Indonesia

Istilah gerakan tutup mulut (GTM) populer di kalangan orang tua Indonesia, tetapi GTM bukan diagnosis medis, melainkan gambaran perilaku: anak menutup mulut rapat, menyemburkan makanan, atau mengeluarkan makanan yang sudah ada di mulutnya. Artikel IDAI tentang GTM pada batita mencatat bahwa rasa khawatir sering membuat orang tua terlalu permisif, misalnya membiarkan anak hanya makan biskuit kesukaannya, mengganti makan dengan susu, atau memberi makanan ringan terus-menerus. Memberi vitamin penambah nafsu makan, menyuapi sambil keliling kompleks, dan makan sambil bermain juga disebut tidak membantu.

IDAI mengatasi GTM dengan prinsip yang sama seperti strategi di atas, yang dikenal sebagai feeding rules: mengatur jadwal, lingkungan, dan prosedur makan. Jika anak tetap sulit makan walaupun feeding rules sudah diterapkan dengan konsisten, IDAI menyarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau ahli gizi.

Tanda Bahaya: Kapan Anak Susah Makan Perlu ke Dokter?

Segera konsultasikan anak ke dokter anak bila Anda melihat satu atau beberapa tanda berikut. Daftar ini terutama dirangkum dari artikel IDAI tentang kesulitan makan.

Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan tanda picky eater yang umumnya wajar dengan tanda bahaya anak susah makan yang perlu diperiksakan ke dokter anak
Perbandingan picky eater yang umumnya wajar dengan tanda bahaya yang perlu dikonsultasikan ke dokter anak.
  • Berat badan tidak naik, turun, atau pertumbuhan melambat menurut grafik pertumbuhan di buku KIA. Menurut IDAI, kesulitan makan yang berkepanjangan pertama kali berdampak pada berat badan, lalu pada tinggi badan dan status gizi.
  • Sering tersedak, batuk, atau kesulitan menelan saat makan atau minum, atau sering muntah.
  • Anak tampak lemas atau sesak napas saat makan atau menyusu.
  • Anak tampak kesakitan saat makan.
  • Diare berdarah atau diare berkepanjangan.
  • Anak hanya mau makanan cair atau lumat pada usia yang seharusnya sudah bisa makan makanan bertekstur, atau sulit mengunyah.
  • Anak menangis, lari, atau sangat ketakutan saat melihat piring atau sendok.
  • Anak menolak seluruh kelompok makanan (selective eater) atau daftar makanan yang mau ia makan terus berkurang.
  • Waktu makan hampir selalu jauh lebih lama dari 30 menit dan penuh ketegangan, walaupun Anda sudah menerapkan aturan makan.
  • Kesulitan makan tidak membaik setelah beberapa minggu menerapkan aturan makan dengan konsisten.

Tanda-tanda ini bukan diagnosis, tetapi alasan yang baik untuk meminta pemeriksaan. Dokter akan menilai pertumbuhan, kemampuan mengunyah dan menelan, serta kemungkinan penyebab medisnya.

Siapa yang Membantu? Mengenal Terapi Makan Anak

Masalah makan sering melibatkan lebih dari satu aspek, sehingga konsensus pediatric feeding disorder menekankan pentingnya penanganan oleh beberapa disiplin sekaligus. Tenaga kesehatan yang mungkin terlibat antara lain:

  • Dokter spesialis anak: menilai pertumbuhan, mencari penyebab medis, dan merujuk bila perlu.
  • Ahli gizi atau dietisien: memastikan kebutuhan gizi tetap tercukupi.
  • Terapis wicara: membantu keterampilan oral motorik seperti mengunyah, menggerakkan lidah, dan menelan.
  • Terapis okupasi: membantu kemandirian makan, posisi duduk, serta respons anak terhadap tekstur dan sensasi makanan.
  • Psikolog anak: membantu bila ada kecemasan atau ketakutan kuat terhadap makanan, termasuk pada ARFID.

Terapi makan anak (feeding therapy) umumnya dilakukan secara bertahap: anak dikenalkan kembali dengan makanan yang ditakuti atau ditolaknya sedikit demi sedikit, sambil melatih keterampilan makan yang masih tertinggal. Orang tua dilibatkan agar latihan berlanjut di rumah. Programnya ditentukan setelah asesmen, dan tidak semua picky eater membutuhkannya. Untuk memahami peran masing-masing terapi, baca juga penjelasan tentang terapi wicara anak dan terapi okupasi.

