,

Anak Suka Memukul: Penyebab dan Cara Menghentikannya dengan Tenang

Ilustrasi kartu artikel KlinikPlus: Anak Suka Memukul: Penyebab dan Cara Menghentikannya dengan Tenang

Anak suka memukul adalah perilaku yang sangat umum pada balita, dan pada sebagian besar anak, perilaku ini bisa berkurang bila orang tua merespons dengan tenang dan konsisten. Tetap saja, rasanya tidak nyaman, apalagi bila yang dipukul adalah teman di tempat bermain, adik, atau Anda sendiri.

Mungkin Anda khawatir: apakah anak saya agresif? Apakah ini salah pola asuh? Artikel ini membahas mengapa balita memukul dari sisi perkembangan, apa yang sebaiknya Anda lakukan dan katakan saat anak memukul, cara mengajarkan alternatif, pentingnya konsistensi, perilaku memukul kepala sendiri yang perlu dibahas terpisah, serta tanda bahaya yang perlu diperiksakan ke profesional.

Mengapa Anak Suka Memukul? Penjelasan dari Sisi Perkembangan

Memukul pada balita umumnya bukan tanda anak “nakal”, melainkan tanda bahwa kemampuannya mengelola emosi belum matang. American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa balita dan anak prasekolah mungkin belum memiliki kendali diri untuk mengungkapkan marah dengan cara damai.

Penelitian Tremblay dan rekan (2004) di Kanada, yang mengikuti 572 keluarga, mencatat bahwa pada usia 17 bulan sebagian besar anak sudah menunjukkan agresi fisik terhadap saudara, teman sebaya, atau orang dewasa. Sekitar 58% anak mengikuti pola agresi ringan, 28% hampir tidak agresif, dan sekitar 14% menunjukkan agresi fisik yang tinggi. Para peneliti menyimpulkan bahwa kebanyakan anak belajar memakai cara lain sebelum masuk sekolah dasar. Artinya, masa balita adalah masa belajar, dan peran orang tua sangat besar di sini.

Pemicu yang sering terjadi antara lain:

  • Frustrasi: mainan direbut, keinginan tidak dituruti, atau tugas terasa terlalu sulit.
  • Belum bisa mengungkapkan dengan kata-kata: anak yang kosakatanya masih terbatas lebih mudah memakai tangan. Bila bicaranya juga tertinggal, baca artikel speech delay adalah.
  • Lelah, lapar, atau terlalu banyak rangsangan, misalnya di tempat ramai.
  • Mencari perhatian, terutama bila memukul selalu membuat orang dewasa bereaksi besar.
  • Meniru: AAP mengingatkan bahwa anak cenderung meniru cara orang tua menghadapi marah.

Cara Merespons Saat Anak Memukul

Respons Anda di detik-detik pertama menentukan apa yang dipelajari anak. Tujuannya dua: menghentikan pukulan dengan aman, lalu mengajarkan cara lain setelah anak tenang. AAP menyarankan agar memukul tidak diabaikan, tetapi dihentikan segera, dan anak dipisahkan bila sedang berkelahi sampai semua tenang.

Infografik KlinikPlus dua kolom yang membandingkan respons yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari saat anak memukul
Cara merespons anak yang memukul dengan tenang, berdasarkan panduan American Academy of Pediatrics.
  1. Hentikan dengan tenang. Tahan tangan anak dengan lembut atau beri jarak. Katakan singkat dan tegas: “Stop. Mama tidak akan membiarkan kamu memukul.”
  2. Pastikan semua aman. Pisahkan anak dari temannya atau dari benda yang bisa dilempar.
  3. Perhatikan yang dipukul lebih dulu. “Kamu kaget, ya? Sakit?” Ini menunjukkan bahwa memukul tidak mendatangkan perhatian, sekaligus mencontohkan empati.
  4. Namai perasaan anak. “Kamu marah karena mobilnya diambil. Boleh marah, tapi tidak boleh memukul.”
  5. Ajarkan setelah tenang. Saat emosi sudah reda, latih apa yang bisa dilakukan lain kali.
SituasiSebaiknya dihindariCoba katakan atau lakukan
Anak suka memukul temannya saat bermain“Anak nakal! Minta maaf sekarang!”Pisahkan sebentar. “Tangan bukan untuk memukul. Kalau mau mainannya, bilang ‘gantian, ya’.”
Anak suka memukul ibunya atau orang tuaMemukul balik “supaya tahu rasanya sakit”Tahan tangannya. “Mama tidak akan membiarkan kamu memukul Mama. Kalau marah, hentakkan kaki saja.”
Anak suka memukul dan melempar barangBerteriak lalu membiarkannya terusSimpan barang yang dilempar. “Mainan ini istirahat dulu. Bola boleh dilempar di luar.”
Memukul adikMembandingkan: “Kakak kok jahat, adik saja baik”Lindungi adik, lalu beri kakak waktu khusus berdua setelah semua tenang.

