Anak 2 tahun belum bisa bicara adalah keluhan yang sering membawa orang tua ke dokter anak, dan memang layak diperhatikan. Sebagian anak hanya terlambat mulai bicara (late talker) lalu menyusul, sedangkan sebagian lain menunjukkan tanda awal masalah yang lebih luas. Kabar baiknya, usia 2 tahun adalah saat yang tepat untuk memeriksa, karena kemampuan bicara dan bahasa sedang berkembang sangat pesat.
Artikel ini khusus membahas usia sekitar 24 bulan: apa yang umumnya sudah bisa dilakukan anak, beda late talker dengan keterlambatan yang lebih luas, tanda yang perlu segera diperiksakan, langkah pertama yang bisa Anda ambil, serta contoh stimulasi bicara anak 2 tahun yang bisa dipraktikkan di rumah. Untuk penjelasan umum tentang keterlambatan bicara di semua usia, baca dulu artikel speech delay adalah: tanda, penyebab, dan penanganannya.
Apa yang Umumnya Sudah Bisa Dilakukan Anak Usia 2 Tahun?
Saat menilai anak umur 2 tahun belum bisa ngomong, jangan hanya menghitung jumlah kata. Kemampuan bicara berdiri di atas tiga hal lain: memahami (bahasa reseptif), menggunakan isyarat seperti menunjuk, dan keinginan berinteraksi. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyusun daftar tonggak perkembangan berdasarkan kemampuan yang sudah dikuasai sebagian besar anak (75% atau lebih) pada usia tertentu.
Pada usia 2 tahun (24 bulan)
- Menunjuk gambar di buku saat ditanya, misalnya “Mana beruangnya?”
- Mengucapkan setidaknya dua kata bersamaan, seperti “mau susu” atau “mama pergi”.
- Menunjuk minimal dua bagian tubuh saat diminta.
- Menggunakan isyarat selain melambai dan menunjuk, misalnya memberi kiss bye atau mengangguk untuk “iya”.
- Memperhatikan wajah Anda untuk melihat cara bereaksi dalam situasi baru, dan memperhatikan bila ada orang yang sedih atau menangis.
Menjelang 30 bulan (2,5 tahun)
- Mengucapkan sekitar 50 kata.
- Menggabungkan dua kata atau lebih dengan satu kata kerja, misalnya “kucing lari”.
- Menyebut nama benda di buku saat Anda menunjuk dan bertanya “Ini apa?”
- Memakai kata seperti “aku” atau “kita”, serta mengikuti instruksi dua langkah, misalnya “Taruh mainannya, lalu tutup pintunya.”
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggambarkan usia 18–24 bulan sebagai masa “ledakan bahasa”: kosakata bertambah cepat, anak mulai merangkai dua kata, dan sekitar separuh ucapannya sudah bisa dipahami orang lain. Jadi, anak 2 tahun belum lancar bicara dan pengucapannya belum sempurna masih wajar. Yang perlu diwaspadai adalah bila anak belum memahami, belum memakai isyarat, atau belum merangkai kata sama sekali.
Late Talker atau Keterlambatan yang Lebih Luas?
Late talker adalah sebutan untuk balita yang kemampuan bicaranya (ekspresif) tertinggal, sementara pemahaman, kemampuan bermain, motorik, dan interaksi sosialnya tampak sesuai usia. Patokan yang banyak dipakai dalam penelitian berasal dari Rescorla (1989): pada usia 2 tahun, anak mengucapkan kurang dari 50 kata atau belum menggabungkan kata.
Seberapa sering terjadi?
Studi epidemiologi Zubrick dan rekan (2007) terhadap 1.766 anak usia 24 bulan di Australia menemukan 13,4% anak mengalami late language emergence (kemunculan bahasa yang terlambat, dinilai dari kemampuan memahami dan berbicara), dan 19,1% belum menggabungkan kata. Faktor yang bermakna adalah riwayat keluarga dengan keterlambatan bicara, jenis kelamin laki-laki, dan faktor pertumbuhan neurobiologis awal. Menariknya, risiko ini tidak berkaitan dengan tingkat pendidikan orang tua, kondisi ekonomi, kesehatan mental orang tua, atau gaya pengasuhan. Artinya, anak telat bicara bukan otomatis tanda orang tua “kurang mengajak bicara”, meskipun stimulasi tetap sangat membantu.
Apakah late talker pasti menyusul?
Banyak yang menyusul, tetapi tidak semuanya, dan “menyusul” pun perlu dipahami dengan cermat. Penelitian lanjutan Rescorla terhadap late talker yang pemahaman bahasanya normal menunjukkan sebagian besar sudah berada dalam rentang rata-rata pada sebagian besar tes bahasa di usia 5 tahun. Namun, sebagai kelompok, nilai bahasa mereka tetap sedikit di bawah teman sebaya hingga usia 9 tahun (Rescorla, 2002), bahkan hingga usia 17 tahun pada aspek kosakata dan tata bahasa (Rescorla, 2009).
Materi edukasi yang didukung American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menyebut dua tanda yang membuat anak lebih mungkin menyusul: pemahamannya baik (bisa mengikuti instruksi sederhana dan menunjuk benda yang disebut) dan banyak memakai isyarat. Meski begitu, sumber yang sama menegaskan orang tua tidak perlu “tunggu dan lihat” dulu sebelum meminta pendapat terapis wicara.
Sebaliknya, keterlambatan yang lebih luas patut dicurigai bila yang tertinggal bukan hanya kata-kata, tetapi juga pemahaman, isyarat, kemampuan bermain, motorik, atau interaksi sosial.
Tanda yang Perlu Segera Diperiksakan
Anak belum bisa bicara di usia 2 tahun sudah cukup menjadi alasan untuk berkonsultasi. IDAI menyebut tidak adanya kalimat dua kata yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan sebagai tanda waspada. Jangan menunda pemeriksaan bila disertai salah satu tanda berikut:
- Tidak memahami instruksi sederhana, misalnya “ambil sepatu” atau “kasih ke Papa”, tanpa dibantu isyarat tangan.
- Tidak menunjuk atau memakai isyarat: tidak menunjuk untuk meminta atau menunjukkan sesuatu, tidak melambai, tidak mengangguk atau menggeleng.
- Jarang melakukan kontak mata atau tidak menoleh saat dipanggil namanya, padahal pendengarannya tampak baik.
- Kemunduran (regresi): kata-kata atau kemampuan sosial yang sebelumnya sudah ada menghilang. Tanda ini perlu diperiksakan segera, tanpa menunggu.
- Ada kecurigaan gangguan pendengaran: tidak bereaksi pada suara, lebih responsif bila melihat wajah Anda, atau sering mengalami infeksi telinga.
- Lebih sering membawa tangan orang tua ke benda yang diinginkan daripada menunjuk atau bersuara, atau bermain dengan cara yang sama berulang-ulang dan sulit dialihkan.
- Kemampuan lain juga tertinggal, misalnya belum berjalan dengan stabil atau belum tertarik bermain pura-pura sederhana.
Baca juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Keinginannya Tidak Dituruti. Anak yang belum bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata sering lebih mudah frustrasi dan tantrum.
Tabel: Umur 2 Tahun, Wajar vs Perlu Dievaluasi
Tabel berikut membantu Anda membaca kondisi anak secara lebih utuh. Ini panduan untuk berdiskusi dengan dokter, bukan alat diagnosis.

| Aspek | Umumnya wajar di usia 2 tahun | Perlu dikonsultasikan | Perlu dievaluasi segera |
|---|---|---|---|
| Jumlah kata | Kosakata bertambah dari bulan ke bulan; menuju sekitar 50 kata di 30 bulan | Kurang dari 50 kata, atau kosakata tidak bertambah selama beberapa bulan | Belum ada kata bermakna sama sekali |
| Merangkai kata | Mulai menggabungkan dua kata (“mau susu”, “bola jatuh”) | Masih satu kata, belum ada gabungan dua kata | Hanya menirukan, tidak pernah memakai kata untuk meminta atau berbagi |
| Pemahaman | Menunjuk gambar dan bagian tubuh saat diminta; mengikuti instruksi satu langkah | Paham sebagian, sering perlu dibantu isyarat | Tidak memahami instruksi sederhana atau nama benda sehari-hari |
| Isyarat | Menunjuk, melambai, mengangguk, memberi kiss bye | Isyarat sedikit dan jarang dipakai | Tidak menunjuk sama sekali; lebih sering menarik tangan orang tua |
| Interaksi | Menoleh saat dipanggil, menatap wajah, menunjukkan barang ke Anda | Kadang tidak merespons saat asyik bermain | Jarang kontak mata dan hampir tidak pernah menoleh saat dipanggil |
| Kejelasan bicara | Sekitar separuh ucapannya dipahami orang lain; pelafalan belum sempurna | Hanya keluarga inti yang memahami sebagian kecil ucapannya | Tidak ada ucapan yang bisa dikenali |
| Riwayat | Kemampuan terus bertambah | Ada riwayat keluarga terlambat bicara, prematur, atau sering infeksi telinga | Kemampuan bicara atau sosial yang sudah ada menghilang |
Disusun dari tonggak perkembangan CDC (2 tahun dan 30 bulan), IDAI, dan materi edukasi ASHA. Bila anak masuk kolom “Perlu dikonsultasikan”, jadwalkan pemeriksaan; kolom “Perlu dievaluasi segera” sebaiknya tidak ditunda.
Kemungkinan Penyebab Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara
Penyebabnya hanya bisa dipastikan lewat pemeriksaan, dan sering kali lebih dari satu faktor berperan. Secara singkat:
- Gangguan pendengaran. Anak belajar bicara dengan mendengar. Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), tes pendengaran sering menjadi bagian dari evaluasi karena masalah pendengaran dapat memengaruhi perkembangan bicara dan bahasa.
- Keterlambatan perkembangan umum. Bicara bisa menjadi bagian dari keterlambatan di beberapa area sekaligus, seperti motorik dan kognitif.
- Gangguan spektrum autisme. Pada autisme, yang menonjol adalah kesulitan komunikasi sosial: jarang menunjuk untuk berbagi, jarang kontak mata, kurang merespons panggilan.
- Kurangnya interaksi dua arah. Anak butuh diajak bicara, ditanggapi, dan dibacakan buku. IDAI menekankan pentingnya stimulasi sejak bayi, meskipun penelitian Zubrick menunjukkan banyak late talker berasal dari keluarga dengan pengasuhan yang baik.
- Screen time berlebihan. Meta-analisis di JAMA Pediatrics (Madigan dkk., 2020) menemukan penggunaan layar yang lebih lama berhubungan dengan kemampuan bahasa yang lebih rendah. Hubungan ini belum membuktikan bahwa layar saja menjadi penyebab, tetapi waktu di depan layar jelas mengurangi waktu bercakap langsung dengan orang tua.
Penyebab lain seperti kelainan struktur mulut dan apraksia bicara dibahas lebih lengkap di artikel speech delay adalah.
Langkah Pertama: Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?
- Cek Buku KIA. Buku Kesehatan Ibu dan Anak dari Kementerian Kesehatan memuat ceklis perkembangan anak sesuai usia. Kemenkes menganjurkan orang tua segera memberi tahu kader Posyandu bila ada isian yang dijawab “Tidak”, agar anak dapat segera ditangani tenaga kesehatan di Puskesmas. Di Puskesmas, tenaga kesehatan dapat melakukan skrining perkembangan dengan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).
- Konsultasi ke dokter anak. Ceritakan apa saja yang sudah dan belum bisa dilakukan anak. American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan skrining perkembangan rutin pada usia 9, 18, dan 30 bulan, serta skrining autisme khusus pada usia 18 dan 24 bulan. Bila anak Anda belum pernah diskrining, usia 2 tahun adalah waktu yang tepat untuk memintanya.
- Tes pendengaran. Mintalah tes pendengaran walaupun anak tampak bisa mendengar, karena gangguan pendengaran tidak selalu mudah dikenali di rumah. Dokter dapat merujuk ke dokter THT.
- Asesmen terapis wicara dan tim tumbuh kembang. Bila diperlukan, dokter akan merujuk ke dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, psikolog, atau terapis wicara. Agar kunjungan lebih efektif, siapkan catatan dan video singkat anak saat berkomunikasi di rumah; panduannya ada di artikel persiapan asesmen tumbuh kembang anak.
Mulailah stimulasi di rumah sejak hari ini, bersamaan dengan pemeriksaan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan.
Stimulasi Bicara Anak 2 Tahun di Rumah, Lengkap dengan Contoh Kalimat
Stimulasi paling efektif bukan sesi “les bicara”, melainkan percakapan kecil yang diulang sepanjang hari: saat mandi, makan, berpakaian, dan bermain. Sesuaikan contoh kalimat berikut dengan bahasa yang dipakai di rumah.

1. Perluas ucapan anak (expansion)
Ulangi kata anak, lalu tambahkan satu atau dua kata. CDC mencontohkan: bila anak berkata “nana” untuk meminta pisang, tanggapi dengan kalimat utuh. Contohnya:
- Anak: “Bola.” Anda: “Iya, bola merah. Bolanya menggelinding!”
- Anak: “Cucu.” Anda: “Mau susu. Adik mau susu.”
2. Ceritakan apa yang Anda lakukan (self-talk)
Gunakan kalimat pendek dan ulangi kata kuncinya. “Mama potong pisang. Potong, potong. Pisangnya kuning.” atau “Papa buka pintu. Buka!”
3. Ceritakan apa yang anak lakukan (parallel talk)
“Adik dorong mobil. Brum, brum! Mobilnya jalan.” Anak mendengar kata yang tepat untuk hal yang sedang ia perhatikan, tanpa merasa ditanya-tanya.
4. Beri pilihan dan beri jeda
“Mau apel atau pisang?” sambil menunjukkan keduanya, lalu tunggu beberapa detik. Bila anak menunjuk atau bersuara, tanggapi dan beri contoh katanya: “Pisang. Ini pisangnya.” Pilihan memberi anak kesempatan menyampaikan keinginannya.
5. Membaca buku bersama setiap hari
Pilih buku bergambar besar tentang hal yang akrab: hewan, makanan, kendaraan. Anda tidak perlu membaca setiap kata. Tunjuk gambar, sebut namanya, lalu ajak anak ikut menunjuk: “Mana kucing? Iya, itu kucing. Kucing bilang meong.” CDC menyarankan membacakan satu atau dua buku sebagai bagian dari rutinitas tidur.
6. Bernyanyi dan bermain dengan gerakan
Lagu dengan gerakan tangan (seperti “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki”) dan permainan cilukba melatih perhatian bersama, isyarat, dan giliran. Berhentilah sejenak sebelum kata terakhir lagu agar anak punya kesempatan melengkapinya.
7. Kurangi layar, ganti dengan interaksi
Pedoman WHO (2019) menyatakan anak usia 2 tahun sebaiknya tidak menghabiskan lebih dari 1 jam sehari di depan layar secara pasif, dan makin sedikit makin baik; untuk anak usia 1 tahun, screen time pasif tidak dianjurkan. WHO justru mendorong kegiatan membaca dan bercerita bersama pengasuh. CDC menambahkan, bila anak menonton, pilih tayangan anak dan dampingi ia. Matikan TV yang menyala sebagai “latar belakang” saat bermain bersama.
Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan
| Hindari | Coba lakukan |
|---|---|
| Memaksa anak mengulang: “Ayo bilang ‘bola’! Bilang dulu, baru Mama kasih.” | Beri contoh tanpa menuntut: “Bola. Ini bolanya.” Lalu berikan bolanya. |
| Memarahi, menertawakan, atau mengoreksi ucapan yang belum sempurna: “Bukan ‘cucu’, salah!” | Ulangi dengan pelafalan yang benar dan nada hangat: “Iya, susu.” |
| Membandingkan: “Sepupumu sudah bisa nyanyi, kamu kok belum ngomong?” | Pujilah setiap usaha berkomunikasi, termasuk menunjuk dan bersuara. |
| Selalu memenuhi kebutuhan anak sebelum ia sempat memberi tanda apa pun | Beri kesempatan anak meminta dengan menunjuk, bersuara, atau kata, lalu segera tanggapi. |
| Menunggu terlalu lama dengan alasan “nanti juga bisa sendiri” | Periksakan sekarang. Bila ternyata anak hanya late talker, Anda tetap mendapat panduan stimulasi yang tepat. |
Sikap “nanti juga bisa bicara” adalah salah satu alasan bantuan datang terlambat, sebagaimana dicatat dalam materi edukasi IDAI. Evaluasi dini tidak merugikan anak, sedangkan menunda bisa membuat kesempatan terbaik untuk intervensi terlewat.
Baca juga: Terapi Speech Delay: Jenis, Proses, dan Berapa Lama
Baca juga: Perbedaan Speech Delay dan Autisme: Cara Membedakan Tandanya pada Anak
Baca juga: Screen Time Anak per Usia: Batas Aman, Dampak, dan Cara Mengurangi Kecanduan Gadget
Baca juga: Perkembangan Anak 2 Tahun: Milestone 24–35 Bulan yang Perlu Dipantau
Baca juga: Kapan Bayi Mulai Bicara: Tahapan Bunyi di Tahun Pertama
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Anak 2 tahun belum bisa bicara, apakah pasti autis?
Tidak. Keterlambatan bicara memiliki banyak kemungkinan penyebab, termasuk late talker, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan umum. Autisme lebih patut dicurigai bila keterlambatan bicara disertai kesulitan komunikasi sosial, seperti jarang menunjuk untuk berbagi, jarang kontak mata, dan tidak menoleh saat dipanggil. Hanya dokter yang dapat menegakkan diagnosis setelah evaluasi.
Berapa jumlah kata yang normal untuk anak 2 tahun?
Tidak ada satu angka pasti karena variasinya besar. Sebagai patokan, CDC menyebut sebagian besar anak sudah mengucapkan sekitar 50 kata di usia 30 bulan. Dalam penelitian, anak 2 tahun dengan kurang dari 50 kata atau belum menggabungkan kata dikategorikan late talker (Rescorla, 1989). Yang tak kalah penting adalah apakah anak memahami, memakai isyarat, dan kosakatanya terus bertambah.
Anak laki-laki memang lebih lambat bicara, jadi boleh ditunggu?
Penelitian Zubrick dkk. (2007) memang menemukan anak laki-laki lebih berisiko mengalami keterlambatan munculnya bahasa. Namun, batas waspada berlaku sama untuk anak laki-laki dan perempuan, jadi jenis kelamin bukan alasan menunda pemeriksaan.
Apakah anak 2 tahun yang paham semua perintah tapi belum bicara perlu terapi?
Pemahaman yang baik adalah tanda positif, dan anak seperti ini lebih mungkin menyusul. Meski demikian, tetap periksakan pendengarannya dan konsultasikan ke dokter anak atau terapis wicara. Profesional akan menilai apakah cukup dengan stimulasi terarah di rumah dan pemantauan berkala, atau perlu terapi wicara.
Apakah menonton video edukasi bisa membantu anak cepat bicara?
Anak usia 2 tahun belajar bahasa terutama dari percakapan langsung yang saling berbalas. WHO membatasi screen time pasif anak 2 tahun maksimal 1 jam per hari. Bila anak menonton, dampingi dan bicarakan isi tontonannya, tetapi jangan menjadikan video sebagai pengganti interaksi.
Ke mana harus memeriksakan anak 2 tahun yang belum bisa bicara?
Mulailah dari Posyandu atau Puskesmas untuk skrining perkembangan, atau langsung ke dokter anak. Bila diperlukan, dokter akan merujuk untuk tes pendengaran ke dokter THT, ke dokter tumbuh kembang, atau ke terapis wicara. Anda juga bisa langsung mendatangi klinik tumbuh kembang yang memiliki dokter dan terapis.
Kesimpulan
Anak 2 tahun belum bisa bicara tidak selalu berarti ada masalah serius, tetapi juga bukan hal yang sebaiknya ditunggu. Perhatikan gambaran utuhnya: apakah anak memahami, menunjuk, menoleh saat dipanggil, dan terus bertambah kemampuannya. Lakukan tes pendengaran, konsultasikan ke dokter anak, dan mulai stimulasi di rumah hari ini. Untuk memahami gambaran perkembangan anak secara lebih luas, baca juga panduan tumbuh kembang anak dan penjelasan tentang anak berkebutuhan khusus (ABK).
Bila Anda membutuhkan evaluasi tumbuh kembang atau terapi wicara, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Important Milestones: Your Child By Two Years. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/2-years.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Important Milestones: Your Child By 30 Months. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/30-months.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Developmental Monitoring and Screening. https://www.cdc.gov/act-early/about/developmental-monitoring-and-screening.html
- Zubrick SR, Taylor CL, Rice ML, Slegers DW. Late Language Emergence at 24 Months: An Epidemiological Study of Prevalence, Predictors, and Covariates. J Speech Lang Hear Res. 2007;50(6):1562–1592. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18055773/
- Rescorla L. The Language Development Survey: A Screening Tool for Delayed Language in Toddlers. J Speech Hear Disord. 1989;54(4):587–599. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2811339/
- Rescorla L. Language and Reading Outcomes to Age 9 in Late-Talking Toddlers. J Speech Lang Hear Res. 2002;45(2):360–371. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12003517/
- Rescorla L. Age 17 Language and Reading Outcomes in Late-Talking Toddlers: Support for a Dimensional Perspective on Language Delay. J Speech Lang Hear Res. 2009;52(1):16–30. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18723598/
- Communication Health Support Association (didukung ASHA). Late Talker or Language Problem. https://helpingyoucommunicate.org/article/late-talker-or-language-problem
- Communication Health Support Association (didukung ASHA). Tips for Your Child’s Speech and Language Development. https://helpingyoucommunicate.org/article/tips-for-your-childs-speech-and-language-development
- National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD). Speech and Language Developmental Milestones. https://www.nidcd.nih.gov/health/speech-and-language
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Soebadi A. Keterlambatan Bicara (2013). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/keterlambatan-bicara
- Madigan S, McArthur BA, Anhorn C, Eirich R, Christakis DA. Associations Between Screen Use and Child Language Skills: A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2020;174(7):665–675. https://jamanetwork.com/journals/jamapediatrics/article-abstract/2762864
- World Health Organization. Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age (2019). https://www.who.int/publications/i/item/9789241550536
- Kementerian Kesehatan RI (Ayo Sehat). Astuti D. Rahasia Anak Sehat dan Cerdas, Lakukan Stimulasi Tumbuh Kembang! Dengan Buku KIA (2025). https://ayosehat.kemkes.go.id/rahasia-anak-sehat-dan-cerdas-lakukan-stimulasi-tumbuh-kembang-dengan-buku-kia



