,

Fisioterapi Anak: Kondisi yang Ditangani & Prosesnya

Ilustrasi kartu artikel KlinikPlus tentang fisioterapi anak: kondisi yang ditangani dan proses terapinya

Fisioterapi anak membantu si kecil bergerak, bermain, dan beraktivitas sesuai tahap perkembangannya, terutama bila ada hambatan pada kekuatan otot, keseimbangan, atau kemampuan motorik kasar. Bagi banyak orang tua, kata “fisioterapi” mungkin terdengar seperti layanan untuk orang dewasa yang cedera. Padahal, fisioterapis juga bekerja dengan bayi, balita, hingga remaja, dan sesinya pada anak umumnya dikemas dalam bentuk bermain.

Mungkin Anda sedang khawatir karena si kecil belum juga berjalan padahal teman sebayanya sudah berlari, kepalanya selalu miring ke satu sisi, atau dokter menyarankan “coba konsultasi ke fisioterapis”. Rasa cemas seperti itu wajar. Artikel ini membahas apa itu fisioterapi untuk anak, kondisi yang umum ditangani, tanda anak perlu dievaluasi berdasarkan tahapan perkembangan gerak, alur prosesnya, perbedaannya dengan terapi okupasi dan terapi wicara, cara mendukung latihan di rumah, serta cara memilih fisioterapis yang tepat.

Apa Itu Fisioterapi Anak?

Fisioterapi anak (sering juga disebut terapi fisik anak atau pediatric physical therapy) adalah layanan kesehatan yang berfokus pada gerak dan fungsi tubuh anak. Tujuannya antara lain mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan, kelenturan, keseimbangan, dan koordinasi, serta membantu anak menguasai keterampilan motorik kasar seperti duduk, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, dan melompat.

Di Indonesia, fisioterapis termasuk tenaga kesehatan. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan memasukkan fisioterapis ke dalam kelompok tenaga keterapian fisik, bersama terapis okupasional, terapis wicara, dan akupunktur. Undang-undang yang sama juga menyebut fisioterapi sebagai salah satu bentuk upaya kesehatan yang bersifat rehabilitatif, yaitu upaya untuk mengembalikan dan mengoptimalkan fungsi.

Pada anak, fisioterapis tidak hanya melatih otot. Ia juga mengamati bagaimana anak bergerak dibandingkan anak seusianya, memberi kegiatan perkembangan yang sesuai, melatih keseimbangan dan koordinasi, mengajarkan latihan untuk dilakukan di rumah, dan bekerja sama dengan dokter, guru, maupun terapis lain bila diperlukan.

Kondisi yang Umum Ditangani dengan Fisioterapi Anak

Fisioterapi dapat dianjurkan kapan pun ada masalah gerak yang membatasi aktivitas sehari-hari anak. Berikut beberapa kondisi yang paling sering membuat orang tua membawa anaknya ke fisioterapis. Perlu diingat, fisioterapi umumnya merupakan bagian dari penanganan yang lebih luas, dan diagnosis kondisi medisnya tetap ditegakkan oleh dokter.

1. Keterlambatan motorik kasar dan anak telat jalan

Ini salah satu alasan paling umum orang tua mencari fisioterapi anak telat jalan. Usia mulai berjalan sebenarnya sangat bervariasi. Studi perkembangan motorik WHO pada anak sehat di lima negara menemukan bahwa kemampuan berjalan sendiri dicapai dalam rentang yang lebar, sekitar usia 8 sampai 17,6 bulan. Meski begitu, bila anak belum berjalan sendiri sesuai tahapan yang dijelaskan di bagian berikutnya, atau tampak tertinggal di beberapa keterampilan gerak sekaligus, sebaiknya dievaluasi. Fisioterapis akan mencari tahu apa yang menghambat, misalnya kekuatan otot, keseimbangan, atau pola gerak, lalu melatih langkah demi langkah.

2. Hipotonia (tonus otot rendah)

Bayi dengan hipotonia terasa “lemas” saat digendong, kontrol kepalanya kurang, dan cenderung merosot saat diangkat dari ketiak. Hipotonia bisa berkaitan dengan banyak kondisi yang berbeda, mulai dari gangguan otak, saraf, hingga otot, sehingga penyebabnya perlu dicari oleh dokter. Fisioterapi dapat dianjurkan untuk membantu perkembangan gerak anak.

3. Cerebral palsy

Cerebral palsy (CP) memengaruhi gerak dan postur. Hingga kini belum ada obat yang menyembuhkan CP, tetapi identifikasi dan penanganan sejak dini dapat meningkatkan kualitas hidup anak. Fisioterapi menjadi salah satu layanan intervensi dini, biasanya berjalan bersama terapi okupasi dan terapi wicara dalam satu tim yang juga melibatkan orang tua.

4. Down syndrome

Anak dengan Down syndrome umumnya memiliki tonus otot rendah, ligamen yang lebih longgar, dan kekuatan otot yang lebih rendah. Akibatnya, mereka bisa mengembangkan cara bergerak “pengganti” yang kelak menimbulkan masalah, misalnya pola jalan yang kurang efisien atau nyeri kaki. Fisioterapi berfokus membangun pola gerak yang baik, postur yang tepat, dan pola jalan yang efisien, bukan sekadar mempercepat tercapainya tahapan.

5. Tortikolis pada bayi

Tortikolis muskular kongenital terjadi ketika salah satu otot leher bayi memendek, sehingga kepala cenderung miring ke satu sisi dan sulit menoleh ke sisi lainnya. Inilah salah satu alasan orang tua mencari fisioterapi bayi. Penanganannya biasanya berupa peregangan lembut, latihan penguatan, posisi tengkurap dengan pengawasan, dan edukasi orang tua. Sebuah tinjauan sistematis menekankan pentingnya deteksi dan fisioterapi sejak dini; salah satu studi di dalamnya menemukan perbaikan gerak leher yang lebih besar bila terapi dimulai sebelum bayi berusia enam bulan. Jangan melakukan peregangan sendiri tanpa diajari tenaga kesehatan.

6. Berjalan jinjit (toe walking)

Sekitar 1 dari 20 balita berjalan jinjit, dan pada anak yang perkembangannya normal, kebiasaan ini umumnya hilang dengan sendirinya pada usia sekitar 5 sampai 10 tahun. Evaluasi dianjurkan bila jinjit disertai nyeri, sering jatuh, hanya terjadi pada satu kaki, anak tidak bisa menapakkan tumit saat diminta, atau ada riwayat lahir prematur maupun keterlambatan bicara. Fisioterapis dapat memeriksa kelenturan otot betis dan memberi latihan peregangan serta aktivitas yang mendorong anak berjalan dengan telapak kaki rata.

7. Pemulihan setelah cedera, patah tulang, atau operasi

Anak yang aktif bisa mengalami cedera olahraga, patah tulang, atau cedera kepala. Setelah masa penyembuhan, fisioterapis membantu mengembalikan kekuatan, kelenturan, dan rentang gerak sendi, menilai kapan anak aman kembali berolahraga, serta mengajarkan cara mencegah cedera berulang.

8. Gangguan pernapasan

Fisioterapi juga dapat membantu masalah pernapasan. Pada kondisi seperti fibrosis kistik, misalnya, fisioterapis mengajarkan teknik pernapasan dan posisi tubuh yang membantu mengeluarkan dahak dari paru-paru. Jenis latihan dan kebutuhannya ditentukan bersama dokter yang merawat anak.

Tanda Anak Perlu Dievaluasi oleh Fisioterapis

Cara paling praktis untuk memantau perkembangan gerak adalah membandingkan kemampuan anak dengan tahapan perkembangan (milestone). Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyusun daftar tahapan yang sudah dapat dilakukan oleh kebanyakan anak, yaitu 75% anak atau lebih, pada usia tertentu. Berikut ringkasan tahapan gerak dari CDC:

Infografik dua kolom: tahapan gerak anak menurut CDC usia 4 bulan hingga 2 tahun dan tanda-tanda yang perlu dibicarakan dengan dokter
Tahapan gerak yang umumnya sudah dicapai anak dan tanda yang sebaiknya dikonsultasikan.
UsiaKemampuan gerak yang umumnya sudah bisa dilakukan
4 bulanMenahan kepala tetap tegak tanpa ditopang saat digendong; bertumpu pada siku atau lengan bawah saat tengkurap
6 bulanBerguling dari tengkurap ke telentang; mendorong badan dengan lengan lurus saat tengkurap; bertumpu pada tangan saat duduk
9 bulanDuduk tanpa disangga; bisa sampai ke posisi duduk sendiri
12 bulanMenarik badan hingga berdiri; berjalan sambil berpegangan pada perabot
18 bulanBerjalan sendiri tanpa berpegangan; naik dan turun sofa atau kursi tanpa bantuan
2 tahunMenendang bola; berlari; menaiki beberapa anak tangga dengan berjalan, dengan atau tanpa bantuan

Karena tahapan ini menggambarkan kemampuan kebanyakan anak, bukan rata-rata, anak yang belum mencapainya pada usia tersebut memang layak diperhatikan. Bicarakan dengan dokter anak Anda bila Anda melihat hal-hal berikut:

  • Anak belum mencapai satu atau lebih tahapan gerak sesuai usianya.
  • Anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.
  • Tubuh bayi terasa sangat lemas atau justru sangat kaku saat digendong.
  • Anak hanya memakai satu sisi tubuh, misalnya selalu meraih dengan satu tangan, atau kepalanya selalu miring ke satu arah.
  • Anak sering jatuh, tampak canggung, atau mudah lelah dibandingkan teman sebayanya.
  • Anak berjalan jinjit disertai nyeri, kekakuan, atau hanya pada satu kaki.
  • Anak mengeluh nyeri atau enggan bergerak setelah cedera.

Dokter dapat melakukan skrining perkembangan dan, bila perlu, merujuk anak ke dokter spesialis atau fisioterapis. Anda tidak perlu menunggu hingga yakin ada masalah. Bertanya lebih awal jauh lebih baik daripada “tunggu dan lihat” terlalu lama.

Proses Fisioterapi Anak: dari Asesmen hingga Program di Rumah

Setiap anak berbeda, tetapi alur fisioterapi anak umumnya mengikuti empat tahap berikut.

Infografik tahapan fisioterapi anak: asesmen awal, menyusun tujuan, sesi terapi berbasis bermain, program latihan di rumah, dan evaluasi berkala
Alur umum fisioterapi anak, dari asesmen hingga program latihan di rumah.

1. Asesmen awal

Fisioterapis akan menanyakan riwayat kehamilan dan kelahiran, riwayat kesehatan, perkembangan anak sejauh ini, dan hal yang paling Anda khawatirkan. Setelah itu, ia mengamati anak bergerak dan bermain, mengukur kekuatan dan kelenturan otot, menilai keseimbangan dan pola jalan, serta melakukan tes motorik untuk membandingkan kemampuan anak dengan anak seusianya. Bawalah catatan medis, surat rujukan, dan bila ada, video anak saat bergerak di rumah.

2. Menyusun tujuan terapi

Dari hasil asesmen, fisioterapis menentukan keterampilan apa yang sudah dikuasai dan keterampilan berikutnya yang menjadi sasaran, lalu memecahnya menjadi langkah-langkah kecil. Contoh tujuan yang konkret: “anak mampu duduk tanpa disangga selama satu menit sambil bermain” atau “anak mampu berjalan lima langkah tanpa berpegangan”. Tujuan sebaiknya disepakati bersama orang tua, termasuk perkiraan frekuensi dan jumlah sesi yang dibutuhkan.

3. Sesi terapi

Bagi anak, sesi fisioterapi sering terlihat seperti bermain. Fisioterapis dapat menggunakan bola terapi, papan keseimbangan, terowongan, tangga kecil, atau rintangan sederhana untuk melatih kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi. Bergantung pada kebutuhan anak, terapi juga bisa mencakup latihan peregangan, latihan berjalan, terapi di air, atau teknik lain yang sesuai. Orang tua biasanya diajak mengamati atau ikut serta agar tahu cara melanjutkannya di rumah.

4. Program latihan di rumah dan evaluasi berkala

Latihan di rumah adalah bagian penting dari fisioterapi, karena keterampilan gerak dikuasai lewat pengulangan yang konsisten. Fisioterapis akan memberi latihan sederhana yang bisa diselipkan dalam rutinitas harian. Kemajuan anak dievaluasi secara berkala, dan tujuan disesuaikan bila sudah tercapai atau bila ada hambatan baru.

Baca juga: Terapi Okupasi Adalah: Pengertian, Manfaat, dan Contoh Kegiatan untuk Anak

Beda Fisioterapi, Terapi Okupasi, dan Terapi Wicara

Ketiga terapi ini sering berjalan berdampingan di klinik tumbuh kembang, sehingga wajar bila orang tua bingung membedakannya. Secara sederhana, fisioterapi berfokus pada gerak otot besar, terapi okupasi pada keterampilan untuk aktivitas sehari-hari, dan terapi wicara pada komunikasi serta fungsi oral.

AspekFisioterapiTerapi okupasiTerapi wicara
Fokus utamaMotorik kasar: kekuatan, keseimbangan, koordinasi, rentang gerak sendiMotorik halus, pengolahan sensorik, kemandirian dan aktivitas sehari-hariBahasa, bicara, komunikasi, serta fungsi makan dan menelan
Contoh sasaranDuduk, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, naik tanggaMenggenggam, memegang sendok, berpakaian, menulis, mengelola respons terhadap sensasiMemahami instruksi, menambah kosakata, mengucapkan kata dengan jelas
Contoh kondisiTelat jalan, hipotonia, tortikolis, berjalan jinjit, pemulihan cederaKesulitan motorik halus, masalah sensori, kesulitan perawatan diriKeterlambatan bicara, gangguan artikulasi, kesulitan menelan
Contoh kegiatan sesiBermain bola terapi, papan keseimbangan, rintangan, latihan berjalanMeronce, menempel, permainan sensori, latihan memakai bajuBermain peran, kartu gambar, latihan gerak mulut

Banyak anak membutuhkan lebih dari satu jenis terapi. Anak dengan cerebral palsy atau Down syndrome, misalnya, sering mendapat fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara sekaligus. Bila anak Anda juga terlambat bicara, artikel tentang speech delay dapat membantu Anda memahami tandanya.

Cara Orang Tua Mendukung Fisioterapi untuk Anak di Rumah

Sesi di klinik mungkin hanya satu atau dua jam per minggu, sedangkan anak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Karena itu, peran orang tua sangat menentukan. Beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

  • Lakukan latihan rumah secara rutin. Ikuti program dari fisioterapis dan selipkan dalam kegiatan harian, misalnya latihan berdiri saat memakai baju atau naik tangga saat pulang ke rumah.
  • Jadikan latihan sebagai permainan. Anak lebih semangat bila latihan dikemas sebagai lomba, petualangan, atau permainan bersama saudara.
  • Beri kesempatan bergerak bebas. Sediakan waktu bermain di lantai yang aman dan, untuk bayi, waktu tengkurap dengan pengawasan. Batasi waktu bayi di kursi mobil, kursi goyang, atau stroller hanya untuk saat memang dibutuhkan.
  • Jangan memaksa. Bila anak menangis kesakitan atau sangat menolak, hentikan dan tanyakan kepada fisioterapis. Peregangan, terutama pada bayi, harus dilakukan dengan lembut sesuai cara yang diajarkan.
  • Catat kemajuan. Rekam video singkat atau buat catatan sederhana tentang kemampuan baru, kesulitan, dan pertanyaan, lalu bawa saat sesi berikutnya.
  • Libatkan seluruh pengasuh. Ajak pasangan, kakek-nenek, atau pengasuh mempelajari cara menggendong, memposisikan, dan melatih anak dengan cara yang sama.

Cara Memilih Fisioterapis untuk Anak

Memilih fisioterapis yang tepat membantu terapi berjalan aman dan efektif. Berikut hal-hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Pastikan ia fisioterapis berizin. Menurut UU Nomor 17 Tahun 2023, setiap tenaga kesehatan yang akan menjalankan praktik wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR), dan STR kini berlaku seumur hidup. Undang-undang yang sama mewajibkan jenis tenaga kesehatan tertentu memiliki Surat Izin Praktik (SIP), yang diterbitkan pemerintah daerah kabupaten/kota tempat ia berpraktik, berlaku lima tahun, dan hanya berlaku untuk tempat praktik yang tercantum. Anda berhak menanyakan STR dan SIP fisioterapis yang menangani anak Anda.
  • Tanyakan pengalaman dengan anak. Fisioterapis yang terbiasa menangani bayi dan anak lebih memahami tahapan perkembangan dan cara membuat anak nyaman.
  • Perhatikan cara asesmen. Fisioterapis yang baik melakukan asesmen menyeluruh sebelum terapi, menjelaskan hasilnya dengan bahasa yang mudah dipahami, dan menyusun tujuan bersama Anda.
  • Waspadai janji yang berlebihan. Berhati-hatilah terhadap klaim “pasti bisa jalan dalam sekian sesi” atau “sembuh total”. Kemajuan setiap anak berbeda.
  • Pastikan ada program rumah dan laporan kemajuan. Tanyakan apakah Anda akan mendapat latihan rumah dan evaluasi berkala secara tertulis.
  • Mulai dari rujukan dokter. Dokter anak dapat membantu menentukan apakah fisioterapi dibutuhkan dan jenis layanan apa yang sesuai.