Baca juga: Cara Membaca Kurva Pertumbuhan Anak: BB, TB, dan Arti Garis Z-Score

Baca juga: Perkembangan Bayi 6 Bulan: Milestone dan Cara Menstimulasinya

Baca juga: Anak Susah Mengunyah: Tangga Tekstur Menurut NHS dan Mengapa Waktunya Penting

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah picky eater pada anak bisa sembuh sendiri?

Pada sebagian besar balita, pilih-pilih makanan adalah fase perkembangan yang wajar dan umumnya membaik seiring usia, terutama bila orang tua menerapkan jadwal makan teratur, menawarkan makanan baru berulang kali, dan tidak memaksa. Namun, bila anak menolak seluruh kelompok makanan, berat badannya tidak naik, atau ada tanda bahaya seperti sering tersedak, sebaiknya anak diperiksakan ke dokter anak.

Berapa lama waktu makan anak yang ideal?

Feeding rules yang dianjurkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membatasi waktu makan tidak lebih dari 30 menit. Jika setelah 10–15 menit anak tetap menolak makan, sesi makan sebaiknya diakhiri dengan tenang tanpa memarahi, lalu makanan ditawarkan lagi pada jadwal makan atau camilan berikutnya.

Berapa kali makanan baru perlu ditawarkan sebelum anak mau?

IDAI menyarankan menawarkan makanan baru hingga 10–15 kali, sedangkan American Academy of Pediatrics menyebut balita bisa membutuhkan 10 kali atau lebih mencicipi sebelum menerima rasa baru. Tawarkan dalam porsi kecil, tanpa paksaan, dan berdampingan dengan makanan yang sudah disukai anak.

Apakah anak GTM perlu diberi vitamin penambah nafsu makan?

Artikel IDAI tentang gerakan tutup mulut (GTM) pada batita menyebut pemberian vitamin penambah nafsu makan sebagai salah satu kebiasaan yang tidak membantu mengatasi GTM. Perbaikan jadwal, suasana, dan cara memberi makan lebih diutamakan. Konsultasikan ke dokter anak sebelum memberikan suplemen apa pun.

Apa bedanya picky eater dengan ARFID?

Picky eater umumnya masih mau makan setidaknya satu jenis makanan dari setiap kelompok, tetap merasa lapar, dan tumbuh sesuai kurvanya. ARFID (avoidant/restrictive food intake disorder) adalah gangguan makan yang membuat anak sangat membatasi jumlah dan jenis makanan sehingga berdampak pada berat badan, pertumbuhan, atau kecukupan gizi, dan sering disertai rasa takut atau cemas terhadap makanan. ARFID perlu didiagnosis dan ditangani oleh tenaga profesional.

Kapan anak susah makan perlu terapi makan?

Terapi makan anak dipertimbangkan bila kesulitan makan tidak membaik meski aturan makan sudah diterapkan dengan konsisten, atau bila ada masalah keterampilan makan seperti sulit mengunyah, sering tersedak, hanya mau makanan lumat, atau ketakutan kuat terhadap makanan. Keputusan terapi sebaiknya diambil setelah pemeriksaan oleh dokter spesialis anak, yang dapat merujuk ke ahli gizi, terapis wicara, terapis okupasi, atau psikolog anak sesuai kebutuhan.

Kesimpulan

Picky eater pada anak, terutama di usia 1–3 tahun, umumnya merupakan fase perkembangan yang wajar. Cara mengatasi picky eater yang dianjurkan adalah membagi tanggung jawab makan dengan anak, menjaga jadwal makan yang teratur, membatasi susu dan camilan di antara waktu makan, membatasi durasi makan maksimal 30 menit, menawarkan makanan baru berulang kali tanpa memaksa atau menyuap, serta makan bersama keluarga tanpa layar.

Bedakan juga anak yang sekadar pilih-pilih dari anak yang mengalami gangguan makan. Bila berat badan tidak naik, anak sering tersedak atau muntah, menolak seluruh kelompok makanan, atau sangat ketakutan saat makan, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

Bila Anda membutuhkan evaluasi tumbuh kembang, terapi wicara, atau terapi okupasi untuk masalah makan anak, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami