ABK adalah singkatan dari anak berkebutuhan khusus, yaitu anak yang memiliki hambatan atau kelebihan tertentu sehingga membutuhkan dukungan yang berbeda dari anak seusianya untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal. Istilah ini mencakup banyak kondisi, mulai dari autisme, ADHD, keterlambatan bicara, disabilitas penglihatan atau pendengaran, hingga anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa.
Mungkin Anda mendengar istilah ini pertama kali dari guru PAUD, dokter anak, atau keluarga yang menyarankan agar si kecil “diperiksakan”. Wajar bila muncul rasa cemas, bingung, bahkan sedih. Artikel ini membantu Anda memahami pengertian anak berkebutuhan khusus menurut sumber resmi di Indonesia, jenis-jenisnya, ciri awal yang perlu diperhatikan, siapa yang berwenang menegakkan diagnosis, pilihan terapi dan sekolah, serta peran orang tua, termasuk cara menjaga diri Anda sendiri.
ABK Adalah: Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), dalam panduan penanganan ABK bagi pendamping yang diterbitkan pada 2013, menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami keterbatasan atau keluarbiasaan, baik fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional, yang berpengaruh secara signifikan terhadap proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan anak lain yang seusia. Definisi ini juga dikutip dalam artikel edukasi Kementerian Kesehatan.
Ada dua hal penting dari definisi tersebut:
- “Keterbatasan atau keluarbiasaan”. ABK tidak selalu berarti anak dengan hambatan. Anak dengan potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa juga termasuk, karena mereka pun membutuhkan layanan yang sesuai agar potensinya berkembang.
- “Dibandingkan anak seusianya”. Yang dinilai adalah dampaknya pada perkembangan sehari-hari, bukan sekadar label. Setiap anak tetap unik dan punya kekuatan masing-masing.
Dalam bidang pendidikan, UU Sistem Pendidikan Nasional (UU 20/2003) Pasal 32 menyebut pendidikan khusus sebagai pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan mengikuti pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Sementara itu, UU Penyandang Disabilitas (UU 8/2016) membagi ragam disabilitas menjadi empat: fisik, intelektual, mental, dan sensorik, yang dapat dialami secara tunggal maupun ganda.
Istilah yang lebih ramah
Dulu, istilah seperti “tunanetra”, “tunarungu”, atau “tunagrahita” lazim dipakai, dan sebagian masih tercantum dalam peraturan pendidikan. Kini istilah seperti “disabilitas netra” atau “disabilitas rungu” lebih banyak digunakan, seperti dalam UU 8/2016. Biasakan juga menyebut “anak dengan autisme” atau “anak dengan disabilitas intelektual”, bukan “anak autis” atau “anak cacat”. Cara ini menegaskan bahwa ia adalah anak terlebih dahulu, sedangkan kondisinya hanyalah salah satu bagian dari dirinya.
Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Artikel edukasi Kementerian Kesehatan yang merujuk panduan Kemen PPPA menyebut 12 kelompok ABK. Berikut penjelasan singkatnya, dengan bahasa sederhana.

- Anak dengan disabilitas penglihatan. Anak dengan penglihatan yang sangat terbatas (low vision) atau tidak melihat sama sekali.
- Anak dengan disabilitas pendengaran. Anak dengan pendengaran yang berkurang sebagian atau seluruhnya; perkembangan bicara dan bahasanya bisa ikut terdampak.
- Anak dengan disabilitas intelektual. Anak dengan kemampuan berpikir dan belajar di bawah rata-rata yang memengaruhi kemandirian sehari-hari. UU 8/2016 menyebut contohnya antara lain disabilitas grahita dan sindrom Down.
- Anak dengan disabilitas fisik. Anak dengan hambatan fungsi gerak, misalnya cerebral palsy (CP), kelumpuhan, atau kehilangan anggota tubuh.
- Anak dengan hambatan sosial-emosional. Anak yang mengalami kesulitan besar dalam mengendalikan emosi dan perilaku sehingga mengganggu hubungan dengan orang lain.
- Anak dengan ADHD (GPPH). Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas: anak sangat sulit fokus, impulsif, dan/atau sangat aktif melebihi anak seusianya, di lebih dari satu tempat.
- Anak dengan gangguan spektrum autisme. Anak dengan perbedaan dalam komunikasi dan interaksi sosial, disertai pola perilaku, minat, atau respons sensorik yang khas. Kemampuan anak dengan autisme sangat beragam.
- Anak dengan disabilitas ganda. Anak yang memiliki dua atau lebih hambatan sekaligus, misalnya disabilitas netra dan rungu.
- Anak lamban belajar (slow learner). Anak yang butuh waktu dan pengulangan lebih banyak untuk memahami pelajaran dibandingkan teman sebayanya.
- Anak dengan kesulitan belajar spesifik. Anak dengan kecerdasan umumnya rata-rata, tetapi mengalami kesulitan yang menetap pada bidang tertentu, seperti membaca (disleksia), menulis, atau berhitung.
- Anak dengan gangguan komunikasi. Anak yang mengalami hambatan dalam berbicara atau berbahasa, misalnya keterlambatan bicara, kesulitan pelafalan, atau gagap.
- Anak dengan potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Anak dengan kemampuan jauh di atas rata-rata yang membutuhkan tantangan dan layanan yang sesuai agar tidak bosan atau kehilangan motivasi.
Di sekolah, daftar kategori peserta didik berkebutuhan khusus mengikuti aturan pendidikan inklusif. Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2021, yang disusun untuk menyesuaikan dengan Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009, misalnya, menyebut kategori disabilitas netra, rungu, wicara, grahita, daksa, laras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autisme, gangguan motorik, korban penyalahgunaan narkoba, kelainan lainnya, dan disabilitas ganda.
Baca juga: Speech Delay Adalah: Tanda, Penyebab & Penanganan
Ciri Anak Berkebutuhan Khusus: Tanda Awal yang Perlu Dievaluasi
Tidak ada satu daftar ciri yang berlaku untuk semua ABK, karena kondisinya sangat beragam. Namun, ada tanda-tanda yang sebaiknya membuat Anda berkonsultasi ke tenaga kesehatan. Satu tanda saja belum tentu berarti anak berkebutuhan khusus, tetapi cukup menjadi alasan untuk diperiksa.
- Bicara dan bahasa: belum mengoceh atau menunjuk sesuai usianya, kosakata sangat sedikit, atau sulit memahami perintah sederhana.
- Interaksi sosial: jarang menatap mata, tidak menoleh saat dipanggil, kurang tertarik bermain bersama, atau tidak menunjukkan sesuatu yang menarik baginya kepada Anda.
- Gerak: terlambat tengkurap, duduk, atau berjalan; tubuh tampak sangat kaku atau sangat lemas; gerakan satu sisi tubuh berbeda dari sisi lainnya.
- Penglihatan dan pendengaran: tidak bereaksi terhadap suara keras, sering memiringkan kepala atau mendekatkan benda ke mata, atau mata tampak juling.
- Perilaku dan perhatian: sangat sulit fokus atau diam dibandingkan anak seusianya, gerakan berulang yang menetap, atau tantrum yang sangat sering dan hebat.
- Sensorik: sangat terganggu oleh suara, tekstur, atau keramaian, atau justru mencari rangsangan secara berlebihan.
- Belajar: di usia sekolah, kesulitan menetap membaca, menulis, atau berhitung meski sudah dibantu.
- Kemunduran: anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, misalnya berhenti berbicara. Kondisi ini perlu segera diperiksakan.
Di Indonesia, pemantauan perkembangan bisa dimulai dari rumah dengan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Menurut Permenkes Nomor 66 Tahun 2014, deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang dilakukan di semua tingkat pelayanan: oleh orang tua dan kader di tingkat keluarga dan masyarakat, serta oleh dokter, bidan, dan perawat di puskesmas. Alat yang digunakan antara lain Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), tes daya dengar, tes daya lihat, kuesioner masalah mental emosional, serta skrining autisme dan GPPH bila ada indikasi.
Jika Anda khawatir, jangan menunggu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menganjurkan orang tua segera membicarakan kekhawatirannya dengan dokter, mencatat perkembangan anak, dan meminta skrining, karena bertindak lebih awal dapat membuat perbedaan nyata.
Diagnosis: Siapa yang Berwenang Menilai?
Istilah “ABK” sendiri bukan diagnosis medis, melainkan payung bagi berbagai kondisi. Diagnosis spesifik, misalnya autisme, ADHD, atau disabilitas intelektual, hanya dapat ditegakkan oleh tenaga profesional setelah pemeriksaan menyeluruh. Kuesioner skrining di rumah atau di internet hanya membantu menentukan apakah anak perlu dievaluasi lebih lanjut.
Alurnya umumnya seperti ini:
- Langkah awal: konsultasi ke dokter umum, bidan, atau puskesmas untuk skrining perkembangan dengan KPSP dan pemeriksaan dasar.
- Dokter spesialis anak: memeriksa kesehatan secara menyeluruh, lalu merujuk ke dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang bila perlu.
- Psikolog klinis anak atau psikiater anak: menilai perkembangan kognitif, perilaku, dan emosi, termasuk untuk autisme dan ADHD.
- Dokter spesialis lain sesuai kebutuhan: misalnya dokter saraf anak, dokter THT untuk pendengaran, dokter mata, atau dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi.
- Terapis: terapis wicara, terapis okupasi, dan fisioterapis melakukan asesmen kemampuan untuk menyusun program terapi, tetapi tidak menegakkan diagnosis medis.
Bawalah Buku KIA, catatan perkembangan, serta video pendek perilaku anak di rumah. Informasi ini sangat membantu tenaga kesehatan memahami kondisi anak secara utuh.
Terapi ABK: Jenis dan Tujuannya
Terapi bagi ABK disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, bukan dengan labelnya. Dua anak dengan diagnosis yang sama bisa membutuhkan program yang berbeda. Tujuannya bukan “menyembuhkan” atau mengubah anak menjadi orang lain, melainkan membantu anak mengembangkan kemampuan, kemandirian, dan partisipasi dalam kehidupan sehari-hari.
| Jenis terapi atau dukungan | Tujuan utama | Contoh kebutuhan anak |
|---|---|---|
| Terapi wicara | Mengembangkan kemampuan bicara, bahasa, dan komunikasi; termasuk komunikasi alternatif bila diperlukan | Keterlambatan bicara, autisme, disabilitas pendengaran |
| Terapi okupasi | Melatih keterampilan sehari-hari, motorik halus, dan pengolahan sensorik | Kesulitan memegang pensil, makan, berpakaian; sensitivitas sensorik |
| Fisioterapi | Meningkatkan kemampuan gerak, kekuatan, keseimbangan, dan postur | Cerebral palsy, keterlambatan motorik kasar |
| Terapi perilaku (misalnya ABA) | Mengajarkan keterampilan baru dan mengurangi perilaku yang mengganggu dengan pendekatan terstruktur | Autisme, masalah perilaku |
| Pelatihan orang tua (parent training) | Membekali orang tua dengan strategi mengelola perilaku dan mendukung anak di rumah | ADHD, terutama pada anak usia di bawah 6 tahun |
| Intervensi psikologis | Membantu anak mengelola emosi, kecemasan, dan keterampilan sosial | Hambatan sosial-emosional, kecemasan |
| Layanan pendidikan khusus atau remedial | Menyesuaikan cara dan materi belajar dengan kemampuan anak | Kesulitan belajar spesifik, lamban belajar, disabilitas intelektual |
| Pengobatan dari dokter | Membantu kondisi tertentu atau gejala penyerta, misalnya gangguan tidur atau kejang | ADHD pada usia tertentu, kondisi medis penyerta |
| Alat bantu | Mendukung fungsi yang terhambat | Alat bantu dengar, kacamata khusus, kursi roda, alat bantu komunikasi |
Beberapa catatan penting dari sumber kesehatan:
- CDC menyebut pendekatan perilaku seperti ABA memiliki bukti paling banyak untuk membantu gejala autisme, dan tidak ada obat yang mengatasi gejala inti autisme. Obat hanya digunakan untuk kondisi penyerta seperti kecemasan, gangguan tidur, atau kejang.
- Untuk ADHD pada anak di bawah 6 tahun, American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan pelatihan orang tua dalam manajemen perilaku sebagai langkah pertama sebelum obat. Untuk usia 6 tahun ke atas, dianjurkan kombinasi obat dan terapi perilaku, ditambah dukungan sekolah.
- Sensori integrasi umumnya menjadi bagian dari terapi okupasi.
- Waspadai terapi atau produk yang menjanjikan “kesembuhan total” dalam waktu singkat. Diskusikan dulu dengan dokter sebelum mencoba terapi alternatif, diet khusus, atau suplemen.
Untuk memahami lebih jauh, Anda bisa membaca penjelasan kami tentang terapi wicara anak dan terapi okupasi.
Pilihan Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Setiap anak berhak atas pendidikan. Pilihan sekolah sebaiknya didasarkan pada kebutuhan anak, kesiapan sekolah, dan masukan dari tim yang menangani anak, bukan semata pada label diagnosis.

Sekolah inklusif
Pendidikan inklusif memberi kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus untuk belajar bersama teman sebayanya di sekolah reguler. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 mengatur pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Di sekolah inklusif, ada guru pembimbing khusus (GPK) yang membantu pelaksanaan layanan bagi ABK, dan sejak 2023 juga berlaku aturan tentang akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas (Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023). Saat memilih, tanyakan berapa jumlah GPK, bagaimana kurikulum disesuaikan, dan bagaimana sekolah berkomunikasi dengan orang tua.
Sekolah Luar Biasa (SLB)
SLB adalah satuan pendidikan khusus yang dirancang untuk anak dengan kebutuhan tertentu, dengan guru pendidikan khusus, kelas yang lebih kecil, serta sarana yang disesuaikan. SLB dapat menjadi pilihan yang tepat bila anak membutuhkan dukungan yang intensif. SLB umumnya dikelompokkan sesuai jenis kebutuhan, misalnya untuk anak dengan disabilitas netra, rungu, intelektual, atau fisik.
Shadow teacher (guru pendamping)
Sebagian anak dapat bersekolah di sekolah reguler atau inklusif dengan didampingi shadow teacher, yaitu pendamping yang membantu anak mengikuti pelajaran, berinteraksi dengan teman, dan mengelola perilaku di kelas. Tujuannya adalah membuat anak makin mandiri dari waktu ke waktu, bukan bergantung pada pendamping.
Baca juga: Shadow Teacher Adalah
Peran Orang Tua dan Pentingnya Merawat Diri
Orang tua adalah anggota tim yang paling penting dalam perjalanan anak. Terapi di klinik biasanya hanya berlangsung beberapa jam dalam seminggu, sedangkan sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama keluarga. Artikel Kementerian Kesehatan menyarankan beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan di rumah:
- Berikan kasih sayang, kesempatan berkembang, dan kesempatan bersosialisasi yang sama seperti anak lain.
- Berbicaralah dengan kalimat sederhana dan sambil menatap mata anak.
- Buat jadwal harian yang teratur dan libatkan anak dalam kegiatan rutin, seperti merapikan mainan atau menyiapkan makan.
- Kenalkan anak kepada kerabat dan tetangga secara bertahap, dimulai dari keluarga dekat.