Baca juga: Tumbuh Kembang Anak: Pengertian dan Tahapan Perkembangan 0–6 Tahun

Baca juga: Motorik Halus dan Motorik Kasar: Perbedaan, Tahapan Usia, dan Stimulasinya

Baca juga: Cerebral Palsy pada Anak: Jenis, Tanda Awal, dan Penyebabnya

Baca juga: Stimulasi Motorik Kasar: Kegiatan yang Bisa Dilakukan per Usia

Baca juga: Bayi Belum Bisa Duduk: Patokan Usia dan Kapan Perlu Diperiksa

Baca juga: Terapi Okupasi, Fisioterapi, dan Sensori Integrasi: Bedanya

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mulai usia berapa anak bisa menjalani fisioterapi?

Fisioterapi dapat diberikan sejak bayi baru lahir hingga remaja, sesuai kebutuhan. Pada beberapa kondisi, seperti tortikolis pada bayi, penanganan yang dimulai lebih awal cenderung memberi hasil yang lebih baik, sehingga orang tua sebaiknya tidak menunda konsultasi bila melihat tanda yang mengkhawatirkan.

Anak saya 15 bulan belum bisa jalan, apakah perlu fisioterapi anak telat jalan?

Belum tentu. Berdasarkan studi WHO, anak sehat mulai berjalan sendiri dalam rentang usia yang lebar, sekitar 8 sampai 17,6 bulan, dan menurut CDC kebanyakan anak sudah berjalan sendiri pada usia 18 bulan. Meski demikian, bicarakan dengan dokter anak bila anak juga tertinggal di keterampilan gerak lain, tubuhnya terasa sangat lemas atau kaku, atau Anda merasa khawatir. Dokter dapat menilai apakah perlu dirujuk ke fisioterapis.

Apa beda fisioterapi bayi dan pijat bayi?

Pijat bayi adalah perawatan untuk kenyamanan dan kedekatan orang tua dengan bayi. Fisioterapi bayi adalah layanan kesehatan oleh fisioterapis yang diawali asesmen, memiliki tujuan terapi yang jelas, dan ditujukan untuk masalah gerak tertentu, seperti tortikolis atau keterlambatan motorik. Bila bayi memiliki masalah gerak, konsultasikan ke dokter atau fisioterapis, bukan hanya mengandalkan pijat.

Berapa lama anak perlu menjalani terapi fisik?

Lamanya terapi fisik anak berbeda-beda, bergantung pada kondisi, usia, tujuan terapi, dan konsistensi latihan di rumah. Fisioterapis biasanya memperkirakan jumlah sesi setelah asesmen awal, lalu mengevaluasi kemajuan secara berkala untuk menentukan apakah terapi perlu dilanjutkan, diubah, atau dihentikan.

Apakah fisioterapi bisa menyembuhkan cerebral palsy atau Down syndrome?

Tidak. Cerebral palsy dan Down syndrome adalah kondisi yang menetap. Fisioterapi tidak menyembuhkan kondisi tersebut, tetapi membantu anak membangun kekuatan, keseimbangan, dan pola gerak yang lebih baik sehingga ia bisa lebih mandiri dan berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari.

Bagaimana cara memastikan fisioterapis anak memiliki izin resmi?

Tanyakan langsung Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) fisioterapis tersebut. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, tenaga kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki STR, dan SIP diterbitkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai tempat praktiknya. Fasilitas kesehatan yang baik tidak akan keberatan menunjukkannya.

Baca juga: Anak Belum Bisa Jalan: Rentang Usia Normal dan Kapan Perlu Diperiksa

Kesimpulan

Fisioterapi anak membantu si kecil mengembangkan kemampuan gerak, mulai dari menahan kepala, duduk, hingga berjalan dan berlari, serta mendukung pemulihan setelah cedera atau pada kondisi pernapasan tertentu. Kondisi yang sering ditangani antara lain keterlambatan motorik kasar dan telat jalan, hipotonia, cerebral palsy, Down syndrome, tortikolis, dan berjalan jinjit. Pantau tahapan gerak anak, dan bicarakan dengan dokter bila anak belum mencapai satu atau lebih tahapan, kehilangan kemampuan, atau Anda merasa khawatir.

Prosesnya dimulai dari asesmen, dilanjutkan dengan tujuan yang disepakati, sesi berbasis bermain, dan latihan di rumah. Peran orang tua sangat besar dalam keberhasilannya. Pilihlah fisioterapis yang memiliki STR dan SIP, berpengalaman menangani anak, serta terbuka menjelaskan rencana dan kemajuan terapi.

Bila Anda sedang mencari layanan fisioterapi anak, terapi okupasi, atau terapi wicara, Anda dapat menemukan klinik terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.

Referensi


Chat dengan kami