Mengajarkan Alternatif Selain Memukul

Melarang saja tidak cukup; anak perlu tahu apa yang boleh dilakukan saat marah. AAP menganjurkan mengajari anak memakai kata-kata, berkata “tidak” dengan tegas, membalikkan badan, atau berkompromi, alih-alih memakai tubuhnya untuk melawan.

Infografik KlinikPlus berisi tujuh alternatif selain memukul yang bisa diajarkan kepada anak, seperti memakai kata-kata, pergi menjauh, meminta bantuan orang dewasa, dan menarik napas
Tujuh cara lain selain memukul yang bisa dilatih bersama anak.
  • Kata-kata perasaan: latih kalimat pendek seperti “Aku marah!”, “Jangan ambil!”, atau “Gantian.”
  • Minta bantuan orang dewasa: “Kalau temanmu merebut mainan, panggil Ibu Guru.”
  • Pergi menjauh: ajarkan anak membalikkan badan atau pindah tempat.
  • Salurkan dengan aman: meremas bantal, menghentakkan kaki, atau menarik napas “tiup lilin”.
  • Latihan saat tenang: main peran dengan boneka, misalnya boneka yang marah lalu belajar bilang “gantian”.
  • Puji perilaku yang Anda harapkan: AAP menyarankan pujian yang spesifik, misalnya “Tadi kamu marah, tapi kamu bilang ‘gantian’. Hebat!”

Konsistensi: Kunci Mengatasi Anak Suka Memukul

Perilaku memukul biasanya tidak hilang dalam sehari. Yang membuatnya berkurang adalah respons yang sama, berulang kali, dari semua orang dewasa di sekitar anak.

  • Satu aturan untuk semua pengasuh. Sepakati aturan “tidak memukul” dan kalimat yang dipakai bersama pasangan, kakek-nenek, pengasuh, dan guru.
  • Hindari hukuman fisik dan bentakan. Kebijakan AAP tahun 2018 menyatakan hukuman fisik, membentak, dan mempermalukan anak hanya sedikit efektif dalam jangka pendek dan tidak efektif dalam jangka panjang. Meta-analisis Gershoff dan Grogan-Kaylor (2016) terhadap data 160.927 anak menemukan pukulan pada anak (spanking) berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai dampak buruk.
  • Kendalikan emosi Anda sendiri. Bila Anda terlanjur membentak, AAP menyarankan rehat sejenak, lalu kembali, meminta maaf, dan menjelaskan apa yang akan Anda lakukan lain kali.
  • Catat polanya. Kapan, di mana, dengan siapa, dan apa yang terjadi sebelum anak memukul? Pola ini membantu mencegah situasi pemicu.
  • Gunakan time-out seperlunya. AAP menyebut time-out sebagai pilihan terakhir, bukan respons utama.

Baca juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Keinginannya Tidak Dituruti

Anak Suka Memukul Kepala Sendiri: Kapan Perlu Khawatir?

Memukul atau membenturkan kepala sendiri berbeda dengan memukul orang lain dan perlu dibahas terpisah. Menurut KidsHealth (Nemours), membenturkan kepala cukup umum pada anak kecil dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Perilaku ini sering menjadi cara anak menenangkan diri, menstimulasi diri, atau melepaskan frustrasi.

Yang bisa Anda lakukan:

  • Atasi penyebab kekesalannya, misalnya lelah atau frustrasi.
  • Lindungi anak dari cedera, singkirkan benda keras atau tajam di sekitarnya.
  • Jangan memarahi atau bereaksi berlebihan terhadap perilaku ini.

Periksakan anak ke dokter bila membenturkan atau memukul kepala sendiri terjadi sering, menimbulkan memar atau luka, atau disertai tanda keterlambatan perkembangan maupun interaksi sosial yang tidak biasa, seperti jarang menatap mata atau tidak menoleh saat dipanggil. Dokter dapat menilai apakah perlu evaluasi lanjutan, misalnya untuk gangguan perkembangan atau ciri-ciri autisme pada anak.

Tanda Bahaya: Kapan Perlu ke Dokter atau Psikolog Anak?