- Bangun rasa percaya dirinya dengan pujian positif, dimulai dari pencapaian kecil.
Selain itu, ikuti sesi terapi bila memungkinkan, tanyakan latihan apa yang bisa dilanjutkan di rumah, dan catat perkembangan anak. Komunikasi yang baik antara orang tua, terapis, dan guru membuat dukungan lebih konsisten.
Jangan lupakan diri Anda sendiri
Merawat ABK bisa sangat melelahkan secara fisik dan emosional. Merasa sedih, marah, atau kewalahan adalah hal yang manusiawi. Sydney Children’s Hospitals Network menyarankan orang tua untuk:
- Membangun jaringan dukungan, misalnya keluarga, teman, dokter, psikolog, dan komunitas orang tua yang direkomendasikan tim yang menangani anak. Hindari grup media sosial besar dan anonim yang informasinya belum tentu dapat dipercaya.
- Menjaga tidur, makan, dan gerak tubuh semampunya, meski dalam bentuk sederhana seperti berjalan kaki sebentar.
- Mengambil jeda singkat secara rutin, misalnya menikmati secangkir teh tanpa gangguan.
- Membicarakan perasaan yang berat dengan orang yang dipercaya, dokter, atau psikolog.
- Menerima bantuan dari orang lain dan berbagi tugas pengasuhan dengan pasangan atau keluarga.
Orang tua yang cukup istirahat dan merasa didukung akan lebih mampu mendampingi anak dengan sabar dalam jangka panjang.
Baca juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Keinginannya Tidak Dituruti
Baca juga: Fisioterapi Anak: Kondisi yang Ditangani & Prosesnya
Baca juga: Disleksia pada Anak: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Membantu Anak Belajar Membaca
Baca juga: ADHD pada Anak: Ciri-Ciri, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganannya
Baca juga: Ciri-Ciri Autisme pada Anak per Usia: Tanda Awal yang Perlu Diperhatikan
Baca juga: Slow Learner: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mendampingi Anak di Rumah dan Sekolah
Baca juga: Dokter Tumbuh Kembang Anak: Siapa yang Menangani dan Kapan Harus ke Sana
Baca juga: Sekolah Inklusi: Hak Anak, Dasar Hukum, dan Unit Layanan Disabilitas
Baca juga: Down Syndrome pada Anak: Jenis, Penyebab, dan Dukungan yang Dibutuhkan
Baca juga: Anak Didiagnosis Autisme atau ADHD: Langkah Pertama untuk Orang Tua
Pertanyaan yang Sering Diajukan
ABK adalah singkatan dari apa?
ABK adalah singkatan dari anak berkebutuhan khusus, yaitu anak yang mengalami keterbatasan atau keluarbiasaan secara fisik, mental-intelektual, sosial, atau emosional yang berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembangnya dibandingkan anak seusianya. Definisi ini berasal dari panduan Kemen PPPA dan juga dikutip oleh Kementerian Kesehatan.
Apakah anak dengan bakat istimewa termasuk ABK?
Ya. Anak dengan potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa termasuk anak berkebutuhan khusus, karena mereka juga membutuhkan layanan pendidikan yang sesuai agar potensinya berkembang. UU Sistem Pendidikan Nasional pun menyebut kelompok ini sebagai peserta didik yang berhak atas pendidikan khusus.
Apakah speech delay termasuk anak berkebutuhan khusus?
Keterlambatan bicara bisa termasuk kebutuhan khusus di bidang komunikasi, terutama bila menetap dan memengaruhi perkembangan anak. Namun, penyebab keterlambatan bicara beragam, misalnya gangguan pendengaran, kurang stimulasi, atau kondisi perkembangan lain. Karena itu, anak sebaiknya diperiksa oleh dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganannya.
Siapa yang bisa mendiagnosis anak berkebutuhan khusus?
Diagnosis kondisi tertentu ditegakkan oleh tenaga profesional, seperti dokter spesialis anak (termasuk konsultan tumbuh kembang), psikolog klinis anak, psikiater anak, atau dokter spesialis lain sesuai kebutuhan. Skrining awal dapat dilakukan di puskesmas dengan KPSP. Terapis melakukan asesmen kemampuan untuk menyusun program terapi, tetapi tidak menegakkan diagnosis medis.
Apakah ABK bisa sembuh?
Banyak kondisi yang termasuk kebutuhan khusus, seperti autisme, sindrom Down, atau cerebral palsy, merupakan kondisi jangka panjang yang tidak “disembuhkan”. Meski begitu, terapi, pendidikan yang sesuai, dan dukungan keluarga dapat sangat membantu anak mengembangkan kemampuan dan kemandiriannya. Waspadai pihak yang menjanjikan kesembuhan total dalam waktu singkat.
Lebih baik sekolah inklusif atau SLB untuk ABK?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua anak. Sekolah inklusif memberi kesempatan belajar bersama teman sebaya dengan dukungan guru pembimbing khusus, sedangkan SLB memberi dukungan yang lebih intensif dan khusus. Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan anak, kesiapan sekolah, dan masukan dari dokter, psikolog, serta terapis yang menangani anak.
Kesimpulan
ABK adalah anak berkebutuhan khusus, yaitu anak dengan keterbatasan atau keluarbiasaan fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional yang memengaruhi tumbuh kembangnya dibandingkan anak seusianya. Jenisnya beragam, mulai dari disabilitas penglihatan, pendengaran, intelektual, dan fisik, hingga autisme, ADHD, kesulitan belajar, gangguan komunikasi, dan anak dengan bakat istimewa. Diagnosis spesifik hanya dapat ditegakkan oleh tenaga profesional, dan terapi disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak.
Bila Anda melihat tanda yang mengkhawatirkan, jangan menunggu. Mulailah dari skrining di puskesmas atau konsultasi ke dokter anak. Menjaga kesehatan diri Anda juga bagian dari merawat anak.
Bila Anda membutuhkan evaluasi tumbuh kembang, terapi wicara, terapi okupasi, fisioterapi, atau konsultasi psikolog anak, Anda dapat mencari layanan terdekat melalui direktori klinik tumbuh kembang KlinikPlus atau membaca panduan memilih klinik tumbuh kembang anak kami.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan yang menangani anak Anda.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI (Ditjen Kesehatan Lanjutan). Jangan Ambil Hak Anak-Anak, Meski Mereka Terlahir Berbeda (13 Desember 2022), merujuk Kemen PPPA, Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus bagi Pendamping (2013). https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1917/jangan-ambil-hak-anak-anak-meski-mereka-terlahir-berbeda
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 32). JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/43920/uu-no-20-tahun-2003
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas (Pasal 4 dan Penjelasannya). JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/37251/uu-no-8-tahun-2016
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/154776/permenkes-no-66-tahun-2014
- Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif (merujuk Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009). JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Download/188824/Pergub_DKI_40_2021.pdf
- Permendikbudriset Nomor 48 Tahun 2023 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas. JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/285711/permendikbudriset-no-48-tahun-2023
- Hukumonline. Hak Memperoleh Pendidikan Khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus (24 November 2020). https://www.hukumonline.com/klinik/a/hak-memperoleh-pendidikan-khusus-untuk-anak-berkebutuhan-khusus-lt5fbcd26d6b0bb/
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Concerned About Your Child’s Development? https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/concerned.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Developmental Monitoring and Screening. https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/screening.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treatment and Intervention for Autism Spectrum Disorder. https://www.cdc.gov/autism/treatment/index.html
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treatment of ADHD. https://www.cdc.gov/adhd/treatment/index.html
- Sydney Children’s Hospitals Network. Looking after yourself (parents and carers) factsheet. https://www.schn.health.nsw.gov.au/factsheets/looking-after-yourself-parents-and-carers