AAP menyarankan konsultasi ke dokter anak bila anak tampak sangat agresif selama lebih dari beberapa minggu dan Anda tidak sanggup menanganinya sendiri. Tanda lain yang perlu diperhatikan:

  • Anak melukai dirinya sendiri atau orang lain.
  • Anak menyerang orang tua atau orang dewasa lain.
  • Anak dipulangkan atau dilarang bermain oleh sekolah, PAUD, atau tetangga karena perilakunya.
  • Anda khawatir akan keselamatan orang lain di sekitar anak.
  • Agresi disertai keterlambatan bicara, kemunduran kemampuan, atau kesulitan berinteraksi.

Anda bisa mulai dari dokter anak, yang dapat merujuk ke dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang atau psikolog anak. Siapkan catatan pola perilaku dan video singkat bila memungkinkan; panduannya ada di artikel persiapan asesmen tumbuh kembang anak.

Baca juga: Gentle Parenting vs VOC Parenting: Mana yang Lebih Baik untuk Tumbuh Kembang Anak?

Baca juga: Anak Cemas Berlebihan: Tanda, Batasnya, dan Langkah Pertama

Baca juga: Anak Sulit Berteman: Patokan Sosial per Usia

Baca juga: Anak Suka Berbohong: Kenapa Terjadi dan Cara Meresponsnya

Baca juga: Anak Suka Mencuri: Memahami Alasannya dan Cara Meresponsnya

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Anak suka memukul temannya tanpa sebab, apa yang harus dilakukan?

Perilaku yang tampak “tanpa sebab” biasanya tetap punya pemicu, misalnya ingin mengajak bermain tetapi belum tahu caranya, lelah, atau terlalu banyak rangsangan. Hentikan pukulannya dengan tenang, pisahkan anak sebentar, lalu catat kapan dan di mana kejadiannya untuk menemukan pola. Ajarkan cara lain untuk mendekati teman, seperti menepuk bahu pelan atau berkata “ayo main”.

Anak suka memukul ibunya, apakah itu tanda tidak sayang?

Bukan. Memukul orang tua saat marah biasanya menunjukkan bahwa anak belum mampu mengelola emosinya, bukan ukuran rasa sayangnya. Tetap pegang batas dengan menahan tangannya dan berkata tenang, “Mama tidak akan membiarkan kamu memukul.” Setelah anak tenang, ajarkan cara lain untuk menunjukkan marah.

Usia berapa anak suka memukul masih tergolong wajar?

Agresi fisik umum terjadi pada balita. Penelitian Tremblay dan rekan (2004) menemukan sebagian besar anak sudah menunjukkan agresi fisik pada usia 17 bulan, dan kebanyakan belajar memakai cara lain sebelum usia sekolah dasar. Bila agresi tetap sering dan berat setelah usia prasekolah, atau sampai melukai, konsultasikan ke dokter anak atau psikolog anak.

Bolehkah anak dipukul balik agar tahu rasanya sakit?

Tidak dianjurkan. American Academy of Pediatrics menyatakan hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang dan berkaitan dengan risiko dampak buruk pada perilaku dan emosi anak. AAP juga mengingatkan bahwa anak cenderung meniru cara orang tua menghadapi marah, sehingga memukul balik justru memberi contoh yang ingin Anda hentikan.

Anak suka memukul dan melempar barang saat marah, apakah normal?

Pada balita, memukul dan melempar barang saat marah cukup sering terjadi karena kendali dirinya belum matang. Singkirkan barang yang dilempar, tetapkan batas dengan tenang, dan ajarkan cara aman menyalurkan marah. Bila perilaku ini sangat sering, melukai orang, atau tidak membaik dalam beberapa minggu meski sudah ditangani konsisten, konsultasikan ke dokter anak.

Apakah anak suka memukul kepala sendiri tanda autisme?

Tidak selalu. Membenturkan kepala cukup umum pada anak kecil dan sering menjadi cara menenangkan diri atau melepaskan frustrasi. Namun, bila sering terjadi, menimbulkan cedera, atau disertai keterlambatan perkembangan dan interaksi sosial yang tidak biasa, anak sebaiknya diperiksakan ke dokter.

Kesimpulan

Anak suka memukul umumnya adalah bagian dari proses belajar mengelola emosi, bukan tanda anak nakal atau orang tua gagal. Hentikan pukulan dengan tenang, lindungi semua pihak, namai perasaan anak, lalu ajarkan alternatif dan latih saat ia tenang. Hindari memukul balik dan membentak, dan pastikan semua pengasuh konsisten. Perhatikan secara khusus bila anak memukul kepala sendiri hingga cedera, atau bila agresi berlangsung lama dan disertai tanda keterlambatan perkembangan. Untuk gambaran perkembangan anak secara umum, baca juga panduan tumbuh kembang anak.

Bila Anda membutuhkan bantuan dokter tumbuh kembang atau psikolog anak, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami